
Sugar Baby Kakak Sahabat 23 (mulai baper)
Kurang dari satu jam, keduanya sampai dari Bandara Ngurah Rai menuju Uluwatu, Kuta Bali. Ara yang melihat pantai tentu saja tidak akan menyia nyiakan waktu dengan berlari menuju bibir pantai sambil merentangkan kedua tangannya merasakan angin laut masuk kedalam tubuhnya dan sesekali menghirup udara khas pantai sungguh sudah lama sekali Ara tidak sebahagia ini.
Sagara yang melihat Ara seperti anak kecil itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, lihat bahkan belum ada sepuluh menit Sagara sudah ditinggalkan Ara begitu sjaa namun tentu saja Sagara tidak keberatan sama sekali, jika diingat kejadian semalam Ara yang hampir saja mati Sagara jadi merasa sakit juga sedih Ara memang tidak seharusnya Sagara perlakukan seperti itu.
Sagara menghampiri Ara yang masih berlari kesana kemari dengan menenteng sepatu yang dikenakannya tadi, celananya sudah basah karena air laut yang datang menerjang, Ara masih saja menerjang air bahkan tak segan berjalan sedikit jauh agar air lautnya mengenai kakinya yang masih tertutup jeans miliknya.
“ Kamu suka.”
Ara menoleh ke arah belakang dimana Sagara sudah berada di belakangnya, dia tersenyum dan memeluk Sagara dengan erat bahkan Sagara yang tidak siap diterjang tubuh Ara hampir jatuh namun keseimbangan Sagara cukup baik akhirnya dia bisa menahan beban tubuh Ara.
“ Terima kasih mas, im very happy.” Ucap Ara setengah berteriak karena kalah dengan suara deburan ombak.
“ Your happy honey?”
“ Yes, I'm happy.”
Keduanya melepas pelukan, Ara menarik tangan Sagara menuju bibir pantai dan mencium bibir Sagara, jujur saja Sagara sedikit speechless akan apa yang dilakukan oleh Ara namun dia menikmati apa yang Ara lakukan padahal, Ah jika saja bisa menerjang Ara disini dia akan lakukan namun sayangnya dia masih tahu malu dan lagipula adat disini cukup kuat meski ada banyak wisatawan asing dengan pakaian yang cukup terbuka.
Sagara dan Ara memutuskan mengabadikan momen keduanya dipantai, setelah lelah Sagara dan Ara menuju hotel yang sudah dipesannya, bukan dipesan karena memang hotel tersebut milik Sagara dan dia sudah punya tempat khusus yang disiapkan di lantai paling atas kelas suite room.
di Jakarta, Alen masih sibuk mencari Ara, bahkan sejak kemarin terakhir berhubungan setelah itu ponselnya tidak aktif.
“ Lo kemana sih Ra.”
tadi setelah kelas Alen bubar, Alen menuju kelas Ara dan mencarinya namun dari informasi yang diberikan salah satu kaprodi jika Ara meminta izin pada kampus tiga hari kedepan dengan alasan keperluan keluarga, Alen yang tahu seperti apa keadaan temannya tentu saja tidak percaya, keluarga? keluarga mana? Ara saja sudah diusir dari rumah keluarga Aditama tapi Alen akan tetap menghampiri rumah tersebut untuk memastikan apakah dugaannya benar atau tidak.
__ADS_1
Dan benar saja apa yang didapat jawaban yang didapat dari keluarga Aditama.
“ Kamu nggak salah tanya anak sialan itu sama saya? saya sudah tidak sudi menampung dan menganggap anak sialan itu keluarga, sejak kepergian suami saya, saya sudah tidak tahu menahu soal dia, saya saja baru tahu jika dia masih di Jakarta heran saja, saya belum membayar uang kuliahnya tapi dia bisa lanjut dapat uang dari mana? oh tunggu jangan-jangan dia jual diri lagi demi uang.”
Meski Alen kesal dengan yang dikatakan Dian, namun sedikit mengusik pikiran Alen karena jika dipikir memang benar Ara uang darimana menyelesaikan administrasi dalam waktu singkat sedangkan Ara tidak bekerja apalagi meminta bantuannya?
“ Gw harus cari tahu soal ini.”
