
Alunan musik yang halus, terus terdengar di tengah keramaian para bangsawan. Elenoa yang masih berdansa dengan Johannes, dia merasa sedikit risih.
Tentu saja, karena Elenoa sebentar lagi, harus berubah indentitas menjadi Teo.
| Saat ini aku sedang panik, karena sebentar lagi Putra mahkota akan bertanya kemana Teo? dimana pelayanmu yang bernama Teo? Yah, aku sudah menduga dia akan bertanya seperti itu. | Pikir Elenoa yang saat ini masih berdansa dengan Johannes.
Johannes menatap Elenoa dengan wajah heran, lalu dia bertanya.
" Kenapa kau mau menikah denganku? " Tanya Johannes dingin.
" Saya juga tidak tahu, kenapa saya bisa menikah dengan anda. " Jawab Elenoa.
| Itu karena aku menginginkan kebebasan. | Batin Elenoa jujur.
" Gaya bicaramu seperti seseorang...." Ucap Johannes curiga.
| Gaya bicaranya mirip dengan Teo. | Pikir Johannes.
| Gawat!! sepertinya pria ini mulai curiga denganku. | Pikir Elenoa.
" Itu hanya perasaan anda saja. Anda bahkan baru pertama kali bertemu dengan saya. " Ucap Elenoa dingin dan tenang.
Kemudian, alunan musik dansa pun berakhir, dan para bangsawan mengakhiri dansa tersebut.
" Dansanya sudah selesai, kau boleh pergi. " Ucap Johannes dingin.
Elenoa menggerutu dalam batinnya.
" Anda tidak perlu menyuruh saya pergi. " Ucap Elenoa dingin.
| Saya akan pergi, anda tidak perlu menyuruh saya pergi. Pria imponten!!! | Batin Elenoa kesal.
| Nada bicaranya tiba-tiba dingin dan acuh, perasaan tadi dia tidak seperti itu. Apa perasaanku salah? | Johannes dalam batinnya.
Saat Elenoa akan pergi, tiba-tiba Eden menyela.
" Nyonya, anda akan pulang bersama dengan saya. " Ucap Eden.
| Nyonya pasti mengertikan. | Pikir Eden.
Elenoa tentu saja mengerti maksud Eden.
" Baiklah Eden. Tolong pimpin jalannya. " Ucap Elenoa tegas, seraya melirik sinis Johannes.
Johannes pun ikut menatap matanya dengan lebih tajam, pandangan mereka seakan mencipratkan kilatan biru.
" Nyonya, mari. " Eden memecah suasana.
" Ayo. " Elenoa berbicara, seraya pergi.
...----------------...
Pangeran kerajaan Quarter, Rafaelo San Quarter. Dia ingin melakukan pertemuan dengan Johannes. Tapi sebelum itu, Putra mahkota Isis ingin bertemu dengan Teo.
Sekarang mereka sedang duduk di kursi di dalam ruang istirahat.
Persis seperti yang di bilang Elenoa, jika Isis akan bertanya kemana Teo, dimana Teo.
" Kak, dimana Teo? Dimana pelayanmu yang bernama Teo itu? " Tanya Isis tidak sabar.
" Aku tidak tahu, dari tadi aku tidak melihatnya. " Ucap Johannes ketus.
" Lihat ajudanku, kak. " Isis menatap Grace yang terlihat bengong
Johannes pun ikut menatap Grace, tempay duduk Grace berada cukup jauh dengan Johannes.
Melihat Grace yang tiba-tiba tersenyum sendirian, Johannes pun bertanya, kenapa ajudan Isis terlihat seperti orang bodoh.
__ADS_1
" Apa yang kau perbuat, sehingga ajudanmu terlihat bodoh seperti itu? " Tanya Johannes.
Isis menghela nafas, dan menjawab.
" Haahh......
" Dia bilang, dia sedang jatuh cinta pada pandangan pertama. " Ucap Isis.
| Aku kesulitan menghadapi orang ini (Johannes), tapi Grace. Dia malah memikirkan pria yang membuatnya jatuh cinta. Sebenarnya siapa pria itu, hingga setingkat Grace pun luluh. | Pikir Isis.
Tidak heran Isis penasaran dengan pria yang telah meluluhkan hati Grace, karena Grace selalu mengabaikan pria, dia seolah tidak tertarik dengan pria.
Baru kali ini Grace bertingkah seperti itu.
Tentu itu adalah sebuah kesalahan, karena orang yang di sukai oleh Grace adalah Teo.
" Permisi, apa saya boleh masuk. " Dan orang yang bersangkutan pun akhirnya muncul.
Isis, Johannes, terutama Grace mereka melirik Teo.
Grace yang melihat Teo, dia pun membuka matanya lebar-lebar, dan dia berbicara.
" Anda.....apa anda yang waktu itu? "
| Grace, dia mana tahu kau. Waktu itu aku tidak menunjukkan diriku. Tentu saja dia tidak akan tahu. | Grace dalam hatinya.
Elenoa yang mendengar perkataan Grace, dia heran dan bingung. Elenoa berpikir, kapan dia bertemu dengan Grace.
| Apa kami pernah bertemu, tapi sepertinya tidak pernah. | Pikir Elenoa.
" Lihat apa kau, cepat duduk!! " Johannes menegur Elenoa.
" Baik, saya akan dud—
" Tunggu!!.....
Elenoa tersadar, kenapa dia harus duduk di sebelah Johannes.
Johannes hanya menaikkan alisnya dan dia menatap Elenoa lekat.
