
Dengan mata tajam dan serius, aku membaca secarik kertas tersebut, aku pikir tidak ada hal penting yang tertulis di kertas tersebut.
Tapi nyatanya.....
' John, Ibu dan Ayahmu ini bukan orang tua yang baik untukmu. Kami tahu, tidak ada kasih sayang yang pernah kami lakukan untukmu. Tapi percayalah, kami bukannya tidak menyayangimu....
" Percaya? jika kalian menyayangi ku, kenapa kalian tidak pernah muncul? " Aku bergumam ketika membaca tulisan tersebut.
Lalu aku melanjutkan membaca. Namun di bagian ini, aku sangat terkejut, kenyataan yang sedang aku selidiki, akhirnya terbongkar di sini.
' Hanya saja, kami terlalu takut. Takut jika kita terlalu menyayangimu, para bangsawan yang mengincar posisi ayahmu, menjadikan dirimu sebagai target mereka. Tidak hanya itu, kami tidak bisa fokus hanya kepadamu, karena satu alasan....
' Sebenarnya kau mempunyai adik, dia berbeda satu tahun denganmu. Namun, kami kehilangan dirinya saat usianya 2 tahun. Seorang pelayan tidak di kenal membawa adikmu, selama bertahun-tahun kami mencarinya. Sampai kami lupa bahwa kami masih memiliki seorang putra di rumah. Kami hanya fokus mencari adikmu, dan kami mengabaikanmu begitu saja. '
' Dengan surat ini, kami akan terus mencari adikmu. Kami akan kembali setelah adikmu di temukan. Kuharap kau mengerti setelah membaca surat ini. '
Catatan itu hanya sampai situ saja, aku tidak percaya jika orang tuaku benar-benar seperti ini. Mereka mencari anaknya yang lain sedangkan anaknya yang di rumah mereka abaikan begitu saja.
Bahkan mereka mencarinya sampai mati. Mereka bahkan tidak mengatakan apapun, sebenarnya apa yang mereka pikirkan.
Meskipun ada alasan, kenapa mereka tidak mengatakan apapun.
Kau bilang menyesal dan larut dalam kesedihan, mana mungkin!!
" Aku bukannya sedih melainkan marah. Sampai mati, kalian mencari anak itu, dan bahkan anak itu sekarang malah membenci kalian. Di sini siapa yang seharunya di salahkan?!! " Aku bertanya penuh ketidak puasan.
Dengan emosi yang berlarut-larut aku meremas kertas tersebut hingga robek dan tidak berbentuk.
" Kalian membuat kami salah paham dan saling menuduh. Dia menuduh, bahwa aku hidup dengan nyaman dan enak. Omong kosong!!! " Aku meludah kesal.
" Grand Duke?!! " Saat aku dalam keadaan emosi, tiba-tiba pelayan laki-laki datang.
" Kenapa kau masuk begitu saja, apa kau mau mati?!! " Aku menatap dengan mata berkobar.
" Maaf, tapi, saya sudah beberapa kali mengetuk dan memanggil anda. " Pelayan itu berbicara dengan postur badan yang tidak seimbang.
Mungkin saat dia memanggilku, aku sedang tidak fokus karena mengetahui sesuatu yang mengejutkan.
" ....Baiklah, jadi? apa yang mau kau katakan? " Tanyaku tidak sabar.
|Jika bukan hal penting, aku pasti akan mematahkan kakinya. | Pikirku kesal.
" Rakian, dia melarikan diri Yang mulia. " Ketika pelayan itu berbicara, aku semakin emosi, kenapa mereka tidak bisa di andalkan.
__ADS_1
" Kenapa dia bisa melarikan diri?!! apa kau bodoh!! " Aku berteriak dan berdiri dari dudukku dengan cepat.
Jika aku tidak bisa mengontrol emosiku, mungkin leher pelayan yang melaporkan hal itu akan hilang.
Tapi aku berusaha untuk tidak membunuh, emosi ini aku pendam untuk melawan penculik istriku.
Dengan hembusan nafas kasar, aku berbicara.
" .....Cari, dia adalah adikku. Perlakukan dia dengan baik saat menemukan dia. Satu lagi, siapkan kuda untukku. Aku harus mencari istriku bersama dengan kesatria. " Ucapku yang memerintah.
...----------------...
Sementara itu Rakian.
Dia sedang menunggang kuda melewati hutan-hutan.
