
“Aku hanya sedang malas saja.”
“Tidak mungkin! Pasti ada penyebab lain. Oh ayolah ceritakan padaku.”
“Tidak ada Neni.”
“Kau jangan berbohong!” Mata Neni sipit menatapku, rasa ketidakpercayaan kian bergelayut di hatinya.
Bagaimana? Apakah harus kuceritakan? Ck! Nanti kalau dia bocor bagaimana?
“Sudahlah kau tunggu saja aku di sini. Nanti kutemani.”
Hening.
Neni menilikku tajam dari ekor mata, wajahnya cemberut minta ditimpuk. Oke baiklah baiklah, sepertinya memang harus kuceritakan.
“Tapi kau janji jangan ngadu ke siapapun ya.”
“Kau kira aku anak SD apa!”
“Jadi begini.” Kataku seraya menarik napas dalam. “Selama ini Aren mengejarku bahkan sampai memaksaku untuk menjadi istrinya. Dia juga sangat sayang dengan Pricilia, namum pernah suatu malam saking memaksanya dia sampai mengeluarkan kalimat yang kala itu benar-benar menggores hatiku. Aku marah, aku terluka dan sejak itu aku hilang respect padanya.”
“Hah benarkah?” Mata Neni semakin membesar, untung saja tidak sampai lepas dari tempat.
“Iya sungguh. Dan parahnya lagi dia sampai datang ke rumah mertuaku ketika aku sedang berada di luar.”
“Lalu bagaimana reaksi mertuamu?”
“Kau sudah tahu bukan kalau nenek lampir itu sangatlah kejam? Tapi waktu itu tidak. Dia hanya melirikku sinis sambil berkata ‘pergi saja dengan pacarmu itu.’ Aku juga sampai kaget sekali ternyata reaksinya hanya seperti itu, kukira dia akan mengusirku dari rumah.”
“Kalau si Aren memang benar-benar cinta bahkan sampai memaksamu menjadi istrinya, lalu mengapa dia yang sekarang menikah dengan wanita lain?”
“Nah itu dia yang menjadi pertanyaanku sampai sekarang. Malamnya Aren memaksaku untuk menjadi istrinya dan besok paginya pula terdengar kabar bahwa dia akan menikahi seorang gadis.”
“Sepertinya ada yang aneh.”
“Maksudmu?” Aku mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.
__ADS_1
“Kalau memang benar Aren akan menikahi seorang gadis satu hari setelah kau tolak berarti memang sudah dari jauh hari pria itu akan berniat menikah. Tidak mungkin begitu kau tolak dia langsung dapat pengganti dan ke acara resepsi. Mustahil! Ah atau jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu kepadamu.”
“Hah? Rencana apa?”
“Ya mana aku tahu.”
Diam.
Tak ada lagi perdebatan di antara kami. Baik aku maupun Neni semuanya tenggelam dalam tebakan masing-masing. Ada apa dengan Aren? Apa memang benar dia memiliki sebuah rencana untukku? Tapi kenapa? Perasaan aku tak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap si kibo gendut itu.
Lama kami membisu hingga aku tersadar dan segera menarik lengan Neni untuk masuk ke dalam rumah. Tak ingin berlama-lama akhirnya ibu beranak tiga itu ikut-ikutan membantuku membersihkan seantero rumah hingga tak bersisa. Alhamdulillah deh hitung-hitung ngurangi sakit pinggang.
Aku jadi bingung. Datang tidak datang tidak? Agak malu juga rasanya kalau tidak datang ke pernikahan Aren. Tapi di sisi lain aku masih sakit hati gara-gara ucapan tidak senonohnya tentang aku yang tak akan mampu menghidupi Pricil.
Eh iya Pricil. Bagaimana kabarnya ya? Semoga akan ada kabar bagus di hari ini dari pihak kepolisin tentang anakku yang hilang itu.
...***...
