Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 58


__ADS_3

" Iya, saya memanggil anda. " Ucapku.


Aku menatap wanita yang ada di depanku, sebenarnya aku sedikit segan setelah memanggilnya.


" Apa anda Grand Duchess? " Grace bertanya dengan wajah datarnya.


Aku sudah menduga bahwa dia akan berbeda saat berbicara dengan ku yang sebagai Elenoa.


" Anda benar, tidak baik jika berbicara di lorong seperti ini. " Ucapku seraya tersenyum hangat.


" Baiklah, suatu kehormatan bisa berbicara dengan anda. " Ucap Grace segan.


" Mari ikut dengan saya. " Ucapku sekali lagi.


Padahal aku sendiri tidak tahu ruangan-ruangan di kediaman ini.


Maka dari itu aku hanya akan membawanya ke ruangan yang dekat saja.


Saat aku menatap ke arah depan di lorong itu, aku melihat ada beberapa ruangan. Pintu ruangan itu tentunya tertutup.


Karena tidak ingin membuang waktu, aku langsung memilih ruangan tersebut, tidak peduli mau Johannes marah atau pun tidak.


" Mari masuk. " Ucapku seraya menarik gagang pintu.


" Ya, yang mulia. " Jawab Grace.


Aku masuk ke dalam ruangan tersebut, dan syukurlah ruangan itu ternyata ruang bersantai.


Di dalam ruangan itu ada air mancur, kursi dan piano.



" Yah, ini lumayan. Sebenarnya saya tidak tahu ruangan-ruangan yang ada di kediaman ini. " Ucapku jujur.


Grace tidak menjawab, ku pikir dia marah atau apa.


Tapi saat aku berbalik, dia malah berada di atas kursi piano.


" Maaf yang mulia saya tidak tahan ketika melihat piano. Dulu saya sangat menyukai piano, tapi karena keluarga saya, saya tidak di perbolehkan memainkan piano. " Ucap Grace.


Aku tidak tahu ternyata dia bisa sejujur ini, padahal Grace terkenal akan sikap dinginnya.


" Maaf, saya jadi mengeluh. " Ucap Grace.


" Tidak apa, kau bisa melihat atau pun memainkan piano itu sesuka hatimu. " Ucapku.


Grace terlihat akan memainkan piano tersebut, akan tetapi dia menarik kembali tangannya dan berbalik ke arahku seraya berkata.


" Tidak, saya tidak bisa memainkannya. " Ucap Grace.


" Kenapa? " Tanyaku.


" Karena tangan saya tidak cocok memainkan piano. " Ucap Grace dengan mata yang menatap ke arah tangannya.


Tangan Grace terlihat kapalan dan penuh bekas luka, bagaimana tidak? Dia sudah menjadi ajudan sekaligus Dame sejak muda.


Kita tidak tahu seberapa banyak orang yang dia bunuh dengan tangan itu.


| Pasti itu sangat menyesakkan, ketika kita tidak bisa melakukan apapun yang kita mau. | Pikirku.

__ADS_1


" ....Jangan seperti itu. " Ucapku seraya meraih tangan Grace dan memegangnya.


" Cobalah bermain, jangan pedulikan bentuk tanganmu, karena tangan yang cantik belum tentu bisa memainkannya." Ucapku, yang mendorongnya.


Grace pun perlahan mulai menaruh jarinya di atas piano tersebut, lalu dia mulai memainkannya.


Alunan suara piano itu sangat tenang dan penuh kelembutan. Siapapun yang mendengarnya, dia akan merasa bahwa dirinya tenang dan damai.


Grace selesai memainkan pianonya, lalu dia tersenyum dan berkata.


" Saya merasa bahagia, selama ini saya hanya memegang panah, pedang dan senjata lainnya. " Ucap Grace.


" Tidak masalah, itu adalah hak anda. " Ucapku.


" Jujur saja anda ternyata wanita yang baik, walaupun ini pertama kalinya saya bertemu dengan anda. Tapi, saya sudah yakin bahwa anda sangat cocok mengisi kekosongan Grand Duke. " Ucap Grace seraya tersenyum.


" Begitukah....." Ucapku.


" Ya, meskipun beliau memang agak menyebalkan dan pemarah, tapi aslinya beliau memang baik. " Ucap Grace.


" Sepertinya anda sangat mengenal Grand Duke. " Ucapku.


" Tidak, awalnya saya pun menyangka bahwa beliau orang yang jahat dan kejam, saya sering terkena amukan beliau...


" Tapi sekarang, saya sudah terbiasa dan menganggap amukan Grand Duke sebagai angin lalu saja..


Grace berbicara dengan nyaman dan panjang, aku pikir kita akan menjadi sahabat dekat jika aku tidak membohonginya.


