
Ara bergegas ke kampus setelah mampir ke kost Sita dan mengganti baju, Sita mengabari jika dirinya sedang menemani om berduitnya, padahal Ara ingin bertanya bagaimana caranya dia menghilangkan noda bercak di leher maha karya Sagara itu, alhasil dirinya bertanya dengan mbah gugle dan meminta foundation milik Sita untuk menyamarkan, setelah itu menuju mesin ATM dan bergegas ke kampus.
Ara sudah mengabari Alen jika dirinya semalam menginap di kost Sita dan rencananya hari ini ia akan ke kampus untuk mencari kost yang cukup murah dekat kampus, namun Ara tak bilang jika dia akan membayar uang semesteran jika Alen tahu pasti dirinya akan diinterogasi oleh Alen dan yang ada Ara akan kelimpungan sendiri.
Ara ke kampus dengan gojek, dirinya sudah sampai kampus dan langsung menuju ruang tata usaha, tak lama hanya sekitar sepuluh menit saja. Ara yang hendak menuju kantin KUMA langsung ditarik kebelakang dan dipeluk erat oleh seseorang, dari aroma tubuhnya sudah paham siapa pemiliknya tidak lain adalah Alen.
Ara biasanya membalas pelukan Alen, namun dirinya ingat sudah tidak suci lagi, tangan Ara menggantung sedang Alen merasa tak ada balasan justru mengeratkan pelukan menyangka jika Ara marah padanya.
“ Maaf.”
“ Ma,, af?” Ara bertanya kepada Alen kenapa Alen harus meminta maaf.
Alen tak menjawab, masih setia memeluk bahkan salah satu tangannya mengelus surai hitam Ara yang tergerai, Ara ingin menangis namun bingung untuk apa, disisi lain dia senang Alen seperti biasa memberikan afeksi ketenangan untuknya namun disisi lain Ara mesti tahu diri jika Ara sudah tidak pantas untuk Alen.
Ara mencoba melepaskan pelukan dan berhasil, Alen menatap Ara dengan sendu sedang Ara hanya menghela nafas dan menyentuh wajah Alen, “ Kenapa hm? kamu ada masalah?”
Alen justru menggelengkan kepalanya tak menyangka malah Ara akan bertanya seperti itu, “ Harusnya gw yang tanya gitu, lo oke? Maaf disaat sulit gw nggak ada buat lo, jujur gw nyesel banget harusnya gw nggak perlu silent ponsel jadi nggak tahu lo butuh gw dan malah gw lagi enak-enakan sama si Shandy.”
Ara tersenyum seperti biasa Alen akan memikirkan dirinya meski Alen sudah memiliki tambatan hati, kadang heran jika memang Alen hanya menganggapnya sahabat kenapa jika Alen memiliki hubungan dengan wanita tapi tak bertahan lama? bahkan jika diingat dari sekian mantannya Alen hanya dengan Shandy yang paling lama sekitar dua bulan biasanya dua minggu langsung putus karena sang wanita melabrak Ara ataupun protes tak suka jika Alen selalu bersama dengan Ara sedangkan yang menjadi kekasih Alen mereka bukan Ara.
“ Hei, kamu lihat aku baik-baik saja.”
“ Jangan kayak gitu lagi Ra.”
“ Kayak gitu?” tanya Ara dan dianggukan oleh Alen.
“ Jangan matiin ponsel gw khawatir lo sebelumnya belum pernah begini, jangan Ra, jangan buat gw cemas setengah mati, cuma lo yang gw punya buat saat ini sekalipun gw punya cewek, gw lebih rela kehilangan mereka tapi nggak buat kehilangan lo, bisa mampus gw.”
Ara buru-buru menutup mulut Alen dengan tangannya, “ Jangan, kamu ngomong apa? jangan bicara begitu.”
Alen hanya tertawa sumbang, “ Tapi bener Ra, gw bakal lakuin apapun sekaligus lo minta ginjal gw, sudah pasti gw bakal kasih buat lo.”
