
Sugar Baby Kakak Sahabat part 18.
Seorang wanita tengah duduk di taman sambil ngemut lolipop rasa stroberi, dia sambil termenung melihat yang kemarin tak sengaja ia temukan di bazar malam taman menteng.
" Kayaknya bener deh tapi itu kak Alen bukan ya?"
Dia adalah Jean, wanita yang terobsesi dengan Alen, dirinya masih menikmati permen tersebut sampai tak sengaja melihat siluet seorang pria yang begitu dikenalnya menghampiri dirinya.
" Woy kak Alen."
Alen yang masih menatap ke depan, mendengar ada yang memanggilnya pun menoleh ke arah sumber suara.
Jean melambaikan tangannya kebetulan sekali dia sedang membutuhkan Jean untuk masalah melamar pekerjaan kemarin.
" Gimana, diterima gak CV gw?"
" Apa sih yang gak buat Lo kak, tapi Lo diminta hari ini ke kantor bisa ga balik kuliah?"
" Sip, aman."
Alen duduk disebelah Jean sambil memainkan ponselnya menanyakan dimana keberadaan Ara, Jean mendengus tapi dia ingat mengenai kejadian kemarin.
" Emm kak, gw boleh nanya nggak sama Lo?"
" Tanya apaan?"
" Ck santai kenapa sih jawabnya jangan ngegas."
Alen menghela nafas dengan kasar dan menghadap ke arah Jean dengan senyum dipaksakan dia harus berbuat baik pada Jean karena sudah menolong nya mencari pekerjaan."
" Ada apa Jean cantik."
Jika wanita lain dipanggil cantik klepek-klepek, tidak berlaku untuk Jean yang begitu gelay mendengar dirinya dibilang cantik begitu.
" Eeeuuu geli banget sumpah."
" Ck, lagian tadi bilang gw ngegas, gw bilang cantik malah geli gimana sih Lo, nggak jelas, Lo mau tanya apaan?"
" Kak Ara udah punya pacar?"
Alen yang sedang memainkan ponselnya seketika menghentikan aktivitasnya menatap Jean beberapa detik lalu memainkan ponselnya lagi, " Nggak dan nggak akan punya?"
" Kok bisa yakin gitu?"
__ADS_1
Bagaimana tidak yakin jika ada yang mendekati Ara saja Alen langsung bergerak untuk membentang jarak agar keduanya tidak lagi dekat, " Ya karena Ara cuma punya gw dan selamanya bakal gitu."
" Hilih picicif li." Jean mendengus kesal mendengar yang dikatakan oleh Jean namun sedikit banyak hatinya langsung bertanya kepada dirinya sendiri kenapa Jean bertanya seperti itu tak ada asap kalau tidak ada api bukan?
" Kenapa Lo tanya gitu?"
Jean menatap Alen tidak mungkin Jean mengatakan hal yang dirinya belum sepenuhnya yakin jika itu benar Ara, sepertinya Jean menang harus mencari tahu jika itu benar Ara atau bukan.
" Emmm ya biasalah dia itu kan wanita hebat jadi banyak yang mau sama kak Ara temen seangkatan gw." Bohong Jean.
" Ckk bilangin sama temen-temen Lo itu buat jangan pernah mimpi buat jadi pacarnya Ara karena Ara cuma punya gw."
Jean hanya menghela nafas dengan kasar, " Kak Alen yang ganteng ngalahin kegantengan Sam Smith, astaga Lo itu calon imam gw yang disiapkan tuhan jadi Lo harusnya cariin kak Ara pacar atau whatever lah yang bisa ngejagain kak Ara bukan malah kaya gitu lagian nih ya emang kak Ara mau sama Lo?"
Ck itu masalahnya Ara tidak pernah menangkap sinyal yang Alen berikan untuknya mungkin Ara mikirnya jika Alen ini playboy, maybe karena Alen seringkali gonta-ganti pacar padahal itu hanya pengalihan saja biar Ara menegurnya atau Ara menasehatinya dan Alen memberikan syarat jika Ara mau jadi kekasihnya maka Alen akan berhenti namun justru ekspektasinya sepertinya terlalu besar.
Keduanya memutuskan untuk ke tempat Tante Jean dimana Alen akan melamar kerja, CV sudah dikirim dan hari ini rencananya interview dan sebagainya saja.
" Gw nggak bawa mobil, ada motor doang."
Si merah terang dengan tempat duduk dibelakang tinggi, terpampang nyata di pelataran parkiran kampus, Jean sih sebenarnya malas kalo naik motor itu merosot terus tapi tak apalah dia rela naik ojol demi bisa nebeng dengan Alen.
