Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 87


__ADS_3


John terlihat senang mengetahui kabar tentang kehamilanku, aku pun tidak menyangka bahwa aku akan hamil, padahal kami baru melakukannya beberapa kali setelah insiden Veronica.


Meski aku pun kaget, dan sedikit takut dengan kehamilan pertama ini. Tapi setelah melihat John, rasa takutku hilang begitu saja.


Dia tersenyum bahagia, wajahnya memerah saking senangnya.



Bukan hanya itu, dia bahkan berteriak dengan mengatakan bahwa dia akan menjadi seorang ayah.


" AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH!!....


" KALIAN DENGAN??!! AKU AKAN MENJADI SEORANG AYAH!!


Aku menggelengkan kepalaku melihat tingkah suamiku, dia terus berteriak sehingga para pelayan heboh tentang kehamilanku.


" John, jangan berteriak seperti itu. Kediaman ini akan heboh. " Ucapku yang memperingatkan John.


Saat itu, John langsung kembali ke padaku dan dia dengan cepat memegang tanganku lembut.


Tangan besar dan gemetar itu melingkari tanganku. Aku terkejut dengan reaksi John, ternyata dia bisa gemetar.


" .....Elen, aku sangat, sangat senang sehingga aku tidak tahu harus berkata apa." John berbicara dengan suara gemetar dan segera memelukku hangat, begitu pula aku.


" Aku, aku harus apa? apa ada sesuatu yang kau inginkan? " Tiba-tiba John, melepas pelukan nya dan bertanya apa yang aku inginkan.


Sebenarnya semenjak John datang, entah kenapa semua keinginan terus bermunculan. Mungkin ini bawaan hamil.


" Ya, sebenernya ada beberapa yang aku inginkan. " Aku tanpa ragu mengaku, bahwa aku menginginkan sesuatu.


Johannes dengan wajah tidak sabar bertanya.


" Apa? Apa itu? Aku pasti akan mengabulkan semua keinginanmu. " John terlihat tidak sabar.


Aku tidak tahu, apa permintaan ini keterlaluan atau tidak. Tapi ini muncul begitu saja dari pikiranku.


" .....Aku, ingin jalan-jalan.....


Aku mengatakannya setengah-setengah, karena takut jika John akan marah.


" Jalan-jalan? hanya itu saja? apa tidak ada yang lain? Seperti kastil berlian? Ruby? emas? perak? atau hal apa saja? " John terus bertanya, dia pasti ingin membuatku bahagia.


" Jalan-jalan, tapi aku hanya ingin berjalan-jalan dengan Isis.." Dengan hati-hati aku berbicara.


Saat itu wajah Johannes berubah ekspresi menjadi murung dan serius. Dia pun bertanya kenapa harus dengan Isis, dan tidak dengannya.


" ......Kenapa harus dengan Isis? Dan bukannya aku? " Tanya John sedikit murung.


Aku tidak tahu kenapa aku sangat ingin berjalan-jalan dengan Isis. Itu muncul begitu saja dari pikiranku.


" Aku tidak tahu, hanya saja aku ingin. " Ucapku hati-hati.


Johannes yang masih terlihat murung, dia pun berbicara.


" Kenapa harus Isis? Aku tidak bisa mengabulkan itu, Isis tidak dapat di percaya. Dia masih ceroboh. " John menolak.

__ADS_1


Saat John menolak, keinginan itu terus membesar, dan aku semakin ingin berjalan-jalan dengan Isis.


" Aku sangat ingin itu John, tolong kabuli itu. " Sekali lagi aku memohon kepada John.


Karena melihat tingkahku yang memelas, seolah tidak tega, John akhirnya mengabulkan nya.


" Haah...


" Baiklah, tapi aku harus ikut. " John menghela nafas dan memberiku izin.


" Tapi aku hanya ingin jalan-jalan berdua dengan Isis. " Ucapku.


Johannes semakin serius, lalu dia berbicara lagi.


" Apa harus berdua? Tidak bisakah aku ikut walau dari jauh? " Tanya Johannes serius.


" Emmmm.....


" Bisa, tapi dari jauh saja. " Jawabku.


" Syukurlah, aku masih bisa memantau kalian dari jauh. " Johannes tiba-tiba mengelus dadanya dan mengucap kata syukur.


" Besok, aku ingin besok....tolong katakan dengan Isis. " Aku tidak tahan ingin berjalan-jalan dengan Isis.


Ini mungkin permintaan anak pertamaku, entah kenapa harus Isis yang menjadi targetnya.


...----------------...


Di sisi lain, tepatnya di ruang kerja istana Putra Mahkota.




