
Blubuk blubuk blubuk.
Bubur sudah mendidih dan aku segera menuangnya ke dalam sebuah mangkuk. Niatku telah terealisasi tinggal lagi aku belum memberikannya kepada tetangga sebelah. Tak ada lagi suara pria itu di sana mungkin anaknya tak lagi berkicau dan membuatnya sedikit lebih tenang.
Uh aku jadi tidak sabar ingin melihat wajah si bayi, pasti manis sekali.
Ceklek.
Pintu depan kututup rapat dan bubur sudah kubawa bersama nampan hitam. Aku mengambil langkah ke sebelah dan langsung mengetuk pintunya takkala telah menginjakkan kaki di sana.
Tok tok tok.
Tok tok tok.
Hening.
Tok tok tok.
“Permisi.”
“Permisi.”
Kemana orangnya ya? Kok sepi sih.
Sepasang mataku berlayar menatap seantero rumah yang bentukan dan warnanya sama dengan milikku. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di tempat ini, apa mereka sudah tidur?
“Eum sekali lagi lah.”
Tok tok tok.
“Halooo.”
Yaaah sepertinya mereka sudah tidur, sayang sekali buburku ini.
Bersamaan dengan rasa agak kecewa aku kembali melangkah kaki dan menuju rumahku di sebelah. Entah tidur, pergi atau memang sengaja tak menjawab aku tak tahu. Padahal ingin sekali rasanya bertemu dengan bayi itu, meskipun aku belum pernah melihatnya aku yakin bahwa rautnya pasti sangat lucu.
...***...
Cahaya mentari mulai berpijar dan menyisakan hangat pada hamparan wajah. Aku mengarahkan sebelah tanganku ke muka, silau rasanya. Masih sangat pagi namun matahari sudah menyengat bak di siang hari membuat peluhku jatuh sederas hujan.
“Pricil di mana kamu nak?” Gemingku dalam hati yang tengah berdiri di bibir jalan menunggu angkutan lewat.
Sudah hampir dua minggu dan putri kecil itu belum ketemu juga. Aku ingin bertanya pada Pak Reno mengenai kabarnya namun masih canggung, lagipula pria aneh itu pasti masih marah kepadaku.
Ngomong-ngomong Bu Farah gimana kabarnya ya? Kalau memang dia cinta pasti perempuan satu itu sudah datang ke rumah suaminya. Tapi kenapa kali ini seperti hilang di telan bumi? Aku jadi heran sendiri.
Aku pernah berpikiran untuk mencari keberadaan Bu Farah dan membawanya kembali pulang. Namun setelah kutimbang-timbang aku tak tahu menahu di mana letak rumah orangtuanya dan memang tak ingin terlalu ikut campur dengan urusan orang lain.
__ADS_1
“Baaang!”
Duh kebanyakan ngelamun ginikan.
“Tunggu!”
Aku ngacir takkala melihat sebuah kendaraan berwarna merah mencelos begitu saja dan meninggalkanku di tempat ini. Gara-gara teringat si nenek lampir aku jadi ga ingat kalau lagi nunggu angkutan.
Bugh.
Aku mendaratkan bokong setelah bersusah payah memanggil abang supir yang sudah lumayan jauh melesat dari lapakku tercegak tadi. Huh! Sesak sekali rasanya.
Tujuh menit berlalu dan kali ini aku sudah sampai di sebuah bangunan putih tempatku sehari-hari mengabdikan diri. Kalau dulu butuh waktu sampai dua puluh menitan maka semenjak aku memiliki kontrakan baru aku tak perlu memakan waktu yang lebih banyak lagi untuk sampai ke sini.
“Terimakasih bang.” Kataku pada sang supir seraya memberikan selembar kertas berwarna cokelat muda.
Aku melangkahkan kaki menuju bangunan megah itu dan betapa terkejutnya saat kudapati sebuah pemandangan erotik di depan sana.
Aduuuh ada pria yang cuma melilitkan handuk doang di seputaran tubuh bagian bawahnya.
Aku diam, tak berani berkata-kata maupun menatap barang sejekap. Aku melintasi badan kokoh berambut yang tengah tercegak di pusat beranda rumah.
“Tunggu!”
Mampus!
Dia menarik lenganku.
“Pakailah bajumu dulu.”
“Tidak perlu!”
