Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 73


__ADS_3

Kembali ke kediaman Johannes.



Johannes memerintahkan Eden untuk memindahkan Rakian ke tempat yang cukup ketat, di mana seseorang tidak bisa menemuinya jika tanpa persetujuan dari Johannes.


Setelah Rakian di pindahkan, banyak orang


yang bertanya-tanya mengenai perlakuan yang di lakukan oleh Johannes.


Itu wajar saja, karena Johannes tiba-tiba memperlakukan Rakian layaknya tahanan rumah.


" Yang mulia, banyak orang yang bertanya-tanya kenapa anda memindahkan Rakian ke kamar yang lebih ketat. " Ucap Eden.


Johannes yang tidak ambil pusing, dia hanya menjawab.


" Biarkan saja, kau tahu jika aku tidak peduli dengan perkataan orang lain. " Ucap Johannes.


Eden mengangguk mengerti. Saat ini mereka berada di depan pintu kamar Rakian. Johannes ingin mengunjunginya, meskipun Rakian belum sadar, Johannes harus tetap memantaunya.


" Buka pintunya! " Perintah Johannes kepada 2 penjaga pintu kamar Rakian.


Penjaga itu mengangguk, dan membuka pintu tersebut.


Saat gagang pintu itu di dorong, terbukalah kamar Rakian. Johannes segera masuk ke dalam.


Eden berhenti di luar karena dia melihat tangan Johannes terangkat, yang menandakan bahwa siapapun tidak boleh mengikutinya.


" Tutup pintunya! " Perintah Johannes.


Pintu itu pun tertutup.


Di dalam kamar Rakian.



Dalam ruangan itu sangat gelap, tidak ada cahaya, Johannes kemudian menyalakan lilin, saat dia sedang menyalakan lilin.


' Grab! '


Tiba-tiba seseorang menarik tangannya dan mengunci tubuhnya. Johannes tidak panik dia malah tersenyum sinis.


" Jangan bermain-main, cengkramanmu tidak kuat. " Ucap Johannes dengan suara tenang.


" .....Omong kosong!......" Orang itu berbisik di telinga Johannes dengan suara serak.


Seseorang itu tidak lain adalah Rakian, dia tahu jika Johannes akan datang sesuai dugaannya.


Saat Johannes berada di depan pintu, dia sengaja mematikan penerangan. Agar Johannes tidak melihat dirinya.


Tapi itu sia-sia, dengan tubuhnya yang terluka, Rakian tidak bisa mengalahkan Johannes.


" ......Kau....sudah tahukan? " Tanya Rakian masih dengan posisi mengunci Johannes.


Johannes dengan cepat menarik tangan Rakian dan membalikkan keadaan.


Seketika Rakian berteriak kesakitan.


' Ack!! ' Sekarang posisi mereka terbalik, Johannes mengunci Rakian.


" Jawab kenapa kau melakukan ini? " Tanya Johannes dengan suara di tekan.


Rakian yang berusaha melepaskan diri dia menjawab.

__ADS_1


" Aku tidak kau menjawab. " Seperti biasa, Rakian memang tidak gampang di taklukkan.


Karena kesal, Johannes menarik lagi tangannya dengan penuh kekuatan.


' Arrgghh!!! ' Rakian meringis lagi.


Johannes tidak peduli mau dia pasien atau tidak, selama Rakian tidak menjawab dia akan terus melakukan itu.


Bahkan sampai lengan Rakian patah, dia akan mencari bagian tubuh lain untuk membuat Rakian bicara.


Itulah kekejam Johannes selama ini, dia selalu mengintrogasi musuhnya dengan cara yang sadis, sampai si musuh mau berbicara membuka mulutnya.


Mungkin jika dia tahu bahwa Rakian adalah adiknya, dia tidak akan melakukan itu.


" Cepat katakan?!! kenapa kau mau membunuhku?!! " Tanya Johannes tidak sabar.


Rakian yang terkunci, dia malah tertawa begitu saja.


" Pfftttt....kau pikir aku mau bicara! " Rakian menjawab dengan nada sombong.


Ketika mendengar suara sombong Rakian, Johannes semakin marah, seolah pertanyaan nya adalah lulucon.


Johannes yang di penuhi amarah, dia meremas bagian tubuh Rakian yang terluka.


' Arrgghhhh!!! ' Rakian berteriak meringis.


Keringat bercucuran dari wajah Rakian, itu karena dia menahan rasa sakit itu. Belum lagi, dirinya masih dalam pengaruh obat-obatan.


" Cepat bicara!! " Teriak Johannes.