" Isis, kapan kau akan menikah dan memberikan cucu untukku? " Tanya Tristan dengan serius.


" Saya belum siap menikah. " Isis menjawab dengan tegas.


" Ayolah Isis, apa kau tahu istana ini sangat sunyi tanpa adanya menantu dan anak-anak. Di masa tuaku ini, aku sangat ingin mendengar tawa anak kecil, bermain dengan anak kecil. " Tristan dengan wajah menyedihkan berbicara.


" Tidak. Aku belum siap menikah. " Isis terus menolak.


" Lagi pula, jika anda ingin mendengar tawa dan bermain dengan anak kecil. Anda bisa melakukan itu di panti asuhan, banyak anak-anak di sana, kenapa anda tidak mencoba nya..." Ucap Isis sekali lagi.


" Benar-benar!! kau anak yang tidak berbudi..." Ucap Tristan.


|Ayah sudah mulai mendorongku untuk menikah. Padahal aku belum siap dengan benar.| Pikir Isis.


Saat Isis sedang berpikir keras, tiba-tiba suara batuk terdengar.


" Uhuk, Uhuk,.....


" Ekemm, uhuk...


" ........Lihat, aku sudah tua, dan sakit-sakitan. Sebentar lagi aku akan kembali menjadi tanah, apa kau tidak tega melihatku seperti ini?.....


" Hidup kesepian dengan putra yang selalu membuat ulah...

__ADS_1


" Jika tidak cucu, setidaknya beri aku menantu!! Agar dia bisa menemaniku!!....


Tristan berusaha membujuk Isis dengan berpura-pura sakit dan menyedihkan. Saat itu pula, Isis menolaknya secara langsung.


" Tidak, aku tetap tidak akan menikah. Jika ayah merasa kesepian, kenapa tidak ayah saja yang menikah dan menghasilkan anak lagi. " Ucap Isis dengan wajah malas.


Tristan yang mendengarnya dia langsung membalas Isis.


" Bocah ini!! Aku sudah tua!!


" Mana mungkin menikah lagi!! Lagi pula pinggangku sudah sakit untuk melakukan hal itu!! "


" jadi sebaiknya kau saja yang menikah!! Dan beri aku cucu!! " Tristan terus memaksa Isis untuk menikah dan memberinya cucu.


Isis diam, dia tidak mau merespon Tristan, lalu kemudian.


" Cepat pilih perempuan yang kau mau!! Jika tidak aku sendiri yang akan menjodohkanmu!! " Tristan akhirnya mengeluarkan jurus yang sesungguhnya.


Di mana jurus itu pernah di lakukan kepada Johannes.


" Ayah!! " Isis protes.


" Tidak bisa, kau harus menikah. Aku akan tunggu sampai besok, jika kau tidak memilih perempuan yang akan menjadi istrimu, maka aku sendiri yang akan memilihnya untukmu. " Ucap Tristan seraya berdiri dari duduknya dan pergi.


Saat itu Isis tidak bisa berkata apa-apaan, dia bingung harus bagaimana.


Sebenarnya, Isis sudah jatuh cinta dengan wanita, hanya saja, dia tidak tahu apakah wanita itu mencintainya atau tidak.


" Sungguh, ini membuatku hilang akal. " Gumam Isis seraya memegang pelipisnya.


Isis kembali ke kursi kerjanya, dia duduk dan mengambil sebuah dokumen untuk dia kerjakan.


Tapi tiba-tiba—


' Brak!! ' Pintu di buka dengan keras, sehingga membuat kebisingan.


" Sudah ku bilang aku tidak mau menikah!! " Refleks Isis berteriak sebelum melihat ke arah pintu masuk.


Isis mengira bahwa itu adalah ayahnya yang kembali untuk memaksa dia menikah.


Tapi ternyata—


" Isis!! ini aku!! " Itu adalah Johannes, yang datang dengan tergesah-gesah.



Isis dengan helaan nafas lega berbalik dan menatap Johannes, sekaligus dia bingung kenapa Grand Duke yang jarang berkunjung ke istananya sekarang justru, datang begitu saja dengan raut wajah serius.


" Haaaahh~~~Aku pikir siapa, ternyata kau John. " Ucap Isis lega.


" Kemari kau, aku ingin bicara!! " Johannes langsung duduk di sopa dan berbicara dengan emosi.


Isis memutar bola matanya, dan mendecakkan lidahnya.


" Cik..


| Apalagi sekarang? | Isis dalam batinnya.

__ADS_1


...----------------...


MENUJU ENDING........


__ADS_2