
...----------------...
Mereka membahas sabun hingga larut malam, bahkan Eden juga seperti itu.
Setelah mereka selesai membahas sabun, Eden segera melanjutkan untuk mengabsen kamar lainnya.
" Absensi sudah selesai, kalian boleh tidur. " Ucap Eden.
Mereka semua mengangguk dan Eden pun pergi.
Elenoa merasa canggung dengan keadaan di sekitarnya, dia tidak biasa dengan semua lelaki di sekitarnya.
" Kau anak baru, kan? " Tanya Rakian.
Elenoa mengangguk, dan dia menjawab.
" Perkenalkan, nama saya Teo Luciper. " Ucap Elenoa.
| Nama panjang yang baru aku buat Luciper, aku bahkan belum bilang kepada Eden, bahwa nama panjangku Luciper. | Pikir Elenoa.
" Kau akan tidur di sebelahku. " Ucap Rakian.
Elenoa yang mendengarnya dia syok.
| Aku tidak mau tidur dengan laki-laki!! Itu bukan hal baik. | Pikir Elenoa.
" Tapi sebelum itu, kau harus mandi terlebih dahulu. " Ucap Rakian.
" Baiklah saya akan mandi, tapi saya akan mandi di tempat lain dan saya akan tidur di tempat lain. " Ucap Elenoa.
| Ini kesempatan, aku bisa menyelinap keluar dan kembali ke mansionku. Eden pasti akan ke sana dan memberikan makanan. | Pikir Elenoa.
" Kau harus kembali lagi ke sini. " Ucap Rakian.
" Tapi, saya memiliki paman di sini, dia sakit dan aku harus merawatnya. "
| Ughhh....dosaku terus bertambah, karena berbohong. | Pikir Elenoa.
" Baiklah, lagi pula kau sudah di absen. " Ucap Rakian.
" Ya, kau boleh pergi. Tapi kau harus kembali di pagi hari. " Ucap Hasan.
" Ya, saya akan kembali. Kalau begitu saya pergi dulu. " Ucap Elenoa seraya pergi.
" Ya...pergilah. " Ucap mereka.
" Bukankah dia manis, dia terlihat seperti perempuan. " Ucap Jayne.
" Kau benar, mungkin memang seperti itu. " Ucap Hasan.
" Mari tidur, kita harus bangun pagi. " Ucap Rakian.
...----------------...
Elenoa berhasil pergi dan dia kembali ke mansionnya, agar Eden tidak curiga.
" Aku harus segera mengganti pakaianku, jangan sampai Eden melihatku dalam keadaan seperti ini. " Ucap Elenoa.
Dia segera mengganti pakaian dan menyembunyikan semuanya.
Elenoa melepas semua penyamarannya.
__ADS_1
Mulai dari pengikat ***********, rambutnya, matanya dan hal lainnya. Yang membuat dia terlihat sebagai laki-laki.
" Ini sangat meresahkan. " Gumam Elenoa, yang segera berpakaian dengan piyama.
| Eden pasti akan masuk, dia akan melihat wajahku. | Pikir Elenoa.
Beberapa menit kemudian, suara Eden terdengar, dia telah masuk ke dalam mansionnya dengan beberapa pelayan dan saat ini Eden berada di depan pintu kamar Elenoa.
' Tok,tok,tok.....'
" Nyonya, ini saya Eden. " Ucap Eden.
Elenoa yang masih berada di dalam dia bergumam pelan.
" Diia sudah ada di depan pintu, untung saja aku telah berganti pakaian. " Gumamnya pelan.
Elenoa segera membuka pintu.
' Klik..... ' Pintu terbuka.
Rambut pirang panjang, mata merah seindah bulan purnama, kulit putih yang lembut selembut sutra, dan bibir merah yang lembut.
Elenoa keluar dengan menampilkan sosoknya di hadapan Eden.
Eden yang melihat kecantikan Elenoa, wajahnya memerah saking cantiknya Elenoa. Semua pelayan yang melihat Elenoa sangat terpukau.