Luka yang di remas oleh Johannes terbuka lagi dan mengeluarkan darah.


Rakian yang sudah tidak kuat dengan penyiksaan yang selama ini dia dapatkan, dia berpikir.


Rakian dengan sisa tenaganya menendang kaki Johannes, sehingga cengkraman nya terbuka.


Johannes terdorong ke belakang, Rakian yang sudah lepas, dia memegang bagian tubuh yang di remas oleh Johannes.


Dengan bibir yang terkatup dan tangan mengepal. Rakian berbicara dengan nada putus asa.


" ......Kau tidak tahu kehidupan apa yang aku jalanani....


Johannes yang mendengarnya, dia mengerutkan kening dengan alis turun.


Rakian lalu berbicara lagi dengan tubuh terhuyung tidak setabil.


" ....Ibuku bernama Palerria Midletton....


Seketika ruangan itu hening, suasana malam menambah keheningan di ruangan itu.


Rakian mengatakan nama ibunya yang berarti juga, nama ibu Johannes.


Palerria Midletton, ibu dari Johannes sekaligus Rakian. Pernyataan yang mengejutkan itu menjadi pertanyaan di kepala Johannes.


Dengan mata kaget, Johannes bertanya memecahkan keheningan yang terjadi sesaat.


" Apa yang kau katakan?!! " Tanya Johannes serius.


Rakian perlahan mengangkat kepalanya dan menjawab pertanyaan Johannes.



" Kau...

__ADS_1


" Hidup nyaman di sini.....


" Sedangkan aku?....


" Aku di buang seperti sampah!!


" Jika aku boleh memilih di lahirkan dari rahim ibu yang seperti apa.....


" Aku akan memilih.....


" Aku akan memilih ibu yang sederhana tetapi menyayangi anaknya!!


" Tidak peduli mau dia miskin atau cacat!! Selagi dia tidak membuang anaknya itu jauh lebih baik!!


" Itu tidak buruk untukku.....


Semakin Rakian berbicara dengan suara seraknya, Johannes semakin tidak mengerti apa maksud dari perkataan nya.


" Bicara yang singkat!! jangan bertele-tele!! " Teriak Johannes emosi.


Seolah darah naik dan mendidih, Johannes berteriak kesal kepada Rakian. Dia butuh pengakuan jelas tidak bertele-tele.


" Mungkin kau tidak percaya....


" Aku adalah adikmu!! meskipun berbeda ayah!! " Akhirnya Rakian mengatakan hal itu, jawaban yang menegaskan.


Johannes seketika goyah, dia dengan tubuh terguncang maju dan meninju Rakian tanpa pemberitahuan.


' Buak!! ' Tinju itu mendarat di wajah Rakian yang pucat.


Tubuh Rakian jatuh ke lantai karena tinju Johannes, tapi dia tetap sadar.


Johannes seakan tidak percaya, dia menghela nafas kasar dan menggosok rambutnya acak.


" Berhenti membual dan katakan yang sejujurnya!! " Teriak Johannes.


' Uhuk....' Rakian berusaha berdiri dengan keadaan linglung.


".....Aku mengatakan hal yang jujur...." Jawab Rakian sulit.


Seakan tidak percaya, Johannes dengan tubuh terhuyung duduk di atas kasur dan berpikir mengenai ibunya.


|Apa benar, ibu mempunyai anak lain? Dia tidak pernah berkata apa-apa kepadaku. Bukan hanya itu, aku bahkan tidak pernah merasakan kasih sayang dari ibu dan ayahku. | Pikir Johannes.


Siapa yang tahu apa yang terjadi, karena Rakian dan Johannes adalah anak yang di telantarkan oleh kedua orang tuanya.


" Aku akan menyelidiki ini, jadi kau akan di tahan di sini. Jika benar kau memang adikku, aku akan memperlakukan mu layaknya adikku, tapi jika bukan, aku akan membunuhmu!! " Ucap Johannes seraya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Tapi sebelum itu, Rakian bangun dan berteriak.


" Aku tidak mau!! karena aku sudah muak!!....


" Lebih baik, kau membunuhku sekarang!! karena aku sudah muak dan lelah!! " Teriak Rakian putus asa.


Saking lelah dan muaknya Rakian menjalani kehidupannya, dia meminta Johannes untuk membunuh dirinya.


Johannes yang akan membuka pintu keluar, dia berbicara dingin tanpa berbalik.


" ....Itu tidak mungkin terjadi. " Ucap Johannes.


Johannes pun membuka pintu keluar dan dia pergi begitu saja.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2