
Mereka masih menyelesaikan beberapa pekerjaan sampai waktu makan siang tiba . Rena tadi memang juga tak sempat masak . Untuk sarapan saja tadi hanya membuat roti bakar .
Siang ini , untuk makan mereka yang biasanya ia membawa bekal , sekarang tak ada apapun .
" Mas ,makan siang diluar aja ya ." Ajaknya .
Aska yang masih di depan laptop menatapnya sebentar ." Nggak ,nanti jam 1 ada tamu , pesan online aja biar cepat " Tolaknya .
Rena sedikit manyun , tapi tiba-tiba ia punya ide bagus ." Kita makan di kantin bawah aja ."
" Kantin ?" Aska kembali menatapnya heran ." Nggak mau ."
" Kenapa ?"
" Nggak papa ."
" Kelihatannya makanan disana enak-enak kok ."
" Males ."
Rena berdiri dan menghampiri Aska di mejanya .
Tangannya dengan cekatan mematikan laptop .
" Heiii ...." Protes Aska , ia sedang mengirimkan email tadi .
" Nanti dilanjutin , ayok ."
Rena menarik tangannya , dengan wajah kesal Aska berdiri .
Begitu diluar , mereka jalan sendiri- sendiri seperti biasa .Menuju lift ke lantai bawah .
Sampai di kantin yang cukup ramai , banyak yang terkejut melihat kemunculan Aska . Iya , ini pertama kali juga ia menginjakkan kaki disini .
Ia mengamati sekeliling dan tak menemukan satupun meja kosong .
" Penuh kan ."
Rena menatapnya sewot ." Kamu sih lama ." Sindirnya .
Aska melengos kesal .
Tiba-tiba beberapa laki-laki yang duduk di tengah ruangan berdiri dan menata meja kursi yang tadi agak berantakan .
Salah satu menghampiri mereka ." Pak Aska silahkan ." Ucapnya sambil tangan nya menunjuk ke arah meja kosong .
" Oh iya makasih ."
Aska berjalan lebih dulu , Rena mengikuti di belakangnya .
Kondisi kantin yang tadi cukup berisik , tiba-tiba menjadi hening .
Hanya terdengar suara samar-samar saja dari beberapa meja yang ada disudut .
" Mas , kamu makan apa ?"
" Terserah ."
" Mie ayam mau ?"
__ADS_1
Aska mengangguk .
" Ya udah , aku pesenin dulu ."
Aska memperhatikan langkah Rena yang menuju sudut kanan ruangan . Stan mie ayam terletak di paling ujung .
Cukup membuatnya tercekat saat dilihatnya dalam satu meja tak jauh dari stan mie ayam itu , seseorang yang dilihatnya menatap lekat ke arah Rena . Bahkan pandangannya tak berhenti sampai saat Rena tiba di stan yang dituju . Selesai memesan , lalu berniat kembali ke mejanya dan otomatis melewati meja itu .
Rena sendiri nampaknya tak memperhatikan , karena ia sambil menatap layar ponsel .
Dari kejauhan , Aska masih terus mengamati . Tak tahu kenapa tiba-tiba perasaannya tak enak .
Sepertinya perasaannya tepat sekali .
Rena yang masih terus sibuk dengan ponselnya ,rupanya tidak menyadari kalau seseorang yang tengah duduk di satu kursi dalam jarak yang sangat dekat , dengan sengaja menjulurkan kaki di depannya .
Aska berdiri dan berlari menghampiri .
Tetapi langkahnya tak secepat itu dan ..
"AAAHHHHHHH ..." Jeritnya .
Terkejut dan saat menyadari tubuhnya akan jatuh , tangan kanannya berusaha meraih meja disampingnya untuk menopang , tapi tangannya tak menjangkau membuat tubuhnya jatuh ke samping dan ...
JEDUG!!!!
Keningnya membentur sudut meja , yang membuat tubuhnya limbung .
Sempat dirasakan sesuatu menetes dari dahi dan juga hidungnya .
