Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
Bab 10 : Jangan panggil kakak.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat part 10.


Sekitar 100 meter lagi keduanya sampai di kampus, Ara meminta berhenti, " Kak stop disini saja." dan Sagara memberhentikan mobil namun dirinya menatap Ara seolah bertanya, " Kenapa?"


Ara membuka seat belt lalu mengatakan terima kasih namun ketika hendak keluar dari dari mobil, tangannya dicekal oleh Sagara.


" Kenapa berhenti disini? Masih jauh bukan gerbang kampus belum lagi masuk ke dalamnya yang cukup jauh juga?"


Ara menunduk memainkan jari-jarinya dirinya tampak gugup mengatakannya jika dirinya takut ketahuan Alen namun seolah membaca isi kepala Ara, Sagara pun menebak, " Alen?"


Ara belum berani menatap Sagara dia hanya menganggukan kepalanya sedang Sagara hanya menghela nafas dengan kasar ia lupa jika keduanya sedang menyembunyikan hubungan dari Alen.


" Ya aku mengerti, jam berapa kamu selesai kuliah?"


Ara yang tadinya sibuk dengan jari-jarinya kini menatap kearah Sagara, " Biasanya hari pertama hanya pembagian jadwal dosen sama matkul saja."


" Berarti kamu bisa ke kantor nanti?"


" Ke kantor kak Sagara?"


Sagara menghela nafas dengan kasar, dirinya sebenarnya kesal jika Ara memanggilnya dengan sebutan kakak, Sagara langsung mendekat kearah Ara dan mencium Ara dengan menekan tengkuk Ara agar ciumannya dalam sedangkan Ara dirinya cukup syok mendapatkan perlakuan dari Sagara secara tiba-tiba.


Sagara menyelesaikan ciuman tersebut dan mengusap bibir Ara yang masih menempel saliva miliknya yang tertinggal, Ara hanya menatap Sagara dengan bingung.


“ Aku tidak suka kau memanggilku dengan kakak?”


Ara yang masih tidak mengerti dengan pembicaraan Sagara hanya memasang mimik bingung dan Sagara kembali mencium Ara namun hanya sekilas saja.


“ Kau tahu, jika kau memanggilku dengan sebutan kakak, aku seperti bercinta dengan adikku saja padahal adikku kan laki-laki.”


“ Jadi, aku harus memanggil apa?” tanya Ara bingung.


“ Sayang, honey or apapun asalkan jangan kakak, om…” Ucapan Sagara terhenti karena Ara langsung menjawab, “ Mas.”

__ADS_1


Sagara tersenyum sambil pura-pura berpikir, “ hmm notbad.”


Ara tersenyum, “ Oke kalau gitu aku pamit ya.” dan Sagara menganggukan kepalanya, “ Kabari aku jika sudah pulang ya kalau memang masih dibawah jam makan siang kau bisa ke kantorku.”


Ara hanya menjawab dengan tautan jari telunjuk dan jempol membentuk kata OK lalu Ara turun dari mobil dan menengok kearah kanan dan kiri, dirasa aman Ara baru melanjutkan langkahnya menuju ke dalam kampus sedangkan Sagara merasa lucu saja dengan Ara yang seperti kucing-kucingan hanya karena dia tak mau Alen tahu dan kini Sagara akan menuju ke kantornya.


Ara melangkahkan kakinya dengan lebar semoga saja tidak ada yang lihat namun sebuah tepukkan di bahunya membuat Ara terkejut.


“ Woy, gw panggilin malah tambah kenceng aja itu jalan, lagi dikejar debt collector lo ya.”


Itu Sita yang tadi memanggilnya, “ Kamu bikin aku kaget aja sih.”


Sita terawa melihat wajah Ara yang panik, “ Haha lo kira gw siapa? Alen?”


Ara hanya meringis mendengar yang dikatakan Sita membuat Sita mendengkus ke arah Ara, “ Heran gw kenapa sih lo kaya menghindar gitu? lo tau nggak dia neror gw nanyain lo dari jam lima pagi gila kali tuh orang ya segitunya sama lo, atau jangan-jangan..” Ucapan Sita menggantung membuat Ara penasaran.


“ Jangan-jangan apa?”


“ Jangan-jangan Alen suka lagi sama lo.”


“ Tapi Ra, kalo emang dia cuma anggap lo sahabat, dia nggak akan seprotek itu.”


