SUAMI KITA BERSAMA

SUAMI KITA BERSAMA
HAMPIR TERPANGGANG


__ADS_3

Kreeek.


Aku membuka kain gorden yang melekat pada sang jendela. Butiran debunya menyeruak menusuk indra penciumanku, maklumlah aku juga jarang di rumah dan membuat bangunan ini belum sempat dibersihkan total.


Entah ada Ilham dari mana tapi yang jelas setelah tinggal di rumah ini aku merasa kenyamanan yang luar biasa. Aku seakan hidup bersama orang-orang yang kusayangi dan menyayangku, padahal aku tengah sendiri di sini.


Apalagi kalau anak tetangga sudah menangis, ahh rasanya ingin kucium saja bocah yang sebenarnya belum kuketahui wajahnya itu. Terkesan sedikit kurang ajar sebenarnya tapi jujur tangisan bayi itu membuat hatiku serasa damai dan ingin melihatnya secara langsung.


Kalau ada waktu luang pasti aku akan ke sana, janji.


Ohiya ngomong-ngomong Pak Reno bagaimana ya? Karena terakhir kali kami pulang kemarin pria itu sama sekali tak bertegur sapa denganku. Entah malu atau memang marah tapi yang jelas kami berdua tak ada bedanya dengan manekin di pasar Rebo, kaku.


Sebenarnya aku juga masih bingung sama omongannya kemarin. Beneran ga sih? Atau dia cuman pengen ngehibur aku doang. Tapi setelah dia menceritakan tentang kejadian yang sesungguhnya rasanya sangat mustahil kalau dia berbohong. Lalu aku harus bagaimana? Aku jadi sungkan untuk bertemu.


...***...


“Ibu udah dateng?” Refa memelukku erat, aku tersenyum.


Lihatlah Che! Betapa sayangnya anak ini terhadapmu. Rengkuhannya tulus layaknya seorang anak kepada ibu kandungnya. Wajah sumringai tak pernah pudar di saat sedang bersamamu. Meski kadang nakal namun sejatinya memang begitulah perangai setiap bocah.


Aku bergeming sendiri di dalam hati, perkataan Pak Reno semakin menyesaki isi kepalaku. Kuakui, Refa memang tak pernah mendapat perlakuan sehangat ini dari mamanya sendiri. Tapi apa mungkin hal itu akan mengurangi rasa kasihnya terhadap Bu Farah?


“Ayo tita macuk bu.”


“Iya sayang.”


Seisi ruangan tampak hampa. Kemana ayah si anak gendut ini? Biasanya batang hidungnya tak pernah absen. Ah iya aku sampai lupa kalau dia sedang kesal terhadapku.


“Papa kamu di mana bang?”


“Nda tau tadi ada di atas."


“Belum pergi kerja ya?”


“Beyum.”

__ADS_1


Tuhkan bener. Biasanya pria beranak satu itu pasti kerap berseliweran di ruangan ini guna memakai dasi, sepatu ataupun sebagainya. Eum kalau ketemu nanti aku harus apa ya? Aku jadi malu banget.


Udah ah mending cuci piring dulu.


16:00 WIB


“Huuuft.” Aku menarik napas dalam kemudian membuangnya dengan kasar. Lelah sekali dibuat si Refa, satu hari suntuk kerjaannya menghancurkan dapur dengan dalih main masak-masakan.


Tepung, telut, gula, saus, mayones dan sayur mayur dia jadikan satu di dalam kuali lalu digoreng. Entah jadi apa tapi yang jelas saat ini benda bulat besi tersebut sangat lengket dengan bahan-bahan dapur yang Refa aduk menjadi satu di atasnya. Selain main mobil-mobilan ataupun sejenis permainan cowok lainnya, anak satu ini juga punya minat di bidang masak memasak. Tidak terlalu sering namun tak juga dikatakan jarang si tabung gas satu ini membuat kekacauan di dapur dengan segala menu makanan anehnya itu.


Aku duduk termangu membiarkan Refa bermain sepuas hatinya di sana. Sesekali senyumnya mengembang seraya berkata “Ibu macakanku cudah jadi” kepadaku. Tak berharap banyak tapi semoga Refa tumbuh menjadi anak yang kuat dan mental baja. Karena tak menutup kemungkinan meskipun dia seorang lelaki namun psikisnya juga bisa terganggu karena kejadian miris yang sedang menimpa nasib keluarganya kala ini.