Eden berpikir, sangat di sayangkan Johannes menelantarkan sesosok bunga yang indah begitu saja.
| Yang mulia sangat tidak bersyukur memiliki istri cantik seperti nyonya. | Pikir Eden.
Saat Eden berpikir, Elenoa berbicara dengan pertanyaan.
" Ada apa Eden? " Tanya Elenoa datar.
" Saya mengantar makanan, yang mulia yang memerintahkannya. " Ucap Eden sopan.
" Taruh di kamarku. " Ucap Elenoa.
" Baik, Nyonya. " Ucap Eden patuh.
" Kalian, bawalah makanan ke dalam kamar nyonya. " Perintah Eden kepada pelayan yang membawa makanan.
" Baik kepala pelayan. " Ucap Mereka seraya masuk ke dalam dan menaruh makanan.
Tapi, Elenoa berpikir kembali.
| Jujur saja aku bosan makan sendiri di dalam kamar. Saat di rumahku, aku terus makan sendiri. | Pikir Elenoa.
" Anu...Nyonya, apakah anda memiliki kesulitan? " Tanya Eden.
Elenoa pun berkata bahwa dirinya tidak kesulitan.
" Tidak, aku tidak kesulitan. " Ucap Elenoa.
Elenoa tidak mau makan sendiri apalagi di malam hari, dia akhirnya memberanikan diri.
" Eden, aku tarik kembali perkataanku sebelumnya. " Ucap Elenoa.
" Maaf, tapi perkataan apa? " Tanya Eden.
__ADS_1
" Itu......makanan. Bisakah kau memindahkan makanan itu ke meja makanku. " Ucap Elenoa.
Eden tersenyum, dan dia mengangguk.
" Saya akan memindahkannya yang mulia. " Ucap Eden.
" Pindahkan. " Perintah Eden kepada pelayan.
" Baik. " Ucap mereka patuh.
...----------------...
Semua makanan telah di pindahkan ke ruang makanan.
" Apa anda membutuhkan hal lain? " Tanya Eden sopan.
" Duduklah kalian semua. " Ucap Elenoa.
Para pelayan termasuk Eden, mereka bingung dengan perkataan Elenoa.
" Maaf...Apa maksud anda? " Tanya Eden.
" Kalian harus makan bersamaku. " Ucap Elenoa dengan senyumnya.
Elenoa tersenyum kepada mereka, dan mereka pun sangat terpukau dengan senyuman Elenoa.
" Aku ingin kalian menemaniku makan. " Pinta Elenoa.
" Tapi....bagaimana bisa seorang pelayan rendahan seperti kami duduk besama dengan anda. " Ucap Eden.
" Aku tidak memperdulikannya, lagi pula aku hanya duchess sementara. Bahkan aku tidak di anggap, oleh Johannes. " Ucap Elenoa.
Elenoa yang memanggil langsung Johannes dengan namanya, Eden terkejut dia berpikir bahwa Elenoa sangat berani menyebut nama Grand Duke dengan namanya langsung, tanpa gelar.
" Duduk lah. " Pinta Elenoa.
" Baiklah, jika anda memaksa. " Ucap Eden.
Eden dan Pelayan lainnya duduk di kursi yang kosong, mereka makan, begitu pula dengan Elenoa.
Tapi, suasananya canggung.
" Bersikap biasalah, karena aku masih manusia seperti kalian. " Ucap Elenoa.
Setelah Elenoa bicara seperti itu mereka bersikap biasa tapu masih memakai bahasa sopan.
" Makan lah ini, mereka bilang ini sangat enak. " Ucap pelayan bermata hijau.
" Benarkah, jika seperti itu, aku harus mencobanya. " Ucap Temannya.
Elenoa tersenyum melihat situasi itu. Dia merasa hidupnya lebih berwarna.
" Kalian harus sering-sering datang. " Ucap Elenoa.
...----------------...
BERSAMBUNG...........
__ADS_1