SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
DICULIK SETELAH DICULIK


__ADS_3

“Tenanglah Che! Polisi akan segera meringkus kasus ini dan menemukan putrimu.”


“Ibu dangan nangis huuuuuu hiks hiks.”


Gusti. Aku benar-benar diberi perhatian lebih oleh anak dan bapak ini.


“Hei kenapa kau yang jadi menangis?”


“Atu tedih kalna ibu nangis telus huaaaa huaaaa.”


Kupu-kupu di perutku sontak berterbangan takkala melihat wajah Refa yang tak ada bedanya dengan kertas lusuh. Bukannya dia sendiri yang melarang aku untuk menangis? Tapi kenapa- Ah sudahlah.


Hei Che! Kau sedang kehilangan putrimu. Ayo bersedih lagi!


“Kenapa kalian bisa berada di sini?” Tanyaku keheranan.


“Awalnya pihak rumah sakit menelpon Elin karena mengira bahwa wanita itu adalah kakakmu. Namun Elin menginformasikan agar mereka menghubungiku mengingat jarak kita yang dekat.”


“Apa kalian baru sampai?”


“Apa kau bisa melihat ada matahari di sana? Dan tandanya aku dan Refa sudah lama berada di sini.”


Aku sontak menoleh mengikuti arah jari telunjuk Pak Reno yang membidik jendela dan langsung terhubung dengan langit biru.


Mampus!


Jadi aku sudah semalaman berada di sini?


Mertuaku bagaimana? Modar aku!


“Aku harus pulang. Oh ya Tuhan Bu Lastri pasti sudah menungguku di rumah.”


“Tidak perlu! Aku sudah lebih dulu menghubunginya.”


“Benarkah? Lalu bagaimana?”


“Kelihatannya mertuamu itu sama sekali tak perduli dengan keadaanmu dan Pricilia.”


Plak!


Hatiku serasa ditampar oleh zat tak kasat mata bertubi-tubi. Benarkah yang pria ini katakan? Kalau memang iya maka tega sekali mertuaku itu. Sungguh aku tak berharap ia akan iba pada menantunya ini. Tapi Pricilia? Kenapa dia seolah bersikap tak perduli? Ya Tuhan pedih sekali rasanya.


“Lalu bagaimana dengan Pricilia? Apakah sudah ada kabar?”


“Sampai saat ini polisi masih dalam tahap pengejaran pelaku.”


“Aku sangat khawatir dengan Pricil.” Tanpa terasa bulir kristal mencelos begitu saja dari pelupuk mataku.

__ADS_1


Di mana dia sekarang?


Biasanya pagi-pagi begini aku selalu menyuapinya dengan bubur nasi dan juga susu. Tapi kali ini? Oh Rabbi, dia masih bernapas saja aku sudah sangat bersyukur.


“Hei hei! Kenapa kau menangis? Kemarilah.” Pak Reno mendekatkan tubuhnya ke brankar, dan …


Ya ampun! Ini nyata?


Aduuuuh jantungku jadi berdenyut-denyut.


Pria itu mengusap-usap air mataku yang masih keukeuh membanjiri pipi.


“Anakmu pasti baik-baik saja.”


Apa seperti ini rasanya diperhatikan oleh seseorang? Ah andai saja lelaki yang berada di hadapanku ini adalah Hero pasti aku akan segera membalas perlakuannya itu dengan sebuah pelukan erat.


Entah kenapa tiba-tiba saja darahku berdesir lebih deras. Aku terpaku, mengapa bisa makhluk salju berubah menjadi hangat? Refa pun begitu, sedari tadi dia tak henti-hentinya mengusap punggung tanganku lembut. Tuhan, aku seolah memiliki keluarga baru.


...***...


Langit menjelma abu dan mentari mengundurkan diri lalu menjauh. Aku memperhatikan kerlipan bintang dari jendela kaca yang gordennya masih terbuka. Ada Neni dan juga Elin yang sedari sore tadi sudah di sini.


“Kau jangan terlalu negative thinking ya Che. Aku tak ingin kondisimu semakin parah.” Elin mengusap-usap pucuk kepalaku lembut. Wanita itu tak ubah layaknya seorang ibu yang sangat khawatir dengan kondisi putrinya sendiri.


Aku menggeleng. Bagaimana mungkin dapat tenang? Bagaimana mungkin bisa berpikir jernih sedangkan di luar sana intan hati kita entah sedang di mana, bersama siapa dan bagaimana keadaannya. Kalaupun ada seorang ibu yang dapat melakukan itu, maka sudah bisa dipastikan mentalnya pasti terganggu.


