
Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 17.
Dentingan musik DJ yang begitu keras soalnya tidak ada artinya bagi seseorang yang sedang menikmati beberapa sloki whisky, dia adalah Sagara yang hatinya sedang kecewa lantaran penolakan untuk kesekian kalinya dari Ara.
Setelah Ara meminta Sagara untuk pergi dari rumahnya dengan alasan lelah dan letih, Sagara langsung menghubungi salah satu sahabat karibnya Dion dan meminta bertemu di club tempat biasa keduanya bertemu.
Tak peduli hari masih sore ataupun tengah malam yang penting pikiran Sagara sedikit teralihkan dari rasa kecewanya.
Satu sloki.
Dua sloki.
Bahkan entah berapa kali slokinya itu masuk rasa asam manis pahit dan terbakar menjadi satu masuk ke dalam tenggorokannya.
" Woi sore-sore udah mabok aja lo." Suara dari belakang yang sangat segera kenal dia adalah sahabat karibnya Dion.
Namun Sagara tak menghiraukannya, Dion tahu betul jika sahabatnya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja.
" Lo ada masalah bro?"
Sejarah membanting slokinya ke meja bartender dan menatap Dion dengan tatapan sendu, " Ara udah balik."
" Ara? Maksud lo sugar baby lo yang kabur itu? Kapan kok bisa?"
" Belum lama ini, Tapi dia nggak mau ketemu sama gw."
Dion tertawa sarkas didepan Sagara, " Astaga ya wajar lah Lo hampir bunuh dia."
" *******." Sagara mengumpat mendengar penuturan Dion padahal memang benar adanya bukan!
" Lakh si beg* kenyataannya kan memang kaya gitu bro, trus Lo frustasi kaya gini kenapa? Ditolak kehadirannya sama dia? Kalo gw jadi dia, jujur gw bakal laporin Lo ke polisi."
Dion bukannya menenangkan hati dan pikirannya justru menambah kacau perasaannya menyesal Sagara memanggilnya jika begini.
" Gw nyuruh Lo datang bukan nambah gw mumet gak karuan, tali gw butuh saran."
" Saran ya?"
" Bahkan gw nggak boleh deketin anaknya dia kan nggak banget."
" Anak? Maksud lo anaknya dia? Anak Lo bukan?"
" Entahlah, tapi jujur aja anak itu powernya gede banget buat gw Lo tahu kan kalau gw nggak suka sama anak kecil? Tapi pas gw Deket sama anak itu beda banget bro rasanya senang tenang ah apalah gitu."
" Lo yakin itu bukan anak Lo?"
" Maksud lo?"
" Maksud gw bisa aja kan benar itu anak Lo, sekarang umurnya berapa tahun?"
__ADS_1
" Empat tahun."
" Logikanya saat Ara habis mendapatkan pelec*han s*ksual dari seseorang gak mungkin dia menerima kehadiran pria maksud gw pasti trauma dan ya bisa aja itu beneran anak Lo bro, DNA langsung."
" Udah."
" Good, setelah tahu hasilnya Lo mau apa?"
" Gw bakal paksa Ara buat nikah sama gw karena anak itu pasti butuh figur ayah."
" Jangan begitu blo*n, ah temen gw pinter bisnis sama ranjang doang heran deh, gini-gini ya sayang, Lo bisa meluluhkan Ara melalui anaknya Lo tahu kan istilah ibu akan melakukan apapun demi kebahagiaan anaknya? Nah Lo pake prinsip itu Lo ambil hatinya itu anak nanti juga Ara bakal luluh."
" Tapi belum apa-apa dia aja udah melarang."
" Ck, masih banyak jalan menuju Roma, Lo deketin dia dari jarak lain bisa mendatangi kalau Ara nggak ada, trus Lo ajak dia jalan pokoknya bikin yang buat itu Ara mau nggak mau nurutin semuanya kemauan itu anak misal Lo ajak jalan nanti dia izin sama Ara harus Ara mau nggak mau pasti ikut kasarnya gitu atau kalau dia sekolah Lo datengin dia setiap hari ajak dia balik bareng pasti lama-lama nyaman baru Lo ajak jalan kemana gitu ya pinter-pinternya Lo aja deh."
