
Dengan pakaian terbuka yang memperlihatkan otot-otot kokohnya, Johannes berbaring di atas ranjang.
Pupil merah Elenoa seakan bergetar melihat pemandangan tersebut.
Bahkan pikiran Elenoa tidak bisa berpikir jernih dengan pemandangan tersebut.
| A—apa?!! Pemandangan apa ini? | Elenoa bertanya-tanya dalam batinnya.
" .....Kenapa kau lama sekali? " Tanya Johannes masih dalam pose seksinya.
Elenoa yang masih berdiri kaku dengan ekspresi terkejutnya, dia tidak merespon Johannes.
Pikirannya masih berputar-putar tidak karuan.
Alih-alih menjawab pertanyaan Johannes, Elenoa malah membalikkan badannya dari Johannes dan menggigit jarinya.
| Kenapa aku masih saja terpukau dengan tubuhnya? padahal aku sudah sering melihatnya? | Pikir Elenoa.
Johannes yang melihat Elenoa membalikkan badannya begitu saja, dia berpikir bahwa Elenoa mungkin tidak suka dengan tubuhnya.
| Kenapa dia membalikkan badannya dan memunggungi ku? Apa posisiku masih kurang? atau tubuhku kurang bagus? | Johannes bertanya-tanya dalam benaknya.
Baru kali ini Johannes mempertanyakan fisiknya sendiri.
Dia tidak pernah merasa kurang dalam hal apapun baik fisik atau apapun itu, dia menganggap dirinya sendiri sempurna.
"....Kenapa kau membalikkan badanmu seperti itu? " Tanya Johannes.
Elenoa yang gugup dia menjawab dengan badan yang masih memunggungi Johannes.
" Ahh—yah......
" Itu, sebenarnya kenapa sampai seperti itu......
Elenoa tidak tahu apa yang dia katakan saat ini, dia sedikit linglung matanya berputar-putar tidak karuan.
" Balikan badanmu dan tatap aku...
" Apa bola mata dan bibirmu pindah ke punggung sehingga kau memunggungi ku seperti itu? " Johannes bertanya dengan posisi badan yang sudah berubah.
Dia duduk seperti biasa, dan dia juga menutup ototnya dengan jubah yang dia kenakan.
" Kenapa kau tidak menjawab, apa pikiranmu masih tertinggal di hutan Goblin? " Tanya Johannes..
Johannes yang sudah merapikan pakaiannya dia berdiri dan berjalan ke arah Elenoa.
Pada saat yang bersamaan, Elenoa menjawab pertanyaan Johannes seraya berbalik ke arah Johannnes.
" Bukan seperti itu, hanya saj—
Mata Elenoa melebar saat wajah mereka berhadapan.
Elenoa tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena itu terlalu canggung saat wajah mereka saling bertatapan.
Bahkan hidung mereka hampir bertabrakan saking dekatnya.
Detak jantung di antar keduanya sekarang tidak karuan, masing-masing dari mereka memiliki pikiran yang sama.
| Bulu mata yang panjang, pupil matanya merah bercahaya, bibir merah yang terlihat lembut, dan pipi yang halus ketika di sentuh.....Dia terlihat sangat cantik dari dekat. | Pikir Johannes yang terus menatap Elenoa dengan tatapan halus.
| Ahhh.…...tatapan matanya melembut tidak seperti biasanya, tatapan ketika seseorang sedang jatuh cinta, itulah yang terlihat olehku. | Pikir Elenoa yang terus menatap lekat Johannes dengan mata yang bercahaya.
Johannes tidak bisa berbohong bahwa dirinya tidak tergoda dengan Elenoa.
Dia sekarang hanya bisa jujur bahwa dia tergoda oleh Elenoa. Hasratnya mulai ingin melakukan sesuatu.
| Aku ingin merasakan bibir itu....| Pikir Johannes.
Johannes perlahan mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Elenoa, tentu saja Elenoa juga sudah siap dengan memejamkan matanya.
Johannes terus mendekatkan wajahnya dan bibirnya pun sudah bersiap untuk melakukan aksinya.
