
...----------------...
" Apa kau tahu? apa jadinya jika kau tidak berguna?!!!! " Tanya Veronica dengan nada tinggi penuh amarah.
Tatapan matanya sangat sengit, mungkin jika orang lain yang melihatnya, mereka akan mengira bahwa Veronica adalah iblis.
" Saya akan di hukum. " Jawab Rakian dengan lelah.
| Dia pasti akan mengurungku di Sel, dan mengikatku dengan rantai. J*lang gila ini, dia benar-benar maniak kekerasan. | Pikir Rakian jijik.
" Ya...
" Kau sudah tahu, bahwa kau akan di hukum....
" Tapi kenapa kau masih bodoh dan tidak berguna?!!!!!!
Veronica terus menghina Rakian, hingga Rakian rasanya ingin merobek mulut Veronica. Tapi Rakian tidak bisa melakukan itu, karena dia masih membutuhkan Veronica.
" Saya minta maaf, saya tidak akan mengulanginya lagi. " Ucap Rakian.
Veronika terus mendekat ke arah Rakian, dan dia terlihat mengulurkan kakinya.
" Jika kau ingin pengampunan, kau harus mencium kakiku...." Ucapnya dengan yakin.
Rakian yang mendengarnya, dia melebarkan matanya ke arah kaki Veronica. Amarah mulai menjalar, aura yang dingin keluar dari mata Rakian. Dia menatap Veronica dengan tatapan dingin.
" Apa? kenapa kau menatapku seperti itu!!! "
" Cepat lakukan, jika tidak aku akan membuangmu. " Ucap Veronica.
Rakian menahan amarahnya, dia masih membutuhkan Veronica untuk membalas dendam kepada Johannes.
Dengan tangan mengepal dan bibir terkatup, Rakian merosot ke bawah dan berlutut di tanah.
Dia terus menatap sepatu Veronica yang berwarna merah, itu sangat menjijikan jika di bayangkan.
| Aku tidak mau melakukan ini. | Pikir Rakian benci.
Kepala Rakian mulai turun ke bawah, dia perlahan turun ke arah sepatu Veronica.
Saat bibir Rakian sebentar lagi hampir mengenai sepatu Veronica, tiba-tiba—
" Lady, Pangeran Quarter ingin bertemu dengan anda. " Seorang penjaga dari luar melaporkan.
Veronica kemudian menanggapi.
" Aku akan ke sana, pergilah. " Veronica berbicara kepada penjaga.
" Baik, Lady. " Penjaga itu kemudian pergi.
Veronica terlihat kesal.
" Ada apa lagi dengan makhluk satu itu, dia tidak berguna sama sekali. Mengganggu saja. " Gerutu Veronica.
Rakiam tidak jadi mencium kaki Veronica karena Veronica pergi.
Tapi, Veronica berbalik dan mengatakan sesuatu.
" Hukumanmu belum selesai, saat pulang dari berburu, kau akan menanggung hukumannya. " Ancam Veronica.
Veronica pergi meninggalkan Rakian yang masih terduduk di atas tanah.
" J*lang menjijikan. " Gumam Rakian pelan.
...----------------...
Kembali ke Gua.
__ADS_1
Elenoa yang memberi pengakuan kepada Johannes, saat ini tengah di sidang oleh Johannes langsung.
" Beraninya kau berbohong kepada bangsawan yang bergelar Grand Duke..." Johannes dengan wajah dingin mendistorsi Elenoa.
" Ini kesalahan besar!!! kau tahu? " Johannes berbicara.
Elenoa yang berhadapan langsung, dia perlahan menciut dengan tatapan tajam dan menusuk yang di berikan oleh Johannes.
" Aku—
" Maksud saya, saya tidak sengaja membohongi anda....
Ucap Elenoa, dia terduduk dengan wajah yang menunduk karena takut dengan Johannes.
Berbeda dengan Johannes, dia malah menikmati itu dan menganggap itu lucu.
| Saat dia marah dia terlihat seperti singa kecil yang mengaum, saat dia berbuat salah dia terlihat seperti tupai. | Pikir Johannes.
" Jika kau tidak sengaja, kau seharusnya mengakuinya di awal-awal. " Ucap Johannes.
" Saya takut, anda akan mengurung saya di kediaman itu. Saya bosan di dalam ruangan. " Ucap Elenoa.
" Jika kau bosan kenapa kau tidak bicara denganku? " Tanya Johannes.
Johannes tidak sadar akan sikapnya dulu kepada Elenoa, bahkan dia tidak sadar dengan isi kontrak pernikahannya.
" Bagaimana mungkin saya berbicara dengan anda, anda bahkan tidak datang ke pernikahan saya. Di malam pertama pernikahan, anda juga tidak datang, anda hanya menitipkan saya kepada Eden layaknya barang....
" Dan itu pun saya di simpan di dalam kediaman yang kumuh....
" Tanpa pelayan...
Elenoa mengatakan semuanya, Johannes yang mendengarnya dia pun memegang pelipisnya, dan memberikan kerutan di dahi.
" Kenapa? apa anda pusing? " Tanya Elenoa.