Sagara mencoba mencerna saran dan ide yang diberikan oleh Dion, tidak buruk juga bagi Sagara untuk melakukan hal yang disarankan oleh Dion.
" Oke, gw bakal coba tes bro."
" Any time bro."
Dan disinilah Sagara pagi hari, di depan rumah Ara memantau keadaan sekitar rumah tidak ada aktivitas mungkin saja Ara sudah berangkat kerja dan Zayn yang dia tahu sudah sekolah di salah satu paud dekat sini.
Sagara mencoba tanya seseorang yang berada di sebelah rumah Ara membersihkan halaman pura-pura tidak tahu jika Ara tidak ada dirumah.
" Maaf Bu, penghuni rumah sebelah pada kemana ya?"
" Kalau sekolahnya ibu tahu? Ah saya kerabatnya Ara."
" Di paud depan kompleks ini pak, sebelah kanan jalan pasti ada pengasuhnya nanti menunggu anaknya."
" Oh terimakasih."
Sagara sudah mendapatkan alamat paudnya, kini Sagara bergegas menuju tempat tersebut.
****
Disekolah, Zayn membawa action figure tokoh Hinata, dia suka dengan tokoh tersebut karena baginya Hinata adalah wanita yang kuat.
Teman Zayn, namanya Nayaka melihat Zayn tengah memainkan action figure miliknya.
" Wah bagus, apa itu mainan barumu?"
" Iya, ini dari omku."
" Wah bagus, aku suka Sasuke."
Keduanya sedang bermain bersama-sama namun beberapa anak mendekat seperti membentuk geng, dia adalah Arjuna anak paling kaya di sekolah ini yang sejak kecil sudah diberi sendok emas.
__ADS_1
Dia menarik action figure milik Zayn dan mendorongnya.
" Hei jangan kasar."
Nayaka berusaha membangunkan Zayn, dan Arjuna mematahkan action figure milik Zayn.
Zayn yang tidak terima mendorong Arjuna dan karena tidak sigap, Arjuna terperosok terbentur bangku.
" Arjuna."
Teman-temannya membantu Arjuna bangun, dan Arjuna menangis.
Semua guru datang mendengar keributan didalam kelas, " Ini ada apa?"
" Arjuna mematahkan action figure milik Zayn dan Zayn yang tidak terima mendorong Arjuna hingga jatuh." Ucap salah satu anak bernama Malika.
" Kalian berdua keruangan ibu ya."
Dua anak itu pergi ke ruang guru dan Dewi yang sedang menunggu Zayn diluar diminta untuk datang ke dalam sekolah.
Tak lama seorang ibu sosialita datang dengan beberapa bodyguard datang menghampiri Arjuna sepertinya dia mamanya.
" Kenapa dengan anak saya?"
Guru tadi menjelaskan apa yang tadi dijelaskan Malika, wanita tersebut geram dan memarahi Zayn.
" Kamu tahu harga mainan itu tidak seberapa ketimbang biaya rumah sakit untuk perawatan Arjuna."
Dewi yang panas dingin langsung menelepon Ara namun dipanggilnya kelimanya tidak diangkat.
" Saya akan bawa kasus ini ke jalur hukum biar kamu beserta orang tuamu tahu rasa."
Dewi ketar ketir, dia bingung ingin melakukan apa namun melihat siluet seseorang yang dikenal, Dewi bernafas lega.
" Pak Sagara." Karena Dewi sudah tahu nama aslinya dari Ara.
" Zayn mana? Kamu kenapa?"
Dewi menjelaskan secara kilas mengenai masalah yang menimpa Zayn.
" Gimana pak? Ibu dari tadi nggak bisa dihubungi saya takut ibu itu benar-benar membawa kasus ini ke jalur hukum."
Sagara langsung masuk kedalam ruang guru melihat Zayn tengah dirundung oleh seorang ibu sosialita.
Mendengar kata jalur hukum, Sagara naik pitam.
" Hadapi saya dulu kalau mau membawa putra saya ke jalur hukum."
Semua menatap tak percaya apa yang dikatakan oleh Sagara termasuk Zayn.
__ADS_1
To be continued