SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 50


__ADS_3

Paginya ...


Seperti biasa mereka sampai kantor sekitar pukul 07.00 dan Aska memarkir sendiri mobilnya . Tanpa meminta satpam yang melakukan .


Begitu sampai parkiran , Rena mengambil kotak makanan yang ditaruh di jok belakang .


Mereka masuk lewat pintu samping .


Kantor sudah mulai ramai .


Saat mereka masuk ,banyak beberapa dari mereka yang menyapa Aska , tetapi ada yang sedikit berbeda .


Mereka menatap Rena dengan pandangan lain .Satu orang wanita yang dia tidak kenal juga , tersenyum saat ia lewat .


" Pagi Bu Rena ." Sapanya lembut .


Rena sedikit heran ." Ah iya pagi ."


Tidak ada yang memanggilnya dengan sebutan Bu disini ,biasanya mereka memanggilnya hanya dengan Mbak saja .Sebenarnya apa yang terjadi .


Keterkejutannya tidak hanya sampai disitu saja .


Saat mau memasuki ruangan ,mereka juga bertemu Dian .


" Pagi Bu Rena ." Sapanya .


Rena hanya tersenyum .Ada apa sebenarnya .


Siang harinya ,setelah dari ruang meeting .


Mereka masuk ke ruangan .Tak lama Dian masuk memberikan berkas ,saat Aska sedang ke toilet .


" Mbak Dian tunggu ."


" Iya Bu ." Jawab Dian yang langsung menghentikan langkahnya dan berbalik .


" Ada apa sih ?" Tanya Rena heran .


" Maksudnya bagaimana ?" Tanya Dian balik .


" Mbak Dian dan juga yang lain ,kok hari ini beda , kenapa tiba-tiba panggil Ibu ." Cetus Rena langsung ,daripada membuatnya penasaran .


" Maaf Bu ,mungkin kemarin-kemarin terlihat kurang sopan karena saya memanggil Mbak , karena saya memang nggak tahu yang sebenarnya ."


" Tahu apa ?" Cecar Rena .


" Saya baru tahu kalau Bu Rena istrinya Pak Aska ,maaf .


Rena mendelik ." Siapa yang bilang ?"


" Pak Aska sendiri ."


" Memangnya kapan bilang begitu ?"

__ADS_1


" Kemarin waktu Fika dipanggil Pak Aska soal kejadian yang dikantin itu , Bu ."


" Tunggu ...Fika dipanggil ?"


Dian mengangguk .


Rena diam sebentar ,memang Fika yang membuatnya jatuh kemarin , tapi ia tak tahu kalau Aska bicara dengan Fika dan bahkan tak menceritakan padanya juga .


" Terus ?"


" Fika hari ini terakhir masuk Bu ,dia sebenarnya mau menemui Ibu untuk minta maaf ,tapi ...dia masih sedikit takut karena ada Pak Aska ."


" Hari terakhir ..memang Fika mau pindah ?"


" Memangnya ibu nggak tahu ?"


Rena menggeleng .


" Pak Aska sudah memecat Fika ."


" Apa ?!"


Sungguh tidak disangka .Aska bisa mengambil keputusan ini .


Apa ini tidak terlalu berlebihan sampai harus memecatnya , dengan begitu nantinya dia juga pasti akan sulit menerima pekerjaan baru di perusahaan lain .


Mungkin ia masih bisa membicarakan ini ke Aska ,siapa tahu keputusannya bisa berubah .


Rena tersadar dari lamunannya , ternyata Aska sudah kembali .


" Oh iya , tolong buatkan jadwal pertemuan lagi dengan Pak Alex ." Jawab Aska .


" Baik Pak ."


Setelah Dian keluar , Aska duduk di sofa , sibuk dengan laptop di depannya .


Rena duduk di sebelahnya .Sembari mengintip ke layar laptop .Sepertinya tak terlalu sibuk .Aska hanya sedang membalas email dari beberapa kliennya .


" Mas ." Panggilnya .


" Ya ."


" Kemarin kata Dian kamu panggil Fika , ada apa ?" Pancingnya .


" Nggak ada ." Jawab Aska pendek .


Rena menarik nafas panjang ,susah memang bicara dengan Aska kalau sudah begini .


" Mas ..."


Aska diam , lalu menyandarkan punggungnya di sofa .Sambil sedikit mengusap tengkuknya dengan telapak tangannya .


" Ini soal kejadian di kantin itu ?"

__ADS_1


Belum ada jawaban dari Aska .


" Apa yang sudah dilakukan itu tindakan kriminal ." Tegas Aska kemudian , kali ini raut wajahnya berubah masam .


" Iya ,aku tahu ..tapi apa keputusan kamu nggak terlalu berlebihan ."


" Nggak ada yang berlebihan , itu pantas dia dapatkan ." Sanggah Aska


" Memangnya sudah tidak ada keputusan lagi , mungkin kamu pindah ke kantor cabang atau gimana gitu ..."


" Nggak ada !"


Aska tetap pada keputusannya .Apa mungkin waktunya kurang tepat .Aska terlihat sedikit capek .


Rena mengulurkan tangan , meraih tengkuk Aska , yang membuat laki-laki itu menoleh .


" Jangan manyun gitu ,lihat wajah kamu jadi banyak kerutan ." Goda Rena membuat Aska semakin senewen .


Rena memijat tengkuknya perlahan , mungkin itu bisa sedikit membuat emosi Aska mereda .


Sementara tangan kanan nya meraih dasi yang dikenakan Aska dan melonggarkannya .


" Mau apa ?" Tanya Aska .


Rena diam dan mulai membuka kancing atas kemejanya .


Tangannya mulai masuk ke dalam , menyentuh bahu Aska .


" Jangan marah-marah terus , nanti cepat tua ." Lanjut Rena lagi .


Aska menatapnya dengan raut wajah yang sama .


" Kamu coba pikirkan lagi keputusan kamu ,kasihan juga kalau sampai Fika harus kehilangan pekerjaan ." Bujuk Rena .


" Nggak !"


" Jangan langsung dijawab ,kamu pikirin dulu baik-baik , jangan sampai keputusan kamu ini merugikan orang lain .Gimana kalau pekerjaan ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan buat keluarganya .Memangnya kamu nggak akan merasa bersalah nantinya ..."


Aska masih diam ,tak berkomentar .


" Aku tahu dia memang berbuat salah ,tapi pasti sekarang dia sudah menyesali semua ." Lanjutnya dan masih tak ada jawaban dari Aska .


Mungkin memang ia harus memberinya sedikit waktu untuk berpikir .


" Mau dipijit disini juga ?" Tanya Rena ,sambil mengusap bahu kanannya .


Kalau sudah rileks ,mungkin ia bisa berpikir lebih jernih dan bisa merubah keputusannya .


" Hmm..." Jawab Aska yang hanya berupa gumaman .


" Malah keenakan dia sekarang ." Ucap Rena pelan .


Aska mengacuhkannya dan memejamkan mata saat jari-jari tangan Rena mulai memijat bahunya .

__ADS_1


__ADS_2