
Sugar Baby Kakak Sahabat Part 25.
Permainan singkat namun memancing adrenalin adalah satu kalimat yang dikeluarkan Sagara setelah bermain di tempat berbeda yaitu didalam mobil dan Ara yang tadi sempat berpenampilan cukup berantakan kini sudah merapikannya kembali hanya saja karena secara singkat jadi tidak serapi tadi.
Keduanya sudah sampai di area resort dengan ukuran cukup besar dan luas, pembangunannya sekitar lima puluh persen itu artinya masih banyak yang harus dibenahi.
" Wah besar banget."
Sagara yang melihat tingkah Ara yang begitu menggemaskan hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, kacamata hitam yang tadi digunakan di mobil dilepas olehnya dan memandang si cantik sedang menyisir area resort.
“ Kamu suka? ini adalah resort yang sedang perusahaan aku bangun karena kebetulan aku belum ada resort di Bali makanya sekarang sedang aku bangun.”
Mendengar hal tersebut, Ara tidak bisa membayangkan berapa banyak uang Sagara yang masuk setiap harinya, Alen saja bisa hidup sangat layak apalagi Sagara yang notabene adalah pemimpin perusahaan dan jangan lupakan jika Sagara entah sudah berapa banyak memberikan Ara uang dan juga kartu kredit limit secara cuma-cuma.
" Selamat pagi pak Sagara wah kelihatannya segar sekali, pasti habis ngecas dulu ya?" Pria dengan perawakan sedikit besar dan kokoh jangan lupakan kumis tebal yang menghiasi wajahnya menggunakan kacamata dia adalah pak Wardana salah satu penanggung jawab pembangunan resort sudah lima tahun bekerja sama dengan perusahaan Sagara.
“ Pagi Pak Wardana, keadaan saya baik bagaimana dengan anda sendiri?”
Wardana yang ditanya hanya tersenyum sumringah, “ Ya anda tahu bagaimana saya bukan? sepertinya pak Sagara sudah mendapat amunisi sebelum datang kesini bukan begitu? saya tahu betul bagaimana peringai anda karena sebagai sesama pemain tentu hal seperti ini sudah menjadi rahasia umum bukan begitu?”
Bukan tanpa alasan Wardana mengatakan hal tersebut, sekilas melihat Ara yang tak terlalu jauh dari mereka, bercak merah disekitar leh*r jenjangnya sudah tampak dan Wardana tahu berasal darimana warna tersebut, ditambah biasanya Sagara jika menginap di Bali minta disiapkan seorang wanita untuk menemani malamnya namun ketika Wardana mendapatkan kabar dari asisten pribadinya jika Sagara sudah tiba kemarin, sedikit terkejut karena biasanya sehari sebelum dia akan memesannya, Wardana yang sudah hafal bagaimana Sagara pun sudah mempersiapkan.
Sagara hanya tersenyum mendapatkan kalimat tersebut, tak masalah karena memang hal ini sudah konsumsi umum untuk pebisnis ulung maupun menengah karena bagi mereka, ditengah himpitan pekerjaan harus ada stimulus dan salah satunya adalah bercinta.
“ Dapat barang oke dimana pak? boleh kali saya icip sebentar.”
Ucapan Wardana barusan membuat wajah Sagara memerah, tak terima dengan yang dikatakan oleh Wardana, “ Anda jaga batasan, dia bukan wanita yang sama seperti yang anda siapkan biasanya.”
“ Tapi tetap menjadi pemuas anda bukan? oh ayolah kita sudah bekerja sama bukan sehari-dua hari yang tidak tahu apapun saya pun tahu seperti apa anda, tapi kalau memang oke, boleh lah saya juga tertarik sepertinya dengan wanita itu.”
__ADS_1
Sagara yang kesal menarik kerah baju Wardana, dan Wardana sendiri sebenarnya tidak siap hanya saja berusaha santai dengan yang dilakukan oleh Sagara.
“ Jaga batasan atau pekerjaan kita cukup sampai disini, saya ingatkan sekali lagi jika dia wanita yang berbeda dari yang biasa anda siapkan.”
Wardana mengangkat kedua tangannya sebagai permohonan maaf da Sagara melepaskan cengkraman, Keduanya melanjutkan pekerjaan meski sedikit tegang namun Wardana sesekali melirik Ara yang masih sibuk dengan ponsel sambil mengabadikan diri, Wardana tersenyum misterius.
