SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 48


__ADS_3

Fika keluar dari ruang meeting dan langsung kembali ke mejanya . Sementara pikirannya masih berkelana entah kemana .


Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya langsung dari mulut Aska .


Rena itu ternyata istrinya .


Setelah ini apa sanggup ia sanggup bertemu Rena .Apa yang harus dikatakannya .


" Fika ,kamu dipanggil Pak Iwan ."


Dewi muncul di depan .


" Iya sebentar ."


Dan sekarang ,kariernya disini benar-benar berakhir .


Sementara di tempat lain ...


Aska kembali ke ruangannya setelah berbicara dengan Fika .


Saat masuk ,dilihatnya Rena sudah duduk di sofa .


Ia bergegas menghampiri .


" Kenapa bangun ?"


Rena menatapnya ." Udah nggak papa ." Jawabnya pelan .


" Kita pulang sekarang ."


Rena nampak terkejut ." Tapi bukannya kamu ada tamu ."


" Udah cancel ."


Aska beralih ke mejanya , merapikan lalu mengambil tas .


Setelah itu beralih ke meja Rena dan mengambil tas nya yang tergeletak di atas meja .


" Masih pusing ?" Tanya Aska , sambil membantu Rena berdiri .


" Sedikit ."


" Ya udah ayok ."


Kali ini Aska membawa tas nya dan juga Rena di tangan kiri , sementara tangan kanan menuntun Rena keluar .


Sampai di depan , Dian berdiri di samping mejanya .


" Mbak Rena udah enakan ?" Tanya Dian .


Rena mengangguk .


" Oh ya Dian , nanti kamu hubungi sekretaris Pak Alex , meeting hari ini jadi cuma perubahan jam nya aja ,nanti saya hubungi langsung Pak Alex nya ."


" Baik Pak ."


" Oke saya pulang dulu ,laporan tadi kamu kirim ke email aja ."


Setelah berpamitan mereka langsung menuju lift .


Dari belakang Dian melihat , kali ini Aska bersikap lebih mesra dari biasanya ke Rena .

__ADS_1


Tangan satunya membawakan tas , sementara tangan lainnya melingkar di pinggang Rena .


Sepertinya memang ada yang spesial di antara mereka .


Tak lama ia beralih ke ponselnya yang berdering .


Fika .


" Ada apa ?"


" Iya kesini aja , Pak Aska sudah pulang ."


" Iya ."


Dari nada suaranya terdengar kalau sedang ada masalah .


Ia semakin penasaran , sebenarnya apa yang membuat Aska memanggil Fika tadi , sepertinya masalah yang serius .


Tak sampai 10 menit ,Fika sudah muncul disana . Wajahnya nampak murung .


" Ada apa ?" Tanya Dian cemas .


Fika menarik kursi dan duduk di sebelah Dian .


" Kamu ada masalah sama Pak Aska ?"


Fika mengangguk ,lalu ia mulai menceritakan kejadian di kantin tadi , saat ia berusaha mencelakai Rena .


" Apa ?" Dian nampak terkejut sambil membungkam mulutnya ." Kenapa kamu bisa lakukan hal itu ?"


" Aku cuma kesal aja ." Jawab Fika datar .


" Terus ,tadi kamu dimarahi Pak Aska ?"


Dian mendelik ." Kamu sampai dipecat karena masalah ini ?" Tanyanya ulang .


Fika mengangguk .


" Ya untunglah kondisinya nggak sampai parah ,lagian kamu kenapa bisa nekat gitu ,bahaya loh itu ."


" Iya aku menyesal ." Fika menundukkan kepalanya ." Kalau yang aku kerjain karyawan biasa mungkin Pak Aska nggak mungkin sampai bertindak begini ."


" Maksud kamu ?" Tanya Dian bingung .


" Kamu juga pasti nggak akan percaya yang aku dengar ini ."


" Apa ?"


" Rena itu ternyata istrinya Pak Aska ."


" Haaaaah ?!"


" Iya ,Pak Aska sendiri yang bilang ."


" Ya ampun ." Ucap Dian masih tak mempercayai apa yang baru saja di dengarnya .


*****


Mereka sampai setengah perjalanan .Ketika Aska berhenti disebuah restorant .


" Tunggu disini ,aku beli makanan dulu ."

__ADS_1


Rena menatapnya ." Aku aja yang turun ."


Aska mengacuhkannya dan langsung keluar dari mobil .


Rena menatapnya kesal .


Tak berapa lama ,Aska kembali membawa kantong besar ditangannya .


Begitu masuk mobil ,Rena mencium aroma sop ayam kesukaannya dari dalam kantong yang dibawa Aska , membuatnya langsung sumringah .


" Mampir apotik dulu ,nebus resep tadi ."


Rena mengangguk .


Sesampainya di apartemen , Rena masuk kamar duluan dan ganti baju . Begitu selesai tak dilihatnya Aska disana ,ia pun keluar .


Ternyata Aska sudah di meja makan dan sudah menata sop ayam yang tadi dibelinya ke dalam mangkok .


" Pinter juga kamu nyiapin makanan ." Puji Rena .


" Emang dari dulu aku pinter ." Jawab Aska , lalu berjalan masuk ke kamar .


Pede amat , gumam Rena .


Setelah Aska keluar dari kamar . Mereka makan siang bersama ,yang sempat tertunda setelah insiden tadi .


" Nanti sorean aku keluar bentar meeting sama Pak Alex ." Ucap Aska ditengah-tengah makan .


" Iya ."


" Nggak papa kan sendirian ?"


" Nggak papa ."


" Habis makan diminum obatnya terus tidur ."


Rena menatapnya ." Masak jam segini disuruh tidur ."


" Nggak usah ngebantah ." Sentak Aska .


Rena manyun ,lalu melanjutkan makannya .


Dan benar saja setelah selesai makan dan minum obat , Aska memaksanya untuk tidur .


Rena kembali duduk .


" Aku nggak ngantuk ,udah ah mau di depan aja ."


Aska memegangi tangannya saat ia mau turun dari tempat tidur .


" Nggak mau ." Tolak Rena lagi .


Aska menarik tubuhnya dan merebahkannya di kasur ,lalu mengerubuti tubuhnya dengan selimut .


" Ponsel aku mana ?" Tanya Rena dari balik selimut .


" Nggak usah main ponsel ,nanti pusing ."


Rena cemberut . Apa yang harus dilakukannya sekarang .Ini masih siang tapi harus dipaksa tidur juga .


Aska masih duduk disampingnya dan pasti nggak akan membiarkannya turun dari tempat tidur .

__ADS_1


Rena merubah posisi tidurnya menghadap jendela .


Masih sedikit kesal , ia mencoba untuk memejamkan mata .Perlahan dirasakan tangan Aska mengusap keningnya .


__ADS_2