
Alen memaksakan diri mengajak Ara untuk ke kost Ara dengan alasan dirinya masih enggan untuk pulang kerumah, bagi Alen rumah untuk saat ini adalah Ara, Ara selalu ada ketika dirinya jatuh karena hanya Ara yang Alen punya, kakaknya sudah Alen anggap berkhianat karena telah menyembunyikan fakta yang selama ini tak pernah Alen pikirkan.
Ara hanya menghela nafas, memikirkan cara bagaimana agar Alen untuk pulang karena Sagara hanya menunda pertemuannya bukan membatalkannya jika saja Sagara berbesar hati membatalkan, maka Ara akan senang menemani Alen disaat terpuruk tak masalah jika Alen kemarin tidak ada untuk dirinya disaat Ara sedang berada di titik terendahnya toh selama ini Alen selalu ada untuknya selalu memprioritaskan dirinya jadi bagi Ara itu cukup menjadi alasan Ara tetap bersama Alen dalam kondisi apapun.
To : DS
Alen masih sama aku, dia nggak mau pulang, kalo aku kasih dia pergi malah nggak pulang kerumah suasananya sedang kacau.
Sengaja Ara menamakan DS, artinya Darmawan Sagara karena Alen terkadang bisa jadi tukang Cepu dengan memeriksa ponsel hanya memastikan jika Ara tidak memiliki rahasia apapun maupun kekasih yang tidak diketahui.
Ya memang se-protek itu Alen kepada Ara, kadang Ara bingung pada Alen sebenarnya Alen itu menganggap Ara apa sih? Melarang dirinya menjalin hubungan dengan pria lain namun dia sendiri memiliki kekasih yang sudah tak terhitung berapa barisan para mantannya itu.
Ara sendiri? Jangankan dekat dengan pria lain, baru mengenal saja radar Alen yang seolah tahu dan kuat langsung datang dan merangkul Ara dengan kata-kata, " Jangan pacaran sama Ara, bodyguard nya serem banget udah gitu bokap nyokapnya suka nyulik orang yang gak bertanggung jawab sama anaknya ngalahin jaman pak Harto."
Sinting memang.
From : DS
Keluarlah, aku mengirim sesuatu melalui orangku.
Alen saat ini masih membersihkan diri di kamar mandi tanpa mengganti baju, kesempatan Ara untuk keluar gerbang melihat sebuah mobil hitam sedang menunggu.
Ara mengetuk pintu dan dua buah botol obat dengan nama masing-masing disana.
Tanpa banyak kata pria tersebut pergi, Ara yang masih ingin banyak bertanya mengenai obat apa akhirnya merogoh ponselnya dan bertanya kepada Sagara dan jawabannya cukup membuat Ara merasa Dejavu.
From : DS
Yang A adalah vitamin Alen dan yang B obat kontrasepsi.
Ara merutuki dirinya sendiri padahal Ara juga sudah berencana untuk membeli obat tersebut namun apalah daya sudah lah terima saja ingatkan Ara jika disini dirinya sudah dibeli oleh Sagara. Ara masuk kedalam melihat Alen sudah selesai mandi, Ara tadi sudah sempat menyiapkan minuman hangat hanya saja masih diletakkan di nakas.
Tanpa Alen tahu, Ara memberikan obat tersebut dan tanpa berpikir aneh, karena dirinya hanya ingin Alen lebih baik.
" Minum dulu Len."
Alen tersenyum dan meminumnya, rasanya sedikit lebih baik. Ara saat ini masih termenung dengan apa yang dialami Alen, dirinya nanti harus bertanya kepada Sagara yang sebenarnya.
" Hei bengong aja, nanti kesambet Lo, nggak mau tidur nih?"
Ara termegap, dan menampilkan gigi putihnya menghilangkan rasa gugup.
" Ra."
Alen merasakan kantuk padahal tadi dirinya masih begitu segar.
" Hmm, kenapa Len? Butuh sesuatu?"
" Kalau gw kerja aja gimana?"