' Braakkk!!!! '
Tiba-tiba di tengah suasana yang canggung tersebut, pintu kamar Johannes terbuka lebar.
" ?!! " Elenoa terkejut.
" ?!! " Begitu pula dengan Johannes.
__ADS_1
Orang itu masuk dan berteriak.
" John!!! Di mana kamu, kenapa ka—
" Yang mulia put—
| Apa?!! | Elenoa kaget dalam batinnya.
| Siapa?!! | Johannes bertanya-tanya.
Mata Elenoa dan Johannes seketika melirik ke arah dua orang yang masuk secara tiba-tiba.
Dan ternyata itu adalah Isis dan Eden.
Elenoa yang melihat Isis dan Eden, dia dengan refleks mendorong Johannes dengan penuh tenaga sehingga Johannes terlempar ke atas kasur.
' Brukk!! '
Johannes dengan posisi duduk di atas kasurnya dan tidak jadi melakukan aksinya, dia diam dengan kepala menunduk.
Johannes tidak tahu situasi apa yang sedang dia alami.
" ....... " Johannes membatu dengan tatapan dingin namun tajam.
Johannes pun perlahan melirik dengan sengit ke arah Isis.
| .....Isis...bocah itu!!!..Beraninya dia!!! | Batin Johannes kesal.
Isis yang tiba-tiba masuk, dia terdiam dengan wajah membeku, ketika matanya mendapati sesuatu yang seharusnya tidak dia lihat.
" O, Ow.............." Isis menatap dengan mata lebar ke arah dua orang yang terlihat canggung.
Johannes menatap ke arah Isis dengan tatapan mematikan, dia menatap Isis dengan penuh ancaman.
" .....Aku tidak melihatnya, silahkan lanjutkan......
" Yahh.....lanjutkan saja.....aku tidak lihat....
| Aku datang di waktu yang salah, dasar bodoh!! kau menggali kuburanmu sendiri!! Sebaiknya aku cepat pergi dari sini, sebelum aku di kebiri oleh John. | Pikir Isis.
Isis bersiap pergi, karena hawa di sini tidak baik.
Elenoa yang malu, dia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut sebelum Isis.
" ...Tu—tunggu.....
" Jangan pergi!!.....
Isis memanggil Elenoa dengan penuh putus asa, tapi Elenoa sudah pergi jauh.
" Oh tidak!! jangan pergi!!!.........." Isis berteriak dengan putus asa.
Di samping itu, ada Johannes yang terlihat mengepalkan tangannya.
" I....SISSS!!!!!!!!!!!!!!!!........." Teriak Johannes.
| Lebih baik aku pergi, sebelum terkena amarah Grand Duke. | Pikir Eden.
Eden yang sedari tadi di sana karena ingin memberhentikan Isis, dia pun memutuskan pergi meninggalkan Isis dan Johannes.
| Mereka meninggalkanku sendirian di sini.....Tamatlah riwayatku. | Pikir Isis.
Isis yang di tinggalkan di kandang serigala yang sedang marah, dia pun menciut ketakutan.
" .......John.....aku salah....." Ucap Isis pelan seraya duduk di sopa dengan lemas tanpa tenaga.
' Sring!!! " Mata Johannes menatap Isis tajam setajam pisau.
" Beraninya kau masuk!!!! " Teriak Johannes.
" Maafkan aku John!.....
" Aku tidak tahu jika kau sedang melakukan itu......." Ucap Isis seraya menyatukan kedua telunjuknya.
" ......Aku benar-benar menyesal John...." Ucap Isis sekali lagi secara bersungguh-sungguh.
" Ha!!..
Johannes menghela nafasnya, lalu dia berdiri dari duduknya.
" Kemari kau!! " Perintah Johannes.
" .....Kau tidak akan membunuhku kan? " Tanya Isis waspada.
__ADS_1
Johannes melirik ke arah samping, terlihat sebuah pedang panjang berdiri di sana.
