
" Kau?!!!!....." Johannes dengan wajah garang mengangkat tangannya, dia ingin memukul Veronica.
" Telapak tanganku akan kotor jika memukulmu!!! " Johannes dengan berat menarik kembali tangannya.
Ia kemudian berteriak memanggil Eden dengan hiteris.
" Eden!! Eden!!.......
Johannes memalingkan wajahnya menatap Eden yang berjalan ke arahnya.
" Saya di sini Tuan. " Eden dengan badan gemetar berdiri di hadapan Johannes.
Johannes dengan wajah marah bercampur khawatir, dia berbicara dengan suara penuh ketegasan.
" Eden!! perintahkan semua kesatria untuk mencari Duchess!! " Johannes memerintah.
" Saya mengerti Tuan. " Jawab Eden patuh.
Dengan perintah Johannes, Eden pergi dari gudang tersebut.
Johannes yang marah, dia mulai mendecakkan lidahnya seraya mengusap kasar rambutnya.
Mata abu-abunya terlihat berkobar saat Johannes kembali menatap wanita yang terduduk itu.
" Jika terjadi sesuatu dengan istriku, aku pasti kan kau lenyap dari muka bumi ini. " Ucap Johannes yang sesekali menggertakkan lidahnya.
Grace dan Isis terlihat panik sana halnya Johannes, mereka berdua kemudian berbicara.
" Johannes, kau boleh pergi. Biar aku dan Grace yang menjaganya. " Ucap Isis.
Johannes pun merespon.
" Baiklah, aku serahkan wanita gila ini kepada kalian. Jangan sampai dia lolos dari sini. Kau mengerti!! " Ucap Johannes.
" Ya, aku mengerti. Sebaiknya kau segera mencari istrimu. " Ucap Isis.
Johannes dengan mata sangar menatap Veronica, dia kemudian berbicara dengan nada penuh ancaman.
" Jika terjadi sesuatu dengannya, kau orang pertama yang akan aku penggal. " Ucap Johannes kepada Veronica.
Dengan itu pula, Johannes pergi dari gudang tersebut.
__ADS_1
...----------------...
Hatiku bergetar, meluap akan kecemasan dan perasaan yang tidak enak ketika mendengar laporan yang menyatakan bahwa dirinya menghilang.
Kemarahan dan kekesalan membungkus menjadi satu, terhadap wanita menjijikan yang telah melakukan rencana jahat tersebut.
Mata dan tanganku tertuju kepada wanita menjijikan tersebut, tangan yang ingin segera memelintir lehernya hingga putus dan mata yang ingin melihat dia mati secara mengenaskan.
Tapi.....
Aku menundanya karena istriku lebih penting dari dirinya. Setelah memastikan bahwa istriku selamat, aku akan kembali dan membuat perhitungan kepada wanita itu.
Aku pastikan leher itu melayang di depan mataku!!...
' Drap....
' Drap....
' Drap.....
Aku menyusuri hutan dengan kudaku, derap kaki kuda terdengar menghantam tanah. Cepat, penuh kecemasan, dan rasa takut.
Takut akan kehilangan dirinya, takut terjadi sesuatu yang mungkin membuat diriku jatuh dan di penuhi kehampaan yang kelam.
Ketika aku sampai di kediamanku, aku turun dari kudaku dengan cepat dan terburu-buru.
Masuk dengan langkah kaki cepat seolah kesabaran sudah hilang dari diriku.
" Apa Duchess sudah di temukan? " Tanyaku dengan wajah cemas kepada pelayan laki-laki yang sedang sibuk mencari istriku.
Pelayan itu berbalik menatapku dengan wajah segan, keringat telihat bercucuran dari wajahnya.
" Aku bertanya!! apa duchess sudah di temukan? " Aku meledak tidak sabar.
Segera setelah teriakanku keluar, pelayan tersebut membuka mulutnya.
" It—
" Itu yang mulia, Nyonya masih belum di temukan. " Akhirnya jawaban dari mulut pelayan itu sampai dan masuk ke telingaku.
Jawaban yang tidak membuat diriku tenang, dan malah semakin mengacaukan pikiranku.
__ADS_1
" Cari!! cari sampai ketemu, kalau perlu, geledah semua tempat yang ada di kerajaan ini. " Aku membabi buta berteriak seperti kerasukan.
Kepala yang panas seakan mau meledak, dan hati yang kacau.
Pada saat itu pula, aku membuka setiap ruangan yang ada di kediamanku. Berharap menemukan satu petunjuk, sampai aku membuka satu ruangan yang paling terlarang dalam hidupku.
Ruangan yang tidak ingin aku buka selama bertahun-tahun, akhirnya aku membukanya itu semua hanya untuk menemukan istriku.
" Kemana kau Elenoa?....." Gumamku.
Aku membuka kamar terlarang tersebut, kamar itu milik kedua orang tuaku. Mungkin orang lain akan menganggapku gila, kenapa pula aku mencari Elenoa di dalam kamar ini, kamar yang tidak pernah di injak oleh siapapun.
Tapi yang jelas aku harus membuka setiap ruangan di dalam kediamanku. Berharap siapa tau dia berada di dalam kamar ini karena tersesat.
" ......Akhirnya aku masuk ke dalam kamar ini. " Gumamku setelah masuk ke dalam kamar orang tuaku.
Aku menelusuri ruangan itu, ruangan dengan nuansa tua dengan ukiran zaman dahulu. Wajah ibu dan ayahku terpampang jelas di bingkai tersebut.
Wajah ibu yang tidak pernah aku lihat, dan wajah ayahku.
Setelah aku lihat secara jelas.
Rambut pirang ibuku sama dengan rambut Rakian, tapi anehnya mata ayahku sama dengan Rakian.
Apa ini kebetulan?
" Tidak penting untuk saat ini, yang lebih penting adalah istriku. " Gumamku.
Aku tidak memikirkan itu lagi, tapi saat aku berpaling dari bingkai foto tersebut, aku melihat sesuatu terselip di sela-sela bingkai foto tersebut.
" ......Kertas? " Itu adalah kertas.
Aku penasaran dan mengambilnya, bisa saja itu petunjuk. Tapi kenapa harus ada di dalam kamar ibu dan ayahku? itulah pertanyaanku.
Segera aku membuka catatan tersebut seolah tidak ingin membuang waktu lagi.
' Putraku John, jika kau menemukan surat ini. Jangan pernah menyesal dan terlarut dalam kesedihan.
" Kata pertama yang tidak terduga. " Ucapku malas.
__ADS_1
...----------------...
BERSAMBUNG......