Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 Bab 10 : Meet up with old friend.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 10.


Sagara datang ke sebuah perusahaan tempat dimana Satria bekerja bukan sedang berada dikantor yang sama dengan Ara namun di perusahaan lain yang masih satu wilayah di Jakarta tahu dari salah satu orang yang disuruh mencari keberadaan Satria.


Wajahnya emosi menggebu menjadi satu sejujurnya Sagara tidak menyangka jika selama ini Satria yang melindungi Ara jadi dugaannya tidak sepenuhnya salah jika Ara memang ada hubungan dengan Satria.


Sagara langsung saja menghampiri ruang kerja tanpa bertanya kepada receptionist.


Naik ke lantai teratas, Sagara menuju sebuah ruang dimana tertera tulisan CEO, ada sekretaris wanita yang sibuk dengan pekerjaannya.


" Pak Satria ada?"


" Ada bapak siapa? Sudah buat janji?"


Sagara tidak menjawab pertanyaan Niken, memilih masuk dan Niken yang tahu jika ada yang tidak beres pun mengikuti Sagara.


" Pak… pak …"


Sagara menerobos ruang kerja Satria dia sedang mengerjakan pekerjaan dan beberapa berkas.


Satria terkejut dengan kedatangan Sagara namun belum selesai dengan keterkejutannya Sagara menarik leher kerah Satria dan meninjunya hingga tersungkur.


Bugh…


Satria tersungkur, Niken hendak memanggil keamanan namun ditahan oleh Satria.


" Bangun Lo bangsat."


Satria memegang sudut bibirnya dan menyeka ada darah segar akibat pukulan tersebut, Satria tersenyum remeh sambil bangkit.


Sagara sepertinya sudah tahu mengenai Annara.


" Bangs*t Lo sial*n jadi selama ini Lo yang menyembunyikan Ara?"


Pukulan demi pukulan dia layangkan namun untuk kedua kalinya Satria melawan karena dia tahu masalah yang sedang berada diantara keduanya.


Satria tak segan membalas pukulan Sagara dan keduanya dengan sengit berkelahi hingga keduanya tersungkur sama-sama tidak bisa bangkit lagi.


" Jadi benar Lo yang ambil Ara dari gw?" Ucap Sagara sambil nafasnya tersengal.


" Bukan gw yang ambil Ara tapi takdir karena nggak sengaja gw temuin Ara dalam kondisi mengenaskan."


" Tau apa Lo?"


" Yang gw tau, Lo penjahat yang harus dibasmi."

__ADS_1


Keduanya saling menatap dengan tajam aura sekitar memanas bahkan Niken sudah memanggil keamanan yang masih memandang keduanya dengan khawatir.


Sedangkan Ara, dia menahan nafas bertemu sahabatnya Alen yang ternyata pemilik Al Design salah satu perusahaan digital maker untuk pembuatan iklan dan juga design.


Begitu juga dengan Alen, dia menahan nafas ketika bertemu Ara, namun keduanya bisa menguasai diri karena tidak ingin teman-teman mereka curiga.


" Oke pak kenalkan ini Bu Ara yang menggantikan Bu Natalie yang resign dia juga head creative projects sebelumnya di cabang Bandung dan sekarang ditarik ke pusat."


Bandung? Jadi selama ini Ara di Bandung beberapa kali Alen mengumpat karena tidak mengecek area sana tidak mungkin memang tidak berjodoh bahkan Alen sempat mencari di daerah kabupatennya namun tetap tidak bisa menemukan.


Alen dan Ara saling berjabat tangan keduanya menatap satu sama lain seperti mengalirkan kerinduan satu sama lainnya.


" Em Ra sudah cukup salamannya."


" Ah maaf."


Kedua team mulai mengerjakan Project masing-masing, Ara mencoba fokus pada pekerjaan tapi tidak dengan Alen.


Hingga keduanya menyelesaikan pekerjaan diskusi dalam waktu hampir dua jam.


