
“Ini seratus rotinya mas, total semuanya 500 ribu ya.” Kataku seraya menyerahkan tiga dus besar pada si akang cungkring.
“Nih.” Ia menyerahkan lima lembar uang seratusan dan jangan lupakan mukanya yang masih sewot itu. “Lain kali jangan lama-lama ya mbak, nunggu itu ga enak tau!”
Idih kok dia malah jadi baper sih hahahaha.
Aku tak menjawab sepatah katapun, kubiarkan saja pria berkaos abu-abu itu pergi dan menghilang dari tempat ini. Huft! Sungguh hari pertama yang melelahkan.
23:00 WIB.
Aku menutup toko kemudian menguncinya rapat-rapat. Bu Neti benar-benar sudah mempercayaiku untuk memegang benda putih berujung gerigi ini. Syukurlah, kerjaanku di sini tidak terlalu riweh apalagi sampai menyentuh air berbuih seperti di bar. Dan beruntungnya lagi upah empat jam aku bekerja di tempat ini sama dengan upah enam jam aku mengabdikan diri di sana. Alhamdulillah, semua ini berkat Engkau ya Tuhan.
Lima menit berselang dan tugasku benar-benar sudah usai. Aku meraih sebuah benda pipih dari dalam tas kemudian segera membuka aplikasi ojek online di sana. Kalau di bar sih biasanya ada Aren yang mengantarku pulang karena pada jam-jam tinggi begini tak akan ada angkutan umum yang lewat. Tapi sekarag aku harus berusaha untuk lebih mandiri, aku selalu berdo’a agar mendapatkan driver baik dan tak ingin berbuat yang macam-macam pada penumpangnya.
...***...
Sesampainya di rumah.
“Hei kenapa pintunya masih terbuka lebar?” Batinku dalam hati. Tumben sekali, apa si nenek tua masih menonton tv?
Aku menyembulkan diri sesaat setelahnya melafazkan salam. Keterkejutanku bertambah berkali-lipat takkala melihat sosok mana yang saat ini berada di dalam rumah.
“Aren! Ngapain kamu kesini?”
Ya itu dia! Pria berpostur gondrong dan pipi balon yang saban hari selalu merusuh hidupku. Ada apa? Ada apa dia bersama mertuaku di tempat ini?
“Hai Che! Kau sudah pulang?” Tanyanya dengan senyum sumringah.
Huh bodoh sekali! Kalau dia melihat aku sedang berdiri di sini ya berarti aku sudah pulang. Terlalu kentara basa basinya. Aku diam saja, enggan menjawab. Aku jiji dengan Aren.
“Duduklah di sini dulu Che. Ada yang ingin kubicarakan.”
Aduuuh kali ini apa lagi sih!
“Apa? Kau ingin memaksaku kembali untuk menjadi istrimu? Oh atau kau akan berkata pada mertuaku bahwa kita adalah sepasang kekasih, iya? Aku berdecak kesal.
“Oh tidak manis, makanya duduk dulu.”
“Ya sudah, apa?” Aku menurut. Sebenarnya aku sangat malas, tapi sedari tadi si nenek reot itu menatapku sinis dari kejauhan.
“Kau sudah menemukan pekerjaan baru ya?”
“Ya.”
“Kau bekerja dimana?”
“Kurasa itu bukanlah hal yang penting buatmu!”
“Oke baiklah aku akan mencaritahunya sendiri. Ah iya ini buatmu.” Aren meraih sesuatu dari dalam tasnya. Aku memperhatikan hikmat benda tersebut.
__ADS_1
Oh Tuhan!
Kertas persegi panjang itu sama persis dengan kertas yang Elin tunjukkan padaku kemarin malam.
“Aku akan segera menikah Che. Kau datang ya, katamu kita kan sahabat.”
Deg!
Hatiku seakan mencelos dari tempat. Aku membisu. Aren kenapa? Ini bukan akal-akalan dia saja kan?
Jadi si kerebo ini benar-benar akan menikah? Bagaimana mungkin?
Ini sungguh tidak adil bagiku!
Mana pembuktian cintanya selama ini?
