Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 84


__ADS_3


" Apa yang kau lakukan Rakian? " Aku bertanya kepada diriku sendiri.


Aku tidak tahu kenapa aku melakukan ini. Alasan apa yang membuatku melarikan diri dari kamar tersebut dan menerjang hutan belantara?


Aku tidak tahu.....


Tapi naluriku mengatakan bahwa aku harus mengejar Ruby dan menyelamatkan Elenoa.


Aku terus mengejar Ruby, dan untungnya aku tahu tempat persembunyian yang sering digunakan oleh Ruby.


" Jika Ruby ingin menahan Elenoa, dia pasti menyandranya di kastil tua yang sudah lama terbengkalai. " Ucapku mengingat tempat persembunyian Ruby.


Aku terus menunggangi kuda, menyusuri setiap jalan kecil yang ada di hutan. Hingga akhirnya sampai di dekat kastil tua yang aku maksud.


Aku menaruh kudaku cukup jauh dengan Kastil agar Johannes bisa tahu ke arah mana dia harus menuju.


Karena kastil ini tertutup dengan banyak nya rumput liar.


Aku mulai berjalan ke arah kastil.




Aku melihat sebuah kereta usang dengan beberapa penjaga yang berkeliaran di sampingnya.


" Anjing Veronica ternyata berkumpul di kastil tua ini....." Gumamku pelan seraya memantau situasi dari jauh.


Saat aku terus memantau situasi, Ruby terlihat turun dari kereta di ikuti oleh Elenoa sebagai sandra.


Tubuh yang lemah, terkulai tidak sadarkan diri dengan luka di kepalanya. Bahkan pakaian mewah yang tadi di gunakan olehnya, ternoda oleh merahnya darah.


Bukannya tidak, saat aku melihat seseorang memukul kepalanya, jelas sekali jika kayu yang dia gunakan bukan kayu biasa.


"......Itu pasti menyakitkan bagi wanita...." Gumamku.


Aku bergumam seperti itu karena aku sudah tahu seberapa sakitnya di pukul oleh benda keras dan tajam. Rasa sakit sudah menjadi makanan untukku, tidak ada barang yang tidak pernah menyentuh tubuhku.


Aku sudah merasakan semuanya.....


" Aku larut dalam rasa sakitku. Padahal tidak ada yang mengerti....." Gumamku.


Aku beralih mengesampingkan rasa sakitku, dan fokus kembali untuk menyelamatkan Elenoa.


" Ruby!! " Aku dengan tenang berjalan masuk ke dalam tanpa takut, dan masih memanggil Ruby.


Saat itu juga, para penjaga mencoba memblokir diriku. Tapi Ruby dengan cepat berbicara menegur mereka.


" Hentikan! Dia sekutu kita. " Ucap Ruby dengan mata yang menatap ke arahku.


Aku tahu Ruby menyangka bahwa aku adalah sekutunya, dia tahu bahwa aku budak Veronica.


" Rakian? kenapa kau ada di sini? " Tanya Ruby dengan tatapan curiga.

__ADS_1


Pada saat itu, aku melihat Elenoa di bawa masuk oleh penjaga sehingga tidak fokus kepada Ruby.


Ruby pun memanggil lagi, dengan menepuk pundakku.


" Rakian!! " Panggilnya.


Aku mulai tersadar, dan menjawab Ruby.


" Ya, aku ke sini karena Lady. " Jawabku langsung.


" Lady? bukannya kau sedang di hukum oleg Lady? " Tanya Ruby dengan tatapan curiga.


Tapi kecurigaan itu tidan akan bertahan lama.


" Apa kau tidak lihat jika tubuhku masih sakit, wajahku masih terlihat pucat. Bahkan suara ku terdengar lesu. " Ucapku.


" Kau pucat! tapi kau memang pantas mendapatkan nya. Lady tidak suka ke gagalan, dan kau selalu gagal. Kau pantas di hukum. " Ucapnya sinia.


Aku tahu dia satu frekuensi dengan Veronica. Satu anjing betina dan satunya lagi babi betina.


Itulah yang terlihat di mataku.


" Di mana dia? " Aku bertanya mengenai Elenoa. Seolah berpura-pura mengetahui rencananya sejak awal.


" Di dalam....." Jawab Ruby seraya berbalik dan masuk ke dalam.


Aku mulai mengikuti nya masuk.


...----------------...


" Gggrrrrauuu!!!......." Jon menggeram dan menoleh ke arah Johannes.



