
" Yang mulia, kenapa dia bisa jadi seperti itu? " Tanya Eden.
Johannes yang masih menatap Elenoa, dia menjawab dengan nada tinggi.
" Mana aku tahu kenapa dia bisa jadi seperti itu! " Jawab Johannes.
Elenoa berbicara dengan memegang lengan Johannes. Sikap Johannes sangat kasar saat itu kepada Eden. Jadi, Elenoa menegurnya.
" John, Eden hanya bertanya, kenapa kau malah membentaknya! " Tegur Elenoa.
Johannes yang masih khawatir dia tidak menghiraukan teguran Elenoa, Johannes terus memeriksa tubuh Elenoa dengan matanya.
" .....Kau benar tidak terluka?.....
" Coba lihat tanganmu.....
Johannes terus mengecek Elenoa, dia takut Elenoa terluka.
" Aku tidak terluka, ini semua darah Rakian." Jawab Elenoa.
Johannes mengeluarkan helaan nafas lega dari mulutnya. Kemudian dia dengan cepat menarik tangan Elenoa, dan memeluknya.
" Syukurlah kau tidak terluka......" Ucap Johannes tenang.
" Aku baik-baik saja, jadi tenanglah. " Gumam Elenoa.
Elenoa melepas pelukan Johannes perlahan, dia saat itu memikirkan nasib Rakian, Elenoa bertanya-tanya bagaimana keadaannya sekarang, karena saat itu darah yang ada di tubuhnya cukup banyak.
" Dari pada itu, kita harus melihat keadaannya. Saat dia datang, darah sudah membanjiri tubuhnya. " Ucap Elenoa.
Johannes dengan wajah serius berkata.
" ......Mari kita lihat, dia harus hidup bagaimana pun caranya. " Ucap Johannes.
" Eden? Apa tabib itu sudah tiba? " Tanya Johannes.
Eden yang sedari tadi berdiri di sana dia menjawab.
" ....Belum yang mulia, sepertinya tabib itu masih dalam perjalanan menuju kemari. " Jawab Eden.
" Aku....aku akan menolongnya. " Elenoa mengajukan diri, tentunya dia memang bisa melakukan pengobatan.
Tapi Johannes tidak mau Elenoa mengobati orang lain selain dirinya.
" Tidak, kau tidak boleh. " Larang Johannes.
" Kenapa? " Tanya Elenoa.
" .....Tabib itu sebentar lagi pasti datang. " Ucap Johannes.
Elenoa berpikir, bagaimana jika Tabib itu terlambat, karena darah yang di keluarkan dari tubuh Rakian sangat banyak, kita tidak bisa menunggu lagi.
| Kita tidak bisa menunggu lagi, kondisinya sangat terlihat jelas, bahwa Rakian tidak bisa bertahan cukup lama. | Pikir Elenoa.
" ....Maaf, tapi aku tidak bisa membiarkan orang sakit begitu saja. " Ucap Elenoa.
Elenoa membantah Johannes, dia pergi dari hadapan Johannes.
" Istriku?!!....." Panggil Johannes dengan alis mengerut.
Terlihat jelas di mata dan tangan yang mengepal, bahwa Johannes tidak suka akan hal itu.
" Yang mulia, biarkan saja. Beliau memiliki niat baik, bukan niat lain. " Ucap Eden menenangkan Johannes.
| Kau tidak boleh egois Johannes, hanya karena tidak mau istrimu memegang tubuh laki-laki lain. Kau membunuh seseorang....| Pikir Johannes.
Johannes pun menyusul Elenoa, dia juga harus mengawasi Rakian.
...----------------...
Ruangan Rakian.
Aku tidak bisa membiarkan orang yang sakit begitu saja, sedangkan aku bisa menolongnya.
__ADS_1
Tidak.....aku tidak bisa.
Saat aku tiba di dalam ruangan Rakian, di sana banyak teman-teman Rakian yang mengkhawatirkan-nya, mereka berusaha membangunkan Rakian.
Sampai mereka tidak sadar aku ada di sana.
" Hei!! bangun, apa kau hanya akan tidur dengan pakaian penuh saus!! "
" Rakian!! kau tidak boleh mati!!! kau masih berhutang kepadaku!!!....
" Jika kau mati, siapa yang akan membayarnya!! "
" Sialan!! kemana tabib itu?!! kenapa dia belum tiba?!!!....."
Mereka terus berteriak di hadapan Rakian yang terbaring lemah dengan pakaian penuh darah.
Seprei yang tadinya putih berubah menjadi merah karena darah yang keluar dari tubuh Rakian.
" Tolong minggirlah...." Ucapku kepada teman-teman Rakian.
Mereka seketika diam, dan mengalihkan matanya ke arahku. Mereka menatap diriku dengan penuh harapan.
" Nyonya?....." Panggil salah satu teman Rakian, jika aku tidak salah ingat, dia adalah Hasan.
Yah, teman-temannya itu adalah, Asalit, Jadney, dan Hasan.
Hasan memiliki mata hijau, dengan rambut berwarna coklat, badannya agak berotot.
".....Nyonya, tolong selamatkan teman kami...." Pria yang berbicara dengan nada memohon itu adalah Asalit, dia memiliki warna rambut abu-abu dengan mata biru.
