Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 Part 25 : Pergi.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 25.


Sagara yang sedang bekerja jadi kepikiran Ara sedang bersama Satria, ucapannya tempo hari yang membuatnya kepikiran.


" Sial."


Niat hati mau lembur tidak jadi, memilih langsung pulang kerumah Ara karena ingin bertemu sang anak dan juga numpang makan malam.


Sejak Ara kembali dan mengizinkan bertemu Zayn, sudah beberapa kali Sagara makan masakan Ara dan itu sangat enak ketimbang beli di resto bintang lima.


" Andaikan saja dia mau menikah sama aku huh harus dengan cara apa lagi aku meluluhkannya."


Padahal usaha belum banyak tapi Sagara banyak mengeluh.


Satria tenang menyetir melihat Ara yang lebih sibuk melihat luar daripada dirinya jalanan begitu macet sudah biasa Jakarta seperti ini.


" Ra."


Ara yang fokus menatap keluar melihat Satria yang memanggilnya, " Kenapa?"


" Apa kamu masih suka sama Sagara?"


Ara bingung, sejak kapan Ara suka sama Sagara? Ya memang ada tapi tak pernah Ara beritahu siapapun.


" Aku suka sama kamu dan kamu tahu itu bukan, coba kamu ambil map coklat yang ada di dashboard itu dan bukalah."


Ara mengambil sesuatu yang dibilang oleh Satria, dibuka dan Ara membola jadi benar jika Satria mengajukan perceraian dengan Melisa.


" Kamu.."


Satria menganggukan kepalanya, " Kamu selalu bilang kalau aku nggak pantes buat kamu bukan? Seharusnya sih aku sudah pantas sama kamu, aku duda dan kamu sudah memiliki Zayn meski tidak menikah dan aku sudah mencoba memantaskan diri supaya bisa bersanding sama kamu dan kamu merasa pantas untukku."


Ara menggelengkan kepalanya, " Kamu tahu bagaimana masa lalu aku? Tapi bukan berarti membenarkan dengan cara seperti ini, sama saja kamu memainkan pernikahan yang suci di mata negara dan agama lagipula aku nggak pantas sana kamu karena selain aku sudah memiliki seorang anak, keluarga kita berbeda jauh dan pasti sebagai orang tua, mama dan papa kamu menginginkan anaknya memiliki hubungan dengan wanita dari kalangan yang setara dan sebanding bukan sebatang kara seperti aku dah juga bukan anak yatim-piatu seperti aku, aku cuma hanya akan menjadi beban keluarga kamu Satria sadar akan hal itu."


Nafas Ara menggebu kesal dengan Satria yang tidak mau membuka mata, bagi Ara Satria hanya obsesi kepadanya karena kalau cinta tidak akan seperti ini.


Sedangkan Satria menahan amarah tapi dia belum mau melakukannya sekarang apalagi Jakarta macet.


" Lalu bagaimana dengan bajingan itu, bukankah aku sama dia sama? Kamu tahu kalau dia sedang menjalin hubungan dengan anak salah satu pengusaha namanya Leona dijodohkan oleh papanya dan mereka sudah dua tahun memiliki hubungan apa kamu masih mau menganggap si brengsek itu serius sama kamu?"


Apa? Sagara memiliki hubungan dengan seorang wanita? Jika seperti itu Ara harus melakukan sesuatu.


" Aku tahu apa yang harus aku lakukan."


*****


Sagara sudah sampai di rumah Ara, namun Ara masih saja belum sampai tapi melihat titik GPS ya dijalan tersebut memang masih macet.

__ADS_1


Sagara bertemu Zayn yang sudah wangi telon, harumnya menenangkan.


" Papi."


" Hai boy."


Sagara menggendong Zayn dan Zayn mengalungkan tangannya ke leher Sagara, Sagara sendiri mengusek wajahnya di leher Zayn dan Zayn terpekik karena geli.


" Stop papi stop itu geli.."


Sagara kembali menyerang perutnya Sagara dan lagi-lagi Zayn terpekik minta ampun.


" Mami tidak bareng sama papi?"


Zayn sudah berhenti tertawa dan dia menatap Sagara dengan intens sambil menggendong Zayn.


" Tidak, kami berbeda tempat kerja."


" Papi, aku ingin mami tidak bekerja seperti banyak teman Zayn yang diantar maminya bukan dengan mbaknya."


Sagara tersenyum kecut, dia saja sudah memohon minta Ara untuk keluar dan dirinya yang akan membiayainya tapi memang dasar Ara dia menolak.


" Papi sedang usaha untuk membuat mami mau berhenti bekerja, bantu papi untuk melakukannya ya."


" Oke."


" Kamu nggak mau aku jemput tapi pergi sama bocah ingusan itu." Ucap Sagara setelah Ara pamit pada Satria dan Ara hendak masuk kedalam namun ditahan oleh Sagara.


" Aku ada hak apakah aku harus pergi dengan kamu atau dengan Satria."


" Apa susah ya sih menolak? Aku lebih suka kamu menggunakan jasa ojol daripada dia, aku akan isi dompet digital kamu kalau kamu memang tidak bisa memanggil ojol atau kamu bisa minta aku jemput."


Ara menghela nafas dengan kasar capek sekali dia menjelaskan masalah sepele dengan Sagara.