" .....Kupikir akan lebih baik jika aku memberimu sedikit pelajaran...." Ucap Johannes seraya mengambil pedang tersebut.
Isis yang melihatnya dia semakin bergidik ketakutan.
| Apa yang akan dia lakukan dengan pedang itu? | Isis bertanya-tanya.
' Sringgg—
Johannes mengeluarkan pedang tersebut dari sarungnya, pedang itu terlihat tajam, karena kilauannya terlihat jelas.
" Kau tidak akan sungguh-sungguh membunuhku kan? " Tanya Isis.
" ......Kenapa tidak? " Tanya Johannes dengan mata yang menatap tajam ke arah Isis.
| Meski aku melawannya, aku tidak akan menang, karena dia lebih mahir di banding denganku. | Pikir Isis.
Johannes dengan pedang di tangannya, dia berjalan ke arah Isis, tentu saja Isis berjalan mundur untuk menghindari Johannes.
"...John, apa kau benar-benar serius? " Tanya Isis seraya berjalan mundur ke belakang.
Johannes tidak merespon Isis dia terus menatap Isis dengan sengit.
Lalu dia mengangkat pedangnya dengan ganas, Johannes dengan beringas mengarahkan ujung pedang yang tajam ke arah Isis.
" ?!!!! " Seketika Isis memejamkan matanya dan membuat benteng pertahanan dengan menyilangkan kedua tangannya.
' Jleb!!..... ' Pedang itu menusuk dinding yang ada di belakang Isis.
Sektika ruangan tambah hening tidak bersuara, hanya suara jantung yang berdegup kencang.
Isis yang tidak merasakan sakit seperti tertusuk pedang, dia pun membuka matanya perlahan.
" ? " Isis membuka matanya.
Saat dia membuka matanya, wajah Johannes berada sangat dekat dengan wajahnya, mata Johannes yang abu-abu berkibar dengan sengit, Isis yang melihat mata Johannes yang menyeramkan dia bergidig ketakutan.
| Me—menyeramkan. | Pikir Isis.
" Ada apa kau kemari? jika itu pembicaraan yang penting aku akan mengampunimu, jika tidak....
" Aku pastikan pedang ini mendarat dengan mulus di tubumu. " Ucap Johannes dengan penuh ancaman.
| Mau tidak mau aku harus mengatakan hal itu. | Pikir Isis.
Entah apa hal yang di maksud oleh Isis.
" Ada hal penting yang harus kita bicarakan terutama ini menyangkut dengan kontrak pernikahanmu. " Ucap Isis.
Mendengar hal itu Johannes langsung menarik pedang yang menancap di dinding, lalu dia memasukkan pedangnya kembali kedalam sarung.
" ....Bicara di ruang kerjaku sekarang. " Ucap Johannes.
...----------------...
Aku lari begitu saja dari kamar Johannes, saking malunya aku.
Bagaimana tidak malu, dalam posisi seperti itu Isis dan Eden tiba-tiba muncul dan melihat semuanya.
" Benar-benar memalukan. " Ucapku seraya menggelengkan kepalaku.
Aku yang terus berjalan di dalam kediaman Johannes tidak sadar akan sesuatu.
" Aku tidak tahu harus ke mana sekarang. " Ucapku yang bingung.
Aku terus melirik ke sana kemari, tapi tidak ada seseorang yang lewat, karena sekarang sudah malam.
| Biasanya banyak pelayan laki-laki atau penjaga di sekitar sini. Tapi sekarang tidak ada, mungkin mereka masih tidur. | Pikirku.
Saat aku sedang berjalan-jalan mencari arah, tiba-tiba aku melihat sesosok perempuan, dia memiliki rambut ungu, aku mengenali sosok itu.
" Grace? " Aku tanpa sengaja memanggil namanya.
| Kenapa aku memanggilnya, Grace tidak pernah bertemu denganku, apa aku jujur saha sekarang. | Pikirku.
" Anda memanggil saya? " Tanya Grace.
...----------------...
BERSAMBUNG.......
SLOW UPDATE❗❗❗
__ADS_1
Chapter ini lumayan panjang〰