
" Ada apa ya kak ?" Tanya Astrid masih berusaha bersikap tenang , padahal jantungnya berdegup kencang .
Perasaannya mulai tak enak .
" Kamu nggak mau cerita sesuatu ?" Pancing Rena .
" Cerita apa sih kak ?" Tanya Astrid balik .
" Kenapa kamu nggak bilang kalau William ada disini ?"
Astrid nampak terkejut ." Kakak tahu darimana ?"
Rena menarik nafas panjang ." Kemarin Nico berantem sama William di cafe ."
" Apa ?!"
" Dan untuk sebabnya kamu pasti sudah tahu kan ?"
Astrid menatap kakak iparnya itu , ia hanya diam ,matanya nampak mulai berkaca-kaca .
" Kenapa kamu nggak mau cerita semuanya ?" Tuntut Rena .
Astrid mulai sesenggukan .Rena menariknya ke dalam pelukan .Hal itu justru membuatnya semakin tersedu .
Untuk beberapa saat Rena membiarkan Astrid menangis , mungkin itu bisa sedikit mengurangi beban di hatinya .
Setelah terlihat lebih tenang ,Astrid melepaskan pelukannya .
" Sejak kapan kamu tahu ini semua ?" Tanya Rena .
Astrid menarik nafas panjang ." Jauh sebelum aku hamil kak ."
" Apa ?!"
Astrid mengangguk ." Tapi aku tahu nya saat hamil ." Jawabnya getir .
" Bahkan saat tahu kamu hamil dia juga tidak meninggalkan perempuan itu ?!" Rena terlihat sedikit emosi saat menanyakannya .
Astrid hanya diam , tatapan matanya nampak kosong .
" Lalu apa keputusan kamu ?"
Kali ini ia hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali ." Aku juga nggak tahu kak ."
Rena diam ,terus menatap Astrid yang terlihat sangat bingung .
" Apa kamu akan mempertahankan pernikahan yang seperti ini ?"
Astrid menatapnya ." Aku cuma nggak mau anak aku hidup tanpa keluarga yang lengkap ." Ucapnya pelan ." Karena aku pernah ngerasain itu jadi aku ..."
" Kamu yakin anak kamu akan bahagia dengan kalian tetap bersama ?" Potong Rena .
Astrid nampak terkejut menatapnya .
__ADS_1
" Kalian bersama tapi dalam kondisi seperti ini sama saja akan mempengaruhi psikis anak kamu nantinya ,coba bayangkan saat dia mulai beranjak dewasa dan tahu seperti apa kelakuan ayahnya ,kamu pikir itu akan membuatnya bahagia ."
Astrid menundukkan wajahnya .
Rena memegangi kedua lengannya , Astrid mengangkat wajahnya .
" Apa kamu masih mencintai William ?" Tanyanya pelan .
Astrid diam , menarik nafas sebentar ,coba menenangkan perasaannya .
" Aku nggak tahu kak ." Astrid diam sebentar ." Setiap kali melihatnya cuma bisa membuat aku sedih dan menangis ." Lanjutnya lirih .
" Jadi itu yang membuat kamu menghindarinya ?"
Astrid mengangguk .
" Astrid dengerin kakak ." Rena menatapnya serius ." Jangan pernah menganggap kamu akan sendirian kalau tidak ada suami , masih ada kakak , oma yang selalu ada buat kamu ." Astrid kembali terisak ." Dengan keadaan seperti ini nantinya malah akan mengganggu kehamilan kamu , karena wanita hamil nggak boleh terlalu banyak pikiran dan kalau kamu terus seperti itu artinya kamu nggak sayang sama bayi ini ."
" Aku harus apa kak ?" Tanyanya pelan .
" Lepaskan kalau memang merasa sudah tidak tahan , karena sendiri lebih baik daripada harus mempertahankan hubungan yang sudah tidak sehat ."