" Lebih baik kamu urus diri kamu sendiri daripada mengurus aku yang hanya ada hubungan dengan Zayn, mau aku pergi dengan siapapun itu adalah hak aku lagipula sepertinya Leona lebih membutuhkanmu daripada aku karena memang sejak dulu tanpa kehadiran kamu aku bisa melakukannya sendirian."


Ara pergi meninggalkan Sagara yang diam membatu sial pasti bocah prik itu yang membuka aibnya.


Sagara sepertinya harus menyelesaikan hubungannya dengan Leona.


Mendial ponsel nama Leona dia melakukan rencana pertemuan dengan Leona bersama keluarga besar dan juga keluarganya dia akan menyelesaikan masalah ini dahulu.


******


Jean kembali mencoba bertemu dengan Alen tapi masalahnya hari ini Alen sebenarnya ada hanya saja enggan untuk bertemu dengan Jean, pertemuan antara dirinya dengan Sagara membuat Alen tambah yakin jika dia belum bisa berbaikan dengan kakaknya itu.


" Katakan saja aku ada pertemuan di luar dan bilang saja kamu tidak tahu kemana."

__ADS_1


Alen bicara kepada resepsionis yang bertanya apakah Alen berkenan bertemu dengan Jean atau tidak.


" Maaf Bu, saya baru dapat informasi dari sekretaris pak Alen beliau sedang rapat diluar tapi tidak bilang dimananya, kalau ada yang mau dititip bisa ke saya nanti saya sampaikan."


Jean tersenyum kecut, feeling-nya Alen hanya membuat alasan tidak ingin bertemu dengannya apalagi mobil Alen bertengger anteng tidak seperti beberapa waktu lalu ketika Jean mencari Alen juga.


Jean memberikan sebuah kotak kecil berwarna biru kepada resepsionis, " Aku titip ini saja, katakan ucapan terimakasih dari saya untuk Alen, saya janji tidak akan cari Alen lagi maaf sudah mengganggu waktu kalian makasih."


Jean sedih tapi tekadnya sudah bulat dengan uang yang dimiliki dia bisa membesarkan anak yang dikandungnya tanpa Alen, dia sendiri yang berbuat dia juga harus bertanggung jawab, pernah Jean berpikir dia akan mengab*rsi anaknya, tapi setelah dipikir dia tidak boleh begitu karena memang segala sesuatunya harus dipertanggungjawabkan dan Jean memilih untuk membesarkannya meski Alen tidak mau bertemu lagi dengannya.


Beberapa hari kemudian, Alen baru tiba di kantor, receptionist itu lupa tidak memberikan kotak itu di hari yang sama karena lupa dan dua hari tidak masuk karena sakit lupa meminta salah satu rekan yang menggantikannya untuk menyerahkan kepada Alen.


" Pak Alen."


Alen yang hendak pergi ke lift terhenti melihat resepsionisnya memanggil, " Kenapa?"


Salina memberikan box kecil titipan Jean, " Waktu Bu Jean kesini dan bapak menolak bertemu, Bu Jean titip ini hanya saja hari itu saya lupa dan dua hari ini saya izin jadi baru saya berikan hari ini."


Alen mengambil kotak titipan Jean itu, dan berucap terimakasih lalu naik ke ruangannya di lantai tiga.


Alen masih ragu dia mencoba bekerja dahulu tapi tatapannya tetap saja tidak bisa berpaling dari kotak biru tersebut.


Akhirnya dengan segala pertimbangan, Alen membuka kotak tersebut. Tangannya bergetar wajahnya pucat pasi bahkan memerah rahangnya mengeras melihat hadiah yang diberikan Alen.


Sebuah testpack bergaris dua yang cukup jelas dan juga sebuah hasil USG dimana ada nama Jean dan usia kandungan dan tanggal hpl, Alen memang awam tapi dia tahu barang apa didalamnya ini.


Sebuah surat yang ditulis oleh Jean pun ada didalamnya, dengan gemetar Alen membacanya.


Alen.


Maaf jika aku menyakitimu dengan menuntut sesuatu yang tidak seharusnya aku katakan tapi aku melakukan hal itu agar kamu bisa berdamai dengan keluargamu tapi justru itu membuat kita menjauh jadi aku minta maaf.


Aku sudah mencoba menghampirimu dan memberi kabar jika ada titipan di rahimku, sosok malaikat yang bernyawa tapi seolah semesta tidak memberikan kita kesempatan entah sengaja kamu tidak mau bertemu denganku atau memang kita cuma sampai disini, hanya saja aku rasa kamu sudah enggan menemuiku lagi jadi aku putuskan untuk pergi dari kamu, semoga kamu bahagia jangan risau aku akan merawat anak kita.


Aku ucapkan selamat tinggal dan terimakasih.


Jeanista.


Bahu Alen bergetar, dia menangis meraung merutuki kebodohannya kenapa kemarin dia menolak bertemu dengan Jean?


Alen langsung bangkit dia mencoba menghubungi nomor Jean sambil berjalan ke parkiran, namun nihil nomor ya tidak aktif atau di blokir?


" Sial bodoh banget gw bangsat…"


Alen langsung menuju rumah Jean semoga saja Jean belum pergi.


"Maafkan aku Jean maafkan aku."

__ADS_1


To be continued


__ADS_2