SUAMIKU RIVALKU

SUAMIKU RIVALKU
BAB 43


__ADS_3

Hari ini pekerjaan tidak terlalu padat , hanya ada 2 meeting dengan dewan direksi .


1 meeting dilakukan di coffe shop tak jauh dari kantor .


Aska memutuskan berangkat sendiri , karena Rena sendiri punya setumpuk berkas yang masih harus dikerjakan .


Menjelang makan siang , Aska belum juga kembali .


Pekerjaannya selesai ,hanya tinggal minta dikoreksi Aska lagi nanti .


Ia menatap jam ditangannya . Sudah masuk jam makan siang .Mau memakan bekalnya tadi , tapi Aska belum datang , nggak enak juga kalau makan sendiri .


Menikmati secangkir kopi mungkin enak siang-siang begini .


Rena akhirnya keluar . Bukannya ke pantry , ia memilih turun ke lantai bawah . Lebih baik ia ke kantin saja sekarang .


Sampai di kantin perusahaan yang ada di lantai 2 yang ternyata cukup luas dan nyaman .Lumayan agak ramai karena jam makan siang .


Setelah memesan secangkir kopi , Rena memilih duduk di meja tengah . Hanya beberapa saja yang masih nampak kosong . Sambil menunggu ,ia mengambil ponsel dan membalas chat yang masuk .


" Permisi ."


Rena mendongak .Seorang wanita dengan kulit putih , rambut pirang yang dibiarkan tergerai sebatas punggung menatapnya angkuh .


Ia coba mengingat siapa wanita yang berdiri di depannya itu .Sepertinya wajahnya nggak asing .


Oh ya , ini salah satu wanita yang ditemuinya di parkiran tadi pagi .


" Silahkan duduk ." Jawab Rena ramah .


Wanita itu lantas menarik kursi di depannya dan duduk , masih dengan wajah yang tidak bersahabat , matanya menatap Rena dari bawah sampai atas , membuat tak nyaman .


" Aku Rena ." Pada akhirnya Rena mengulurkan tangannya , tapi tak ada sambutan disana .


" Fika ." Jawabnya ketus .


Rena menarik nafas panjang dan menurunkan tangannya .


" Kamu karyawan baru kan ?" Tanya Fika lagi .


Rena hanya mengangguk .

__ADS_1


Percakapan terhenti saat kopi pesanannya datang .


Fika menatapnya lekat ." Memangnya kamu pakai cara apa bisa dekat dengan Pak Aska ?" Tanyanya tiba-tiba .


Rena balas menatapnya kaget ." Maksud kamu ?"


Fika mencibir ." Semua juga sering lihat ,dari awal masuk perusahaan ini ,kalian sering berangkat dan pulang bersama ."


" Yah , cuma kebetulan aja ." Jawab Rena santai .


Fika melengos . Dari awal masuk perusahaan ini sebenarnya posisi sekretaris Pak Aska yang diincarnya , akan tetapi saat itu ternyata Dian yang malah mendapatkan ,sementara dirinya ditempatkan di divisi lain . Meski mereka masih dalam satu gedung yang sama ,jarang sekali ia bertemu dengan Bos tampannya itu .Yang selalu muncul dalam angan-angan bisa memilikinya , meski hal itu sangat sulit tercapai melihat sikap acuh Pak Aska kepada semua orang .


Memang ia juga tahu kalau bos nya itu pria beristri , tapi setelah pernikahan sama sekali tak terendus media tentang sosok istri pemilik Permana Group itu . Sosoknya seperti hilang ditelan bumi .


Maka dari itu ia selalu beranggapan kalau mungkin saja pernikahan mereka sebenarnya telah berakhir , dengan begitu ia bisa punya kesempatan besar . Walaupun tak banyak kesempatan untuk bisa sekedar menyapa Bos tampannya itu , yang memang sangat pendiam . Hanya berbicara seperlunya , tak lebih .


Ia yang sudah lama ingin mengincar Pak Aska , kini malah si Rena ini yang mendapat kesempatan . Posisinya bahkan jauh lebih enak . Sebagai asisten pribadi Pak Aska dan bekerja dalam ruangan yang sama .


Bagaimana mungkin ia mendapatkan semua itu dengan mudahnya .


Lamunannya buyar mendengar dering ponsel yang tergeletak di meja .


Ia melirik sekilas dan terlihat di layar , nama yang sedang membuat panggilan .


Rena langsung mengangkat telpon .


" Iya , Mas ."


Fika nampak terkesiap , wanita ini bahkan menyebut Aska dengan panggilan Mas .Ada hubungan apa sebenarnya mereka .


" Aku di kantin ."


" Nggak beli makanan cuma beli kopi . "


" Iya aku naik sekarang ." Setelah menutup ponsel . Rena menenggak habis kopi miliknya tadi , lalu berdiri .


" Fika , aku duluan ya ." Pamitnya , lalu berlari menuju lift .


Fika menatapnya geram .


Sampai di ruangannya , terlihat Aska sudah duduk di sofa .

__ADS_1


" Ngapain ke kantin ?" Tanya Aska lagi , padahal tadi sudah jelas juga jawabannya .


" Beli kopi Mas ." Jawab Rena lagi .


Berjalan ke belakang ,menuju wastafel yang ada di pojok tangan .


Setelah mencuci tangan , mengambil kotak makannya yang ada di meja dan membawanya ke Aska .


Menatanya di meja , kemudian memberikan satu sendok di atas kotak makan Aska .


" Kamu nggak pakai sendok ?" Tanya Aska heran .


Rena menggeleng ." Enakan pakai tangan ."


Aska mulai memakan nasinya , karena kotak makan yang dipakainya cukup kecil , lumayan kesulitan juga saat ia coba memotong daging ayamnya .


" Sini ." Rena mengambil sendok dari tangan Aska , kemudian menaruhnya di meja .


" Kenapa ?"


" Makan pakai tangan aja lebih enak ."


" Pakai tangan ?" Sentak Aska ." Nggak mau kotor ."


Rena mengambil kotak makan Aska .


" Buka mulutnya ."


Aska menatapnya kaget .


" Emang anak kecil makan disuapin ."


" Udah deh Mas ,jangan cerewet ,buka mulutnya cepetan ."


Aska yang kaget , tapi langsung membuka mulutnya dan Rena dengan cepat menyuapkan nasi ke mulutnya .


" Lebih enak makan pakai tangan langsung kan ?" Tanya Rena .


Aska hanya diam sambil mengunyah makanan dalam mulutnya ,sambil membalas beberapa chat yang masuk ke ponselnya .


Suapannya berlanjut sampai kotak makannya benar-benar kosong .

__ADS_1


Setelah itu , Rena membuka kotak kecil lainnya . Ternyata salad buah yang juga dibawanya tadi .


Memberikannya ke Aska , lalu ia sendiri merapikan kotak makannya .


__ADS_2