" Teo, duduklah, jika tubuhmu tidak mau berlubang. " Ucap Isis.
Grace yang melihat Teo, dia merasa senang. Grace pun bertanya.
" Bolehkah saya duduk di samping anda? " Grace bertanya.
Johannes dan Isis, mereka berdua heran dengan Grace. Mereka tersaingi, Johannes pun tidak mau kalah.
" Tidak!! Teo harus di sebelahku. " Johannes tegas.
Isis tidak mau kalah, dia pun bersuara.
" Saya yang memanggilnya ke sini, jadi Teo harus duduk di sebelah saya!! " Ucap Isis.
" Tidak, Sir Teo harus di sebelah saya. " Grace tidak mundur.
Elenoa yang melihat tingkah mereka, dia merasa geli dan bergidik.
| Ada apa dengan ke tiga mahluk yang ada di depanku ini. Yang satu pria brengsek berkepala emas, yang ke dua pria imponten bergunung es, dan yang terakhir perempuan berwujud kesatria. | Pikir Elenoa.
" Kenapa aku bertemu dengan orang-orang aneh. " Gumam Elenoa pelan.
" Teo, cepat duduk di sebelahku. Kau harus menuruti perintah putra mahkota!! " Ucap Isis, si pria brengsek berkepala emas.
" Teo, kau harus duduk di sebelahku. Jika tidak, kau akan pulang tanpa kereta. " Ancam Johannes, si pria imponten bergunung es.
__ADS_1
" Sir Teo, duduklah dengan saya. Akan lebih baik dengan saya. " Bujuk Grace, si perempuan berwujud kesatria.
| Haaaahhhh......mereka kenapa? | Elenoa bertanya-tanya.
Pada akhirnya, Elenoa memilih Grace.
" Lihat!! Sir Teo ingin duduk dengan saya. " Grace merasa senang.
| Apa Sir Teo tertarik denganku? di antara dua laki-laki yang hebat. Sir Teo malah melirik ku. | Pikir Grace salah paham.
| Dari pada aku berdekatan dengan dua pria menyebalkan itu, lebih baik aku duduk di sebelah Grace. Selain perempuan, dia juga tidak terlalu buruk, jika di bandingkan dengan dua pria itu. | Pikir Elenoa.
Isis dan Johannes, mereka membuat wajah sebal. Lalu mereka pun berbicara.
" Teo, aku ingin berterima kasih karena kau telah memberikan informasi yang berharga. Sehingga aku bisa melewati perjamuan antar kerajaan ini dengan benar dan berjalan lancar. " Isis berterima kasih.
Elenoa pum merasa bangga dengan dirinya sendiri, tapi terselip juga perasaan marah.
Kenapa tidak?....
Awalnya Elenoa di curigai, Bahkan Elenoa harus di tahan di kediaman Johannes. Walaupun dia bukan di penjara, melainkan di jadikan sebagai pelayan pribadinya.
" Anda sudah menuduh saya, meskipun saya pikir itu wajar. Mana mungkin anda akan langsung percaya dengan omong kosong seorang pelayan seperti saya. " Ucap Elenoa.
" Jadi saya sedikit memaklumi, walaupun saya memang tidak bisa bilang bahwa saya tidak marah. " Ucap Elenoa sekali lagi.
Johannes tidak merasa bersalah, karena itu memang hal yang wajar. Meskipun itu menurut dia.
" Jadi, Teo....
" Sebagai gantinya, apakah kau mau bekerja sebagai pelayan pribadiku di istana? " Tanya Isis.
Johannes yang mendengarnya, dia langsung berbicara.
" Teo masih menjadi pelayanku. " Johannes melupakan sesuatu, mengenai kontraknya dengan Teo waktu di taman.
| Wahh.....apa dia lupa dengan ucapannya waktu itu? | Elenoa bertanya-tanya.
" Maaf, Grand Duke. Tapi anda bilang kontraknya akan berakhir jika malam ini saya terbukti tidak bersalah. " Ucap Elenoa.
" Apa kau benar-benar akan melepas kontraknya? " Tanya Johannes.
" Ya, saya tidak mau menjadi pelayan anda. Karena anda adalah tuan yang memuakkan. " Elenoa sebenarnya tidak berniat berbicara dengan kejam seperti itu, dia hanya ingin memberi Johannes sedikit pelajaran.
| Apa aku keterlaluan? tidak, ini tidak keterlaluan. Dia lebih keterlaluan. | Pikir Elenoa.
Wajah Johannes seketika diam tanpa ekspresi, dia terlihat seperti tersinggung dengan ucapan Elenoa.
" Heh...baiklah. Kau pasti muak dengan tuan sepertiku.....
" Pergilah, lagi pula aku memang memuakkan. " Ucap Johannes.
Suasana di sana tiba-tiba hening dan mencekam.
| Apa dia marah? Aisshh.....itu tidak heran. Dia memang selalu marah. | Pikir Elenoa.
Berbeda dengan kali ini, Johannes terlihat lebih bungkam di banding dengan marah dan berteriak.
" Aku akan kembali sekarang. " Ucap Johannes seraya berdiri dengan cepat dan pergi.
Isis pun mencoba memanggil Johannes.
" Kak, pertemuan dengan pangeran Rafaelo, bagaimana? " Isis bertanya dengan berteriak.
Johannes tidak mengubris, dia kembali begitu saja tanpa Teo.
" Apa saya sudah berlebihan? " Tanya Elenoa.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG........