
Rena sampai di apartemen sekitar pukul 22.00 .
Nico hanya mengantarnya sampai depan .Saat memasuki lobi , berkali-kali ia mengusap matanya .
Hari ini terasa sangat capek , baik tubuh maupun pikiran .
Ia bergegas ke lift dan langsung ke lantai 4 .
" Rena , baru pulang ?" Sarah menyapanya , yang baru keluar dari tempat Aska .
" Iya ,habis ketemu teman ."
" Oh gitu ." Sarah tersenyum , berusaha untuk tetap bersikap biasa meski ia tahu yang sebenarnya .
" Kamu habis keluar sama Aska ?" Tanya Rena kemudian .Mungkin ia tak menyadari pertanyaan nya terkesan menyelidik .
Melihat itu Sarah menatap raut wajahnya . Disana ia menemukan sedikit rasa tak suka .Apa mungkin Rena cemburu melihatnya baru saja keluar dari tempat Aska .
Kalau hanya sekedar berpura-pura untuk merebut cinta Aska ,seperti yang tadi didengarnya . Mana mungkin ekspresi wajahnya akan seperti ini .
Atau mungkin cinta itu telah tumbuh di hatinya . Yang jadi pertanyaan ,kenapa Rena tak mengakui saja siapa dirinya yang sebenarnya di depan Aska .
Itu cukup membuat penasaran ,tapi sesama wanita ia tahu mimik wajah yang tengah menatapnya itu terlihat sangat cemburu padanya .
" Nggak kok , tadi aku mampir aja ternyata Aska lagi nggak enak body ."
" Kenapa ?" Tanya Rena cemas .
" Mungkin kecapekan ,kalian lembur terus kan beberapa hari ini ,tadi cuma bilang agak pusing . Ya udah aku turun dulu yah ."
Setelah melihat Sarah masuk lift .Ada dorongan yang membuatnya ingin masuk ke tempat Aska ,tapi buru-buru ditepisnya .Akan mengganggu kalau memang dia sedang beristirahat .
Pada akhirnya ia memilih untuk tidak masuk .
Rena membuka pintu dan menaruh tas nya di sofa .
Setelah itu langsung berjalan ke kamar , mandi air hangat membuat tubuhnya sedikit lebih segar dan menghilangkan semua kepenatan yang dirasakannya .
Sedang menyisir rambut di kamar , didengarnya suara ponsel berdering .Sedikit berlari ia keluar ke ruang tamu dan mengambil ponsel di tasnya .
Nico .
Ia memilih tidak mengangkat , dengan begitu Nico pasti berpikir kalau sudah tertidur .
Sebuah chat masuk , kali ini dari Aska .
Ia pun langsung membukanya .Hanya menginfokan besok tidak ke kantor , untuk itu Aska pun mengijinkannya libur sebagai ganti lembur beberapa hari ini .
Apa Aska benar-benar sakit ,pikirnya . Membuat nya tak tenang .
__ADS_1
Apalagi saat membalas chat tadi , tak ada balasan ulang .
Tanpa menunggu lama , ia bergegas keluar dan menuju tempat Aska .
" Mas ." Diketuknya pintu pelan , tak ada sahutan .
Masih tak menyerah , dicobanya lagi . Baru panggilan ketiga , ada sahutan dari dalam .
" Ya ."
Tak lama pintu terbuka .
" Ada apa ?" Tanya Aska bingung .
Rena diam hanya menatapnya dan melihat wajah Aska yang nampak pucat , lalu disentuhnya kening Aska .Demamnya cukup tinggi .
" Mas ,kamu beneran sakit ?" Tanyanya balik .
" Nggak papa kok ."
" Nggak papa gimana ,badan kamu demam ini ." Cetus Rena lagi dan Aska masih bingung dengan sikap yang ditunjukkannya .
Masih belum lepas keterkejutannya , Rena menarik tangannya menerobos masuk dan langsung ke kamar .
" Kamu tiduran aja ." Perintahnya .
Tak lama ia kembali membawa kompresan .Setelah itu memaksa Aska untuk berbaring .
Ia mengambil handuk kecil tadi yang memang cuma ini yang ditemukan di dapur dan memerasnya , lalu melipatnya memanjang dan menaruhnya di kening Aska .
