SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 2


__ADS_3

" Pagi tuan muda ..."


BRAKK !!!


Nico terjatuh di sofa kamarnya dengan celana panjang yang masih memasuki satu kakinya ,sementara kaki satunya masih menampakkan boxer warna hitam .


" Sayang ...apa tidak bisa ketuk pintu dulu sebelum masuk ." Dengan kesal ia mempercepat memasukkan satu lagi kakinya ke lubang celana sambil duduk di sofa .


Rena terbahak , lalu berjalan masuk dan mendekat , melemparkan map warna merah ke sampingnya .


" Apa ?" Tanyanya bingung .


" Dokumen dari PT Perwira Nusantara ."


Nico membetulkan posisi duduknya , meski belum memakai celana dengan benar , lalu membuka map di sampingnya .


Kerjasama dengan PT Perwira Nusantara akan menjadi sangat krusial bagi kemajuan perusahaannya .


Ia tersenyum senang .


Selangkah lagi dan mimpinya akan tercapai , perusahaan nya akan semakin berada di puncak .


" Memang PT Perwira Nusantara siapa pemiliknya ...?" Tanya Rena , lalu duduk menyanding .


Nico hanya menatapnya heran .


" Apa aku pernah bertemu ?"


Kali ini Nico menggeleng ." Namanya Arya Perwira ..."


Rena diam sebentar , mengingat sesuatu ." Aku sering mendengar namanya , tapi tak pernah tahu seperti apa wajahnya ..."


Nico berdiri , menarik celananya ke atas .


" Sudah tua ?" Tanya Rena lagi .


" No ...belum juga 30 tahun , paling 25 tahunan ."


" Wow..." Rena nampak antusias ." Seusia kamu ?"


" Maybe ..."


Rena berdiri , menata dasi yang melingkar di leher nya ." Perfect ."


" Kamu mau menemuinya sekarang ...?"


Nico menggeleng ." Arya itu jarang mau bertemu tanpa janji terlebih dulu ..."


" Hmmm ...sepetinya cukup sulit ." Ucap Rena pelan ." Apa perlu aku turun tangan .." Tawarnya .


Nico memicingkan matanya ." Maksudnya ?"

__ADS_1


" Siapa tahu kalau aku yang maju , yang namanya Arya itu lebih mudah untuk di taklukkan ." Rena mengedipkan sebelah mata .


" Jangan macam-macam , dia sudah beristri ."


" Oh ya ..."


Nico mengangguk .


" Its oke ...nanti aku pikirkan cara lain , yang penting perusahaan akan tetap menjalin kerja sama dengan PT Perwira ..." Rena mendekat dan menggandeng tangannya keluar ." Sekarang kita sarapan ,aku sudah lapar ."


*****


Di tempat lain .


Aska sedang bersiap di kamarnya , setelah menyemprotkan parfume ke tubuh , ia merapikan lagi kemeja dan jas nya , melihat sekali lagi di depan kaca .


Selesai .


Ia membalikkan badan dan berjalan keluar .


" Pagi Pak ." Sumi menyapanya sembari menyiapkan dua piring di meja makan .


" Pagi ."


Aska mengambil gelas berisi air putih dan meminumnya hingga tersisa setengahnya .


" Pak Aji mana ?" Tanya nya , sambil mengambil selembar roti ...lalu mengoleskan selai coklat di atasnya .


" Masih di dalam ."


" Itu mereka ." Lanjut Sumi .


" Kamu pagi-pagi sudah mau ke kantor ?" Tanya Aji , laki-laki tua yang sedang duduk dikursi roda ...bicaranya sedikit cadel , karena sebagian tubuhnya mengalami stroke .


Aska mengangguk ." Ada meeting penting pagi ini ."


Suster Ayu membantu menyiapkan sarapan bubur untuknya .


" Semoga semua lancar ." Ucapnya terbata .


Aska hanya menanggapinya dengan senyuman , sambil mengunyah roti di mulutnya .


*****


" Siang ini aku mau bertemu dengan Jessi ..." Ucap Rena .


" Mau apa ?" Tanya Nico , lalu menghabiskan kopi di cangkirnya .


" Biasalah dia butuh teman curhat ..."


" Hey ...sayang , disini tugas kamu merawat aku , bukannya Jessi ."

__ADS_1


Nico menatapnya manja .


" Oh ya ...tapi siang ada waktu istirahat bukan ..." Rena mendekatkan wajahnya ,dengan jarak yang sangat dekat , membuat Nico sedikit salah tingkah .


" Terserahlah ..." Ucap Nico akhirnya .


" Jealous ?"


Nico melotot , lalu berdiri dan berjalan keluar .


" Hey tunggu , map kamu tertinggal ."


Rena berlari mengejarnya .


Sebelum masuk mobil , diambilnya map di tangan Rena , lalu pergi begitu saja tanpa bicara .


Setelah Nico berangkat , ia kembali masuk ke rumah , membereskan meja makan .


Sementara di dapur Bik Tatik mungkin sedang memasak atau sekedar membersihkan dapur , entahlah .


Setelah merapikan meja makan , ia bergegas masuk ke kamar Nico yang juga pasti sangat berantakan . Seperti inilah kebiasaan nya sehari-hari yang tak pernah berubah , setelah setahunan ia berada disini .


Merapikan sprei , melipat selimut , selesai .


Ia duduk di pinggiran ranjang , menatap sekeliling kamar .


Kegiatannya setiap pagi yang selalu dilakukan setelah Nico berangkat ke kantor .


" Rena ..." Terdengar teriakan memanggil namanya .


" Iya Bik ."


Ia berlari keluar dan menemui Bik Tatik yang sedang sarapan .


" Cobain browniesnya ."


Rena mengambil piring kecil dan garpu , lalu mengambil sepotong brownies di piring saji .


" Enak ...resep baru ya ?" Tanyanya , setelah mencoba sesuap .


Bik Tatik mengangguk ." Bibik buat banyak , sama mau dikirim ke kampung ..." Ucapnya lagi .


" Buat anak-anak , sebagai obat kangen , sudah lama kan nggak pulang kampung ."


Rena mengangguk .


Bik Tatik menatapnya serius . " Memangnya kamu tidak kangen sama keluarga ?"


Rena hanya menatap dengan pandangan kosong , sambil memainkan garpu di piring .


" Mau kangen bagaimana , aku bahkan tidak tahu punya keluarga atau tidak ." Ucapnya sendu .

__ADS_1


Bik Tatik meraih tangannya . " Sabar ya , suatu saat pasti kamu bertemu dengan keluarga yang sebenarnya ."


Rena tersenyum hambar , lalu menyuapkan brownies ke mulutnya .


__ADS_2