Rena menepuk bahunya ,kemudian berdiri ." Semua keputusan ada ditangan kamu ,tapi kakak cuma mau bilang , utamakan kebahagiaan sendiri dan anak kamu ." Ia berjalan keluar ,memberi waktu Astrid untuk berpikir lagi tentang rumah tangganya dan untuk itu ia tidak berhak ikut campur terlalu dalam .
Rena ke kamar ,mengganti sprai dan tirai jendela . Ternyata nggak enak juga kalau diam di rumah , ia bingung harus ngapain .
Selesai membersihkan kamar , ia keluar dan ke dapur , menikmati es coklat seperti akan menyenangkan .
Astrid memanggilnya tadi .
" Ada apa ?" Tanyanya .
" Kakak sibuk ?" Tanya Astrid balik .
Rena menggeleng .
" Kakak mau temani aku ?"
" Mau kemana ?" Tanya Rena heran .
" Aku mau bertemu William ."
Rena membelalakkan matanya kaget ." Serius ?"
Astrid tersenyum ,lalu mengangguk .
" Yah oke , sekarang ?"
" Iya kak ."
" Ya aku ganti baju dulu ."
" Makasih kak ."
__ADS_1
Rena berjalan ke kamar .Tak tahu kenapa justru ia yang menjadi sangat antusias dengan ekspresi Astrid tadi , semoga saja ia mengambil keputusan yang tepat .
Tak lama mereka sudah dalam perjalanan ke salah satu cafe tempat mereka janjian bertemu .
" Dia datang sendiri ?"
" Aku nggak tahu kak ."
Tak tahu mendapat kekuatan darimana ,Astrid sekarang terlihat sangat tenang .
Saat Rena menggenggam tangannya ,ia cuma tersenyum ,tak ada lagi air mata di sana .
30 menit ,mereka sampai di sebuah cafe .Astrid menghampiri resepsionis dan mereka di antar ke salah satu ruangan VIP .
Saat mereka masuk .Sudah seperti yang di duga Rena tadi . William sudah duduk disana , disampingnya seorang wanita muda nampak menatap kedatangan mereka .
Astrid sedikit ragu ,lalu Rena kembali menggandeng tangannya dan mereka berjalan mendekat .
Astrid duduk tepat di depan William , dilihatnya wajah laki-laki yang sampai detik ini masih menjadi suaminya nampak membiru dan bengkak di bawah matanya , jadi benar kalau Nico berkelahi dengannya kemarin ,tetapi ia tak mau membahas itu .
William masih diam , kemudian ia nampak berbisik dengan wanita disebelahnya , entah apa yang mereka bicarakan . Tak lama wanita itu beranjak keluar ,tanpa berpamitan .
" Sayang ." Panggil William saat hanya tinggal mereka bertiga ,ia coba memegang tangan Astrid ,tapi dengan cepat dilepaskannya .
William menatap ke arah Rena .
" Ini kak Rena , istrinya kak Aska ." Astrid yang memperkenalkan .
" Hai kak ." Sapa William .
Rena hanya tersenyum .
Kali ini Rena berbisik di telinga Astrid , meminta ijin untuk keluar dan membiarkan mereka menyelesaikan masalah berdua ,tapi Astrid menolak dan memintanya tetap disana .
William menatap perut istrinya yang membuncit ." Apa dia baik-baik saja ?" Tanyanya antusias ,seolah tidak terjadi apa-apa di antara mereka .
" Tentu dia akan baik-baik saja , selama jauh dari ayahnya ." Cetus Astrid yang membuat Rena terkejut .Apa selama ini Astrid sering mengalami masalah dengan kehamilannya .
" Sayang , jangan bicara seperti itu ." William menunjukkan wajah bersalah , entah memang itu yang di rasakannya atau hanya karena ada Rena disana .
Astrid menarik nafas panjang , kemudian menatap William lekat-lekat .
" Aku sudah membuat keputusan sekarang ." Ucapnya tegas .
" Keputusan apa ?"
" Soal hubungan kita ."
William menatapnya kaget .
Astrid mengusap perutnya sebentar , kemudian menatap Rena .
" Setelah anak ini lahir ,kita akan bercerai ."
__ADS_1