Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 81


__ADS_3


Elenoa kemudian pergi dari ruangan Rakian, dia pun melanjutkan kembali perjalanannya untuk menemui Johannes.


Ruby pada saat itu sangat senang, karena Elenoa tidak curiga sama sekali. Ruby membawa Elenoa keluar kediaman, dia membawa Elenoa ke kebun atau taman yang di maksud.



Kebetulan, Kebun itu berada di bawah kamar Rakian. Ruby merencanakan hal itu karena perintah Veronica.


| Aku harus segera menemui John, dan bertanya mengenai Rakian. | Pikir Elenoa, dia memikirkan Johannes tidak sadar akan bahaya yang akan menimpanya.


" Ruby, di mana Grand Duke aku harua segera berbicara dengannya. " Ucap Elenoa.


Kebun itu sangat sunyi, tidak ada orang lain. Di sana Elenoa berdiri dan terus melirik seolah mencari Johannes.


Ruby berhenti di tempatnya, dan dia berbalik dengan tawa liciknya.


" Prrrfftttt...hahah..maaf Duchess Elenoa. Tapi seperti nya Grand Duke tidak akan datang. Sebentar lagi anda akan mati....." Tawa terkekeh itu di penuhi kejahatan.


Elenoa seketika kaget dengan tingkah Ruby, Eleboa merasa bahwa suasana di sana sangat berbahaya.


" Kau....apa yang kau rencanakan? " Elenoa bertanya dengan wajah yang serius.


" Kau akan tahu nanti. " Ucap Ruby, matanya menatap ke belakang Elenoa.


Seolah ada seseorang di belakangnya Elenoa berbalik, tapi saat dia berbalik, tiba-tiba seorang lelaki dengan sebuah tongkat kayu terlihat.


Pada saat itu pula, tongkat itu di angkat dan menghantam kepalanya.


' Bugh!! ' Suara pukulan terdengar keras menghantam kepala Elenoa.


Elenoa seketika jatuh begitu saja, dia tidak bisa bergerak, perlahan cairan kental merah keluar dari kepala Elenoa.


" Ugh....kepalaku pusing...." Elenoa dengan mata yang sudah buram melihat bagaimana Ruby bereaksi.


Meski itu terlihat buram, tapi Elenoa yakin jika Ruby tertawa puas.


" Kau....kau telah membuat kesalahan......" Ucap Elenoa pusing.


Karena matanya sudah berat, dan kepalanya yang berdenyut-denyut sakit. Akhirnya Elenoa tumbang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


...----------------...


Gudang Khusus.



Johannes masih mengintrogasi Veronica. Veronica mengatakan bahwa Rakian bukan adiknya, tapi Johannes belun yakin dengan perkataan Veronica.


" Aku tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Untuk mengetahui itu aku sudah memerintahkan Domenix untuk menyelidikinya. " Ucap Johannes.


" Domenix pasti akan mendapatkan informasi yang benar. " Isis pun berbicara.


Mereka semua saat ini fokus kepada masalah Veronica, hingga tidak tahu jika Elenoa sudah di culik oleh pelayan Veronica.


" Yah, aku tidak peduli mau kau percaya atau tidak. Itu tidak penting untukku. " Ucap Veronica dengan wajah percaya dirinya.


Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba seorang penjaga masuk dengan wajah cemas dan panik.


Penjaga itu terlihat penuh dengan keringat, seolah dia menunggang kuda dengan terburu-buru.


Gudang yang Johannes pakai memang sedikit jauh dari kediaman miliknya.


" ....Yang mulia...." Panggil Penjaga yang terlihat lelah tersebut.


Eden pun mengerti, dia menghampiri penjaga itu dan bertanya alasan apa yang membuat dia harus menerobos masuk begitu saja.


" Kenapa kau masuk begitu saja?" Tanya Eden.


Dengan suara lelah dan tersenggal, penjaga itu berbicara menjawab pertanyaan Eden.


" Grand Duchess.....beliau....menghilang!! " Jawab Penjaga itu.


Eden seketika mengubah wajahnya menajadi lebih serius, matanya melebar dengan laporan tersebut.


Seolah tidak mengerti Eden bertanya lagi.


" Apa maksudmu? jangan mengatakan hal yang aneh!! " Ucap Eden seolah tidak mengerti.


" Saya berkata benar kepala pelayan. Yang mulia menghilang begitu saja. Para penjaga bilang tidak melihat kereta kuda milik yang mulia keluar. Semua kusir ada, kami sudah menelusuri setiap kediaman yang ada di sana. Saat kami menelusuri taman atau kebun, kami menemukan bercak darah. " Penjaga itu dengan panik menjelaskan.


Eden pun semakin tidak tenang, jika ini sampai di dengar oleh Johannes. Johannes pasti akan murka, apalagi jika itu menyangkut Elenoa.

__ADS_1


Tapi Eden harus mengatakan ini, karena dengan begitu Johannes bisa mencari Elenoa dengan mengerahkan pasukan keluarga Duke.


" Pergilah, dan persiapkan pasukan pencari. " Ucap Eden kepada penjaga tersebut.


Penjaga itu mengangguk dan berlari kembali.


Eden dengan wajah di tekuk dan cemas, dia berjalan menghampiri Johannes.


Isis dan Grace pun menyadari perbedaan wajah Eden, dengan tadi dan sekarang.


" Ada apa Eden? kenapa wajahmu terlihat tidak baik? " Tanya Isis.


" Yang mulia benar, ada apa? apa terjadi sesuatu? " Tanya Grace.


Johannes juga merasakan perbedaan wajah Eden, dia terlihat cemas dan panik. Keringat terlihat di wajahnya, seolah dia takut untuk bicara.


" Ada apa? apa yang di katakan oleh penjaga itu? " Tanya Johannes dengan wajah serius.



Eden dengan gemetar, menjawab pertanyaan tuannya.


" Itu.....terjadi sesuatu di kediaman anda yang mulia. Nyonya.....nyonya dikatakan menghilang. " Akhirnya Eden mengatakannya.


Ketika mendengar itu, mata Johannes seketika melebar garang, tubuhnya mulai terhuyung tidak seimbang. Kekhawatiran melanda Johannes begitu banyak, saat itu pula pikiran Johannes kosong.


Laporan Eden mengenai Elenoa membuat Johannes panik dan gelisa. Dengan teriakan, Johannes bertanya seraya memegang bahu Eden.


" Apa maksudmu Eden?!!! bagaimana bisa Elenoa mengilang?!! " Johanes mendengus marah dengan tatapan garangnya.


Saat itu pula, Veronika tertawa seolah puas.


" Ppffttttthahahahahah....lucu sekali bukan. Baru kali ini aku melihat mu panik dan resah seperti itu Grand Duke." Ucap Veronika.


Johannes dengan mata tajam setajam pisau melirik Veronika, dan dia mulai mencurigai Veronika.


" Ini pasti ulahmu?!!! " Teriak Johannes geram.


" Hmmmm.....bagaimana yah.....tapi sepertinya memang benar. " Veronika menjawab Johannes penuh permainan.


Emosi Johannes semakin menjadi ketika dia tahu bahwa semua adalah ulah Veronica.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2