Oh Tuhan. Sungguh aku sedang tidak cemburu.
Namun kenapa? Kenapa secepat itu Aren mengambil keputusan? Berarti ketika dia memaksaku untuk menjadi milkinya sebenarnya sudah ada seorang wanita yang siap dinikahi olehnya. Sial! Aku sangat marah! Aku merasa dipermainkan.
Kenapa tidak ada seorang pria pun yang benar-benar tulus mencintaiku? Bahkan Aren yang kukira seriuspun ternyata seorang penghianat.
“Permisi.” Aku mendadak nyelonong ke kamar.
Di dalam sini aku menekan kawasan mataku kuat-kuat. Bagaimana pun juga aku tak boleh menangisi pria gila seperti Aren. Aku harus kuat sekalipun ia telah memainkanku. Aku tidak lemah, sungguh!
Tapi aku heran, sumpah!
Aneh!
...***...
Pagi beranjak memaksa bulan untuk pergi dari kaki langit. Aku mengerjap-ngerjapkan mata guna menyesuaikan angka jam yang tercantel di atas dinding.
Lima tepat.
Aku beringsut ke belakang dan langsung membersihkan diri di toilet. Pricilia masih kubiarkan tidur di atas ranjang, kasihan kalau dia sudah kumandikan subuh-subuh begini.
Aku memperhatikan seantero ruangan dan hanya menyisakan asbak rokok beserta abunya di sana. Entah jam berapa si kanebo kering itu pulang, aku tak tahu dan tak ingin tahu juga.
“Masakkan aku rendang jengkol!”
Oh astaga! Ada makhluk kasat mata yang pagi-pagi buta begini sudah request makanan bau kentut itu.
Aku bergidik ngeri. Jengkol adalah makanan favorit Bu Lastri dan santapan menjijikkan bagiku. Aku geli dengan jengkol, dagingnya alot dan baunya juga tak sedap. Kalau kata si Hero dulu sih jengkol itu tak ada bedanya dengan limbah pabrik, sama-sama bau syaiton kikikik.
Tapi ya sudahlah, dari pada buat keributan lebih baik kumasak saja.
“Iya ma.” Aku menyembulkan diri ke dalam bilik kecil dan akan kueksekusi nanti setelah keluar dari sini.
__ADS_1
...***...
“Maaf, tapi kenapa Bapak ga pakai pakaian ngantor ya?” Aku memperhatikan perawakan ayahnya Refa dari ujung hingga ke ujung, ada yang berbeda hari ini.
“Saya ga masuk.”
“Kenapa?”
“Bukan urusanmu!”
Aish! Kena lagi kena lagi!
Pak Reno berlalu tanpa berkata apapun lagi padaku. Hari ini dia tampil dengan pakaian kasual, entah mau kemana.
“Ibu atu mau main mobin-mobinan.” Tiba-tiba saja suara bocah gembul itu mengagetkanku di sini. Ia datang sembari mendorong mainan gede menggunakan tangannya sendiri.
Aku mengikut. Sebenarnya kerjaanku sudah menumpuk, tapi tak apalah, sesekali.
“Mana remotenya bang? Sini.”
“Nah.” Refa menyerahkan sebuah benda bertombol padaku.
Tawa bahagia ucul gendut ini menghiasi seluruh seantero rumah. Aku mengarahkan remot ke depan dan ke belakang jadi maju mundur, Refa sangat suka itu.
“Yeaaay lagi bu.” Katanya dengan cengir kuda.
Aku bahagia karena dalam waktu yang bersamaan Pricil juga ikut terbahak menyaksikan kekocakan Refa. Ya Tuhan semoga suatu saat aku dapat memilki mobil mainan seperti itu untuk putriku sendiri, pasti dia senang.
“Aduuuh ibu cape nih bang.” Aku mendudukkan tubuh di atas sofa. Huh lelah sekali.
...***...
Bersambung
Halo apa kabar kalian?
Semoga sehat selalu ya 🤗
Jangan lupa like, comment + tap favoritnya
Karena
-
-
-
Dukungan kalian semangat buat aku 😍
__ADS_1
See u guys ;)