“Kau mau tidak jadi ibu sambung bagi Refa?”


Huh kalau sudah begini aku jadi teringat perkataan Pak Reno. Kenapa ya? Apa matanya sedang buta makanya dia tak mampu lagi melihat mana wanita berkelas dan mana wanita yang saban harinya hanya menjadi babu di rumah orang.


Jujur saja, aku memang pernah kesemsem sama cowok satu itu tapi jauh sebelum aku mengetahui bahwa ternyata dia memiliki seorang istri. Aku juga sebenarnya sayang sekali sama Refa, dia itu sudah kuanggap sebagai anak kandungku sendiri. Selama bekerja di rumah ini aku seolah memiliki sepasang amanah yang dititipkan Sang Maha Kuasa kepadaku, Pricilia dan juga Refa. Tapi entahlah, hatiku seakan menolak dan berkata bahwa Hero sang mantan suamiku itu suatu saat akan kembali menjemputku dan juga Pricilia.


Tapi kalau dipikir-pikir sampai kapan ya? Sudah hampir setahun dan Hero tak juga datang kepadaku. Aku rindu, aku rindu saat-saat bersandar di bahu kekarnya. Ingin sekali aku menumpahkan tangis ini lagi dan merasakan sapuan hangat jemari tangannya di pipiku.


Apa masih ingat dengan istri dan juga anakmu?


Ah bahkan mulai dari putri kecil kita berada di sini sampai hilang pun kau tak juga menunjukkan diri.


Sialan!


“Aaaaaaa toyoooooong toyoong.”


“ASTAGA! Awas nak!”


Byuuuuuur.


Bup!


“Ck double sial!” Aku kaget banget sumpah.

__ADS_1


Di tengah lamunanku tiba-tiba saja si Refa menjerit minta tolong dan kulihat kobaran api besar sudah bersarang di atas wajan gedenya. Kok bisa? Dari mana datangnya api itu? Aish sekarang wajahku pun ikut gosong karena kelakukan badak air satu ini.


“Huuuuu uuu hiks hiksss.”


“Sudah sayang sudah. Apikan sudah mati kok.” Kataku mencoba menenangka Refa. Apinya memang sudah kusiram pakai air seember tadi, untung bisa padam.


“Apinya jahat bu huuuu.”


“Iya nak tenang ya, nanti kita aduin papa kamu apinya ya.” Aku memboyong Refa dan membawanya ke kamar atas. Biarkan saja dulu dapur berantakan dan banjir seperti itu, lebih baik kutidurkan dulu saja si pembuat kericuhan ini.


Lagian kenapa mesti menyalahkan si api? Dasar dia saja yang tak beres!


Hampir saja kami mati terpanggang di rumah ini.


...***...


“Wah manisnya senyumnya.”


“Siapa namanya yaaa.”


“Papa bakal beliin kamu baju baru.”


Suara besar khas pria terdengar dari sebelah sana. Ini merupakan kali perdana aku mendapati bahwa ternyata si bayi tetangga dirawat oleh ayahnya sendiri. Ibunya ke mana ya? Aku mendengarkan dengan hikmat sambil mesem-mesem sendiri di dalam kamar, penasaran sekali dengan tetangga sebelah yang entah kenapa membuat hatiku seolah diundang rasa bahagia.


“Eum apa aku antarkan saja kepada mereka makanan ya?”


Aku menimbang-nimbang sesuatu. Sebenarnya uangku juga sudah hampir kandas tapi di dapur masih ada kacang hijau dan juga kelapa tua yang siap diproses untuk menjadi bubur. Aku ingin sekali bertemu dengan anak itu sekaligus penasaran dengan sang papa. Kurasa anak itu baru lahir karena pria itu tadi mengatakan “siapa namanya ya.” pada bayi kecilnya itu. Tapi kalau didengar-dengar lagi tangisan anak tersebut seolah menunjukkan kalau dia bayi berusia lima bulan ke atas, kentara sekali dari suaranya yang sudah mulai besar. Eum kenapa masih ditanya siapa namanya ya?


Ah entahlah mungkin memang suara si bocah cilik itu saja yang memang begitu.


...***...


Bersambung


Like & Comment

__ADS_1


❤️


__ADS_2