" Aku melihat Elenoa di bawa, secara paksa. Pelayan itu adalah Ruby. Ini pasti rencana Veronica. " Rakian yang melarikan diri, dia ternyata sedang mengejar kereta yang membawa Elenoa.
| Aku tidak sengaja melihat Elenoa dari atas jendela, aku pikir dia hanya berjalan-jalan bersama dengan pelayannya. Tapi saat aku terus memperhatikan mereka, tiba-tiba sesuatu terjadi begitu saja, seseorang terlihat memukul kepala Elenoa hingga dia terjatuh.|
| Segera aku mencoba keluar untuk menolong Elenoa, tapi penjaga tidak membiarkan aku keluar. Maka aku kabur lewat jendela dan mencuri kuda. Pada saat itu, gerbang pun terbuka lebar karena keributan yang terjadi dan aku berhasil lolos tanpa ketahuan.| Pikir Rakian yang masih menunggang kuda dengan kecepatan penuh.
...----------------...
Gudang tempat Veronica.
Beraninya kau mengikatku seperti ini Johan. Sebentar lagi, kau akan tahu seberapa kejam diriku saat kau tidak patuh kepadaku.
" Oy!! kenapa kau sangat terobsesi dengan John? " Isis di putra mahkota berbicara kepadaku.
Putra mahkota dengan rambut putih itu terlihat tidak terlalu menjijikan jika di bandingkan dengan rambut kuning terangnya.
Rambut kuningnya yang terang seperti cahaya ilahi sangat menggangguku. Wajahnya memang tampan, tapi sayang rambutnya bukan seleraku.
" Kau tidak usah tahu!! " Aku tidak sudi bicara dengannya.
" Yang mulia, jangan menganggu anjing yang sedang di ikat. Itu akan berbahaya. " Dan wanita ini, Grace. Atau Dame Grace, bisa-bisanya, dia menyebutku anjing.
" ...Kalian boleh mengejekku saat ini, tapi kita lihat sebentar lagi. Mungkin kalian tidak punya pilihan lain selain melepaskanku. " Aku berbicara dengan nada khasku.
__ADS_1
Sombong, dan licik. Kesombongan dan kelicikanku, memang sudah menjadi ajaran ayahku. Aku harus tetap sombong dan licik walau dalam keadaan apapun.
" Apa maksudmu? kau tahukan apa yang akan terjadi jika kau menyakiti istrinya? " Si rambut kuning Isis mulai bertanya lagi.
Dia cerewet.
" Aku tidak peduli, karena aku pun akan mati di eksekusi. Jadi, sebelum mati, aku harus bermain-main dan berusaha dulu bukan? " Ucapku enteng.
" Apa rencanamu? " Gracs si budak Isis bertanya lagi.
" Aku hanya menyuruh mereka untuk menculiknya dan membunuhnya. Tapi aku masih belum mati, jadi aku mengubah rencana. Aku akan melepaskan wanita itu, tapi dengan satu syarat, dengan cara barter. Aku lepas dan dia lepas. Seperti itulah. " Jawabku dengan penuh kebenaran.
" Jika aku mati di sini, maka wanita itu juga akan mati. " Sekali lagi aku menegaskan.
...----------------...
Di sisi lain, Johannes sudah bersiap untuk segera mencari Elenoa.
Bukan hanya Johannes, Jon pun ikut di kerahkan.
" Ggraauu!!! " Jon marah dengan Johannes, tapi meski dia marah, dia tetap mau ikut dengan Johannes.
" Berhenti menggonggong seperti anjing, kau itu kucing. " Ucap Johannes, yang naik ke atas kuda setelah memasang pelana.
" Ggggrrrttttttt.....raaauuuu!!! " Jon dengan suara nyaring menggeram, dan dia berlari duluan.
Para kesatria yang ikut dengan Johannes, separuhnya mengikuti Jon, ibarat kata, Jon petunjuk keberadaan Elenoa.
Karena dia sangat peka terhadap bau Elenoa.
| Tunggu sebentar lagi, aku pasti akan datang. | Batin Johannes.
Dengan penuh nafsu, Johannes mulai menunggangi kudanya, derap kaki kuda di penuhi semangat dan harapan.
Harapan untuk menemukan Elenoa dan membawanya pulang dengan selamat.
...----------------...
BERSAMBUNG.....
Yey, bentar lagi tamat.....
__ADS_1