Alen membaringkan tubuhnya mencoba sadar namun entah kenapa tubuhnya sangat mengantuk dan lelah, kesadarannya tak sampai setengahnya.
" Kerja? Di perusahaan kakak kamu?"
Alen berdecak, " Ya nggak lah gw ngerasa dianggap childish, anak kecil yang seolah gw belum boleh tahu masalah terbesar di keluarga gw, dan jujur gw nggak terima."
" Lalu?"
__ADS_1
" Gw mau kerja diluar dimana aja asal gw bisa dapat uang dari hasil keringat gw sendiri dan buktiin kalo gw bukan anak kecil lagi."
Ara menghela nafas, Alen harus diberi pandangan lain agar berpikir lagi untuk mencari pekerjaan, " boleh aku berpendapat?"
" Hmm." Alen hanya menjawab dengan gumaman saja.
" Pemikiran kami salah, dewasa bukan berarti kamu bisa cari uang dengan keringat kami sendiri, dewasa adalah bisa menyikapi segala sesuatunya dengan kepala dingin dan juga mengatasi tanpa melibatkan emosi dan juga amarah jadi kamu nggak perlu membuktikan apapun untuk dikatakan dewasa, cukup menyikapi tanpa amarah dan juga emosi."
Alen tak menjawab, justru suara dengkuran halus menjadi tanda jika Alen sudah lelap dengan mimpinya dan Ara menghela nafas dengan kasar, memandang Alen yang sudah terlelap, Ara pun tersenyum.
" Hmmm good night Alen, maaf aku sudah mengecewakanmu."
Ara tak berpikir jika obat yang diberikan rupanya obat tidur agar Ara bisa datang menemui Sagara.
Sagara yang masih menunggu di seberang kost Ara yang sudah sepi melihat pergelangan tangannya, harusnya Alen sudah terlelap karena Sagara memberikan obat tidur dosis cukup tinggi.
Sagara menelepon Ara, dan Ara yang sedang memberikan Alen bantal pun melihat siapa yang menghubunginya malam-malam dan rupanya Sagara.
" Ya kak."
" Alen sudah tidur?"
" Tidur?"
" Kamu kasih obat yang tadi aku kasih kan?"
" Obat? Itu bukannya vitamin kak?"
" Ck katakan saja apa dia sudah tidur?"
" Bersiaplah, aku sudah tunggu kamu didepan kost."
" Hah? Ara mengintip jendela dan melihat di seberang sana ada mobil hitam yang bertengger manis.
" Cepatlah."
Ara langsung menutup panggilan dan menyelimuti Alen, setelah menggunakan pakaian yang dirasa sopan, Ara langsung keluar dan mengetuk pintu mobil Sagara.
" Masuk."
Ara langsung masuk dan mengatur nafas karena memang tadi dirinya berlari, Sagara yang melihat hal tersebut terkekeh merasa lucu dengan baby nya itu.
" Capek ya ngurusin Alen?" Sagara sepertinya salah sangka jika dirinya lelah mengurus Alen padahal tidak.
" Alen memang begitu kalau lagi emosi, harusnya kamu tahu seperti apa tabiat anak itu." Tambahnya lagi.
" Aku nggak capek ngurus Alen, aku senang bisa berada di sisi Alen ketika dia sedang berada di titik terendahnya."
Sagara yang sudah menjalankan kendaraannya menoleh ke arah Ara, " memang dia ada disaat kamu sedang terpuruk?"
Ara diam, dia menatap kearah Sagara dan Sagara yang tak mendengarkan jawaban apapun dari Ara langsung berdecak, " kamu ada disaat dia terpuruk bagaimana sebaliknya? Jangan terlalu baik sama orang."
" Alen sahabat aku, dia bukan orang lain."
Sagara tersentil melihat bagaimana Ara membela Alen, tapi jiwa prianya yang dominan dan egois seolah mengatakan jika dirinya tidak boleh kalah beradu argumen dengan Ara.
" Bukankah hidup ini timbal balik?"
__ADS_1
Ara tak tahu jika mobil sudah berhenti sejak beberapa menit, merasakan atmosfer dominan Sagara yang kuat seolah berkata jika Sagara memang tipe orang yang bisa didebat karena pada akhirnya Sagara lah yang menang.
