Suamiku, Tidak Tahu Aku.

Suamiku, Tidak Tahu Aku.
CHAPTER 78


__ADS_3

Keesokan harinya.



Tepatnya di depan pintu Johannes.


Saat itu berdiri 3 orang, dua laki-laki dan satu perempuan, mereka terlihat berbisik satu sama lain.


" Cepat bangunkan dia, ada hal penting yang harus dilakukan. " Pria dengan rambut putih dan mata merah berbicara. Dia adalah Isis yang masih dalam mode penyamaran.


" Stttttthh.....saya mohon, jangan berisik. Grand Duke sedang tidur karena kelelahan malam tadi. " Eden menaruh telunjuk nya di bibir.


Lalu wanita dengan rambut hitam, yaitu Grace. Dia berbicara dengan berbisik.


" Kenapa? Apa yang beliau lakukan hingga kelelahan?......" Grace berbisik dengan wajah penasaran.


Eden dengan badan mencondong menjawab pertanyaan Grace.


" .... Beliau....Tadi malam melakukan itu dengan Grand Duchess. " Bisik Eden dengan wajah sumringah.


" Apa?!!!......" Mereka berdua serentak berteriak tidak percaya.


Berbeda dengan Eden, Isis dan Grace mereka saling bertatapan seolah tidak percaya dengan perkataan Eden.


" Ssstthh!!!!.....Jangan berisik!! nanti beliau bangun. " Eden memperingati mereka.


| Yang mulia putra mahkota dan Dame Grace selalu berbuat ulah. Mereka akan membangunkan Grand Duke jika seperti ini terus. | Pikir Eden.


" Cih!!....ternyata semalam dia tidak datang karena ini?....benar-benar!! aku menunggunya di gudang bersama wanita gila itu!! Dan dia malah bermesraan dengan istrinya!! " Isis dengan kesal menggaruk kepalanya kasar dan berteriak.


" .....Saya kali ini setuju dengan anda yang mulia. Pantas saja ketika saya akan melaporkan mengenai misi kita, beliau tidak menjawabnya, dan malah mengirim Eden kepada saya. " Grace kali ini mendukung pendapat Isis.


Saat mereka sedang gaduh, tiba-tiba suara terdengar dari dalam kamar Johannes.


" Kalian yang ada di depan pintu Enyahlah!! sebelum aku merobek mulut kalian!!! yang berisik itu!!! " Teriak dari dalam kamar Johannes, suara itu terdengar serak, siapa lagi jika bukan Johannes.


Ketika mendengar teriakan yang penuh ancaman, Isis dan Grace seketika memegang mulut mereka.


"...Ekhem....Kalau begitu siang nanti aku akan kembali lagi. Santai saja, jangan terburu-buru. " Ucap Isis dengan suara halus.


" Ayo, Grace!! kita harus kembali ke istana, dan menemui Rafaelo. " Ucap Isis.


Grace dengan helaan nafasnya dia mengangguk seraya menjawab.

__ADS_1


" Baiklah. " Jawab Grace.


|Haaaah, kenapa semua masalah Grand Duke kita yang menanggungnya? Aku merasa bingung. Tidak ada waktu luang untukku, dan gaji dari putra mahkota tetap seperti itu, tidak ada tambahan gaji. Apa aku harus meminta gaji tambahan kepada Grand Duke? Ahh, tidak, tidak. Yang ada leherku yang hilang. | Pikir Grace yang sengsara karena dia ikut terlibat dalam masalah Johannes.


...----------------...


Istana kerajaan.



Ruang singgahsana, yang di gunakan oleh Raja.



Saat itu terlihat Tristan duduk di singgahsananya dengan beberapa menteri kerajaan.


" Yang mulia, kenapa anda menahan pangeran kerajaan Quarter? " Salah satu menteri dengan pakaian birunya berbicara.


Tristan dengan wajah acuh mengabaikan pertanyaan itu. Akan tetapi bangsawan tersebut tidak menyerah, mereka bertanya lagi.


" Jika anda menahan pangeran Quarter begitu saja, mungkin akan terjadi perselisihan. Pihak Quarter mungkin akan menganggap ini sebagai bendera peperangan. " Menteri itu berbicara dengan wajah serius.


