
Sugar Baby Kakak Sahabat Part 16.
Sagara kesal kenapa pekerjaannya hari ini sangat banyak, dirinya bahkan sudah berencana mengajak Ara untuk pergi keluar, jika dilihat kasihan juga Ara selalu dirinya kurung di kamar untuk menuntaskan hasratnya yang semakin hari semakin besar itu.
Sagara akhirnya memutuskan untuk menyuruh Ara libur, tak apa sehari dua hari nanti dia akan bawa Ara ke salon untuk terapis sekalian relaksasi, kadang Sagara kesal dengan Ara, apakah dia tidak pernah membeli atau berbelanja sesuatu? Kenapa Sagara berpikir seperti itu karena tagihan kartu kredit yang dipegang Ara setiap bulan nol hanya biaya admin saja itu artinya Ara memang tidak pernah belanja atau jangan-jangan dia terlalu sungkan untuk menggunakan itu?
Disaat Sagara sudah mulai mengerjakan setumpuk kertas rupanya sebagian sudah Sagara kerjakan hanya saja lupa ia pisahkan dan jackpot, jika seperti ini dia bisa mengajak Ara keluar tapi sudah terlampau dirinya mengirim pesan.
" Kayaknya aku kesana aja deh, lagian mereka bilang Ara langsung pulang."
Mereka yang dimaksud adalah seseorang yang Sagara kirim untuk memata-matai Ara di kampus, Fyi Sagara meletakkan orang di dalam kampus sejak kasus Ara dilabrak oleh Shandy, bagi Sagara Alen tidak cukup menjaga Ara dengan baik dan dia tidak mau baby nya kenapa-napa lagi
Sagara selesai dan tepat pukul 16.00 pekerjaan sudah selesai, bak gayung bersambut Sagara bergegas pergi menuju kost Ara.
Sagara sudah memberikan pesan kepada Ara mengenai keberadaannya namun tak kunjung dibalas ingin tanya Alen tapi memikirkan apa alasannya membuat Sagara malas mencarinya dan alhasil Sagara memutuskan nekat untuk ke kost Ara sambil sesekali melakukan panggilan telepon.
" Sumpah kamu dimana si Ara."
Padahal Ara sendiri tertidur karena selalu dibuat begadang dan berakhir tidur dini hari bahkan mendekati fajar.
Sagara sampai di kost, namun dia harus menumpang kepada warga sekitar untuk parkir mobil sementara, tak lupa memberikan tips dua lembar uang berwarna merah, Sagara langsung melesat menuju kost Ara yang letaknya memang di lantai satu.
Disaat Sagara baru saja ingin mengetuk pintu, suara kunci membuka pintu terdengar dan Ara sudah rapi dengan pakaian casualnya, Hoodie kebesaran dan celana training panjang juga sepatu kets berwarna putih membawa Sling bag sepertinya Ara akan pergi ke suatu tempat.
Mengesalkan bukan, dirinya kalang kabut mencari tahu keberadaan Ara dan dia dengan santainya mau pergi tanpa sepengetahuan Sagara.
" Mas Sagara."
Ara terkejut sekali terlihat dari wajah Ara yang menegang ketika melihat Sagara didepan rumahnya.
" Kenapa? Kok panik gitu? Takut ketahuan mau jalan sama Alen?"
Ara bingung dengan tuduhan Sagara yang mengatakan jika Ara mau jalan sama Alen, " Siapa yang mau jalan sama Alen mas?"
__ADS_1
Sagara berdecak sambil melipat kedua tangannya di dada, " Gak usah ngeles, kamu sengaja menghindar dari aku, mentang-mentang aku kasih kamu libur seenaknya aja kamu abaikan aku, ingat kan kesepakatan kita?"
Ara yang semakin tak mengerti dengan ucapan Sagara pun meminta Sagara berhenti berkata, " Mas, tunggu yang mau jalan sama Alen siapa?"
" Ya kamu kan."
" Nggak, aku mau jalan sendiri udah pesen ojek online juga terus yang bilang aku mengabaikan mas itu siapa?"
Sagara berdecak, " Coba kamu cek ponsel kamu."
Ara langsung mengambil ponselnya di Sling bag dan benar ada banyak spam pesan dan panggilan dari Sagara sejak tadi, namun hp Ara masih disilent karena masuk kelas.
" Maaf tadi hp aku masih silent terus aku tidur baru bangun langsung mandi niatnya mau jalan."
" Sendiri?" Dan dianggukan oleh Ara.
" Nggak sama Alen?"
" Pacar, anak itu punya pacar lagi?"
Ara nampak berpikir, " Mungkin soalnya tadi lagi sama cewek."
" Dan kamu cemburu?"
Ara gemas dengan pria tua ini, " Mas astaga."
" Kalau Alen punya pacar, bagus jadi dia nggak akan mengganggumu lagi."
Baru saja Ara ingin membuka suaranya, suara dering ponsel nomor tidak dikenal memanggilnya, " Ya hallo."
Ah rupanya driver ojol nya sudah sampai di depan, " Tunggu sebentar pak, saya keluar."
Ara mematikan ponselnya dan menatap ke arah Sagara, " Mas aku udah ditungguin driver ojol."
__ADS_1
" Cancel."
" Hah."
" Cancel aja, aku akan antar."
Ara masih diam ditempat dan Sagara gemas menarik Ara menuju depan dimana driver ojol itu berada.
" Nih buat bapak terserah mau di cancel atau nggak yang jelas dia nggak jadi pake jasa anda." Sagara memberikan uang dua lembar merah dan ojol tersebut mengucapkan terima kasih terserah dia mau cancel atau tidak bukan urusannya yang jelas anak kecil di sebelahnya adalah urusannya.
Ara dituntun masuk mobil dan Sagara segera menyusul di bagian kemudi, sebelum menjalankan kendaraannya keduanya terdiam karena Sagara memang belum tahu mau kemana tujuan Ara.
Sedang Ara, menatap jam tangan dia langsung menatap kearah Sagara dengan takut-takut.
" Emm mas."
Sagara hanya menoleh tanpa mengeluarkan suaranya, rahang kerasnya sedikit tercetak di garis Ara mendadak jadi takut.
" Kenapa? Kamu butuh sesuatu?" Melihat raut wajah Ara yang takut Sagara sebenarnya ingin tertawa namun mati-matian dia tahan.
" Emm jadi mau anter nggak? Kalau nggak aku mau pesen ojol lagi."
Sagara menghela nafas dengan kasar, " Memang kamu mau kemana?"
" Taman Menteng."
" Taman Menteng? Mau apa kesana?"
Sagara yang memang sibuk untuk kerja dan kerja dari pagi di kantor hingga terkadang larut di kantor dan baru kembali, pergi hanya untuk bertemu kolega atau jamuan makan klien selain itu tak tahu ada apa jadi wajar saja jika Ara tidak tahu ada apa di taman Menteng.
Ara memainkan jari-jarinya, " Mau jajan."
To be continued
__ADS_1