Aska masih heran dengan apa yang tiba-tiba terjadi , ia berniat mengambil handuk di keningnya , tapi Rena dengan cepat mencegahnya .
" Aku nggak papa ,udah kamu balik ke kamar aja , istirahat ini sudah malam ."
Rena menggeleng lalu berdiri , bukannya keluar kamar ia malah mematikan lampu dan hanya menyisakan lampu tidur yang masih menyala .
Setengah jam kemudian ...
Aska memang belum tertidur , akhirnya Rena mengambil handuk kompresannya karena pasti membuatnya tak nyaman untuk tidur .
" Masih pusing ?" Tanya Rena sambil mengusap keningnya ,demamnya sedikit turun .
" Sedikit ,nanti dibuat tidur juga sembuh . Udah kamu ke kamar sekarang ,istirahat ." Jawab Aska ,masih tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Rena sekarang .
Wajahnya juga terlihat lelah ,tapi ia sama sekali tak mau beranjak dari kamarnya .
Rena kembali menggeleng .
Aska menatapnya ." Kenapa ?" Tanyanya . Mungkin akan sangat risih kalau mereka berduaan dalam kondisi kamar gelap seperti ini , tapi ia sadar betul sampai saat ini status mereka masih suami istri dan Rena pun pasti menyadari hal itu .
__ADS_1
" Kamu tidur dulu ." Ucap Rena kemudian .
" Aku nggak bisa tidur kalau melihat kamu duduk disini ." Sela Aska ,berharap ini membuat Rena berubah pikiran dan mau kembali ke kamarnya .
" Ya udah kamu hadap sana tidurnya ." Balas Rena ,menunjuk ke arah jendela .
Ia menarik nafas panjang , kalau sudah begini harus bagaimana .Rasanya untuk memikirkan hal ini enggan , akan membuat kepalanya semakin pusing .
" Iya ." Akhirnya Aska mengalah dan mengubah posisi tidur membelakanginya ." Lima menit lagi kamu harus kembali ke kamar ." Lanjutnya .
Rena mengangguk setuju , lalu mematikan juga lampu tidur . Gelap menyelimuti dan hanya pantulan sinar dari jendela saja yang menerangi .
Meski lima menit berlalu , Rena masih diam disana .
Aska sendiri sebelumnya belum terlelap .Hanya masih memikirkan kenapa sikap Rena tiba-tiba berubah ,apa ini ada kaitannya dengan pertemuannya bersama Nico tadi .
Memikirkan itu membuatnya semakin tak nyaman .
Ia tahu mungkin Rena hanya akan berpura-pura seperti ini ,tapi sungguh jauh di lubuk hatinya merasa tak tega .
Matanya memang terpejam , tapi ia sepenuhnya masih terjaga .
Mereka melakukan pekerjaan yang sama selama beberapa hari dan hampir selalu pulang malam .Pasti akan sangat melelahkan juga bagi Rena sendiri . Sekarang ia malah memilih menemaninya disini daripada istirahat di kamarnya .
Tak mendengar suara ,apa mungkin Rena sudah keluar dari kamarnya , semoga saja begitu .
Ia menghela nafas pelan ,mencoba untuk tidur .
Tapi perkiraannya salah , saat merasakan sentuhan tangan . Ternyata Rena masih dibelakangnya .
Ia tak tahu posisi persisnya karena matanya terpejam .
Tetapi sentuhan itu dirasakannya nyata .
Ia merasakan sentuhan tangan Rena mengusap keningnya kemudian memijatnya pelan , tak cuma itu semua masih berlanjut .
Tangan hangat Rena masih juga coba meredakan sakitnya disana .Diurutnya pelan tengkuk ,bahu sampai punggungnya .
Tak bisa dipungkiri , ia mulai menikmati semua itu .Sama seperti tadi yang didapatnya waktu di kantor .
Segala pikiran masih terus berkecamuk di benaknya .Semua tentang Rena .
Tetapi kali ini , rasa simpatinya lebih besar dari segala amarah dan kekecewaan yang sudah diterimanya .
Hampir setengah jam berlalu ,matanya mulai berat .
Sentuhan dari Rena pun masih berlanjut , membuatnya semakin tak enak .
Sampai akhirnya ia benar-benar terlelap tanpa disadarinya .
__ADS_1