Grace terus bercerita tentang istana, Isis, bahkan hal yang lainnya juga.


Kami saling bertukar cerita, dan ini saatnya aku mengaku bahwa aku adalah Teo.


" Grace, ada sesuatu yang harus aku katakan. " Ucapku.


" Sesuatu apa? " Tanya Grace.


" Sebenarnya saya adalah Teo. " Ucapku hati-hati.


Aku ingin melihat ekspresi wajahnya, apa dia marah dengan pengakuanku atau tidak.


" Apa yang anda katakan. " Tanya Grace pelan.


Aku tahu, dia marah karena aku telah menipunya.


" Saya Teo, sekaligus Elenoa. " Aku sekali lagi mengaku di depan Grace.


Grace seketika memegang bahuku dan bertanya dengan gemetar.


" .....Apa yang anda katakan benar? Apa itu benar?" Tanya Grace memastikan.


" Ya, saya Teo. " Ucapku.


Mendengar ucapan kepastianku, Grace seketika memalingkan wajahnya dan terlihat bergumam.


" Apa anda marah? " Tanyaku.


" Oh yang ampun!! saya tidak menyangka bahwa saya akan jatuh cinta dengan seorang perempuan lagi. " Gerutu Grace.


| Ya, ampun. Cinta pertama ku ternyata seorang perempuan. Aku bisa di ejek mati-matian oleh yang mulia Isis. | Pikir Grace.

__ADS_1


" .....Tidak!! bagaimana pun itu adalah hal yang memalukan, jika yang mulia putra mahkota mengetahui ini, saya bisa di ejek habis olehnya. " Grace sekali lagi berbicara seraya menatap wajahku.


Aku kaget dengan tingkahnya yang ceria dan terbuka, ku rasa dia tidak marah.


" Maaf Grace, tapi, kenapa bisa di ejek mati-matian? " Tanyaku karena aku tidak tahu, kenapa dia bisa di ejek oleh Isis.


" Saya malu mengatakannya...." Ucap Grace.


" Tapi, saya ingin tahu kenapa anda harus menyamar sebagai 2 orang sekaligus? " Tanya Grace.


" Itu...." Aku ragu-ragu untuk mengatakannya.


Tapi melihat tatapan Grace, dia sangat menantikannya.


" Karena saya ingin hidup bebas dan merasakan bagaimana menjalani kehidupan yang sebenarnya. " Ucapku.


| Ya, itu memang alasannya. | Pikirku.


" Sepertinya, anda sama seperti saya. Saya juga ingin kebebasan. Tapi saya tidak bisa menggapai kebebasan itu. " Ucap Grace.


| Sulit sekali kebebasan di raih jika kita berasal dari keluarga bangsawan. | Pikir Grace.


' Tok, tok, tok......' Saat kami sedang berbincang, suara pintu tiba-tiba di ketuk dari luar.


" Siapa? " Tanyaku.


" Ini saya Eden yang mulia Grand Duchess. " Ternyata itu adalah Eden.


" Masuklah. " Perintahku.


Grace kembali ke posisi yang benar, dia duduk dengan gagah di depanku layaknya Dame.


" Ada apa? " Tanyaku kepada Eden yang sudah ada di depanku.


" Dame Grace di panggil oleh Yang mulia putra mahkota. " Ucap Eden, dia ternyata mencari Grace.


" Grace, sepertinya Yang mulia Isis mencarimu. " Ucapku.


Grace pun berdiri dan memberi hormat.


" Kalau begitu saya akan pergi, senang berbincang dengan anda. " Ucap Grace.


" Pergilah, lain kali saya akan mengundang anda untuk minum teh bersama. " Ucapku.


" Terima kasih yang mulia, itu akan menjadi suatu kehormatan bagi saya....


" Kalau begitu saya permisi. " Ucap Grace seraya pergi.


Aku di tinggalkan dengan Eden di ruangan itu.


" Bagaimana kau tahu jika aku dan Grace sedang ada di ruangan ini? " Tanyaku.


" Saya memang sudah melihat anda dari awal masuk. Tapi saya tidak bisa menghentikan anda, karena sepertinya anda ingin membicarakan hal yang penting dengan Dame Grace. Maka dari itu saya menunggu anda selesai berbicara di depan. " Jelas Eden.


Aku mengangguk setelah mendengar alasan Eden, dia adalah kepala pelayan yang paling kompeten.


" Apa yang mulia Grand Duke sudah tidur? " Tanyaku.


" Tidak, beliau sedang berbincang dengan Yang mulia putra mahkota. " Jawab Eden.

__ADS_1


" Ahh, seperti itu. " Ucapku.


...----------------...


__ADS_2