“ Oke kalau begitu lanjutkan saja, Ara kesini kita keliling sebentar oke habis itu kita lanjut.”
Ara tersenyum senang dan menautkan dua jari telunjuk dan jempol sebagai tanda jawaban, Ara mengikuti Wardana dan Sagara yang sesekali membahas proyek pembangunan.
“ Mas.”
Sagara yang tahu jika itu suara Ara menoleh kebelakang, “ Kenapa?”
“ Aku mau ketoilet sebentar ya.”
“ Oke.”
Ara pergi meninggalkan Sagara dan Wardana, Wardana masih menatap Ara yang menjauh dari mereka, dirinya tersenyum dan mengambil ponsel di saku celananya, “ Sebentar ya pak Sagara saya ada telepon dulu.”
Anggukan kepala sebagai jawaban dan Sagara memilih memainkan ponsel ketika Wardana menjauh, Wardana sendiri pura-pura menelepon sambil sesekali menatap Sagara apakah dia mengikutinya dari belakang atau tidak, karena dirasa aman Wardana memasukkan ponselnya kembali dan melangkah menuju kamar mandi dimana Ara berada.
Ara masih membuang hajatnya di toilet, setelah itu dirinya memperbaiki sedikit penampilannya namun begitu terkejut siapa yang datang dari belakang sambil mengunci toilet kamar mandi.
“ Hai manis.”
-
Di Jakarta Alen ada kelas, namun pikirannya tidak memperhatikan dosen yang sedang menyampaikan materi melainkan melalang buana mengenai Ara, ya sejak kemarin Ara tidak bisa dihubungi padahal ketika itu Alen sudah meminta Ara untuk jangan pernah mematikan ponsel meski Alen lupa apakah Aranya menyanggupi permintaannya atau tidak namun yang jelas biasanya Ara akan mengikuti permintaannya.
__ADS_1
“ Kalau gw pikir kayaknya semenjak lo terusir dari rumah tante Dian, banyak hal yang nggak gw ketahui dari lo dan bahkan lo juga seperti berjarak sama gw.”
Dosen selesai menerangkan dan sedang melakukan sesi tanya jawab, “ Baiklah saya akan tunjuk satu mahasiswa disini untuk meringkas sedikit apa yang saya sampaikan dan Alen.”
Alen yang masih sibuk dengan pemikirannya tak menjawab, dan teman sebelahnya Leo menyenggol Alen, “ Woy.”
Alen terkejut, “ Apaan sih.”
“ Itu lo dipanggil bu Alika.”
Alen menatap dosen wanita yang masih mengenakan kacamata bacanya itu, “ Ya bu.”
“ Coba kamu jelaskan sedikit ringkasan materi yang tadi saya sampaikan.”
Alen langsung bingung, jangankan memperhatikan, mendengarkan dosennya bicara saja tidak Alen yang bingung mencoba tanya Leo dan Rega teman sebelah kanan dan kirinya dengan kode, sedangkan yang ditanya hanya mengedikkan bahunya saja jika seperti ini Alen harus mengakui jika dirinya tidak mengikuti materi dengan baik, “ Maaf bu.”
Semua mahasiswa di kelas menyoraki Alen yang ketahuan tidak mengikuti kelas dengan baik, dan Bu Alika langsung meminta Alen untuk mengerjakan tugas power point sebagai hukuman.
Di Bali, Suasana mencekam Ara yang dihadang oleh Wardana yang tengah tersenyum miring, kunci kamar mandi disimpannya di dalam saku dan Wardana mendekat sambil Ara lalu mengkraml dagu Ara agar sedikit lebih tinggi, “ Selera Sagara memang selalu oke, tapi sayang dia tidak mau sharing kamu sama saya, jika seperti ini sepertinya sharing disini oke juga.”
Ara mencoba memberontak dan teriak namun ditahan oleh lengan Wardana dan tubuh Ara digiring menuju sisi sudut kamar mandi, Wardana gelap mata dia ingin mencoba mencicipi tub*h Ara yang kata Sagara berbeda dari biasanya.
Ketika tangannya mulai mencoba mengabsen tubuh Ara, pintu kamar mandi dibuka paksa oleh seseorang yang wajahnya sudah merah padam menahan amarah dan jangan lupakan kepalan tangannya yang begitu kuat sehingga kuku jarinya memutih.
Brakk..
“ Wardana, Baj*ngan kau.”
To be Continued.
__ADS_1