
Gua.
Elenoa kembali setelah membersihkan dirinya. Elenoa sudah menyiapkan hatinya.
Dia akan memberitahu Johannes kalau dia sebenarnya Teo dan juga Elenoa.
" Tenang Elenoa, tidak akan terjadi masalah. " Gumam Elenoa, dia menenangkan hatinya.
Saat Elenoa sampai di dalam Gua, mata Elenoa menangkap Johannes yang masih tidur.
" Dia belum bangun. Apa ramuannya tidak bekerja? " Elenoa bertanya-tanya seraya menatap Johannes yang terbaring.
| Dia kembali? | Batin Johannes.
Johannes sebenarnya hanya berpura-pura memejamkan matanya.
Dia tidak mau Elenoa tahu, bahwa dirinya sudah bangun dan mengetahui rahasia yang Elenoa sembunyikan.
| Ada apa denganku Johannes. Kenapa kau sampai berpura-pura tidur. | Pikir Johannes.
Elenoa perlahan mengulurkan tangannya ke arah kening Johannes, dia ingin memastikan apa Johannes masih demam atau tidak.
Saat telapak tangan Elenoa mendarat di kening Johannes, seketika Johannes kaget.
| Apa?! | Batin Johannes.
Detak jantung Johannes pun mulai berdegup kencang, saat Elenoa menaruh tangannya di atas keningnya.
| Bahaya....jantungku sudah mulai tidak bisa di ajak bekerja sama. | Pikir Johannes.
" Sepertinya, demamnya sudah turun, suhu tubuhnya juga tidak dingin atau pun panas. " Gumam Elenoa.
" Kenapa dia belum bangun. " Elenoa bertanya-tanya.
" Hmmm?....
Elenoa beralih ke dada Johannes, dia mengeceknya dengan mendekatkan telinganya ke dada Johannes.
Johannes semakin berdebar, lebih dari itu wajahnya semakin panas.
| Sial.....ini memalukan. | Johannes merasa malu karena reaksinya terhadap Elenoa.
' Deg-deg-deg...' Elenoa mendengar suara jantung Johannes.
" Detak jantungnya tidak karuan, apa racun itu masih bersarang di jantungnya? " Elenoa terus bertanya-tanya.
" Mari kita cek sekali lagi...." Elenoa menempelkan tangan satunya di kening Johannes, dan kepalanya masih menempel di dada Johannes.
Bahkan lebih menempel.
" Kenapa suhunya tinggi lagi. " Elenoa bertanya-tanya.
Johannes mengepalkan tangannya tidak tahan, dia pun membuka matanya, dan menatap Elenoa yang masih menempel di dadanya.
| Apa dia sangat khawatir kepadaku, sampai dia harus melakukan pengecekan seperti ini? | Johannes bertanya-tanya, dengan mata yang masih terpaku dengan Elenoa.
Elenoa tidak menyadari bahwa Johannes tengah menatapnya, dia masih sibuk mengecek detak jantung Johannes.
| Apa seperti ini rasanya di perhatikan oleh seorang wanita? Ibuku tidak pernah melakukan ini. | Pikir Johannes.
Elenoa kemudian berbalik dan menatap ke arah mata Johannes.
" Ka—anda....sudah bangun? " Elenoa bertanya dengan mata lebar, karena terkejut.
Sekarang mereka saling memandang, terutama Johannes, dia tidak henti memandang Elenoa yang pada saat itu masih menjadi Teo.
" Aku sudah bangun sedari tadi. " Johannes menjawab dengan suara serak dan lembut.
Lalu, tangannya perlahan mulai memegang punggung Elenoa.
__ADS_1
Elenoa yang merasakan sesuatu merayap di bagian punggungnya, dia pun berbalik dan mendapati tangan Johannes yang berdiri kaku.
" Ada apa? " Tanya Elenoa, dia mengubah posisinya.
" Tidak, hanya saja kau sedikit basah. " Ucap Johannes.
| Dia memakai pakaian basah, mungkin dia tidak mau menanggalkan pakaiannya untuk di jemur karena identitasnya yang asli adalah perempuan. | Pikir Johannes.
" Pakai bajuku. " Ucap Johannes.
" Tidak, saya tidak membutuhkan nya. " Elenoa menolak dengan cepat.
Johannes menatap Elenoa, Elenoa terlihat menggigil dan sedikit pucat.
Johannes pun berbicara seraya menurunkan alisnya.
" Kau menggigil. Jika di biarkan kau akan sakit. " Ucap Johannes perhatian.
Elenoa yang merasakan perbedaan dari Johannes, dia berpikir.
| Aku merasa sikapnya sedikit berbeda. Dulu saat dia bangun, dia akan marah-marah tidak jelas. Tapi sekarang, dia tidak seperti itu. | Pikir Elenoa.
Elenoa tidak menyadari bahwa Johannes sebenarnya sudah mengetahui identitasnya.
Makanya, sikapnya berubah lunak dan sedikit perhatian.
