SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 62


__ADS_3

" Maaf telat ." Sarah menarik kursi di depannya , lalu duduk .


Nico menatapnya lekat ,sambil tersenyum ." Nggak papa ,aku juga baru selesai meetingnya ."


Nico memang mengajaknya kesini , sekalian ia ada janji juga dengan klien nya .


" Ada sedikit masalah di cafe , jadi nggak bisa ditinggal tadi ."


Setelah itu mereka memesan makanan dan menikmati makan siang yang memang terlewatkan tadi .


" Gimana hasilnya ?" Sarah menanyakan hasil meetingnya tadi ,ia tahu Nico sedang ada bisnis baru dengan salah satu teman kuliahnya dulu , mereka akan membuka sebuah restoran .


" Sudah deal ." Ucapnya antusias .


Sarah membelalakkan matanya ." Oh ya ." Lalu ia mengulurkan tangannya ." Selamat ya ."


Nico membalas uluran tangannya ." Thank you baby ."


" Jadi ini aku ditraktir kan ?" Tanya Sarah lagi .


" Setiap hari juga nggak papa ,asal bisa terus menemani aku ." Goda Nico .


Sarah terbahak mendengarnya .


Nico tengah menenggak lemon tea , ketika matanya menangkap sesosok laki-laki yang tengah berjalan mendekat ke arahnya .


" Kak ."


Nico mendongak ,begitu tahu siapa yang ada di depannya langsung membuatnya berdiri .


" Apa kabar ?"


Belum ada jawaban Nico ,ia hanya terpaku menatapnya .


Sampai seorang wanita berambut pirang berlari ke arah mereka dan langsung menggandeng mesra tangan laki-laki itu .


" Sayang ,aku cariin tadi ternyata disini ." Ucapnya manja .


Laki-laki itu dengan segera melepaskan tangan wanita di sebelahnya .


" Sayang kenapa ?" Wanita itu nampak bingung dengan sikapnya .


Nico beralih menatap wanita itu ." Kalian ada hubungan apa ?" Tanyanya tiba-tiba ,membuat laki-laki itu panik ,berusaha untuk mencegah wanita di sebelahnya berbicara ,tapi rupanya sudah terlambat , wanita itu dengan gamblang menceritakannya .


" Kita sudah bertunangan ,kalau boleh tahu anda siapa ya ?" Tanyanya balik .


BUGGG !!!!Dalam satu pukulan di pipi kirinya ,laki-laki itu jatuh tersungkur .


" Sayaaang ." Jerit panik wanita di sebelahnya ." Kamu siapa ,kenapa melakukan ini ?!" Ia mulai menangis , sementara laki-laki itu mulai bangun dan tak terlihat sedikitpun ingin membalas .


Nico mencengkeram kerah bajunya ." BRENGSEEEK ...!!!" Makinya dan BUGGG , satu pukulan mendarat lagi kali di perutnya .


" Nico cukup , apa-apaan ini ." Sarah berusaha melerai .


Tetapi Nico yang sudah kalap tak menghiraukannya dan semakin menggila ...BUGG..BUGG..BUGG .


Darah mengucur deras di sudut bibirnya .


Beberapa pengunjung cafe nampak hanya melihat ,tanpa berani mendekat atau melerai .


" Tolooooong ..." Wanita itu menjerit histeris .


BUGGG ...Nico masih melemparkan bogem mentahnya sampai dua satpam berlari masuk menghampiri .

__ADS_1


" Cukup Pak ,jangan membuat keributan ." Dua satpam itu memegangi lengan Nico ,meski ia masih berusaha lepas .


Seorang waiters mendekati laki-laki itu dan membantunya bangun .


" Tolong jangan main hakim sendiri begini ,sekarang Bapak ikut saya ke pos ." Ucap salah satu satpam kepada Nico , yang sama sekali tidak di gubris .


" Nggak usah Pak ." Laki-laki itu menimpali , berbicara dengan nada bergetar menahan sakit di tubuhnya ." Ini hanya kesalahpahaman saja ."


" Bapak yakin ?"


Laki-laki itu mengangguk , lalu menatap waiters yang tadi membantunya ." Bantu saya keluar ."


" Baik Pak ."


Nico masih mengepalkan tangannya di meja ,pandangannya tertuju pada sepasang pengkhianat itu .


" Nico ,apaan sih ..memang siapa dia ?" Tanya Sarah , lalu memberikan minum ke Nico agar sedikit tenang .


" William ." Jawabnya singkat .


" William .." Sarah nampak bingung ." Siapa dia ?"


