Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S2 Bab 30.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 30.


Alen miris melihat Zayn yang sepertinya tantrum karena mencari maminya padahal Dewi sudah memberikan alasan kalau Ara pergi bekerja tapi karena sudah malam jadi sepertinya Zayn tahu harusnya Ara sudah pulang.


" Uncle."


Alen berjongkok ketika Zayn menjatuhkan diri kepadanya dan langsung minta gendong, suara Alen yang masih sesenggukan karena efek menangis pun masih terasa.


" Kenapa kamu kok nangis?"


Alen berdiri dan menepuk-nepuk pelan punggungnya sambil mengusap kepalanya sesekali Alen begitu sayang dengan keponakannya mengingatkan dirinya kepada Jean yang tengah mengandung anaknya.


" Mami belum pulang uncle, padahal mami janji mau ajak Zayn jalan-jalan dan papi juga belum datang katanya ada pekerjaan, Zayn takut kehilangan papi lagi."


Anak ini cerdas dan daya ingatnya begitu kuat, bahkan Alen sampai speechless dengan yang dikatakan oleh Zayn.


" Iya nak, iya sekarang Zayn ikut uncle dulu mau ya."


Zayn menghadap Alen," Ikut uncle? Kemana?"


" Kerumah papi Zayn, mau?"


" Mau-mau."


" Tapi janji, jagoan jangan menangis lagi?"


" Iya uncle janji." Zayn menautkan jari kelingkingnya kepada Alen tak lama Dewi keluar dengan koper dan juga tas berisi susu dan kelengkapan Zayn lainnya.


" Mbak kita mau kemana?" Tanya Zayn pada Dewi, Dewi menatap Alen meminta bantuan dengan tatapan dan Alen mengerti langsung menjawab, " Em kita sementara tinggal dirumah papi ya, gapapa kan?"


" Nanti kalau mami cari kita gimana?"


" Om akan telpon mami dan kasih tahu kalau kita di rumah papi, kebetulan mami tahu alamat rumah papi."


" Beneran mami tahu?


Sial ekspresi Alen menunjukan gelagat mencurigakan makanya Zayn seperti tidak mempercayainya, Alen bahkan meminta bantuan Dewi lewat tatapan matanya namun Dewi justru hanya menggedikan bahunya.


" Mami tahu mas."


" Apa mami akan pulang? Mami nggak pernah nggak pulang uncle."


Sumpah demi apapun Alen ingin menangis namun dia tidak boleh goyah, dirinya harus membawa Zayn kerumah milik orang tuanya.


Alasan Alen membawa kesana, selain tidak ada orang tuanya Alen merasa di sana lebih aman ketimbang disini dan juga supaya bisa menghalau agar Zayn tidak ingat dengan maminya.


" Ayuk udah malam."


Zayn berat meninggalkan rumah takut Ara pulang tapi tadi unclenya sudah bilang kalau maminya akan diberitahu.


" Tenang aja mas Zayn mami nanti menyusul lagi ada kerjaan banyak, jadi anak baik ya."


*****


" Korban meninggal sebanyak empat orang diantaranya dua anak kecil dan dua dewasa."


" Apakah mereka satu keluarga."

__ADS_1


" Kemungkinannya bukan karena berbeda mobil."


" Lalu bagaimana kondisi pasien yang kritis apakah bisa disebutkan ciri-ciri atau inisial namanya pak?"


" Yang tewas wanita inisial A sedangkan yang pria inisial S.


Bahu Sagara merosot mendengar konferensi pers yang diadakan pihak kepolisian setempat yang menangani kasus ini, inisial A dan S adalah cocok untuk nama Ara dan Satria apalagi katanya berbeda kendaraan.


Sagara nyaris seperti orang gila, sendirian dia tidak mungkin meminta bantuan Alen, tapi dia bisa meminta bantuan salah satu temannya.


Mendial salah satu nomor Sagara melakukan panggilan.


****


" Ough yes, fast*r baby c'mon…ahh uhh ahh yes mmmhh gila Lo masih sempit apa punya gw yang kegedean sih…"


" Yes.. mentok sampai dalam ah yes… eungh right punyamu lebih besar daripada pria yang lain."


Pria tersebut mencabut miliknya dan memasukkan kedalam mulut partner wanitanya.


" Hisap anj*ng."


Wanita tersebut memasukkan milik pria tersebut sambil sedikit tersedak karena terlalu cepat dan terlalu besar sampai terkadang terkena giginya membuat sang pria marah.


" Anj*ng Lo bangsat bisa mainnya gak sih? Udah sering main aja masih nggak becus."


