
Paginya ...
Ada sedikit kecanggungan dalam sikap mereka setelah apa yang terjadi . Aska lebih banyak diam dan setelah bersiap ia hanya meminta Rena merapikan kopernya karena setelah bertemu dengan Mr Ashraf mereka akan langsung pulang tidak kembali lagi ke villa ini .
Rena tengah mengemasi koper miliknya , sambil masih memikirkan apa yang terjadi kemarin di sini .Villa ini akan selalu menjadi kenangan termanis dalam kehidupannya . Di tempat ini mereka bisa menyatu meski mungkin masih ada penghalang besar dalam hubungan mereka .
Setidaknya ia bahagia hari ini ...itu sudah cukup baginya .
Selesai .
Aska memanggil Pak Hasan dan meminta tolong membawakan koper mereka ke mobil .
Sementara di meja makan , Bu Aminah sudah menyiapkan sarapan .
" Mas Aska langsung pulang ini nanti ?" Tanya nya sambil menuangkan susu dalam gelas lalu menyajikan untuk mereka berdua .
" Iya Bu ,saya masih banyak kerjaan juga nggak bisa lama disini ."
" Mbak Rena nya belum diajak jalan-jalan juga itu ." Komentar Bu Aminah lagi ,sambil menatap Rena sebentar .
" Mungkin lain kali kalau pas ada kerjaan disini ." Jawab Aska santai , sambil menikmati sandwich yang dibuatkan Bu Aminah .
Rena hanya mengangguk mengiyakan jawaban Aska .
Setelah berpamitan ,Pak Hasan mengantarkan mereka ke satu hotel tempat Mr Ashraf menginap sekaligus menjadi tempat pertemuan mereka .
Perjalanan lebih dari satu jam , akhirnya mereka menemui Mr Ashraf yang ditemani istrinya saat bertemu . Istrinya sosok wanita yang cantik dan santun . Berpakaian cukup sederhana mengenakan pakaian muslimah dengan warna cream senada dengan jilbab panjangnya .
Disaat suaminya sedang membicarakan bisnis bersama Aska .
Almira , istri Mr Ashraf mengajak Rena untuk berjalan-jalan di sekitar hotel .Almira wanita berusia sekitar 35 tahunan itu terlihat begitu anggun dengan pakaian dan pembawaannya dalam bersikap .
Wanita yang cukup ramah , sehingga mereka berdua terlihat langsung akrab meski baru bertemu .
Selama percakapan mereka , Almira menganggap kalau Rena dan Aska adalah sepasang suami istri ,karena ia juga tahu kemarin mereka menginap di villa untuk menunggu pertemuan ini , Aska tadi yang mengatakan saat pertama bertemu mereka .
Pertemuan berlangsung lebih lama , karena Almira memaksa mereka untuk makan siang bersama , setelah tahu mereka akan ikut penerbangan pukul 14.00 ,jadi masih banyak waktu tersisa .
Kesepakatan bisnis yang tadi dibicarakan berdua pun ,sepertinya ada kabar baik melihat ekspresi wajah keduanya yang terlihat senang , meski dari Aska sendiri akan nampak biasa saja ,toh ekspresi wajahnya akan tetap sama saat ia senang , sedih ataupun marah . Tak ada yang berbeda .
Selesai makan siang mereka berpamitan ,Pak Hasan mengantarkan ke bandara .
Sepanjang perjalanan mereka duduk bersebelahan ,tak banyak yang dibicarakan selain masalah pekerjaan .
Begitupun saat didalam pesawat .Aska memang lebih banyak diam .Entah apa yang sedang dipikirkannya .Apa ini karena apa yang terjadi semalam .
Tak ada percakapan , hanya diam seribu bahasa .
Sampai di apartemen , mereka langsung ke unit masing-masing .Setelah berganti baju , Rena keluar berniat ke minimarket . Tanpa sengaja berbarengan dengan Aska yang sudah berdiri di depan pintu .
" Mau kemana ?" Tanya Rena akhirnya .Melihat Aska sudah rapi , memakai kemeja coklat .
" Ke kantor ."
" Kantor ..apa aku harus ikut juga ?"
__ADS_1
Aska nampak berjalan sambil melipat sedikit lengan kemejanya .Rena menjajari langkahnya .
" Nggak usah cuma sebentar kok , ada berkas yang harus cepat ditanda tangani ."
Mereka masuk lift dan keluar bersama .
" Ya udah hati-hati ." Ucap Rena sebelum mereka berpisah di lobi .
Aska hanya menatapnya sebentar ,lalu berlalu .
Masuk minimarket , Rena bergegas mengambil keranjang yang ada di pojok ruangan .
" Hai sayang ." Suara itu terdengar jelas di telinganya .
Ia mengembalikan keranjang yang hampir dibawanya tadi dan berbalik .
Nico tersenyum manis di depannya .
