Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 27


__ADS_3


Elenoa kembali ke kediaman pelayan, karena dia tidak mungkin kembali ke kediamannya sebagai Teo.


" Haaaahhh.....aku sangat kesal. " Elenoa berbaring di atas ranjang.



Kebetulan, selama jam kerja, para pelayan lain yang sekamar dengan Elenoa tidak ada. Mereka akan kembali sore hari.


" Pria imponten!!!! " Elenoa mengutuk Johannes.


| Eden sudah tahu, jika aku adalah Teo. Tapi untungnya dia tidak seperti Johannes. Dia mengerti perasaanku dan apa mauku. | Pikir Elenoa.


Kilas balik Eden mengetahui jika Teo adalah Elenoa.


Saat itu Elenoa kembali dengan suasana hati yang marah dan kesal. Elenoa masuk ke dalam kediamannya secara diam-diam. Dia menghindari semua mata.



Saat tiba di dalam kediamannya sendiri, dia langsung berteriak kesal.


" Aaaaaahhhhhhhhhh!!! Pria brengsek!!!! Imponten!!!! Johannes si anak guguk!!! " Elenoa yang masih dalam bentuk Teo, dia berteriak di dalam kediamannya.


Elenoa berjalan dengan kesal, dia menghentakkan kakinya seperti anak kecil.


" Huaaaaahhhhh!!!.........kenapa rasanya aku kesal sekali!!!! " Elenoa berteriak seraya berjalan.


" Kenapa nasibku sial sekali?!!! Aku menyamar sebagai laki-laki hanya untuk menikmati hidup dan mencari uang sendiri!!.....


" Kenapa aku malah berakhir di sini lagi!!!! Mau sebagai Teo atau pun Elenoa!!! "


Elenoa berteriak mengeluarkan amarahnya. Dia tidak tahu alasan lain yang membuatnya marah dan kesal.


Elenoa membuka ikat rambut yang menyembunyikan rambut panjangnya dengan kasar dan kesal.


" Aku sudah menolongnya, memasak untuknya, aku mencari tanaman obat dan sayuran untuk dirinya. Dia tidak berterima kasih sama sekali!!! " Elenoa membuka ikat rambutnya seraya mengoceh.


Kemudian dia beralih ke matanya, dia meneteskan ramuan ke matanya.



" Saking kesalnya aku tidak merasakan perih ketika ramuan mata ini mengenai mataku. " Gumam Elenoa yang meneteskan ramuan ke matanya.


Matanya yang tadinya berwarna ungu, kembali menjadi warna merah cerah.


' Tak!!!! ' Elenoa menyimpan ramuan itu dengan keras.


" Aku akan mengundurkan diri, apapun yang terjadi. Aku tidak boleh terlibat dengan dirinya, apalagi sebagai Teo. " Gumam Elenoa.


Saat Elenoa akan membuka kancing pakaiannya. Tiba-tiba suara batuk seseorang terdengar.


" Ekehm!!! "


Elenoa berhenti untuk membuka kancing bajunya, dia perlahan melirik ke arah suara tersebut.


" Maaf Nyonya, saya sudah memanggil anda beberapa kali, tapi nyonya tidak mendengar. " Itu adalah Eden.


Elenoa melihat Eden, dia segera mengalihkan wajahnya.


| Eden? Apa dia benar Eden?!! | Elenoa dalam batinnya tidak percaya.

__ADS_1


Elenoa mengalihkan wajahnya lagi, dan menatap Eden seolah memastikan.


Ketika Elenoa berbalik, Eden tersenyum ramah dan mengangguk seolah mengerti apa yang di pikirkan Elenoa.


Elenoa mengalihkan lagi wajahnya dan berbicara dalam hati.


| Haahh.....kenapa aku sial sekali? Sekarang Eden pun sudah tahu identitasku. Saking kesalnya, aku tidak mendengar Eden sama sekali. Bodoh!! | Pikir Elenoa putus asa.


Elenoa kembali berbalik dan dia memberikan senyuman dan anggukan kikuk kepada Eden.


" Ha—hahah......." Elenoa tersenyum kikuk, seolah dia seperti maling yang tertangkap basah.


" Jadi....


" Kau sudah sedari tadi di sini? " Tanya Elenoa.


Eden mengangguk pelan.


" Anda adalah Teo, sekaligus Duchess Elenoa. " Ungkap Eden.


" ......Ahhhhh.....Ya....benar. Apa kau akan melaporkan hal ini kepada Grand Duke? " Tanya Elenoa.


Eden diam, dia tidak menjawab.


" Aku tahu, bahwa perbuatanku tidak baik. Tapi kau harus tau, jika aku sangat ingin kebebasan. Aku tidak berencana membuat masalah. Aku hanya ingin mencari uang sendiri dan mencoba menikmati hidup. " Elenoa menjelaskan secara singkat.


Eden mengerutkan alisnya sedih mendengar Elenoa.