Oh astaga! Apa dia sudah gila? Bagaimana mungkin aku bisa bertahan di tempat ini kalau di hadapanku ada ayam matang? Tubuh putih jenjangnya membuat bulu kudukku berjingkat seketika.
“Jadilah istriku maka kau akan bahagia bersamaku. Aku janji, Chevani.”
Deg!
Aku kikuk. Kukira dia akan melupakan peristiwa lalu dan enggan menanyakan hal ini padaku lagi. Tapi sekarang?
“Jawab Che! Mengapa kau hanya diam saja?”
“A- aku…”
Aaaaaa! Aku bener-bener ga kuat kali ini tak ada jarak di antara kami. Mataku dan matanya bersitatap dan diikuti dengan hembusan napas hangatnya yang menerpa lembut permukaan wajahku. Aku mematung, tangan kokoh nan setengah basahnya itu mulai bergelayut di sela-sela jemari kecilku.
“… tidak tahu.” Sambungku pada akhirnya.
__ADS_1
“Apa lagi yang kau tunggu? Kau seorang janda dan apa mungkin ingin selamanya begini? Aku sedang tidak memaksa tapi pikirkanlah sekali lagi bahwa ada Refa yang sudah menyayangimu seperti ibu kandungnya sendiri.”
Hah? Refa? Ohiya aku sampai lupa. Bagaimana kalau tiba-tiba anak itu nongol dan menyaksikan adegan erotis ini? Uwww bisa ternodai kepalanya nanti.
“Hei mundurlah sedikit!”
Bugh!
Aku mendorong tubuh pria itu kasar sehingga membuatnya bergerak paksa ke belakang. Tatapannya sendu seperti bocah yang tak diberi eskrim oleh orangtuanya.
Tak suka dengan perlakuanku akhirnya Pak Reno kembali memajukan tubuh dan kali ini malah merengkuhkan tangan besarnya pada badan miniku. Sumpah! Dia memelukku sekarang. Aaaa rasanya aku ingin meletup.
Tatapan kami saling tertaut, kumis tipisnya menyentuh bibirku yang mulai menggeletuk gemetaran. Sepasang lengannya ia bulatkan pada pinggangku dan entah bagaimana ceritanya aku seolah merasakan ada aliran listrik yang menjalar ke seluruh tubuh.
Hangat.
Hangat sekali.
Hingga dalam detik berikutnya aku seolah terhipnotis dan mengikuti langkahnya yang mulai memapahku ke lantai atas.
Tempat di mana ia biasa mengistirahatkan diri.
“Sebenarnya aku baru saja mandi dan kebetulan melihatmu dari kejauhan. Sungguh aku tak pernah sengaja memakai handuk ini di hadapanmu.”
“Di mana Refa?”
“Bocah satu itu massih tertidur pulas di kamarnya.”
“Mmm.”
Aku tak lagi berbicara atau lebih tepatnya memang tak mampu untuk berkata-kata. Sekujur tubuhku terasa lemah, jantungku seakan berhenti untuk berdetak.
Ya Tuhan rambut-rambut halus di kaki Pak Reno berdiri tegak. Pertanda apa ini?
“Pernikahanku dengan Farah sudah di ambang batas. Aku siap menceraikannya saat ini juga dan memperistrimu Chevani. Sekalipun kau bilang bahwa ada Refa yang kehilangan sosok ibu namun pada dirimu telah kutemukan kasih sayang yang lebih tulus dari pada wanita itu. Awalnya aku memang tak memiliki rasa apapun, namun lambat laun setelah melihat perangai baikmu hatiku luluh. Aku cinta padamu Che, aku cinta.” Pria berwajah rupawan itu menjelaskan panjang lebar tentang sesuatu yang sebenarnya tak kupertanyakan.
Aku masih tetap diam dan tak bergeming. Entahlah, seolah ada lem perekat yang menempel pada bibirku dan membuatnya sulit untuk bicara.
Mendapati wajahku yang kian memucat Pak Reno menarik tubuhku yang masih anteng berdiri dan mendudukkannya ke atas kasur. Aku manut, tak mampu berbuat apapun kecuali menurut.
CUP.
Sebuah kecupan hangat mendarat pada dahiku.
...***...
Bersambung
__ADS_1
Yang mau adegannya diterusin comment di bawah wkwk
Semoga kalian sehat selalu 🤗