" ....Nyonya, saya mohon tolong selamatkan Rakian...saya mohon. " Lalu pria lainnya ikut memohon, dia adalah Jadney. Dia memiliki ciri yang paling menonjol di antara mereka, rambutnya merah kecoklatan dan mata hijau.
Mereka bertiga memohon agar aku menyelamatkan Rakian. Karena tabib tidak kunjung datang.
" Tolong menyingkir sebentar, karena pasien butuh oksigen...." Ucapku menyuruh mereka menyingkir.
Mereka menurut, dengan cepat menyingkir dari hadapan Rakian.
" Tetap di sana, karena aku akan meminta bantuan kalian. " Ucapku.
Betapa malangnya Rakian, dia terbaring sakit dengan darah bercucuran.
Melihat hal itu, aku dengan cepat mengambil gunting dan membuka pakaiannya.
" Tolong bantu aku. Bantu aku memotong pakaiannya. " Perintahku kepada teman Rakian.
Lalu, Asalit maju mengajukan diri, aku dengan cepat memberinya gunting.
" Gunting bagian tengah pakaiannya, aku akan menggunting bagian lengannya. " Perintahku.
Asalit mengangguk dengan wajah serius, dia pun mulai menggunting pakaian Rakian.
Setelah di potong, aku menyingkirkan pakaiannya, dengan cepat.
" Ini!...
Saat pakaian di singkirkan, aku seketika menutup mulutku dengan tanganku seolah kaget.
Asalit juga terlihat tertekan melihat tubuh yang baru di buka itu.
Kenapa tidak, tubuh itu di penuhi luka yang besar dan panjang, bukan hanya berdarah tapi sudah membiru.
Banyak lebam di tubuh Rakian, tapi aku belum menelusuri sampai bagian belakang tubuhnya.
Ini baru bagian depan, aku bertanya-tanya, sebenarnya kenapa dia bisa mendapat luka seperti ini.
' Brakk!..' Suara pintu yang membuatku kaget.
" Siapa?" Tanyaku.
__ADS_1
Aku menoleh, ke arah pintu dan ternyata itu adalah Johannes. Aku pikir dia akan melarangku, jadi aku berteriak kepadanya.
" Aku tidak mau pergi!! " Teriakku.
Johannes dengan penampilan serius, dia berbicara menanggapi teriakkanku.
" Aku tidak akan membawamu pergi, lanjutkan pengobatan mu. " Ucap Johannes, dengan mata yang menatap tubuh Rakian.
Tidak ada wajah kaget yang dia buat, mungkin bagi Johannes ini bukan hal yang mengagetkan, karena dia sering berada dalam kondisi seperti ini.
Di peperangan atau melawan pembunuh, pasti akan ada yang terluka seperti ini, tidak heran dia tidak kaget.
Karena dia sudah terbiasa.
" Aku....aku akan melanjutkan pengobatannya. " Jawabku.
Aku terus melakukan pengobatan dengan tanganku.
...----------------...
Beberapa jam kemudian, Tabib sudah datang, tapi pengobatan sudah selesai di lakukan oleh Elenoa, saat ini Tabib tersebut sedang memeriksa kondisi Rakian.
Karena Tabib sudah datang, Elenoa keluar dari dalam kamar Rakian.
Dia keluar dalam keadaan lelah.
" Selesai, dia sekarang masih tidak sadarkan diri, tapi mungkin beberapa hari lagi dia akan bangun. Saat ini Tabib yang akan menjaganya. " Ucap Elenoa.
" Kau sudah bekerja keras. " Ucap Johannes seraya mengelus rambut Elenoa.
" Nyonya, anda hebat! " Eden mengacungkan dua jempol ke hadapan Elenoa, dengan senyum puasnya.
Lalu di sisi lain, teman-teman Rakian, mereka juga berterima kasih kepada Elenoa.
" Nyonya, terima kasih.....jika tidak bagaimana keadaan Rakian kalau harus menunggu Tabib. " Ucap Jadney.
" Sungguh, anda sangat hebat. " Hasan juga memberikan jempolnya.
" ....Baru kali ini saya terjun langsung untuk menyelamatkan nyawa orang. Ini pertama kalinya bagiku, saat aku melihat tubuh dan kulit yang terbuka, aku sempat gemetar.....
" Anda hebat Nyonya...." Ucap Asalit dengan mata berbinar.
Johannes dengan tatapan menusuk seolah memperingati, dia berbicara.
" Jauhkan matamu dari istriku! " Tegur Johannes.
| Berbahaya, mereka sekarang mulai tertarik dengan istriku. Beraninya mereka menatap istriku dengan mata berbinar seperti itu!! | Pikir Johannes.
Saat mendengar teguran Johannes, mereka seketika menundukkan matanya dan meminta maaf.
" Maafkan ketidak sopanan kami, yang mulia Grand Duke. " Ucap mereka seraya membungkuk.
Johannes tidak merespon, dia malah menatap istrinya dan berbicara.
" Mari istirahat, kau terlihat pucat. " Ucap Johannes.
Elenoa mengangguk, dia tida bisa berbohong jika dia tidak lelah.
...----------------...
Bersambung......
" Kau....
" Hidup nyaman di sini....
" Sedangkan aku?
" Di buang seperti sampah!!
...----------------...
__ADS_1