" Saya mengerti, saya pun memiliki putri yang mirip seperti anda, dia anak yang menginginkan ke bebasan. Dia tidak mau terkurung dalan sangkar. "Eden mengungkapkan sedikit tentang putrinya.


" Lalu? apa kau mengizinkannya? " Tanya Elenoa.


" Tentu, sekarang dia sedang berpetualang. Dan menikmati kebebasan. " Ungkap Eden.


" Saya tidak akan melaporkan hal ini kepada yang mulia, tapi anda harus berhati-hati dengan beliau. " Ungkap Eden.


Elenoa senang, identitasnya tidak akan di bocorkan oleh Eden kepada Johannes.


" Aku sangat berterima kasih kepadamu Eden. Aku merasa kau seperti ayah untukku. " Ungkap Elenoa.


" Anda bisa menganggap kakek tua ini sebagai ayah anda sendiri ataupun kakek sendiri. " Ucap Eden.


| Yah....Nyonya yang sebagai Teo mampu melumpuhkan hati Grand Duke. Maka lebih baik tidak memberi tahunya. Kita tidak tahu, cinta datangnya dengan wujud apa. | Pikir Eden.


Kilas balik selesai ...........


...----------------...



" Besok malam, kontrak sudah tidak berlaku lagi. " Ucap Elenoa yang masih terbaring di atas ranjang.


Saat Elenoa sedang berbaring, tiba-tiba Rakian masuk. Dia memanggil Elenoa yang pada saat itu sedang menutup mata.


" Teo?! " Panggil Rakian.


Elenoa seketika membuka matanya dan menatap Rakian.


" Siapa?.....


" Ahhhkk.....Rakian? " Panggil Elenoa memastikan.

__ADS_1



Rakian mengampiri Elenoa dan dia duduk di atas ranjang Elenoa.


" Teo? sedang apa kau di sini? " Tanya Rakian acuh dan sedikit dingin.


" Saya hanya berbaring sebentar, Grand Duke tidak memberi saya pekerjaan. Jadi, saya berbaring. " Ucap Elenoa.


Rakian terdiam sebentar, kemudian dia membuka mulutnya lagi dan berbicara.


" .......Kau bosan. Kalau begitu lebih baik kau membantuku membeli barang di pasar. Bagaimana? " Tanya Rakian.


Elenoa berpikir, dari pada dia merasa kesal sendirian. Lebih baik dia ikut ke pasar dan membeli beberapa makanan enak.


| Jika di pikir, lebih baik aku ikut dengan Rakian. Dari pada aku di sini dan memikirkan Johannes yang membuatku kesal. Ayo kita berbelanja sedikit!!! | Elenoa bertekad dalam batinnya.


...----------------...



" Memangnya dia siapa? " Johannes yang berada di kediamannya terlihat sedang kesal dan marah mengenai Teo yang meminta pengunduran diri secara tiba-tiba.


Eden yang melihat Johannes, dia merasa was-was.


" Tenanglah yang mulia, mungkin ada alasan lain selain itu semua. " Ucap Eden menenangkan.


Johannes melempar Balpoinnya dan dia berbicara dengan penuh emosi.


" Alasan?!!.....


" Kau bilang alasan lain?!!!.....


" Ya...yang mulia. " Ucap Eden.


" Dia sudah bilang, jika dia tidak mau bekerja dengan tuan sepertiku. Tuan yang tidak berperasaan. Dia bilang itu alasannya. " Ucap Johannes seraya mengusap wajahnya kasar.


" Ya itu memang kebenaran. Bagaimana dia akan tahan dengan ujian yang anda berikan. " Ucap Eden.


" Aku hanya membawanya ke hutan Venus. Dan itu pun aku yang terluka bukan dia!! " Johannes membandingkan.


" Bagi anda hutan venus adalah hutan biasa, tapi bagi orang lain. Itu adalah hutan kematian. " Ucap Eden.


" Jika Teo tahu anda menguji dirinya, dia mungkin akan semakin marah. " Ucap Eden sekali lagi.


| Yang mulia tidak tahu, jika Teo adalah istrinya sendiri. | Pikir Eden.


" Haaaaahhh......sudah!!! aku tidak mau membicarakan anak itu. " Johannes menghela nafas kasar.



" Cepat, siapkan kereta kuda. Aku akan menyambut tamu kerajaan asing itu. " Ucap Johannes.


" Saya akan menyiapkannya sesegera mungkin." Ucap Eden patuh.


" Satu lagi!! Selidiki siapa yang mengirim pembunuh bayaran kemarin malam. " Ucap Johannes sekali lagi.


" Baik, saya akan meminta para ksatria untuk mencari siapa yang menyuruh pembunuh bayaran untuk membunuh anda, secara diam-diam. " Ucap Eden.


" Bagus, aku ingin besok sudah selesai. " Ucap Johannes.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG......



__ADS_2