“Tapi aku curiga dengan sikap majikanmu tadi.” Kali ini Neni pula yang angkat suara.


“Dia sangat perhatian bahkan sampai rela mengorbankan pekerjaannya demi menjagamu. Dan mungkin kalau kami belum ke sini pasti pria itu tak akan beranjak pulang ke rumahnya.” Alis Neni saling tertaut tanda berpikir.


“Ah kau ini terlalu lebay! Itu hanya bentuk simpati karena aku adalah orang yang membereskan rumahnya setiap hari.”


“Apa tingkahnya akan semanis itu padamu di lain waktu?”


“Tidak. Baru kali ini.”


“Eum aku merasa dia menaruh hati padamu Che.”


“Hei jaga mulutmu! Kalau tiba-tiba orangnya masuk bagaimana? Lagipula kau ini sangat aneh! Mana ada seorang majikan yang mau mencintai jongosnya sendiri, apalagi jika wanita itu janda beranak satu sepertiku.” Mataku membeliak sempurna. Mulut Neni memang tak pernah bisa direm kalau sedang berbicara.


“Tidak ada katamu? Huh banyak! Bahkan temanku juga ada yang sudah memiliki empat orang anak dengan mantan majikannya sendiri.”


“Ya tapi kasusnya beda Neni. Pak Reno kan sudah mempunyai seorang istri.”


“Ah sudahlah! Bahasan kalian ini terlalu dalam.” Elin melerai perdebatan sengit kami. Kuakui memang selalu dia yang menjadi penengahnya.


Malam kian larut dan menghantarkan aku pada alam kantuk. Jujur, sebenarnya sedari tadi aku menunggu kehadiran Bu Lastri di sini. Aku benar-benar ingin membuktikan perkataan Pak Reno tentang wanita yang katanya tak perduli dengan nasib menantu dan juga cucunya ini. Namun sepertinya kali ini aku nyaris sependapat dengannya. Mertuaku itu memang tak datang. Entahlah, sampai sekarang aku juga bertanya-tanya mengapa ada manusia tak berhati seperti dia.

__ADS_1


“Kalau begitu kami pulang dulu ya Che. Ingat pesanku tadi!”


“Iya betul. Kau juga harus banyak istitahat dan makan yang cukup ya.”


“Semoga lekas sehat dan Pricilia juga segera ditemukan.”


“Aamiin. Terimakasih ya semuanya.”


Ceklek.


Pintu tertutup rapat dan kali ini aku benar-benar sendirian. Aku jadi teringat biasanya kalau malam-malam begini pasti Pricil selalu menyelip di bawah ketiakku sembari memegangi kuda poni kesayangannya.


Hero, kau di mana?


Anak kita hilang sayang.


...***...


“Apa? Penculiknya sudah tertangkap namun anakku juga belum ketemu? Bagaimana bisa?”


Darahku sontak mendidih, tanganku mengepal ingin menumbuk benda apa saja yang saat ini berada di hadapanku. Kabar semacam apa ini? Telingaku rasanya ingin mencelos dari tempat.


“Entahlah Che. Ibu itu bilang kalau dia meninggalkan anakmu di sebuah pondok-pondokan untuk membeli susu di kedai. Namun saat dia kembali Pricil sudah menghilang dari tempat.”


“Jadi maksudnya anakku kembali diculik setelah diculik?”


“Kemungkinan seperti itu.”


Aaaaaaaaa! Kurang ajar! Sialan!


Apa lagi ini ya Tuhan? Aku sungguh lelah.


Jadi di mana keberadaan Pricilia sekarang? Sudah tiga hari aku menunggu kabar lalu semakin hancur di hari ini.


“Kita akan kembali mencarinya. Kau tenanglah. Lihat! Sudah tiga hari dan anakmu masih hidup jugakan?”


“Tapi kali ini dia dibawa oleh lain orang. Bagaimana jika dia dijadikan pengemis cilik nantinya atau mungkin dia sudah dibu-“


“Shhhhh!” Kalimatku sontak terhenti. Aku dapat melihat dengan jelas jari telunjuk bersemayam di bagian atasnya. “Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku percaya bahwa anakmu akan segera ditemukan.” Sambung Pak Reno menimpali.


Sudah empat hari aku berada di rumah sakit dan selama itu pulalah aku tidak bekerja membabu di tempat biasa. Kedai Bu Neti? Oh lupakan soal itu! Dia sudah menemukan penggantiku sesaat setelah satu hari aku tidak masuk.


Malang~


...***...


Bersambung

__ADS_1


Like & comment guys


Semoga kalian sehat selalu 🤗


__ADS_2