Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 15


__ADS_3

Siapa lagi jika bukan Eden.


Eden datang dengan membawa catatan di tangannya, dia di temani oleh beberapa penjaga.


Para lelaki yang tadinya ricuh dan bertelanjang dada, sekarang tengah mencari pakaiannya masing-masing.


" Ekehm! " Eden berdehem, seolah menandakan kalau mereka harus secepatnya kembali ke tempat mereka.


Para pelayan lelaki yang tadinya bertelanjang dada, sekarang sudah berpakaian.


| Hilang sudah dada yang berotot. | Pikirku yang merasa rugi.


Mereka duduk di atas kasur mereka masing-masing.


" Bisakah kita mulai? " Tanya Eden.


Mereka tidak mau menjawab, hanya mengangguk saja.


Eden mulai membuka tintanya, dan segera mengabsen satu persatu dengan menyebut nama mereka.


" Hasan?.....


Laki-laki dengan rambut coklat hitam berdiri dan mengangkat tangannya.


" Saya di sini... " Ucapnya.


Eden mengangguk.


" Jadney?.... " Panggil Eden.


" Saya di sini. " Laki-laki berambut merah berdiri.


" Asalit?... " Eden mengabsen lagi.


" Saya di sini.. " Laki-laki berambut abu-abu berdiri.


" Teo? " Eden memanggil namaku, mungkin ini yang terakhir.


Aku berdiri dan mengangkat tanganku sama seperti mereka.


" Saya di sini... " Ucapku seraya berdiri dan memangkat tangan.


Eden mengangguk, tapi, dia melanjutkan lagi mengabsen.


| Ku pikir aku yang terakhir, karena di sini hanya ada 4 orang, termasuk diriku. | Pikirku.


" Rakian?..." Eden memanggil lagi.


Tapi tidak ada yang berdiri. Karena mereka sudah kebagian.


Eden memanggil sekali lagi.


" Rakian?.......


Tidak ada sama sekali. Lalu Eden bertanya kemana Rakian.

__ADS_1


" Dimana Rakian? " Tanya Eden.


Semuanya menggeleng tanda tidak tahu.


" Cari Rakian!! " Eden memerintahkan penjaga yang datang bersamanya untuk mencari Rakian.


Tapi, tiba-tiba suara laki-laki yang sedikit serak terdengar dari belakang.


" Brisik sekali!.....


Semua menengok ke arah sumber suara, begitu pula dengan diriku.


Saat aku berbalik, aku melihat laki-laki yang baru selesai mandi, rambutnya pirang ke emasan dan itu masih basah oleh air. Matanya berwarna emas ke abu-abuan, dan tentu saja dia seksi.


| Benarkah dia seorang pelayan? kenapa wajahnya lebih mirip bangsawan. Bahkan bangsawan wajahnya tidak seperti dirinya. |



| Sungguh..... otot yang sempurna. | Pikirku.



Jujur saja ini bukan mesum atau apa, ini hanya naluriku sebagai penggemar otot.


Jangan panggil aku mesum!!!


| Yahh....tidak buruk melihat otot di tengah kecemasanku akan Johannes si pria imponten. | Pikirku.


Eden segera bertanya kemana dia.


Yah, tentu saja Rakian bilang bahwa dia baru selesai mandi, akan tetapi, dia membicarakannya secara lengkap.


" Saya baru selesai mandi...." Ucap Rakian dengan wajah datar.


" Saya menggosok gigi dengan daun mint , saya juga menggosok punggung saya dengan benar...Terlebih lagi, saya menyemprotkan cairan di tubuh saya, cairan itu sangat wangi dan berbusa....sehingga saya keterusan untuk menggunakan cairan tersebut......


" Yah...sebenarnya saya lama di bagian itu.....



Mendengar hal tersebut, semua orang ternganga, dengan ucapan Rakian.


| Dia berbicara seperti itu dengan ekspresi datar tanpa ada beban. Sungguh pria yang lucu. | Pikirku.


" Cairan apa yang kau maksud? " Tanya Eden.


" Entahlah.....


" Itu semacam sabun mandi....


" Dan...


Rakian menunjuk Hasan....


" Dia yang membelinya....kau beli dimana sabun ini? " Entah kenapa Rakian malah membahas sabun mandi.

__ADS_1


| Kenapa pembicaraan ini malah ke arah sabun mandi. | Pikirku.



Hasan berdiri, dan dia menjawab pertanyaan Rakian.



" Saya membelinya dari pasar tadi siang, sabun itu sangat wangi. Penjual itu bilang, kulit anda akan lembut bercahaya setelah menggunakannya. Bahkan kulit anda akan mengkilat seperti kaca. " Hasan menjelaskan dengan penuh kebahagiaan dan semangat.


| Dia seperti mempromosikan sabun mandi. | Pikirku.


" Wahh benarkah, kalau begitu aku harus mencobanya! " Itu Jadney yang berbicara.


Eden menggelengkan kepala melihat situasi tersebut, dia lngsung mengganti suasana menjadi serius lagi.


" Ekhm... hentikan. " Ucap Eden.


Mereka diam, tapi Rakian malam kembali ke kamar mandi.


" Mau kemana dia? " Eden termenung dan bertanya.


Rakian kembali dengan membawa sabun tersebut.


" Terima ini kepala pelayan. " Ucap Rakian seraya memberikan sabun mandi kepada Eden.


Eden terdiam.


" Kau.....


| Dia akan marah... | Pikirku.


" Ini bekasmu aku tidak mau..." Ucap Eden tetapi dengan ekspresi sumringah.


| Gah...kenapa dia tidak marah. Apa-apaan Ekspresi senyum sumringah di wajahnya itu? | Pikirku yang melihat Eden tersenyum.


" Tidak ada lagi....Jika tidak mau...


Rakian mengambil lagi sabun itu.


" Aku akan mengambilnya....


Eden merebut kembali sabun itu.


" Kembalikan...." Ucap Eden seraya merebut kembali sabun tersebut.


" Barang yang sudah di berikan.. tidak boleh di ambil lagi..." Ucap Eden seraya menitipkan sabun itu ke penjaga yang dia bawa.


Aku tidak tahu ini situasi apa...Mereka terlihat kikuk di depanku.


| Ini situasi apa? Apa ada yang bisa menjelaskan? | Aku bertanya-tanya dalam batinku..


...----------------...


BERSAMBUNG......

__ADS_1


__ADS_2