" Gw ikut ya kak, nggak bawa mobil."
Alen melajukan motornya setelah Jean naik, tidak pakai helm karena memang nggak ada rencana mau ajak Jean bareng akhirnya Alen mencari jalan tikus supaya menghindari razia polisi yang lagi gencar-gencarnya.
Tak sampai tiga puluh menit, keduanya sampai, sebuah ruko tiga lantai dengan aktifitas yang tak terlalu kentara mengingat sudah siang menjelang sore keduanya datang dan memang sebagian orang sudah mengenal Jean menyapa gadis ceria tersebut.
" Woy bang."
" Eh Jean, nyari Bu Sari?" Dan dianggukan oleh Jean.
" Di dalam tuh, masuk aja dari tadi juga kayaknya nungguin Lo."
" Oke thanks bang Alex."
" Sip."
Lengan Alen ditarik oleh sari menuju lantai tiga, setelah diketuk dan ada jawaban dari dalam, keduanya membuka pintu."
" Sayang."
Mayang Sari, atau biasa dipanggil Sari adalah adik dari papanya Jean yang memiliki usaha dibidang advertising, Sari memang janda tak punya anak sehingga sangat menyayangi Jean yang notabene adalah keponakan perempuan satu-satunya.
__ADS_1
Jean menghampiri Sari yang tengah merentangkan kedua tangannya, keduanya berpelukan layaknya Teletubbies dan Alen hanya menatap keduanya dengan cengo.
" Nggak salah liat gw?" Gumam Alen dalam hati.
" Teman kamu jadi kesini?"
" Jadi dong tan, tuh orangnya."
Sari menatap ke arah Alen, dan Alen hanya menganggukan kepalanya, " Alen Tante."
" Wah pantas saja Jean yang Tante kira nggak suka cowok karena tomboy tiba-tiba jatuh cinta sama sosok pria ternyata memang seunggul ini bibitnya ya."
Jean bukannya malu hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya sedangkan Alen hanya bingung dengan yang dikatakan oleh tante Sari.
Keduanya membicarakan mengenai dari mekanisme kerja sampai sistem gaji, dan apa saja yang harus Alen lakukan.
" Karena kamu kelas reguler, jadi tante mau masukin kamu ke part time dengan gaji seminggu sekali, libur hari minggu tapi kalo kerjaan banyak ya kamu harus masuk untuk lembur, masuk jam tiga sore pulang jam sebelas malam, sanggupkan?"
" Aman tan."
" Lalu, sementara nggak ada kontrak karena kamu jatuhnya pegawai lepas, maksudnya kamu masuk dibayar nggak masuk ya nggak dibayar."
" Oke tan."
" Sip, selamat bergabung ya Alen semoga betah."
" Tan, aku kalo main kesini sering berarti nggak masalah dong apalagi kak Alen sekarang kerja disini wah aman banget dong ya."
Alen melotot ke arah Jean namun Jean nampak cuek sedangkan Sari hanya menggelengkan kepalanya saja.
" Kalau itu kamu bicara sama Monika."
Ah Monika, nama ibu Jean atau lebih tepatnya ibu sambung Jeanista, wanita yang lima tahun dinikahi oleh papa Jean itu, usianya hanya berbeda beberapa bulan dengan dirinya yang lebih cocok menjadi kakak Jean bukan mamanya.
Salah satu alasan Jean lebih dekat dengan Sari daripada Monika adalah meski Monika baik, namun entah seperti ada jarak yang membentang, pernah Jean meminta sang ayah untuk membelikan apart namun ditolak mentah-mentah karena Jean adalah putri tunggal dari keluarga besar papa Jean yang mayoritas anaknya adalah laki-laki jadi Jean memang sedikit dimanja oleh keluarga besarnya.
Monika sendiri memang belum memiliki anak atau mungkin menganut sistem childfree karena memang ayahnya mencari istri baru hanya untuk kebutuhan biologis dan dipamer di acara kegiatan penting saja.
Ibunya Jean? Tidak ada yang tahu terakhir mereka bertengkar hebat delapan tahun lalu dan berakhir bercerai karena memang papa Jean yang sibuk dengan pekerjaan sedangkan istri haus akan belaian suami memilih affair dengan salah satu bodyguard pribadinya.
Jeanista adalah anak pengusaha batu bara di Kalimantan namun sikap sederhananya membuat tak ada yang tahu jika Jean adalah anak sultan.
To be continued
__ADS_1
Sekarang santai-santai dulu ya, next kita mulai konflik 🔥🔥🔥