Sebelumnya juga Alen merasa curiga dengan Ara namun Ara beralasan jika uang semesterannya sudah sempat dibayar keluarganya sebelum diusir dan mengenai uang jajan untuk menyambung hidup, Ara beralasan jika dia masih memiliki uang sisa tabungan dan akan mencari pekerjaan nantinya namun ini sudah hampir dua bulan juga Ara terusir dari rumahnya meski memang Ara tak terlihat membeli barang yang mencolok namun patut dicurigai.
Alen tidak mau Ara terjadi apa-apa padanya, hanya Ara yang dia punya untuk saat ini. Alen memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini, memilih danau dekat sekolah yang pernah didatangi ketika sedang terpuruk belum lama ini, mendengar perceraian kedua orang tuanya, menghisap rokok yang sudah seminggu ini menjadi teman setianya, Alen menatap kosong ke arah depan.
“ Lo ngapain disini?” Suara wanita yang sangat dia hafal tapi bukan diinginkan, Jean duduk tak jauh dari dirinya.
“ Ngikutin lo kak, muka lo nggak enakin banget sumpah.” Alen hanya mendengus dengan kasar lalu menyesap rokoknya lagi sedangkan Ara hanya menggelengkan kepalanya saja.
“ Bolos lo?” Tanya Jean dan dianggukan oleh Alen, “ Sesekali bolos nggak apa toh gw paling gak dibayar doang.”
“ Hm.”
“ Ck, pantas aja para barisan mantan lo nggak terima kalau mereka diputusin cuma karena kak Ara, gw rasa yang bermasalah bukan kak Aranya tapi lo nya.”
Alen menatap kearah Jean yang tersenyum remeh sambil menatap kearah depan, “ Maksud lo apa?”
“ Nggak perlu lah lo mikir rumit, sekarang gini gw kasih contoh misal posisi lo sama kak Ara tukeran maksud gw Lo yang jadi kak Ara dan kak Ara jadi lo dengan sikap lo yang kaya bunglon dan seolah php apa nggak enek kak Ara?”
Alen diam mematung, mencerna apa yang dikatakan oleh Jean dan sial Alen merasa kali ini perkataan Jean ada benarnya juga jika seperti ini ingin rasanya Alen berlari ke Ara dan memeluknya sambil menggumam kata maaf atau apapun asal Ara tidak meninggalkannya, membayangkannya saja sudah tak mampu apalagi jika sudah terjadi, tidak Ara tidak boleh pergi dari dirinya.
__ADS_1
“ Apa harus gw tembak dia?” Ucap Alen frustasi pada Jean yang masih berada di sebelahnya.
“ Dan lo memang siap kalau kak Ara nolak dan hubungan lo bakal kacau maksudnya nggak kayak kemarin-kemarin? ada jarak diantara kalian berdua.
“ Ck lo bisa nggak sih ngomong to the point aja nggak usah muter.”
“ Maksud gw, lo yakin kak Ara juga suka sama lo?” Pertanyaan Jean, Sial Alen terjebak dalam kondisi friendzone jika begini ceritanya.
—------
“ Ah… Mas Sagara.”
Ara menari-nari diatas Sagara dengan gerakan random namun seksi baginya, Sagara memaksa Ara melakukan iya-iya setelah keduanya membersihkan diri dan masuk hotel, Ara yang keluar habis mandi dengan rambut basah hanya mengenakan bathrobe yang sudah pasti tanpa penghalang didalamnya membuat little seketika minta keluar dari sarangnya padahal keduanya belum lama melakukannya ketika berada dipesawat.
“ Oh Yeah fast Ra fast….”
Ara sudah lelah, kakinya lemas karena menahan beban dikakinya cukup lama lima belas menit, namun belum ada tanda jika Sagara akan menyelesaikan permainan.
“ Mas udah belum.”
Sagara masih saja mengumpat akibat terlalu menikmati permainan tanpa menjawab yang ditanya oleh Ara dan Sagara masih saja memacu dibawah sana.
Ara kelelahan dan Sagara membalikan posisi dimana Ara kini dibawah dan Sagara yang bekerja, keduanya memanggil satu sama lain dan memuji satu sama lain, satu jam permainan bisa little akhirnya keluar, tubuh Sagara ambruk begitupun dengan Ara.
“ Makasih sayang.”
Sagara mencium puncak kepala Ara, jika ditanya bagaimana hati Ara jawabannya adalah tidak dalam keadaan baik.
__ADS_1
Sial Ara kini mulai baper.
To be continued