Ia terjatuh dan melihat samar-samar Aska menopang tubuhnya , setelah itu semua gelap .
Habis kau setelah ini , gumamnya penuh emosi .
Ia lantas sedikit berlari ke lift , beberapa karyawan nampak membantunya .
Sampai di depan ruangannya , Dian yang sedari tadi duduk di mejanya , langsung berdiri dan menghampiri .
" Ada apa Pak ?" Tanyanya panik , melihat Rena yang ada digendongannya dalam keadaan tak sadarkan diri . Keningnya nampak lebam dam mengeluarkan darah , begitu juga dengan hidungnya .
" Panggil dokter cepat ."
Aska segera masuk ke ruangannya , membaringkan Rena di sofa .
Ia lalu berdiri dan mengambil kotak obat dan segera kembali . Membersihkan darah yang membasahi wajah Rena dengan kapas .
" Pak ,sebentar lagi Dokter Iman datang ." Dian tergopoh-gopoh masuk .
" Iya ." Jawab Aska pelan .
" Ini Pak ." Dian mengambil minyak kayu putih dan memberikannya ke Aska .
" Makasih ."
Ia membuka penutupnya dan menciumkan ke hidung Rena .
Cukup lama tak ada reaksi .
" Permisi Pak biar saya bantu ." Dian mengambil minyak kayu putih dan membalurkan ke tangannya , lalu memijat tangan Rena .
__ADS_1
Aska sendiri membuka kancing atas baju Rena .
" Kamu bilang cepat kan tadi ?" Tanya Aska memastikan .
" Iya Pak , beliau ada di dekat sini kok , paling 10 menitan lagi sampai ."
" Mbak Rena ." Panggil Dian , merasakan ada gerakan di tangannya .
Aska segera menatap Rena yang terbaring di sampingnya .
" Ssshhhhh...." Rena nampak mendesis , matanya perlahan terbuka . Pandangannya masih seperti berputar-putar .
Ia berniat bangun , tapi Aska mencegahnya .
" Diam dulu , sebentar lagi dokter datang ."
Rena meringis kesakitan ,Aska mengusap keningnya .
" Pusing ?"
Rena mengangguk pelan .
Terdengar ketukan di pintu .Dian bergegas keluar .
Ternyata Dokter Iman .
" Pak Aska selamat siang ." Sapanya . Dokter Iman adalah dokter pribadi Papanya dulu .
" Siang ."
" Kenapa ini ?" Tanyanya menatap ke Rena .
" Terbentur meja tadi Dok ." Jawab Aska .
" Baik ,saya periksa dulu . "
Aska menunggu disana , melihat Dokter Iman memeriksa kondisi Rena , sementara Dian sudah berpamitan keluar .
Hampir 10 menitan , Dokter Iman juga menutup dengan perban luka di keningnya .
Setelah itu Dokter Iman nampak sibuk menuliskan di kertas resep .
" Gimana Dok ?" Tanya Aska tak sabar .
" Untuk pemeriksaan awal hanya cidera ringan ,tapi kalau memang masih terasa pusing yang berkepanjangan sebaiknya harus dilakukan pemeriksaan lebih detail lagi di rumah sakit ." Lalu memberikan resep itu ke Aska ." Sekarang sebaiknya Bu .."
" Rena ." Jawab Aska .
" Iya Bu Rena sebaiknya istirahat ,coba untuk tidur dulu biar sedikit tenang ."
" Iya baik Dok ."
Setelah dokter berpamitan .Aska menemani Rena sebentar , memastikan sampai terlelap .
Melihatnya sudah pulas . Aska berdiri , mengambil laptop di meja nya dan berjalan keluar .
Dian berdiri saat melihat bosnya itu mendekat .
" Kamu panggilkan Fika , saya tunggu di ruang meeting , sekarang ." Perintah Aska .
__ADS_1
Dian menatapnya kaget karena wajah Aska terlihat marah ." Baik Pak ." Jawabnya , sambil mengambil gagang telpon di depannya .