" Kuda? siapa pemilik kuda ini? " Tanya Johannes.


" Yang mulia, itu kuda milik kediaman kita. " Salah satu Ksatria berbicara.


Kuda itu milik Rakian, dia sengaja menyimpan nya di sana, sebagai petunjuk bagi Johannes.


" Grrrrrrrttttttt!! " Jon mulai berlari lagi dengan kencang, hingga Johannes dan rombongan kesulitan mengejar Jon.


Saat mereka mengejar Jon, tiba-tiba.....


" Wahhh!!! Grand Duke Johannes Midletton, anda ternyata sampai juga di sini. " Ruby menyambut Johannes di depan dengan tatapan sombong nya.


Di belakang Ruby terlihat beberapa Penjaga dengan bada kekar. Yang lebih mengejutkan lagi, Johannes melihat Rakian, yang merupakan adiknya.


Mata Johannes terus bergetar melihat penampakan adiknya, dia mengira bahwa Rakian satu komplotan dengan Ruby.


" Kau?!! " Ucap Johannes tidak percaya, matanya menatap Rakian lekat.


Ruby kemudian melirik Rakian, dan dia berbicara dengan bibir menyeringai.


" Kenapa? apa kau kaget dengan keberadaan Rakian di sini? " Tanya Ruby.

__ADS_1


" Bagaimana ini Yang mulia? " Salah seorang kesatria bertanya dengan nada pelan.


Johannes dengan mata yang masih tertuju kepada Ruby dan Rakian. Dia menanggapi dengan berbisik.


" ......Pastikan senjata kalian tajam. " Johannes hanya mengatakan itu.


Para kesatria diam membatu, lalu mereka tida lama menjawab patuh.


" Baik, yang mulia. " Ucap mereka patuh dengn nada rendah.


Saat itu pula, Ruby berteriak memerintahkan bawahannya untuk membawa Elenoa.


" Bawa tahanannya ke mari!! karena kita harus bernegosiasi sekarang. " Teriak Ruby dengan tangan terlipat.


Di situ, mata Johannes semakin membulat marah, tangannya mengepal pegangan pedang yang terselip di sakunya.


| Johannes, ternyata kau benar-benar menyayangi istrimu. | Pikir Rakian yang melihat ekspresi marah Johannes.


" ....Jika kau berani melukai dirinya, aku pastikan tidak ada bagian yang utuh dari tubuhmu!! " Dengan suara sangar Johannes berbicara.


Tidak lama kemudian, Elenoa muncul. Tangan dan kedua kakinya di borgol oleh besi, darah yang sudah kering masih mewarnai pakaian Elenoa.


Matanya masih tertutup tidak sadarkan diri.


Saat itu pula emosi Johannes memuncak seakan darahnya mendidih karena kemarahan. Bagaimana tidak, istrinya yang paling dia cintai berada dalam kondisi seperti itu.


Dengan gertakan gigi yang emosi, Johannes berbicara.


" ....Beraninya kalian!!!! aku pastikan perkataanku yang sebelum nya terjadi!!! " Ucap Johannes dengan penuh Emosi.


Johannes mengeluarkan pedangnya, dan siap menerjang leher Ruby dan Rakian kapan pun.


Akan tetapi....


" Jangan terburu-buru John, kau masih belum tahu apa yang akan terjadi jika kau melangkah satu langkah dari tempat mu. " Ruby berbicara, dan menghentikan langkah kaki Johannes.


" Kau akan melihat istrimu mati di depan matamu. Lagi pula, tidak akan rugi jika dia ikut mati bersamaku. " Ucap Ruby.


Ruby menaruh dua bilah pedang di dekat leher Elenoa, yang satu di belakang dan yang satu di depan.


Saat itu, Johannes benar-benar marah dan emosi. Dia pun tidak bisa bertindak gegabah.


" ......Kau benar-benar licik!! " Ucap Johannes, matanya mulai tertuju kepada Rakian.


Johannes menatap Rakian dengan penuh kebencian.


" Seharusnya aku membunuhmu saat itu Rakian!! kau sangat memuakkan bagiku!! " Johannes berteriak emosi.


Para kesatria yang mengeluarkan senjatanya, mereka mulai menaruh kembali senjatanya.


" Cepat katakan apa maumu? " Tanya Johannes.


|Aku harus mengikuti permainannya dulu, baru setelah itu menguncinya. | Pikir Johannes.


...----------------...

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2