
Hari sudah malam, hutan venus semakin gelap, tidak ada cahaya lampu atau obor yang menyinari langkah kaki Johannes.
Hanya beberapa kunang-kunang yang bercahaya.
Johannes harus berjalan di kegelapan, saat berjalan Johannes hanya mendumel kesal terhadap Elenoa.
" Badannya kecil tapi tenaganya kuat, kaki ku yang di injaknya masih terasa sakit. " Gumam Johannes.
Johannes berjalan kaki pulang, karena hari sudah malam, tidak mungkin dia akan kembali ke istana. Mungkin pertemuannya sudah selesai.
" Baru kali ini aku seperti ini. " Gumam Johannes acuh.
Johannes berpikir, Teo bisa keluar dengan selamat dari hutan Venus. Dia pikir, Teo mendapat keberuntungan.
" Dia tidak selemah itu, dan dia hanya beruntung." Gumam Johannes.
" Membawa kuda milikku seenaknya, dia pikir dia siapa!!! " Johannes meludah kesal.
" Aku tidak menghadiri pertemuan itu, Orang tua itu pasti mengomel. " Gumam Johannes.
Saat berjalan dengan mengeluh kesal, dia yang memiliki pendengar yang tajam dan insting kuat merasa ada beberapa orang yang sedang mengawasinya.
" Ah..sepertinya ada serangga...." Johannes bergumam kecil.
Johannes mulai waspada, dia memperhatikan sekitarnya. Meski keadaan di dalam hutan sangat gelap, Johannnes masih bisa menerka berapa serangga yang mengintainya.
| Jika di hitung, kira-kira ada 40 lebih. | Pikir Johannes serta menghentikan langkahnya.
| Mereka berani datang ke hutan Venus, sepertinya mereka dari serikat pembunuh bayaran. | Pikir Johannes.
| Menjijikan!! walaupun aku sudah sering di situasi seperti ini, tapi ini masih terasa menjijikan.| Pikir Johannes.
" Aku tahu kalian mengincarku, keluarlah!!! " Teriak Johannes.
" Aku muak mengulangi perkataanku!! " Ucap Johannes dingin.
Johannes segera memegang sarung pedangnya dan bersiap mengeluarkan pedang dari dalam sarungnya.
Tidak lama kemudian, bayangan hitam mulai keluar satu persatu, mereka menghadap Johannes, dengan senjata di masing-masing tangannya.
" Adipati (Duke) Johannes Midletton. " Panggil pembunuh bayaran.
" Seharusnya kau tidak memanggil namaku sembarangan!! " Seru Johannes dengan seringai di bibirnya.
Johannes meneliti pembunuh bayaran itu.
| Mereka membawa senjata panah, tombak, pedang dan pisau. | Johannes meneliti.
" Jangan banyak bicara yang mulia, karena anda hanya seorang diri saja. Sedangkan kami berkelompok. " Ucap Pembunuh bayaran.
Johannes terkekeh mendengar perkataan pembunuh bayaran tersebut.
" Pfffttt! "
" Apa yang lucu? " Tanya mereka.
Johannes tanpa berbicara, dia mengangkat pedangnya dan memulai pertarungan.
".....Ce—cepat bunuh dia!!! " Perintah pembunuh bayaran kepada kelompoknya dengan panik.
Meskipun gelap dan tidak terlihat, Johannes menerjang satu persatu dari mereka.
Johannes menggila dengan pedang di tangannya, dia menggores setiap inci dari tubuh mereka sehingga tubuh mereka terpisah.
__ADS_1
Suara pedang terdengar bertabrakan, sesekali Johannes kesulitan dengan panah dan tombak yang mereka lepaskan.
" Tembak dia dengan panah dan tombak, cepat!!! " Seru pembunuh bayaran, dengan bringas.
Panah di tembakkan satu persatu, Johannes dengan lincah menghindari panah tersebut.
" Kalian sia-sia, kalian datang kepadaku hanya untuk mati!!!! " Johannes dengan brutal berbicara.
Darah terciprat di mana-mana, pembunuh bayaran yang jumlahnya lebih dari 40 itu, kini semakin sedikit hanya menyisakan 2 orang.
Johannes terus bertarung, pada suatu ketika dia lengah, Johannes pikir, mereka hanya membawa senjata tajam.
Tapi Nyatanya tidak, salah satu pembunuh bayaran mengeluarkan gas beracun dari dalam sakunya, dia melempar gas itu kepada Johannes.
" Rasakan ini!!! " Teriak pembunuh bayaran, seraya melempar gas tersebut.
' Duarrr......' Suara ledakan dari gas itu.
Kabut tebal di mana-mana setelah Gas itu di lempar, Johannes yang terkena Gas itu, dia merasa sesak dan matanya perih.
" Ugghh....apa ini!! " Johannes terkena gas itu, dia merasa sesak dan matanya pedih.
" Kau akan mati Duke!!! " Suara pembunuh bayaran yang tidak terlihat karena kabut.
Johannes waspada, dia dengan mata tertutup dan nafas yang sesak, mengayunkan pedangnya ceroboh.