" Tidak, hanya saja aku melupakan itu. Aku salah, tapi kau tenang saja, karena surat kontrak sudah aku ubah....
" Tinggal di beri Stempel kerajaan maka itu, sudah legal. "
Ucap Johannes dengan senyum di bibirnya, Elenoa yang mendengarnya dia bertanya.
" Kenapa anda tidak menunjukkan isi surat tersebut kepada saya? " Tanya Elenoa.
" Karena kau marah saat itu, kau marah karena aku bertanya apa kau berkencan dengan laki-laki lain? " Ucap Johannes.
Elenoa mengingat malam di mana Johannes tiba-tiba datang ke dalam kediamannya.
Tapi saat itu dia dalam keadaan sedang menyamar menjadi Teo, dan akhirnya mereka bertengkar karena Johannes mengira bahwa pakaian yang Elenoa kenakan adalah milik pria yang dia kencani.
" Jadi, anda bukan hanya ingin meminta saya untuk ikut berburu, tapi juga, untuk melihat surat itu? " Tanya Elenoa.
" Ya, tapi kau marah. " Ucap Johannes.
" Anda bisa saja menaruh surat itu di kediaman saya, tapi anda malah pergi. " Ucap Elenoa.
" Karena aku buru-buru, jadi aku menyerahkan surat itu langsung. " Ucap Johannes.
" Kenapa pembicaraan ini malah ke arah surat Kontrak, mari lanjutkan masalah yang tadi. " Ucap Johannes.
" Anda sangat senang membuat saya takut dan cemas. Baik dalam Teo ataupun Elenoa, selalu saja, seperti itu. " Gumam Elenoa pelan.
__ADS_1
" Apa yang kau katakan? " Tanya Johannes.
" Tidak, saya hanya ingin meminta maaf. " Ucap Elenoa.
Mendengar kata maaf, Johannes kemudian terpikirkan hal yang menyenangkan.
| Untuk kesalahannya, aku harus memberinya hukuman. | Pikir Johannes.
" Aku akan memaafkan mu, tapi kau harus menuruti ucapanku. " Johannes berbicara.
Elenoa yang mendengar itu, dia pun berbicara dengan nada sedikit tinggi.
" Kenapa harus ada kata menuruti? bisakah anda tidak memeperpanjang masalah ini? " Ucap Elenoa.
" Jika kamu tidak menyamar menjadi Teo, aku mungkin tidak akan berakhir seperti ini......" Ucap Johannes seraya memiringkan kepalanya.
" Lihat, tubuhku sekarang lemah.....aku bahkan kesulitan mengangkat kedua tanganku. " Johannes berbicara seraya menggoyangkan tangannya lemah.
" Tubuhku sakit semua, kepalaku juga rasanya berat...." Ucap Johannes dengan tatapan sendu.
Itu tatapan yang baru di keluarkan oleh Johannes, selama ini dia hanya bersikap dingin dan acuh.
Reaksi Elenoa justru berbanding terbalik, dia memasang ekspresi dingin dengan wajah datar.
| Dia bilang lemah? tidak bisa mengangkat kedua tangannya? kepala pusing? berat? Cih!! lalu siapa yang menarik tubuhku begitu kuat, dan mencium bibirku dengan agresif tadi malam? | Pikir Elenoa yang mengingat kejadian malam.
" Kenapa kau memasang ekspresi seperti itu? " Tanya Johannes.
" Tidak, hanya saja saya heran. Tapi, saya juga yakin ada yang salah dengan ingatan anda. " Ucap Elenoa.
" Ingatan? " Tanya Johannes pura-pura tidak tahu.
| Jika aku mengingat ingatan itu, jantungku pasti akan berdetak layaknya drum di istana kerajaan. | Pikir Johannes.
" Tidak usah di bicarakan, jadi apa keinginan anda? " Tanya Elenoa.
| Tidak apa jika aku harus mengikuti keinginannya. | Pikir Elenoa.
" Baiklah, ini mudah. " Ucap Johannes.
" Apa? " Tanya Elenoa.
" Kau harus tinggal di kediaman milikku, kediaman pribadiku—
" Apa?!!!! " Elenoa memotong.
| Kenapa dia tiba-tiba jadi begini? dia mintaku untuk tinggal di kediaman pribadinya. | Tanya Elenoa dalam batinnya.
" Aku belum selesai....
" Selanjutnya, kau harus makan siang,makan malam dengan ku, tidur pun haruas denganku, karena kita adalah suami istri. " Johannes mengatakan itu tanpa beban apapun.
Sedangkan Elenoa, dia terlihat tidak percaya. Seorang yang tidak menyukai perempuan bisa melakukan hal itu.
" Apa anda yakin dengan itu? " Tanya Elenoa.
" Ya, kenapa tidak? " Tanya Johannes.
" Anda tidak tahan dengan perempuan—
" Justru karena itu, aku memintamu untuk terus di sisiku. " Johannes memotong Elenoa.
| Alasan sebenarnya bukan itu, aku tidak mau istriku berada di kediaman kumuh yang dekat dengan kediaman ksatria. | Pikir Johannes.
...----------------...
__ADS_1