Tristan mendecakkan lidahnya, dan menjawab bangsawan tersebut.


" Tapi sepertinya, aku juga harus menjawab pertanyaanmu itu.....


" Agar semua menteri di sini tidak salah paham....


" Aku menahan pangeran Quarter karena titah Ratu kerajaan Quarter sendiri. Mereka meminta agar aku menahan Pangeran Rafaelo untuk tetap di kerajaan Lapastatoe. Jadi kau jangan menyimpulkan bahwa aku dengan sendirinya menahan pangeran Rafaelo. " Jawab Tristan dengan suara yang malas.


Saat mereka sedang berdiskusi, tiba-tiba perajurit istana yang menjaga pintu masuk, mengumumkan kedatang seseorang.


" ....Pangeran Quarter, Rafaelo memasuki ruangan. " Teriak penjaga pintu.


Semua menteri menatap ke arah pintu masuk yang terbuka lebar, di sana juga terlihat dua orang pria dengan pakaian khasnya berjalan menuju Tristan.


" Salam matahari kerajaan Lapastatoe. " Itu adalah Rafaelo.


Para menteri bertanya-tanya, ada apa pangeran kerajaan lain sampai datang ke ruang khusus raja.


" Ada apa pangeran Rafaelo? " Tanya Tristan dengan wajah dingin.


Rafaelo menyeringai dan dia menjawab bertanyaan Tristan.

__ADS_1


" .....Anda tidak perlu menahan saya lagi, karena saya sudah mundur dari hal itu. " Ucap Rafaelo, dia mengatakan bahwa dia mundur dan tidak akan melakukan apapun lagi.


Rafaelo melirik Baekhan dan tersenyum.


Saat itu, Tristan tidak percaya, dia pun berkata.


" Aku tidak bisa menjamin itu. " Ucapnya ragu.


" Saya tahu, anda tidak akan percaya dengan perkataan saya. Tapi, saya punya satu cara agar anda percaya kepada saya. " Ucap Rafaelo yakin.


Tristan tertarik, lalu dia berbicara.


" Apa itu? " Tanya Tristan.


" Baekhan, tolong berikan Dokumen itu. " Perintah Rafaelo kepada Baekhan.


Baekhan kemudian maju dan memberikan Dokumen tersebut kepada Tristan.


" Tolong terimalah ini sebagai bukti, bahwa kita tidak akan melakukan hal yang merugikan bagi kerajaan Lapastatoe. " Ucap Baekhan seraya memberikan dokumen tersebut.


Tristan kemudian mengangguk dan menerima dokumen tersebut.


Dia mulai membuka dokumen tersebut, saat dia melihat dan membaca isi dokumen tersebut, dia mengerutkan keningnya.


".....Apa ini kompensasi? " Tanya Tristan.


" Ya, dan itu adalah perjanjian. Di situ tertulis bahwa saya akan memberikan sebagian pulau yang ada di kerajaan Quarter untuk kerajaan Lapastatoe. Dan saya berjanji bahwa saya tidak akan menyentuh kerajaan Lapastatoe, jika saya menyentuh, maka kerajaan Quarter yang akan menjadi taruhannya. Itu juga berlaku terbalik bagi kerajaan Lapastatoe " Rafaelo menjelaskan isi dari Dokumen tersebut.


Para menteri yang ada di sana mulai ricuh atas perkataan Rafaelo, mereka bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi, sehingga Pangeran Quarter memberikan perjanjian seperti itu.


" Yang mulia, apa yang terjadi? kenapa pangeran Quarter memberikan dokumen itu? " Tanya menteri.


" Ada sesuatu yang terjadi, tapi sepertinya masalah itu sudah di selesaikan. Aku menyetujui perjanjian ini. " Tristan berbicara.


Dengan setujunya Tristan, maka berjanjian itu sudah berlaku. Sebenarnya, kerajaan Lapastatoe tidak mendapat kerugian, dan malah mendapat keuntungan.


Karena pulau yang di berikan oleh Rafaelo, bukan pulau biasa.


...----------------...


BERSAMBUNG........


Seperti biasa Author akan mempercepat Ending novel ini, bisa jadi Novel ini tamatnya sama kaya novel pertama Author, yaitu sampai Ep 89, atau mungkin kurang.

__ADS_1


__ADS_2