
Paginya ...
Seperti biasa mereka sampai kantor sekitar pukul 07.00 dan Aska memarkir sendiri mobilnya . Tanpa meminta satpam yang melakukan .
Begitu sampai parkiran , Rena mengambil kotak makanan yang ditaruh di jok belakang .
Mereka masuk lewat pintu samping .
Kantor sudah mulai ramai .
Saat mereka masuk ,banyak beberapa dari mereka yang menyapa Aska , tetapi ada yang sedikit berbeda .
Mereka menatap Rena dengan pandangan lain .Satu orang wanita yang dia tidak kenal juga , tersenyum saat ia lewat .
" Pagi Bu Rena ." Sapanya lembut .
Rena sedikit heran ." Ah iya pagi ."
Tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Bu disini ,biasanya mereka memanggilnya hanya dengan Mbak saja .Sebenarnya apa yang terjadi .
Keterkejutannya tidak hanya sampai disitu saja .
Saat mau memasuki ruangan ,mereka juga bertemu Dian .
" Pagi Bu Rena ." Sapanya .
Rena hanya tersenyum .Ada apa sebenarnya .
Siang harinya ,setelah dari ruang meeting .
Mereka masuk ke ruangan .Tak lama Dian masuk memberikan berkas ,saat Aska sedang ke toilet .
" Mbak Dian tunggu ."
" Iya Bu ." Jawab Dian yang langsung menghentikan langkahnya dan berbalik .
" Ada apa sih ?" Tanya Rena heran .
" Maksudnya bagaimana ?" Tanya Dian balik .
" Mbak Dian dan juga yang lain ,kok hari ini beda , kenapa tiba-tiba panggil Ibu ." Cetus Rena langsung ,daripada membuatnya penasaran .
" Maaf Bu ,mungkin kemarin-kemarin terlihat kurang sopan karena saya memanggil Mbak , karena saya memang nggak tahu yang sebenarnya ."
" Tahu apa ?" Cecar Rena .
" Saya baru tahu kalau Bu Rena istrinya Pak Aska ,maaf .
Rena mendelik ." Siapa yang bilang ?"
" Pak Aska sendiri ."
" Memangnya kapan bilang begitu ?"
__ADS_1
" Kemarin waktu Fika dipanggil Pak Aska soal kejadian yang dikantin itu , Bu ."
" Tunggu ...Fika dipanggil ?"
Dian mengangguk .
Rena diam sebentar ,memang Fika yang membuatnya jatuh kemarin , tapi ia tak tahu kalau Aska bicara dengan Fika dan bahkan tak menceritakan padanya juga .
" Terus ?"
" Fika hari ini terakhir masuk Bu ,dia sebenarnya mau menemui Ibu untuk minta maaf ,tapi ...dia masih sedikit takut karena ada Pak Aska ."
" Hari terakhir ..memang Fika mau pindah ?"
" Memangnya ibu nggak tahu ?"
Rena menggeleng .
" Pak Aska sudah memecat Fika ."
" Apa ?!"
Sungguh tidak disangka .Aska bisa mengambil keputusan ini .
Apa ini tidak terlalu berlebihan sampai harus memecatnya , dengan begitu nantinya dia juga pasti akan sulit menerima pekerjaan baru di perusahaan lain .
Mungkin ia masih bisa membicarakan ini ke Aska ,siapa tahu keputusannya bisa berubah .
Rena tersadar dari lamunannya , ternyata Aska sudah kembali .
" Oh iya , tolong buatkan jadwal pertemuan lagi dengan Pak Alex ." Jawab Aska .
" Baik Pak ."
Setelah Dian keluar , Aska duduk di sofa , sibuk dengan laptop di depannya .
Rena duduk di sebelahnya .Sembari mengintip ke layar laptop .Sepertinya tak terlalu sibuk .Aska hanya sedang membalas email dari beberapa kliennya .
" Mas ." Panggilnya .
" Ya ."
" Kemarin kata Dian kamu panggil Fika , ada apa ?" Pancingnya .
" Nggak ada ." Jawab Aska pendek .
Rena menarik nafas panjang ,susah memang bicara dengan Aska kalau sudah begini .
" Mas ..."
Aska diam , lalu menyandarkan punggungnya di sofa .Sambil sedikit mengusap tengkuknya dengan telapak tangannya .
" Ini soal kejadian di kantin itu ?"
__ADS_1
Belum ada jawaban dari Aska .
" Apa yang sudah dilakukan itu tindakan kriminal ." Tegas Aska kemudian , kali ini raut wajahnya berubah masam .
" Iya ,aku tahu ..tapi apa keputusan kamu nggak terlalu berlebihan ."
" Nggak ada yang berlebihan , itu pantas dia dapatkan ." Sanggah Aska
" Memangnya sudah tidak ada keputusan lagi , mungkin kamu pindah ke kantor cabang atau gimana gitu ..."
" Nggak ada !"
Aska tetap pada keputusannya .Apa mungkin waktunya kurang tepat .Aska terlihat sedikit capek .
Rena mengulurkan tangan , meraih tengkuk Aska , yang membuat laki-laki itu menoleh .
" Jangan manyun gitu ,lihat wajah kamu jadi banyak kerutan ." Goda Rena membuat Aska semakin senewen .
Rena memijat tengkuknya perlahan , mungkin itu bisa sedikit membuat emosi Aska mereda .
Sementara tangan kanan nya meraih dasi yang dikenakan Aska dan melonggarkannya .
" Mau apa ?" Tanya Aska .
Rena diam dan mulai membuka kancing atas kemejanya .
Tangannya mulai masuk ke dalam , menyentuh bahu Aska .
" Jangan marah-marah terus , nanti cepat tua ." Lanjut Rena lagi .
Aska menatapnya dengan raut wajah yang sama .
" Kamu coba pikirkan lagi keputusan kamu ,kasihan juga kalau sampai Fika harus kehilangan pekerjaan ." Bujuk Rena .
" Nggak !"
" Jangan langsung dijawab ,kamu pikirin dulu baik-baik , jangan sampai keputusan kamu ini merugikan orang lain .Gimana kalau pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan buat keluarganya .Memangnya kamu nggak akan merasa bersalah nantinya ..."
Aska masih diam ,tak berkomentar .
" Aku tahu dia memang berbuat salah ,tapi pasti sekarang dia sudah menyesali semua ." Lanjutnya dan masih tak ada jawaban dari Aska .
Mungkin memang ia harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir .
" Mau dipijit disini juga ?" Tanya Rena ,sambil mengusap bahu kanannya .
Kalau sudah rileks ,mungkin ia bisa berpikir lebih jernih dan bisa merubah keputusannya .
" Hmm..." Jawab Aska yang hanya berupa gumaman .
" Malah keenakan dia sekarang ." Ucap Rena pelan .
Aska mengacuhkannya dan memejamkan mata saat jari-jari tangan Rena mulai memijat bahunya .
__ADS_1