Si wanita pasrah beruntung bayarannya sesuai karena memang sejak awal si pria memesan dirinya berkata akan bermain sedikit kasar tapi bayaran akan sedikit naik.


" Ah yes…. Fast*r ough…"


Ponsel berdering dinakas si pria tak menghiraukan namun si wanita memberi kode meski sedang memainkan milik konsumennya didalam mulut.


Nama Sagara terpampang nyata, Dion seolah bertanya tumben tidak biasanya dia menelpon meski ini masih sore atau tepatnya jam sembilan malam.


" Stop it bit*h…"


" Oke baby."


Si wanita bayaran yang menggunakan nama Evelyn berhenti bermain dan duduk di nakas sedangkan Dion mengangkat panggilannya, adik kecilnya masih tegak membuat Evelyn tersenyum miring.


" Nape sih bro ganggu gw aja."


Evelyn mendekat, memainkan adik kecil Dion menggesek-gesekkan tangannya kepada adik kecil Dion yang masih mengembangkan sempurna.


" Dion, gw boleh minta tolong sama Lo gak?"


Erang*n dan d*sahan keluar dari mulut Dion akibat ulah Evelyn , jika biasanya Sagara akan mengumpat tapi suara Sagara terdengar sendu membuat Dion akhirnya mengumpat pada Evelyn.


" ****** don't disturb bit*h go a way."


Evelyn cemberut dan dia menunggu di sofa sedikit jauh dari ranjang.


" Lo bisa ke rumah sakit Xx gak?" Tanya Sagara masih dengan nada lirih Dion tahu betul Sagara tidak ada yang peduli jadi ketika orang itu sakit maka dia yang akan direpotkan.


" Lo sakit?"


" Ara, kecelakaan dan gw nggak tahu nasib dia selamat atau nggak."

__ADS_1


Keduanya sempat terdiam, lalu Dion menyanggupi bahkan mendengar suara lirih Sagara membuat adik kecil Dion lesu.


" Oke gw kesana."


Dion mematikan sambungan ponselnya membuang ponsel ke ranjang dan mengumpat, " Sial."


Kepalanya sakit dan berdenyut-denyut baik kepala atas maupun bawah akibat pelepasan yang tak sampai, dia mengambil uang di amplop dan menyerahkan ke wanita bayaran tersebut.


" Go a way."


" Tapi ini belum selesai sayang?"


" Gw ada urusan."


" Keluarin dulu wajah kamu merah gitu."


" Bisa cepet nggak?"


" Of course."


Akhirnya sebelum pergi Dion bermain sebentar sampai bisa adik kecil nya keluar karena pusing jika tidak sampai keluar nanti dia akan minta ganti rugi pada Sagara jika keadaan memungkinkan.


*****


Dion sudah sampai, melihat Sagara dengan biasanya arogan dan congkak kini lesu dan acak-acakan bahkan siapapun yang pernah mengenal Sagara sudah pasti tidak ada yang mengenalnya.


" Bro."


Sagara melihat Dion datang, dia menghela nafasnya dengan kasar, " Belum ada kabar lagi bro?"


Sagara hanya jawab dengan gelengan kepala saja, keduanya masih berada di ruang UGD.


Satu brankar keluar dengan kain putih menutupi seluruh tubuh buru-buru Sagara dan Dion bangkit mendekat brankar tersebut.


" Tunggu."


Brankar yang hendak didorong petugas medis pun berhenti Sagara menatap ke semua petugas medis dan juga ke arah seseorang di balik kain putih tersebut.


" Siapa dia?"


" Laki-laki pak inisial S."


Sagara mau membuka penutup putih tersebut namun dibelakang Sagara muncul seorang ibu di usia senja langsung membuka kain penutup tersebut dan langsung mengisi histeris.


" Soleh…kenapa kamu tinggalkan mamak…"


Sagara bernafas lega sebenarnya dia begitu berharap di balik kain putih itu adalah Satria namun sayangnya jika pria tersebut bukanlah Satria itu artinya Satria dinyatakan selamat namun koma.


" Bukan anak piyik itu bro."


Ucap Dion setengah berbisik dan Sagara mundur dari brankar untuk memberikan jalan agar jenazah bisa dibawa ke tempat pemulasaran.


Dua orang paruh Bayah yang dikenal Sagara adalah salah satu petinggi Hadikusumo datang bersamaan dengan dua orang berbaju hitam yang diyakini adalah bodyguard ke pusat informasi.


" Atas nama Satria Hadikusumo dimana dia?"


" Pasien kritis dan tengah dioperasi di lantai dua "

__ADS_1


Sial nasib Ara belum diketahui tapi nasib si anak piyik itu sudah diketahui.


To be continued


__ADS_2