" Kenapa kamu nggak bilang kalau dari Bali ?" Tanyanya kemudian .
Rena menarik nafas panjang .
" Itu mendadak ,jadi aku nggak sempat untuk bilang ."
Nico mendekat dan langsung melingkarkan tangan di bahunya , yang langsung ditepis Rena .
" Jangan gini ,banyak orang juga ." Elaknya .
" Kenapa sih marah-marah terus ." Nico menjepit hidungnya dengan jari tangan .
" Ikut yuk ." Nico menarik tangannya keluar minimarket .
" Kemana ?"
Pertanyaannya hanya angin lalu semata .
Nico membawanya masuk mobil dan ia pun memilih diam tak bertanya lagi .
Mereka sampai di salah satu cafe yang biasa mereka datangi .Nico yang memesankan makanan dan minuman .
Rena meminum hot capuccino yang baru saja diantar waiters ,sambil berusaha menenangkan hatinya ,ia seperti tahu apa yang akan dibicarakan Nico setelah ini .
" Kalian cuma berdua ke Bali ?" Tanya Nico memulai percakapan .
" Ya ." Jawabnya pendek .
" Terus ..?"
" Terus apa ?" Tanya Rena balik .
" Hubungan kalian bagaimana ?"
Rena menggeleng ." Masih sama nggak ada perubahan ."
Nico mendesis kesal ." Menaklukkan Aska saja apa sangat sulit ." Ucapnya sedikit tegas , wajahnya nampak sangat emosi .
__ADS_1
" Kamu pasti lebih tahu sikap Aska kan ?"
Mendengar itu membuat Nico serasa tertampar . Meski sangat membenci adiknya itu ,ia tahu persis sikapnya yang dingin sangat sulit membuat orang lain bisa masuk dalam hidupnya ,tapi ia yakin kalau Rena pasti akan mudah bisa melakukannya , mengingat siapa dia yang sebenarnya .
Apa mungkin sekarang Aska sudah melupakan cintanya pada sosok yang pernah dinikahinya dulu ,pikiran itu mulai berkecamuk di benaknya .
Ia tak mau menunggu lama yang nantinya akan menjadi sia-sia , mungkin cara ini salah , ia harus memikirkan cara lain untuk bisa memporak porandakan hidup seorang Aska .
Ditatapnya Rena lekat-lekat ." Aku mau kamu secepatnya bertindak ..."
Rena mengernyitkan alisnya ." Maksudnya apa ?"
" Kamu harus secepatnya membuat Aska jatuh cinta , kalau tidak .."
" Apa ?" Potong Rena .
" Sepertinya bukan cara ini yang tepat , harus mencari cara lain ."
Rena menatapnya kaget .Apa Nico memikirkan cara lain untuk menghancurkan Aska , hal itu membuatnya takut .
" Jangan ..."
Nico menatapnya heran .
" Aku pasti akan secepatnya membuat Aska jatuh cinta ."
" Kamu yakin ?"
Rena mengangguk .
Nico tersenyum lebar ." Bagus sayang ." Mengusap pipinya sebentar ,lalu berdiri sambil menatap jam di tangannya ." Aku ada meeting , kamu balik sendiri nggak papa kan ?"
Rena mengangguk ,lalu Nico pun berjalan keluar .
Saat sendirian sekarang ,ia memikirkan ulang pembicaraan mereka tadi ,sambil mengaduk-aduk kopinya yang tinggal separuh cangkir .Sekarang ia benar-benar terjebak ,kalau tidak bisa mendapatkan cinta Aska ,apa mungkin Nico akan berbuat sesuatu yang lebih jahat dari ini .
Memikirkan itu membuatnya takut , bagaimana kalau Nico sampai nekad mencelakai Aska . Apa yang harus dilakukannya sekarang .
" Rena ,kenapa ?"
Ia mendongak , Sarah berdiri di depannya .
" Kamu kenapa ...ada masalah ?" Tanyanya lagi dan ada kecemasan di wajahnya .
Rena menggeleng .
Sarah menatap ke meja , ada dua hidangan disana yang berarti Rena sedang tidak sendirian juga .Mungkin akan menganggu kalau ia berlama-lama disini ,tadinya ia memang mau pulang setelah bertemu dengan seorang temannya disini .
" Ya udah deh ,aku duluan yah ." Pamitnya , lalu berbalik .
Saat akan melangkahkan kaki , tiba-tiba ia menghentikannya , mendengar panggilan dari Rena .
" Ada apa ?" Tanyanya setelah membalikkan badan .
Dilihatnya mata Rena memerah dan mulai berkaca-kaca .
__ADS_1
" Bisa kita bicara sebentar ." Ucap Rena parau .Untuk saat ini ia butuh seseorang untuk berbagi cerita dan apa yang harus dilakukannya dalam masalahnya bersama Nico dan juga Aska . Rasanya cuma Sarah yang bisa membantunya saat ini .