SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 4


__ADS_3


" Ada apa ini ?" Begitu keluar dari mobil , Aska melihat kerumunan karyawannya di depan pos satpam , ia berlari menghampiri .


" Pak Aji pingsan Pak ."


" Kok bisa ?"


" Nggak tahu Pak , tadi tiba-tiba dia memegangi dada nya dan langsung pingsan ."


Pak Aris , salah satu satpam di kantornya , coba menjelaskan .


" Bawa ke mobil saya , cepetan ."


" Baik Pak ." Pak Aris dibantu dua karyawan laki-laki membopong Pak Aji dan memasukkan ke mobil .


Aska bergegas masuk mobil , melajukan mobilnya dengan kencang .


Mereka harus sampai di rumah sakit secepatnya .


15 menit mereka sampai di rumah sakit dan Pak Aji segera dilarikan ke IGD .


Aska mengambil ponsel dan menghubungi seseorang .


" Pak Aris , tolong hubungi anggota keluarga Pak Aji , minta datang ke Rumah Sakit Permata ."


" Baik Pak ."


Aska duduk di depan IGD , hanya sendirian disini . Semoga keluarga Pak Aji secepatnya datang .


Cukup lama , tak ada dokter maupun suster yang keluar memberikan penjelasan tentang keadaan Pak Aji di dalam .


Aska berdiri dan berjalan ke depan pintu IGD .


Apa yang terjadi dengan Pak Aji di dalam ?


" Permisi Pak ."


Aska membalikkan badan .


Seorang gadis berambut panjang menyapanya .


" Saya Alia , anaknya Pak Aji ."


" Oh iya ..."


" Bagaimana keadaan Bapak saya ?" Tanyanya lagi , wajahnya yang lembut terlihat panik .


" Saya belum tahu , masih di dalam ."


Terdengar suara pintu terbuka , seorang dokter keluar .


" Dengan keluarga Pak Aji ."


Alia mendekat ." Saya anaknya Dok , bagaimana keadaan Bapak saya ?"


" Pak Aji terkena serangan jantung ,harus segera dilakukan tindakan operasi ."


Alia nampak kaget , lalu menutup mulut dengan telapak tangannya .

__ADS_1


" Harus segera ada tindakan ,karena kondisinya sangat mengkhawatirkan ." Lanjutnya .


" Tapi Dok ...apa tidak ada jalan lain selain operasi ?" Tanya Alia getir , ia seperti tahu akan banyak biaya yang dikeluarkan dan tak akan sanggup menanggung itu semua . Ia hanya seorang pengangguran sekarang , hanya mengandalkan gaji dari Bapaknya saja .


" Sayangnya tidak ada Mbak , satu-satunya jalan memang harus dilakukan operasi ."


" Lakukan saja Dok , saya akan mengurus administrasinya sekarang ." Ucap Aska yang sontak membuat Alia membelalakkan matanya kaget .



\*\*



" Terima kasih Pak ...saya tidak tahu harus dengan apa membalas kebaikan Bapak ." Ucap Alia , mereka sudah duduk di depan ruang operasi .


" Nggak papa , lagipula Pak Aji karyawan saya jadi sudah menjadi tanggung jawab perusahaan juga ."


Aska menatap gadis yang kini duduk di sebelahnya .


" Keluarga kamu yang lain dimana ?"


Alia menggeleng ." Saya cuma berdua saja dengan Bapak ." Jawabnya pendek .


Aska mengangguk ." Kamu kerja ?"


" Pernah kerja , tapi sebulan lalu kena PHK ."


" Kerja dimana ?"


" Karyawan toko kue Pak , karena saya cuma lulusan SMA ."


Alia mengangguk dan dia tetap pada tempatnya sekarang , menunggu pintu ruang operasi terbuka .



Tak berapa lama Aska kembali , membawa paperbag di tangannya ,lalu duduk di sebelah Alia .


Ia mengeluarkan kotak makanan dan memberikannya ke Alia .


" Kamu makan dulu ."


" Makasih Pak ."


Setelah itu mereka berdua makan ,tetap berdua disana .Sampai operasi selesai .


" Dokter , gimana ?" Alia berdiri dan menghampiri dokter yang baru keluar ruang operasi .


" Alhamdulillah lancar ...tapi pasien masih harus beristirahat dulu sekarang ."


" Baik Dok , terima kasih ." Ucap Alia lega .


Dokter dan 2 suster tadi berjalan menjauh .


" Pak , terima kasih banyak untuk semuanya ."


Alia memegangi tangan Aska dan menatapnya , matanya berbinar penuh kebahagiaan .


__ADS_1


Saat sampai rumah , Pak Aji sedang di teras belakang sendirian .


Aska berjalan menghampirinya .


" Pak Aji kenapa disini sendirian ?"


Pak Aji menatapnya , kondisinya memang menunjukkan kemajuan tiga bulan terakhir ini .


" Suster mana ?" Tanyanya lagi .


" Bapak yang mau disini ." Jawabnya pelan ." Kamu tumben sudah pulang ?"


" Iya habis meeting didekat sini , di kantor udah nggak ada kerjaan , jadi pulang aja ."


Aska memindahkan posisi kursi rodanya , menghindari cahaya matahari sore yang cukup menyilaukan mata .


" Kalau begitu aku ganti baju dulu , Bapak masih mau disini atau diantar ke kamar ..? " tanyanya lagi .


" Disini saja ."


" Oke ." Aska sudah mau berbalik ketika Pak Aji memanggilnya .


" Kenapa Pak ?"


" Duduk dulu ." Pak Aji memintanya duduk di kursi sebelahnya .


" Bapak mau bicara serius sama kamu ."


Aska menatapnya ." Soal ...?"


" Alia ."


Ia sedikit terkejut mendengarnya .


" Ini sudah setahun lebih dan tidak ada kabar apapun dari dia ."


Aska diam .


" Bapak sudah ikhlas kalau kamu melepaskan dia ..."


" Maksud Bapak ..?"


" Lupakan dia dan mulai hidup baru , kamu masih muda ...carilah istri yang benar-benar mencintai kamu , begitu juga sebaliknya ."


Aska mendesah pelan .


" Alia memang anak Bapak ,tapi apa yang sudah dilakukannya ke kamu benar-benar tak bisa dimaafkan ..."


Pak Aji berhenti sebentar , lalu menundukkan kepalanya . Apapun yang terjadi meski bukan dirinya yang melakukan , tetap saja rasa bersalah selalu menghantui setiap hari . Apalagi selama ini Aska yang sudah merawatnya , menantu yang sudah tersakiti oleh putrinya sendiri .


" Kamu berhak mencari kebahagiaan ...mungkin Alia memang bukan jodoh kamu ." Lanjutnya , ada kegetiran dalam nada suaranya .


Aska berdiri dan mendekat .


" Pak sudah ...nggak usah mikir masalah itu lagi ya ." Ucapnya , sambil mengusap lengan mertua yang sudah setahunan ini tinggal bersama , tepatnya setelah serangan stroke yang menyerangnya setelah kepergian Alia waktu itu .


" Sebaiknya Bapak masuk kamar , ini sudah waktunya minum obat ."


Aska mendorong kursi roda dan membawanya masuk .

__ADS_1


__ADS_2