" Suaminya Astrid ." Jawab Nico ,lalu beranjak pergi keluar cafe . Hari ini moodnya benar-benar buruk karena laki-laki brengsek itu .


Sarah mengikuti di belakangnya ,masih dengan ekspresi tak percaya .


*****


Astrid sedang tiduran di kamar saat Rena masuk membawakan pudding coklat .


" Wah ,kakak bikin pudding ." Serunya antusias seperti biasa .


" Iya ,kamu makan deh ..biar cepet sehat ."


Terdengar suara panggilan di ponselnya berkali-kali .


" Ada telpon itu ." Ucap Rena .


" Iya kak ."


Rena menatapnya sekilas dan terbaca di layar siapa yang menelpon .


" Kenapa nggak diangkat ?" Tanya Rena lagi .


" Nggak papa nanti aja ." Astrid malah sibuk menikmati puddingnya .


Rena menarik nafas panjang ,lalu berdiri .


" Kakak mau kemana ?" Tanya Astrid .


" Mau siapin makanan dulu , sebentar lagi kakak kamu pulang ."


" Oh iya deh ."


" Nggak papa di tinggal ?"


Astrid menggeleng ." Nggak papa ,udah sana ."


Rena berjalan keluar kamar .Sebelum benar-benar pergi ia menatap ke Astrid .


Mungkin dugaannya benar ,tapi ia tak enak kalau harus menanyakan lebih detail ke Astrid , bagaimanapun ini urusan rumah tangga mereka .


Rena tengah di dapur memanasi sayur ketika ponsel di sakunya berdering .

__ADS_1


Sarah .


" Kenapa Sar ?"


" Kamu lagi di kantor ?" Tanya Sarah balik .


" Aku nggak ke kantor ,Astrid sedikit nggak enak badan jadi nggak mungkin di tinggal sendirian ."


Terdengar tarikan nafas disana ,selama beberapa menit terdiam .


" Sarah kenapa ?" Tanya Rena heran .


" Kamu nggak lagi sama Astrid kan ini ?"


" Nggak , aku lagi di dapur sendirian ,ada apa?"


" Apa benar William itu suami nya Astrid ?"


" Iya ."


" Tadi Nico memukulinya di cafe ."


" Apa ?!" Sentak Rena tapi kemudian ia membekap mulutnya sendiri ,jangan sampai Astrid mendengarnya ." Tapi ..kenapa ?"


" Tadi dia bersama seorang wanita disana dan ...saat Nico menanyakan hubungan mereka , wanita itu mengatakan kalau mereka sudah bertunangan ."


" Ya ampun ." Rena duduk di kursi ,tiba-tiba merasa lemas mendengar semuanya .Apa ini kekhawatiran yang selalu dirasakannya .


Ada wanita lain dalam rumah tangga Astrid . Memikirkan itu membuat dadanya sesak .Selama ini apa mungkin Astrid sudah tahu dan menyembunyikan semuanya .


" Rena ." Panggil Sarah disana .


" Ya ." Jawabnya pelan .


" Tolong jangan katakan langsung ke Aska ,kamu tahu kan Nico dan Aska punya sifat yang sama ,bisa-bisa dia juga langsung menghabisinya ."


" Iya ,iya aku tahu itu ."


" Kamu coba cari tahu dulu ke Astrid soal kebenarannya ."


" Iya , iya nanti aku coba pelan-pelan tanya ke Astrid ,makasih ya ."


" Oke ,udah dulu ya , nanti kalau ada apa-apa kabari aku ."


Sambungan terputus .


Rena masih seperti orang linglung ,bahkan ia tak tahu harus apa . Kalau tiba-tiba bertanya sama Astrid apakah itu pantas .


Ia buru-buru berdiri menyadari tadi sedang memanasi sayur ,lalu mematikan kompor . Setelah itu menyajikannya di meja makan .


Dan benar saja ,tak lama Aska pulang .


" Kenapa kamu ,pucet gitu ?" Tanya Aska , sambil memegangi keningnya .


Rena menggeleng ." Udah mandi sana ,habis itu makan ."


Aska masuk ke kamar , sementara Rena ke kamar sebelah yang memang tadi tidak ditutup pintunya .


Ia menengok ke dalam .Astrid nampak sudah menghabiskan puddingnya dan tertidur pulas .


Rena kedalam mengambil piring kosongnya ,lalu keluar .


Mungkin besok kalau keadaan Astrid membaik ,ia bisa menanyakan hal ini .

__ADS_1


__ADS_2