
Rumah kaca kediaman Elenoa.
Di kediaman Elenoa banyak sekali pelayan, itu di kirim oleh Johannes. Pada awalnya Johannes meminta Elenoa untuk tinggal di kediaman pribadinya, tapi Elenoa menolak.
Dia suka kediamannya yang lama, karena di sana banyak kesatria yang berjemur. Jika alasan itu sampai ke telinga Johannes, dia pasti tidak akan membiarkan hal ini.
" Nyonya, anda mau meminum teh? " Tanya pelayan wanita.
" Tidak, terima kasih. Kau bisa pergi. " Ucap Elenoa seraya tersenyum.
Pelayan tersebut pun pergi, seraya membungkuk hormat.
Elenoa yang ada di sana, dia pun memanggil binatang yang dia bawa dari hutan.
" Jon? " Elenoa memanggil Jon.
" Ggrrrraauu? " Jon datang dan mengibaskan ekornya manja.
" Apa kau tahu? Ternyata orang yang membawamu kemari sangat manis. " Elenoa bercerita tentang Johannes.
" ....Ggrttttt....." Jon memalingkan wajahnya dingin, dia seperti tidak mau mendengar tentang Johannes.
" Eytt....kenapa wajahmu seperti itu, dia tidak seburuk yang kamu lihat, Jon. " Ucap Elenoa.
Tetap saja, Jon tidak suka, dia pergi dan berbaring di atas hamparan rumput dengan wajah acuh.
Elenoa yang melihatnya, dia sedikit bergumam.
" Entah kenapa sikapnya mirip sekali dengan John. Apa sesuatu seperti itu memang sering terjadi? " Gumam Elenoa.
' Brakkbruk....'
Di saat dia sedang berbicara dengan Jon, tiba-tiba dia mendengar sesuatu dari belakang rumah kaca.
" Apa itu? " Elenoa bertanya-tanya.
__ADS_1
Jon yang sedang berbaring pun bangun, dia berlari ke arah belakang rumah kaca.
Elenoa pun mengejar Jon, takutnya dia akan melukai seseorang.
" Jon!! tunggu aku! " Teriak Elenoa, dia pun mengejar Jon.
Sesampai di sana, mata Elenoa seketika melebar seperti bola, dia terkejut dengan apa yang ditangkap oleh sepasang matanya.
Matanya melebar, melihat sesosok pria dengan tubuh yang di penuhi luka, wajahnya bahkan terlihat pucat pasih seperti orang mati, matanya terlihat linglung.
" Gggggrrtttttttt!!!..." Jon menggeram dengan tubuh yang siap menerjang sesosok pria yang penuhi oleh darah tersebut.
Pria itu tidak lain adalah Rakian. Dia datang lewat lubang kecil yang berada di sana. Dengan keadaannya yang seperti itu, dia berhasil melarikan diri dari Veronica.
" .......Ahh...." Rakian menatap Elenoa dengan matanya yang sebentar lagi menutup.
Elenoa dengan panik menghentikan Jon, untuk tidak menyerangnya.
" Jon!! hentikan, jangan menyerangnya!! " Elenoa mencegah Jon.
Jon masih kekeh, dia tahu bahwa orang yang ada di hutan Goblin waktu itu adalah Rakian, hewan sangat sensitif terhadap bau.
" Ggggrrrrrttttt!!....." Jon, menggeram terus menerus.
Mata Rakian yang sudah berat, menutup begitu saja, dan saat itu pula tubuh yang di penuhi oleh luka ambruk di depan Elenoa.
Dengan panik Elenoa membalikkan tubuh yang di penuhi darah itu.
" Hei!! sadarlah!! " Elenoa mengguncang tubuh itu, tapi Rakian tidak kunjung bangun.
" Ggggrrrtt...." Jon, masih mau menerjang Rakian, dia ingin memakannya.
" Berhenti Jon!! " Elenoa berteriak membentak Jon.
" Hnggg...." Jon pun dengan suara memelas berhenti dan duduk.
Gaun Elenoa di penuhi merahnya darah, dia panik kenapa Rakian bisa terluka seperti ini.
" Rakian?!! " Panggil Elenoa.
Tapi Rakian tidak kunjung bangun, Elenoa kemudian memanggil orang untuk membantunya.
...----------------...
Kediaman pelayan.
__ADS_1
Johannes dan Eden, mereka ada di kediaman pelayan laki-laki. Eden ingin menunjukkan siapa penghianat tersebut.
" Yang mulia, nama dia adalah Rakian. Saya baru mengetahui hal itu, setelah menyelidikinya lagi. " Ucap Eden.
Johannes yang saat itu tengah berjalan menuju ruangan yang ingin Eden tunjukkan dia berbicara.
" Kenapa kau tidak mengatakan ini sejak awal, Eden!! " Bentak Johannes.
Eden yang mengikuti Johannes dari belakang, dia pun meminta maaf atas keteledoran nya.
" Maafkan saya, Yang mulia. Saya sudah ceroboh. " Ucap Eden.
Johannes, dia berbicara lagi, seraya membuka pintu masuk kamar yang di tempati Rakian.
" Atas kecerobohanmu, nyawa seseorang hampir menghilang. " Ucap Johannes.
Saat pintu itu di buka, tidak ada siapapun. Lalu Johannes mendengar keributan dari luar kamar tersebut.
" Bawa dia ke kamarnya! "
" Cepat, dia mengeluarkan banyak darah!! "
Itu terdengar seperti segerombolan orang yang sedang panik. Johannes pergi keluar dan dia melihat segerombolan orang yang membawa pria.
Pria itu adalah Rakian, Johannes lebih terpaku pada wanita yang ada di belakang gerombolan itu.
" Istriku? " Wanita itu adalah Elenoa.
Dengan mata yang lebar, Johannes memanggil Elenoa. Johannea dengan panik menghampiri Elenoa, dan bertanya.
" Ada apa?! apa kau baik-baik saja?! " Tanya Johannes khawatir.
Elenoa menjawab dengan cepat.
" Aku baik-baik saja, tapi Rakian. Dia terluka...." Ucap Elenoa.
Johannes kemudian menatap Rakian yang berada di atas tandu. Dia seperti orang mati, dengan darah di sekujur tubuhnya.
" Yang mulia, saya akan membawa Rakian untuk di obati. " Ucap salah satu teman Rakian.
Johannes dengan alis turun, di mengangguk dan berkata.
" Bawa dia, jangan biarkn dia mati. " Ucap Johannes.
__ADS_1
| Aku harus mengintrogasinya. | Pikir Johannes.
...----------------...