" Oke selesai nanti kita ada bahas lanjutannya next time ya tapi kalau bisa kalian yang ke perusahaan kami." Ucap Nania kepada semua orang.


" Oke kita makan siang kalau begitu."


" Maaf aku duluan ya kayaknya ada yang aku lupa dikerjain."


" Ra, nanti kan bisa kita kerjain lagian bukannya udah selesai ya pekerjaan yang dikasih tim sebelah?" Karena tadi Ara sudah bilang ada pekerjaan dari team 2 dan katanya sudah selesai.


" Ada satu yang ketinggalan mereka menunggu kalian lanjut saja makan gapapa dan maaf saya permisi duluan ya."


Ara buru-buru melangkah menuju keluar namun saat sudah berada di depan restoran, tangan Ara ditahan seseorang dari belakang.


" Mau kemana?"


Suara itu.


Batin Ara merapalkan doa agar tidak bertatapan kembali dengan Alen namun justru pria tersebut menghampiri nya sial.


Ara tak melihat Alen belum sanggup Ara menatap Alen ada banyak rasa bersalah di relung hatinya masih setia menatap menatap kearah depan.


Alen juga masih setia menahan tangan Ara, hatinya cukup gamang dan senang entahlah campur aduk menjadi satu.


" Apa kabar."


Satu kalimat dua kata yang hanya mampu keluar dari mulutnya itu pun berat karena tertahan di kerongkongan.

__ADS_1


" Ba…baik."


Alen melepas tangan Ara, dia menghadap kearah dimana Ara berada melangkah dan menatap wajah Ara.


Ada banyak yang berubah dari Ara, dulu wajah itu yang sangat dirinya rindukan dan dirinya pikirkan juga rasa bersalah pun bersarang begitu besar.


" Bisa kita bicara sebentar."


" Maaf…" ucapannya tertahan oleh Ara karena Alen tahu Ara ingin menolak.


" Aku mohon please."


Mau tidak mau Ara mengikuti Alen melangkah bukan di restoran ini karena ada banyak pasang mata yang menatap mereka apalagi rekan keduanya yang belum pergi dari tempat tersebut.


Alen mengajak Ara ke sebuah kafe di dekat saja, sedikit sepi dan intimate.


Keduanya terdiam beberapa saat, Alen dengan tatapan sendu dan Ara dengan menunduk tak mampu menatap Alen.


" Maaf."


Ara menatap ke arah Alen satu kata yang mampu membuat atensi Ara menatap kedepan kenapa Alen meminta maaf kepadanya?


" Aku tahu pasti berat perjuanganmu yang menahan rasa sakit itu terlalu lama, menahan rasa sakit akibat ulah pria itu, dan menahan rasa segalanya yang membuat kamu memilih pergi dari kami, aku tidak akan tanya kenapa tapi aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri karena aku rasa aku salah satu penyumbang rasa sakit itu ke kamu, sekali lagi aku minta maaf."


Ara mengeluarkan air matanya mendengar yang dikatakan Alen, dia terisak mengeluarkan air mata yang tak dapat ditahannya.


" A…aku yang seharusnya minta maaf bukan kamu Alen."


Alen tertawa miris," Jujur saja aku sendiri juga heran kenapa orang disekitar aku sendiri yang menyebabkan kamu pergi."


Ara semakin histeris dia sudah tidak bisa menahan apapun ingin sekali memeluk sahabatnya itu tapi dia tidak memberanikan diri lima tahun tidak mungkin Alen masih sendiri bukan?


Ada hati yang harus dijaga.


Keduanya masih mencerna atas apa yang terjadi masih dibalut dalam keheningan namun atensi keduanya terpecah suara yang keduanya kenal memanggil salah satu diantaranya.


" Alen."


Alen terkejut akan kedatangan seseorang yang tidak terduga sedang Ara sedang mengingat siapa wanita yang sedang menatap keduanya.


To be continued.


Guys maaf kemarin aku nggak bisa up karena suatu hal, jadi aku up satu dulu yakk..


Happy reading all.

__ADS_1


__ADS_2