Pembunuh bayaran itu menjadikan kesempatan ini untuk melukai dan membunuh Johannes.
Pedang miliknya dengan cepat mereka ayunkan ke kanan, dan menggores kulit Johannes.
' Sraaatt—' Suara pedang menggores kulit.
' Ugghh....' Johannes meringis dengan goresan pedang yang melukai bagian kiri perutnya. Darah bocor dari sebelah kiri kulitnya.
Johannes terduduk dengan pedang yang menahannya.
" Haaahhh..Haah....kalian menggunakan trik licik!!! " Umpat Johannes.
Belum cukup, Johannes di panah di bagian belakang punggungnya. Panah itu melesat tanpa pemberitahuan.
' Steb—' Dan berakhir di punggung Johannes.
' Ughhh...' Johannes merasakan sakit lagi.
| Ughhhhhhhkkk.....ini.... panah beracun. | Pikir Johannes.
Dia seperti hewan yang di buru dengan badan yang penuh luka.
" Apa ada kata-kata terakhir Grand Duke?! " Tanya pembunuh bayaran itu sombong.
" Mari kita bunuh saja dia sekarang!!! " Ucap Temannya yang melempar Gas.
Johannes meludahkan darah dari mulutnya dan tertawa seolah gila. Darah terciprat dari mulut Johannes.
" Ha—hahah......kalian terlalu sombong!! " Ucap Johannes yang tertawa.
| Baiklah!!..mari selesaikan ini dengan baik. | Pikir Johannes.
Kabut sudah lumayan menghilang sedikit demi sedikit.
Johannes berdiri dengan tubuh penuh luka dan panah yang masih tertancap di punggungnya.
" Kau...masih memiliki tenaga??? " Pembunuh bayaran terkejut.
Johannes tanpa menanggapi mereka, dia maju dan menerjang kedua kepala merek dengan sisa kekuatannya.
' Sriiiinggggg—
' Sraaattttt—
Kepala mereka jatuh berguling-guling dengan hina di kaki Johannes. Darah dari pedangnya bercucuran.
__ADS_1
" Hah...hahhhh......Ughhhhh
" Ini...sudah berakhir.....
Ucap Johannes lelah dengan hembusan nafas yang kasar. Johannes memaksa berdiri dan melanjutkan perjalanan, dia harus pulang.
" Teo....kau beruntung......tidak bertemu dengan mereka. " Gumam Johannes dengan menahan sakit.
Johannes telah menjauh dari para mayat pembunuh bayaran, di tengah perjalanannya, dia mendengar suara derap kuda yang datang.
| Sekarang.....apa lagi kali ini? | Johannes bertanya-tanya.
" Mereka tidak gentar......aku lelah. " Ucap Johannes lemas.
Dia mengeluarkan pedangnya lagi, dan berdiri dengan badan yang tidak seimbang.
Dan kuda itu pun datang ke hadapannya.
" Yang mulia!! " Ternyata itu adalah Elenoa, dia menunggang kuda dengan wajah cemas.
" Teo...." Panggil Johannes.
| Entah kenapa aku merasa tenang untuk sementara waktu. | Pikir Johannes.
Elenoa turun dari kuda dengan tergesah-gesah.
" Kenapa anda berakhir seperti ini?!! " Elenoa panik, melihat tubuh Johannes yang penuh luka.
" Diam!! kau berisik!!! " Johannes membentak Elenoa dengan sisa tenaganya.
" Anda masih saja jutek, bahkan dengan tubuh seperti itu!! " Elenoa memarahi Johannes.
" Kenapa....kau kembali?? " Tanya Johannes susah payah.
" Anda tidak usah bertanya, lihat!! kondisi anda seperti orang yang akan mati!!! " Ucap Elenoa gamlang.
" Kau mirip perempuan......Cerewet!!
Johannes maju ke depan Elenoa dengan pedang di tangannya.
" Apa yang mau anda lakukan!! " Tanya Elenoa waspada.
" Aku benci perempuan......
Johannes terus mendekat ke arah Elenoa.
" Jangan mendekat!!! " Elenoa berteriak.
Johannes yang sudah tidak kuat, dia jatuh ke pelukan Elenoa.
' Bruk...' Johannes jatuh ke pelukan Elenoa.
' Clang....' Pedang yang di pegang Johannes pun jatuh.
" Ibu....." Johannes bergumam pelan di pelukan Elenoa.
Elenoa tidak tahu posisi apa yang di buat Johannes.
" Apa.....
" Apa-apaan ini!!! " Elenoa kesal.
Elenoa yang menahan badan Johannes dia keberatan, tubuh Johannes sangat berat.
Elenoa mengepal tangannya erat dan dia dengan kesal mendorong tubuh Johannes hingga terjatuh.
" Pria brengsek!!! Menjauh dariku!!! " Elenoa mendorong Johannes.
' Brukkkk ' Badan Johannes terlempar ke tanah begitu saja.
" Ughhh....haaaahh.hah...." Johannes meringis dan menutup matanya.
" Dia tidak matikan? " Elenoa berkata seolah merasa bersalah.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
" Anda bisa diam atau tidak sih!!! Diam!!! tahan ini "