Keduanya sama-sama diam, Sagara mendekatkan wajahnya dengan Ara, tatapan dalam dan menghunus Sagara membuat Ara sedikit takut, satu hal yang mesti di garis bawahi, jika meski Sagara dan Alen bersaudara, namun keduanya memiliki sifat yang berbeda.
Sagara memundurkan badannya dan berdehem menetralisir dirinya yang tiba-tiba memanas ada apa dengan dirinya kenapa dia merasa sangat marah sekali jika Ara terus membela Alen?
" Kita keluar."
Ara melepas seatbelt lalu membuka pintu begitupun dengan Sagara, Sagara langsung memeluk pinggang Ara namun jujur saja itu membuat Ara seketika terkejut, lagi-lagi Ara harus menguatkan diri dan terus berkata jika ini adalah bentuk profesionalisme sebagai sugar baby yaitu menerima apapun yang diinginkan Sagara selaku pembeli.
Ara terhenti dan Sagara menoleh alisnya terangkat seolah bertanya, " kenapa?"
" Alen, dia sendirian."
Sagara berdecak sudah berada dengannya masih saja Ara peduli dengannya, " Dia tidak akan bangun hingga pagi hari."
Ara membola, " Memang obat apa yang tadi diberikan oleh Alen kak?"
" Obat tidur."
Sumpah demi apapun Ara menyesal tak bertanya dulu obat apa yang tadi diberikan kepada Alen, Sagara paham rasa bersalah Ara dari raut wajahnya dan sepertinya Sagara harus memberikan alasan agar rasa bersalah Ara berkurang bisa-bisa Ara tidak fokus saat dirinya meminta sesuatu.
" Kamu tahu, Alen jika banyak pikiran dia akan insomnia dan berakhir jatuh sakit, anggap saja kamu melakukan itu."
Ara tahu itu, pernah ketika deadline beberapa tugas datang diwaktu yang sama dan Alen harus begadang semalaman karena menyelesaikan tugas, Ara ingin menawarkan bantuan namun ditolak dan berakhir Ara tertidur sambil vcall kepada Alen dan keesokannya Alen sakit.
" Jadi stop berpikir kamu curangi Alen, justru kamu membantu Alen agar dia terhindar dari sakit, right."
Tak ada yang bisa Ara lakukan selain menganggukan kepalanya.
Keduanya masuk di salah satu unit dengan kartu yang dibawa oleh Sagara, Ara sejenak berdecak kagum dengan yang dilihatnya bangunan sangat mewah dengan ornamen dan juga furniture yang bisa dilihat jika barang tersebut tidaklah murah.
Ara masih diam mematung dan Sagara yang baru selesai menutup pintu memeluk Ara dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu, Ara terkejut namun berusaha menetralkan raut wajahnya.
" Kenapa hmm?"
Sagara yang mengatakan hal tersebut setengah berbisik membuat bulu kuduk Ara seketika meremang.
" Ke..keenapa?"
Sagara membalikkan tubuh Ara dan langsung menghajarnya dengan ciuman panas dan menuntut, Ara yang awalnya gagal mengimbangi perlahan mampu mengatasi, sedang Sagara dia sudah menjelajah kulit mulus Ara dari leher juga telinga, dua hal yang cukup sensitif untuk Ara.
Ara menikmatinya dia tidak bohong, Ara terus memegang kepala Sagara, meremas rambutnya hingga suara lenguhan terdengar.
" Kita pindah."
Tanpa mendengar jawaban Ara, Sagara menggendong Ara ala bayi koala dan reflek saja Ara mengalungkan tangannya ke leher Sagara namun tak sampai disitu saja, keduanya berciuman sambil melangkah menuju pantry.
Ara melepaskan ciuman tersebut karena kehabisan nafas, dan Ara didudukan di atas meja pantry.
" Kakak lapar?" Sagara menjawab dengan gelengan kepala.
" Lalu?"
" Kita akan bermain disini."
To be continued
__ADS_1