Aku membaringkan tubuh di atas ranjang, lelah sekali. Seharian ini kerjaanku hanya berkeliling-keliling ria di seputaran Kota Batam bersama si Neni. Banyak toko yang sudah kami masuki namun tak ada satu pun yang cocok, entah mau mencari yang bagaimana emak-emak rempong satu itu. Belum lagi si Refa yang sibuk minta gendong karena lelah berjalan. Sumpah! Ginjalku rasanya kaya mau lepas ngegendong bayi badak kaya dia.
Kami juga sempat menelpon Elin tadi tapi wanita itu bilang kalau dia akan membeli bingkisan untuk Aren bersama suami saja malam ini. Enak ya kalau ada suami, ke mana-mana bisa diantar jemput, selalu ada yang nemeni. Ga kaya aku! Jangankan suami bahkan anakku pun menghilang juga dari hidupku. Hahahaha miris!
Adakah ada penderitaan lain yang lebih parah dari ini?
Kurasa hanya aku hahaha.
Sudah lah jalani saja siapa tahu sudah ada hadian besar yang menunggu di depan.
Aku beranjak ke bilik kecil guna membersihkan diri sebelum tidur. Menyikat gigi dan membasuh wajah adalah hal yang wajib kulakukan saban malam. Aku tak bisa membayangkan kalau aku tidur dalam keadaan sisa-sisa makanan yang masih menempel di mulut. Wow bisa jadi sarang kuman dia nanti, bau limbah pembuangan juga pastinya.
Setelah ritual bersih-bersihku selesai, aku pun kembali beranjak ke atas ranjang dan mulai memejamkan mata. Pikiranku harus kosong, aku ingin tenang barang sebentaaar saja.
Huaaaa huaaaa hiks hiks huuu huaaa.
Hei siapa itu?
Apa ada bayi di tempat ini?
__ADS_1
Ck sial! Mataku kembali tercegak.
Dengan segera aku membangkitkan tubuh lalu beranjak ke ambang pintu. Anak siapa yang malam-malam begini masih membuka mata? Atau jangan-jangan dia ada di depan pintuku. Oh tidak bisa! Harus segera kulihat sekarang juga.
Ceklek.
“Loh?”
Kosong.
Nihil. Tidak ada sesiapapun di sini tapi suara si bayi masih sangat kentara mengusik siput di dalam telingaku. Aku melangkah perlahan ke arah depan, kudengarkan bising-bisingan yang sudah mengacau tidurku malam ini.
Dan ternyata…
Oh My God!
Suaranya ada di rumah sebelah.
Ou ternyata tetanggaku memilki seorang anak kecil.
Tapi ada yang aneh. Semakin kudengar suara itu seolah tak asing di telingaku. Aku seakan sering mendengar tangisan yang seperti itu. Sumpah! Suaranya mirip sekali dengan Pricilia.
Ah tapi ya sudahlah lagipula di mana-mana suara bayi kan memang selalu sama. Lebih baik aku melanjutkan tidurku yang sempat tertunda tadi. Bisa kesiangan aku nanti kalau sampai kelamaan bergadang.
23:00 WIB
“Aduuuuuh ck!”
Aku kesal. Kenapa sudah hampir dua jam tapi tangisan itu belum juga hilang? Di mana orangtuanya? Apa mungkin anak itu sedang sakit makanya tak bisa diam? Kupingku serasa panas. Entah kenapa hatiku juga ikut teriris mendengar suara si bayi dari seberang sana. Ingin sekali rasanya aku mengetuk pintu tetangga lalu memarahi orangtuanya atau sekedar memastikan bagaimana keadaan anak itu sebenarnya. Oh atau mungkin aku akan menggendong lalu menidurkannya di dalam pelukanku.
Memang begini nasib kalau kita tinggal di rumah kontrakan yang berderet. Apa-apa pasti orang bisa tahu, ngomong dikit aja pasti kedengeran apalagi kalau sampai suara tangisan banter kaya begitu. Eum untung juga aku gapunya suami ya, ga kebayang kalau lagi anu-anuan dan kedengeran sama tetangga kikikik.
...***...
Bersambung
LIKE, COMMENT & VOTE
__ADS_1
Semoga kalian sehat selalu 🤗