Benar yang dikatakan Ara, bahkan Alen tak segan memberi pelajaran pria mana saja yang coba mendekatinya entah apa yang dilakukan Alen sehingga yang sedang dekat dengan Ara perlahan akan menjauh. Tapi Ara tidak mau baper karena Ara sadar diri jika dirinya sudah tidak layak untuk Alen.


Saat keduanya tengah berbincang, badan Sita terhuyung karena ada yang mendorongnya secara sengaja, Sita memekik dan melihat siapa pelakunya membuat Sita naik darah.


“ Eh B*ngs*t, lo nggak liat apa ini orang gede banget ada disini? lo kira gak sakit ditabrak badan lo yang udah ngalahin bulldozer?”


Pria yang sengaja menabrak Sita tadi hanya melotot tidak terima disamakan dengan bulldozer, “ Anj*ng emang lo jadi cewe mulut lo bener-bener nol attitude.”


“ Terus gw harus bilang apa buat perbuatan lo itu hah?”


Keduanya saling adu mulut, Ara yang berada ditengah menutup telinga dan memisahkan kalian, “ Udah kalian mau sampai kapan bertengkar kayak gitu? memangnya nggak malu dilihatin sama yang lain?”

__ADS_1


Sita dan Alen menatap kearah sekitar dan yang dikatakan oleh Ara benar keduanya menjadi bahan tontonan.


“ Ck, kalau aja nggak ada lo udah abis dia sama gw, inget gak akan gw mau jawab kalo lo tanya apa-apa soal Ara, Ra gw cabut gerah disini kayak di kolong tempat tidur.”


Sita pergi dan Ara merasa tidak enak dengan Sita sedang Alen hanya menatap datar ke arah Sita.


“ Sejak kapan lo jadi urakan gini? jarang balik ke kost, kayaknya semenjak lo main sama itu orang, kelakuan lo tambah nggak bener coba gw tanya sama lo, semalam lo tidur dimana?”


Ara terkejut dengan yang dikatakan oleh Alen, tidak mungkin bukan jika dia menjawab pertanyaan Alen dengan jujur jika dirinya jarang pulang karena disuruh menemani Sagara di apartemennya?


“ A..ku ti…dur di tempatnya Sita ya di tempatnya Sita.”


“ Emang ngapain aja sih, sampai nggak bisa balik ke kost? lo kan bisa telepon gw kalau emang takut buat balik gw pasti jemput kok, jujur aja ya Ra gw nggak suka lo temenan sama dia?”


“ Kenapa?” Tanya Ara dengan nada tidak suka.


“ Pasti lo tahu apa alasan gw? oke kalau lo nggak tahu gw kasih tau, banyak yang bilang Sita anak yang nggak bener, dia suka jadi cewek panggilan dan banyak yang udah lihat Sita lagi di hotel sama om-om dan sejak lo temenan sama dia juga gw ngerasa lo memberi jarak sama gw dan jujur gw nggak suka, gw suka Ara yang dulu yang selalu ngerepotin gw karena apapun yang terjadi, lo itu prioritas gw.”


“ Dan kamu percaya sama apa yang beredar luas?”


“ Iyalah, sekarang lo pikir, dia udah dibuang sama keluarganya terus dia bisa kuliah dan hidup dari mana? kerja? lo tahu gimana mahalnya kuliah disini dan lihat gaya hidupnya dia yang serba new look ya wajar dong kalo asumsi yang beredar diluaran sana pada percaya?”


Ara memang tak menampik apa yang dikatakan Alen hanya saja dia tak suka jika Alen mengatakan dirinya menyalahkan Sita meski benar namun Ara kecewa.


“ Jujur aku kecewa dengan yang dikatakan kamu, secara nggak lanngsung kamu juga nuduh aku.”


“ Gw nggak nuduh lo Ra.”


“ Apa bedanya aku yang sekarang dengan Sita? Sita dibuang keluarganya begitupun juga dengan aku, dan aku bisa kuliah kamu sadar ga kalau aku nggak beda jauh sama nasib Sita?”


“ Lo beda Ra, lo baru mengalami hal ini belum lama sedangkan dia? oh ayolah realistis aja Ra.”


Ara hanya menengadahkan pandangan ke atas setelah itu dia mencoba menatap Alen, “ Maaf aku duluan.”

__ADS_1


Ara berjalan dengan cepat dan merasa Ara marah padanya Alen mengejar Ara sambil memanggil dirinya namun Ara masih tetap saja berjalan, Alen menyerah dia akan membiarkan Ara tenang dulu sebelum kembali bertemu dan meminta maaf.


To be continued


__ADS_2