" Aku tidak apa-apa. " Ucap Elenoa, yang menolak baju Johannes.
Johannes yang tadinya berbaring, dia bangun dan langsung menempelkan tangannya di kening Elenoa.
" A—apa yang anda lakukan? " Tanya Elenoa gugup.
Matanya seketika berputar-putar tidak karuan, Elenoa tidak tahu harus menatap ke arah mana. Jika dia menatap ke arah depan, maka dada Johannes yang menunggunya.
Jika dia menatap ke arah bawah, itu akan lebih parah.
" Kau demam.." Ucap Johannes.
" Saya tidak apa-apa. Lebih dari itu, bagaimana keadaan anda? " Tanya Elenoa.
| Kenapa rasanya canggung sekali.| Pikir Elenoa.
" Aku sudah merasa baikan, ini yang kedua kalinya kau menolongku. Terima kasih. " Johannes berbicara dengan sedikit senyum, tapi wajahnya tetap terlihat dingin.
| Kapan kau akan mengakui identitasmu? | Johannes bertanya-tanya.
| Dari tadi dia tidak membahas tentang semalam, apa dia tidak mengingatnya? | Elenoa bertanya-tanya.
Mereka masing-masing terus berpikir dalam diam, Elenoa yang berpikir harus bagaimana dia mengatakan identitasnya. Johannes yang memikirkan kapan Elenoa akan mengakui identitasnya.
Pikiran itu terus berputar di kepala mereka.
Lalu Elenoa pun memberanikan diri untuk berbicara.
" Se—sebenarnya....
" Saya berbohong...kepada anda.....
Johannes yang mendengarnya, dia berpura-pura tidak tahu.
" Apa maksudmu berbohong? " Tanya Johannes.
| Dia berani mengakuinya? jika benar, dia penuh keberanian, aku semakin menyukainya. | Pikir Johannes.
Elenoa menatap wajah Johannes serius, lalu dia berbicara lagi.
" Aku—
" Haaahh...
Elenoa menghela nafas seolah menyiapkan hatinya.
__ADS_1
" Aku sebenarnya Elenoa,..." Elenoa mengaku di depan Johannes.
" Apa?!!! " Johannes berteriak kaget.
Dia sebenarnya berpura-pura kaget dengan memasang wajah sinis dan dingin.
" Apa yang kau maksud?!! " Tanya Johannes pura-pura memastikan.
Elenoa semakin takut dengan reaksi Johannes. Dia semakin menciut.
...----------------...
Sementara itu, di perkemahan khusus berburu.
Rakian kembali dengan kegagalan, dia gagal membawa Johannes kehadapan Veronica.
" Kenapa kau baru kembali? " Tanya Veronica.
Dia berjalan ke arah Rakian, terlihat banyak luka di badan Rakian.
Kenapa tidak? Karena Jon si Black Panther, Rakian harus mendapat luka yang cukup parah.
Jon mencakar dan menggigitnya di mana-mana, meski dia tidak merobek semua bagian tubuh Rakian.
Tapi itu sudah terlihat jelas, bahwa Rakian mengalami luka yang cukup serius.
" Kau cukup berantakan. " Ucap Veronica.
Veronica hanya memasang ekspresi dingin tidak peduli.
" Mana John? " Veronica mulai bertanya di mana Johannes.
Rakian menjawabnya dengan lemah.
" Saya gagal. " Jawab Rakian.
' Prangggg!!!!!......' Seketika Vas bunga di layangkan dan terjatuh.
Mendengar hal itu, Veronica marah, dia melempar Vas bunga ke arah Rakian. Tapi untung saja Rakian menghindarinya dengan cepat.
" Apa kau bilang?!! " Tanya Veronica emosi.
" Saya gagal membawa Johannes kemari. " Jawab Rakian.
' Plaakkkkk!!!!!.....' Kali ini telapak tangan Veronica mendarat di pipi Rakian.
Veronica menampar Rakian dengan penuh amarah. Dia sangat marah karena Rakian tidak berhasil menjalankan rencananya.
Rakian dengan tatapan penuh dendam, dia berpikir.
| Jika aku tidak membutuhkanmu, aku pasti akan membunuhmu Veronica. Beraninya kau memperlakukanku seperti ini!!! | Rakian dalam batinnya membenci Veronica.
" Aku sudah menduganya, kau tidak bisa di andalkan!!!!....
" Bodoh!!!....
" Tidak berguna!!!.....
Veronica mengeluarkan amarahnya, dia mencaci Rakian dengan mengatakan bahwa dia bodoh dan tidak berguna.
" Seharusnya aku tidak memungutmu, seharusnya aku membiarkanmu di jalanan sampai kau mati bersama dengan para tikus itu!!!!!.....
" Tidak berguna!!!!
Mendengar hal itu Rakian semakin marah, dia memang di pungut oleh Veronica. Veronica juga alasan kenapa Rakian bisa begitu membenci Johannes.
__ADS_1