
Setelah makan siang , Aska menemui tamunya di lobi bawah . Sementara Rena menyelesaikan pekerjaan di ruangannya .
Sampai menjelang pukul 15.00 Aska pun tak kunjung kembali .
Rena meregangkan tangannya , sedari tadi di depan laptop ternyata cukup melelahkan .
Ia mengambil ponsel dan membaca beberapa pesan yang masuk .
Sampai dering panggilan berbunyi .
Dian .
" Iya ." Jawabnya langsung .
" Bu ,maaf ada Fika mau bertemu ." Jawab Dian .
Fika .
Mungkin ia ingin meminta maaf sekaligus berpamitan . Berarti Aska tidak akan lagi merubah keputusannya yang sudah final .
Walaupun mereka tidak terlalu mengenal ,tapi kasihan juga melihatnya sampai harus kehilangan pekerjaan yang dengan susah payah didapatkan . Siapapun tahu tak sembarang orang bisa masuk perusahaan ini ,kecuali dirinya sendiri yang bisa masuk lewat jalur dalam tentu saja .
Apalagi setelah itu ,pasti kesulitan yang didapatkan untuk mendapatkan pekerjaan di perusahaan lain ,tapi mau bagaimana lagi . Ia sudah coba membujuk Aska , nampaknya tidak berhasil juga .
" Iya suruh masuk saja ."
" Baik Bu ."
Tak lama terdengar ketukan di pintu .
" Iya masuk ."
Pintu terbuka . Fika berdiri disana , dengan tatapan yang sayu , tidak seperti saat mereka bertemu di kantin waktu itu .
" Duduk ."
Rena mempersilahkan duduk di sofa .
Fika mengangguk , lalu berjalan ke sofa dan duduk di depan Rena .
Ia sedikit menundukkan wajah ,mungkin bingung harus mulai obrolan .Setelah menarik nafas panjang , ia memberanikan diri menatap Rena .
" Ibu nggak papa kan soal yang kemarin ?" Tanyanya memastikan , ia memang masih melihat ada perban kecil menempel di kening Rena .
" Nggak papa ." Jawab Rena pendek .
" Saya ...saya minta maaf karena sudah berusaha mencelakai Ibu kemarin ." Ucapnya terbata .
" Iya , sudah lupakan ...asal jangan diulangi lagi ke siapapun ."
Fika mengangguk .
__ADS_1
" Saya juga minta maaf karena sudah lancang mengatakan sesuatu yang buruk soal Ibu ." Lanjutnya .
Rena hanya diam .
" Terima kasih karena Ibu sudah membantu saya sehingga tidak sampai kehilangan pekerjaan disini ."
Rena menatapnya kaget .
" Maksud kamu ?"
" Pak Iwan sudah bicara sama saya tadi ,kalau Ibu meminta untuk merubah keputusan soal saya . Memang saya mendapatkan SP1 , tapi setidaknya saya sangat bersyukur masih diijinkan bekerja disini ."
Rena menarik nafas lega , syukurlah .
" Setelah ini tolong gunakan kesempatan yang diberikan dengan baik ,kamu disini lebih senior dari saya , jadi pasti lebih paham soal itu ."
" Iya Bu , terima kasih banyak ."
Rena cuma tersenyum .
Fika lantas berdiri . " Kalau begitu saya permisi dulu ."
Rena ikut berdiri ." Iya ,silahkan ."
Setelah Fika keluar , tak berselang lama Aska muncul .
" Ada siapa ?" Tanya Aska melihat pintu ruangannya tadi sedikit terbuka .
" Mau ngapain ?" Tanyanya lagi dengan wajah menyelidik .
" Nggak usah curiga gitu muka nya ." Goda Rena ." Dia cuma minta maaf kok ."
" Ya udah ." Aska berjalan masuk dan duduk di kursinya .
Rena mendekat dan menyandarkan tubuhnya di meja . Mereka berhadapan .
" Kenapa ?" Tanya Aska .
" Terima kasih ya ." Ucap Rena sambil tersenyum .
" Untuk apa ?"
" Karena kamu nggak jadi pecat Fika ." Serunya antusias .
" Biasa aja ,nggak usah lebay ." Jawabnya datar .
Rena meringis kesal . Laki-laki di depannya ini sungguh seperti es . Mulutnya susah sekali untuk sekedar tersenyum .
Rena berdiri dan beralih duduk di pangkuan Aska .
" Heii , ngapain disini ?!" Sentaknya .
__ADS_1
" Memang kenapa ?" Tanya Rena balik .
" Nanti kalau ada yang masuk gimana ?"
" Nggak mungkin ada yang berani nyelonong masuk ruangan bos ." Jawab Rena santai .
" Udah sana ,berat kamu ." Usir Aska .
Rena manyun .Bukannya berdiri ia malah sibuk melepaskan dasi Aska dan dengan cepat membuka kancing-kancing bajunya .
" Heiii ...jangan berbuat mesum ini kantor !" Sentak Aska , lantas ia menghentikan Rena yang hampir saja melepas semua kancing bajunya .
Rena terbahak melihat tingkah Aska .
Setelah itu ia hanya meringkuk di sana , melingkarkan tangan di pinggang Aska dan menempelkan wajah nya di dada bidang Aska yang terbuka tanpa tertutup pakaian .
Aska menarik nafas panjang .Lega karena perkiraannya tak terbukti .
" Yang pikirannya mesum siapa ?" Tanya Rena ,masih tak merubah posisinya .
" Kamu ."
Rena mengangkat kepalanya ,posisi mereka sangat dekat sekarang .
" Oh ya ."
" Kembali ke meja kamu ,jangan kurang ajar sama bos ."
" Nggak mau ."
" Saya bisa pecat kamu ,menggantikan Fika ." Ancam Aska .
" Nggak takut ."
Aska melotot .
Rena langsung membungkam mulutnya dengan sebuah ciuman disana yang membuat seorang Aska Permana kembali tak berkutik .Dengan mudahnya ia tergoda wanita mesum ini .
Mereka semakin terbawa suasana , setelah puas menikmati bibir mungil itu ,Aska beralih menikmati leher jenjang yang terpampang nyata di depan matanya .
Sementara tangan Rena malah sibuk bermain-main dengan bulu dada Aska .
Selesai membuat hiasan di leher , Aska kembali menangkup bibir itu dan memasukinya semakin dalam .
Rena sedikit terengah-engah dan melepas ciumannya , tapi dengan cepat Aska meraihnya lagi dan langsung bermain di dalamnya .Dengan durasi yang lama sampai membuat bibir mereka kebas .
Disaat seperti ini ,serasa dunia hanya milik mereka . Sampai tak menyadari kalau pintu ruangan terbuka lebar dan ...
" OH MY GOD , KAKAAAAAAKKKK !!!" Wanita muda yang baru saja masuk spontan berteriak sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan .
Karena kaget Rena langsung loncat dari pangkuan Aska sampai membuatnya hampir terjerembab di lantai , sementara Aska dengan cekatan mengancingkan kemejanya .
__ADS_1
Ia berdiri dan sangat terkejut melihat siapa yang berdiri di depannya .