SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 9


__ADS_3

" Hai sayaaang ..."


Nico masuk ke ruangan , mendapati Rena sedang bersantai di sofa panjang dengan ponsel di tangannya .


Melihatnya datang , Rena duduk tegap sembari menatapnya .


" Dari mana aja ,kok di telpon nggak di angkat ..." Cerocosnya .


" Maaf ,tadi bertemu klien penting , aku nggak enak dong kalau mau angkat telpon ."


" Memang Tisa nggak tahu soal ini ,kok aku tanya dia nggak tahu kamu pergi kemana ?"


Nico menggeleng ." Ini mendadak ,sebenarnya tadi aku keluar mau cari makan siang , eh ditengah jalan ditelpon minta ketemuan sekarang juga ." Ucapnya berbohong , setidaknya sampai saat ini Rena selalu percaya apa yang diucapkannya .


" Ya udah deh ..." Jawab Rena akhirnya , ada nada kecewa dalam suaranya .Ia lalu berdiri .


" Mau kemana ?" Tanya Nico heran .


" Pulang ...kata Tisa habis ini kamu ada meeting kan ...buat apa juga aku disini ."


Nico mengangguk ." Iya , jangan marah gitu dong ." Rayunya dengan tatapan mesra seperti biasa , yang selalu bisa meredamkan emosinya .


" Nggak ,siapa juga yang marah ...!"


" Nanti malam kita dinner diluar deh ..."


Rena menatapnya .


" Beneran ..." Ucap Nico lagi meyakinkan .


Rena mengangguk ." Ya udah aku pulang ."


" Bawa mobil sendiri kan ?"


" Iya ."


Setelah itu Rena beranjak keluar .


Ketika sendirian di dalam ruangannya , Nico menyandarkan tubuhnya di sofa .Ingatannya kembali kepada pertemuannya tadi dengan Sarah .

__ADS_1


Sarah ...


Mereka baru bertemu , ini yang kedua kalinya .


Tak tahu kenapa ada yang berbeda di hatinya .


Dia sosok yang sangat berbeda baginya .Pembawaannya yang selalu ceria menimbulkan rasa tersendiri di hatinya saat mereka bicara berdua .


Nico mengambil ponsel dan menghubungi Tisa , memintanya datang .


" Ada apa Pak ?" Tanya Tisa begitu sudah berdiri di depannya .


" Tolong pesankan buket bunga ..."


Tisa menatapnya heran ." Buat Mbak Rena ?" Tanyanya .


Nico menggeleng .


" Kirim ke Garden Cafe atas nama Sarah ..."


Tisa hanya menatapnya bingung .


" Baik Pak , saya permisi dulu ."


Tisa berjalan keluar , masih dengan pikiran lain di benaknya .


Yang ia tahu selama ini bos nya itu sangat dekat dengan Rena , tapi kini malah mengirimkan bunga untuk perempuan lain .


*****


" Permisi Pak ." Dian masuk ke ruangan nya yang memang tak tertutup .


Aska yang tengah menikmati secangkir kopi langsung menatapnya .


" Iya ,masuk ."


Dian menyerahkan setumpuk kertas di tangannya . " Ini laporan yang Bapak minta kemarin ."


" Sudah selesai semua ?"

__ADS_1


Dian mengangguk ." Silahkan Bapak periksa ulang ."


" Oke , makasih ya ."


" Setengah jam lagi Bapak ada meeting dengan Bu Ira ." Ucapnya mengingatkan .


Aska mengangguk , menghabiskan kopinya yang tinggal sedikit .


" Oh iya Pak ,saya sudah mencatat daftar undangan untuk acara ulang tahun kantor nanti ."


Aska menatapnya ." Bagus ..kamu cek lagi jangan sampai ada yang terlewat ."


" Apa saya harus mengirim undangan juga untuk Pak Nicolas ?" Tanyanya hati-hati .


Ia tahu betul bagaimana hubungan mereka karena sudah lama juga menjadi sekretaris Aska disini .


Aska mengangguk ." Tentu saja ."


" Baik , kalau begitu saya permisi ."


Ia menaruh cangkir kosongnya di atas meja .


Nicolas .


Sudah sering ia mengundangnya di acara penting perusahaan , tapi tak ada satupun yang pernah di datanginya .


Ia tersenyum miris . Hubungan mereka cukup buruk memang .Meski ia selalu mencoba bersikap baik sekalipun , tak satupun yang ditanggapi . Hatinya mungkin sudah mati untuk bisa menerima dirinya dan juga Astrid , adik perempuannya yang bahkan belum pernah sekalipun bertemu dan bertatap muka dengan Nicolas .


Hubungan darah sekalipun tak mampu mencairkan dendam yang selalu menyelimuti hati dan pikirannya .


Mau tak mau , tidak bisa dipungkiri juga . Nico adalah kakak nya , mereka punya ayah yang sama .Dengan ibu yang berbeda tentunya .


Dan posisi ibu nya sebagai istri kedua cukup menyulut pertikaian antara mereka . Walaupun ini bukan sepenuhnya salah mereka bertiga , sebagai anak-anak yang harus lahir dari orang tua yang sama .


Sekarang , mereka hidup berdekatan dan mempunyai posisi yang sama di perusahaan masing-masing .


Perusahaan di bidang yang sama , yang sedikit banyak memunculkan persaingan di antara mereka .


Ia menarik nafas panjang . Bukan ini yang diinginkan . Seandainya Nico bisa berdamai dengan masa lalu , mungkin sekarang mereka bisa hidup bersama sebagai saudara , tapi itu hanya impiannya semata ..yang sepertinya tak mungkin terjadi . Saat bertemu bahkan Nico seolah tak pernah saling mengenal . Sorot matanya yang selalu tajam saat menatapnya , seolah ingin melenyapkan keberadaannya .

__ADS_1


Ia hanya berharap kali ini Nico bisa memenuhi undangannya .Setidaknya ia hanya mau memperbaiki semua , walaupun tak mampu mengubah masa lalu yang sudah terjadi pada keluarga mereka .


__ADS_2