
Hari ini rutinitas kembali seperti biasa .Rena sudah mulai ke kantor karena kondisi Astrid cukup membaik .
Mereka sarapan bersama pagi itu .
" Kamu nggak usah keluar kemana-mana sendirian dulu ." Pesan Aska pada Astrid ,ia hanya takut kalau William memaksa bertemu dan datang kesini , apalagi Astrid sedang sendirian .
" Iya kak ."
" Kalau William nelpon atau datang kesini ,nggak usah diladeni ."
Astrid mengangguk .
Selesai sarapan mereka berpamitan .
Pagi ini ada meeting dengan beberapa manager dari kantor cabang , jadi mereka tidak boleh sampai telat .
Sampai di loby , Aska menghentikan langkahnya dan meraba saku celana belakangnya .
" Kenapa Mas ?" Tanya Rena .
" Dompet kayaknya ketinggalan ."
" Ya udah biar aku yang ambil ." Ucap Rena kemudian .
" Nggak usah ." Aska menyerahkan kunci mobil ." Tunggu di mobil aja ."
Ia berbalik dan berlari masuk ,sementara Rena langsung ke parkiran .
Hanya beberapa menit , ia sudah kembali sampai di bawah .
Begitu keluar dari lift .
" Hai Bro ." Aska menoleh .
" Haikal ."
Laki-laki itu tersenyum .
" Jadi tinggal di sini juga ?" Tanya Aska lagi .
" Yup ."
" Aku di lantai 4 mampir aja kapan-kapan ."
" Oke siap , boleh nih main kesana ?" Tanya Haikal .
" Ya bolehlah ...nggak ngantor kamu ?"
Haikal menggeleng ." Nanti siangan ."
" Oke aku duluan ya , buru-buru soalnya ." Aska menepuk bahunya , lalu bergegas keluar .
Mereka sampai di kantor jam 7 kurang beberapa menit . Aska langsung ke ruang meeting .
Rena sendiri ke ruangannya dan menyelesaikan pekerjaan .
Dua jam berlalu , Aska kembali ke ruangannya .Masih sibuk berbicara di ponselnya .
" Dimana ?" Tanyanya .
" Hotel Palm kamar 422 Pak ."
" Oke makasih ya ."
__ADS_1
" Mau kemana ?" Tanya Rena heran , melihat Aska yang baru duduk , tiba-tiba berdiri .
" Sebentar ." Jawabnya pendek , membuat Rena curiga .
" Kemana ?" Tanyanya lagi .
" Ketemu Pak Alex ."
" Beneran ?"
" Iya ."
Aska bergegas pergi ,Rena hanya menatapnya cemas . Semoga saja dia tidak berbohong kali ini .
***
HOTEL PALM
Begitu sampai Aska menemui Sahrul yang menunggunya di loby .
" Pagi Pak ." Sapanya .
" Pagi ,kamu sudah pastikan mereka di dalam ?"
" Iya Pak ."
" Bagus ."
" Oh ya Pak ,soal data wanita bernama Claudia , ternyata dia putri tunggal Pak Sasongko yang sekarang menyelesaikan studinya di Amerika ."
Aska mengerutkan alisnya ." Pak Sasongko siapa ?" Tanyanya , sambil mencoba mengingat nama yang sepertinya tak asing ." Palama Group ." Tebaknya .
Sahrul mengangguk ." Benar Pak ."
Perusahaan itu sedang dalam masalah sekarang , kondisinya diambang kebangkrutan .Satu-satunya perusahaan besar yang masih menjalin kerjasama itu hanya Permana Group . Hanya sebagai rasa simpati dan bentuk bantuan karena hubungan baik Pak Sasongko dan Papanya dulu .
Sampai sekarang memang Pak Sasongko sendiri yang masih mengelola perusahaannya meski kondisinya kian sulit .
Seandainya tidak ada masalah ,Aska akan dengan senang hati membantunya , tapi kini putri kecilnya itu berhasil mengusik keluarganya dan itu tidak akan pernah termaafkan .
Ia mengambil ponsel dan menghubungi seseorang disana .
" Pagi Pak ." Sapa seseorang .
" Pagi Pak Gunawan , saya minta cabut semua kerjasama dengan Palama Group ."
" Bapak yakin ?" Tanya Gunawan disana memastikan .
" Sangat yakin ."
" Baik Pak ."
Aska memasukkan ponsel ke saku .
" Kamu bisa pergi sekarang ." Ucapnya pada Sahrul .
" Bapak yakin nggak saya temani ?"
" Nggak usah ."
Setelah Sahrul pergi , Aska segera naik ke lantai 4 .
Sampai di depan kamar 422 , ia langsung membunyikan bel berkali-kali ,sampai membuat seseorang di dalam berteriak sedikit kesal .
__ADS_1
" Iya tunggu ." Teriaknya .
Seorang wanita berambut panjang membukakan pintu .
" Anda siapa ?" Tanyanya .
Aska tidak menggubris dan menerobos masuk .
" Hei jangan kurang ajar siapa anda ?!" Teriaknya lagi , membuat seseorang yang sedari tadi berada di dalam kamar mandi langsung keluar .
" Ada apa sayang ?" Tanyanya sambil berjalan keluar .Alangkah terkejutnya melihat siapa yang berdiri di sana .
" Kak ." Panggilnya .
Aska langsung mencengkeram bajunya .
" BRENGSEEEKKK !" Umpatnya dan tanpa bicara lagi ia sudah seperti orang kesetanan .
BAGG !!! BUGG !!! BAGG !!! BUGG !!!
Aska langsung menghajarnya bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan lawan untuk membalas .
" Apa-apaan ini ,Toloooooong !" Teriak Claudia histeris ,dalam waktu sekejap William sudah jatuh tersungkur di sudut lemari , darah bercucuran di lantai .
Claudia berlari keluar meminta pertolongan .
Sampai ia kembali bersama 3 satpam hotel yang kemudian memegangi tangan Aska , mencegah berbuat hal yang lebih gila lagi .
William nampak tertelungkup di lantai , wajahnya penuh darah .
Claudia berjalan mendekat . " Sayang , kamu nggak papa ?" Tanyanya cemas .
William hanya menatapnya tak mampu untuk mengeluarkan kata-kata , beberapa detik kemudian matanya tertutup , kesadarannya pun hilang .
" Bapak ikut kami ." Satpam menarik tangan Aska yang terlihat masih emosi .
Claudia segera menghubungi ambulance dan dia masih menangis di samping kekasihnya itu .
Sementara itu di kantor ...
Rena mulai cemas karena Aska tidak mengangkat telponnya .
Masalahnya tadi ia menelpon Pak Alex dan bilang tidak bersama Aska sekarang , lalu kemana dia ?
Rena mengusap wajahnya berkali-kali , semoga Aska tidak berbuat sesuatu yang aneh-aneh .
Ini sudah dua jam lebih dia pergi dan belum ada kabar .
Ketika ponselnya berdering di atas meja ,ia buru-buru mengambilnya ,berharap Aska yang menelpon .
Nomor tidak dikenal .
" Halo ." Jawabnya .
" Halo selamat siang ,ini dengan Ibu Rena ?" Tanya seorang laki-laki di sana .
" Iya saya sendiri , maaf ini siapa ya ?"
" Apa Tuan Aska Permana suami anda ?"
Rena sedikit kaget ." Iya , ada apa ya Pak ."
" Ibu bisa datang ke kantor polisi , suami anda ada dalam penahanan kami sekarang ."
__ADS_1
" Kantor polisi ." Ulangnya . Ia langsung terduduk lemas mendengarnya .