Memang sesayang itu Alen kepada Ara, dan pada akhirnya Alen mengajak Ara menuju kantin KUMA, Ara berjalan sedikit lambat karena efek gempuran Sagara semalam dan rasanya masih tidak nyaman meski tak separah tadi pagi.
“ Ra.”
Alen yang merasa Ara sedikit berbeda pun menghampiri Ara yang tertinggal beberapa langkah dibelakang.
“ Kenapa Len?” tanya Ara yang tak paham kenapa Alen menghampirinya.
“ Lo kenapa dah? jalannya tumben lama banget biasanya kayak mau ambil gaji, lo sakit?” mendengar pertanyaan Alen, Ara hanya tersenyum menampilkan giginya yang putih dan rata, tidak mungkin dia menjawab jujur dan jurus ampuh Ara adalah tersenyum tanpa menjawab ataupun membantah. Sedangkan Alen yang gemas dengan tingkah Ara mengacak rambut Ara sambil tersenyum dan sang pemilik memanyunkan bibirnya sambil mencoba menahan tangan Alen, “ Alen, jangan jadi berantakan.”
__ADS_1
“ Siapa suruh bikin gemes.”
Ara sudah tidak tahan, dirinya mencoba mempercepat langkah menahan rasa tidak nyaman daripada berlama-lama bersama Alen jantungnya tidak baik.
-
Sagara yang baru saja menyelesaikan zoom meeting termenung, mengingat bagaimana semalam dirinya dengan beringas menggagahi Ara, membobol sesuatu yang tak pernah dirinya lakukan bahkan merasakan cengkraman kuku akibat Ara yang menahan rasa sakit membuat Sagara tersenyum, dirinya menatap ponsel dan stalking akun sosial media Ara yang dia dapat dari milik Alen, tak sulit memang mengingat Alen sering menghabiskan waktu dengan wanita. Sejujurnya terbesit rasa bersalah Sagara pada adiknya Alen, jika Alen tahu dirinya telah menghancurkan masa depan Ara, apakah Alen masih menganggapnya sebagai kakak maupun panutan?
Sejujurnya Alen memang tidak pernah secara gamblang mengatakan kepada dirinya jika Alen mencintai Ara, namun dengan banyaknya alasan putus karena Ara membuat Sagara berpikir jika sepertinya Alen mencintai Ara namun terhalang frindzone sehingga Alen mencari pelarian begitu pikir Sagara.
Namun hal tersebut bukan Sagara yang meminta, Ara yang menyetujui ibarat dagang Ara penjual dan Sagara pembeli jadi jangan salahkan Sagara, salahkan Ara yang menyodorkan diri katakan begitu.
Ah pusing memikirkan Alen, dia akan mengesampingkan Alen dulu, sekarang saat ini Sagara akan menikmati mainan barunya dulu.
To : Ara
Malam nanti datang ke Apartemen Sevilla lantai 10 unit nomor 200.A
Sagara sepertinya akan menggunakan apartemen pribadinya yang memang hanya dia datangi jika sedang jenuh dengan keadaan rumah dan bersembunyi dari keramaian, dan Ara akan dia berikan kartu akses untuk masuk agar tak perlu menunggu dirinya datang.
From : Ara
Malam ini, dia akan menikmati mainan barunya, bahkan saat ini dia sedang membuka keranjang orange mencari sesuatu yang menarik dan membayangkan Ara mengenakannya saja sudah membuat si little turn on apalagi jika sudah kejadian bisa jadi Ara akan dirinya kungkung hingga pagi hari.
“ Fu*k.”
Sudahlah, Sagara segera memasukkan sekiranya apa saja yang dibutuhkan Ara untuk menyenangkannya, setelah itu Sagara bergegas memasukkan ponselnya ke saku jas dan kembali ke ruangannya namun baru saja berdiri, ponselnya berdering notifikasi dari kedua orang tuanya yang meminta pulang ke rumah sesegera mungkin.
“ Tumben, apa mereka sudah kembali?”
Sedangkan Ara dan Alen saat ini sedang berjalan di sekitar area kampus mencari kosan untuk Ara, Alen memaksa menemani dengan alasan agar Ara tak bisa kabur lagi darinya jika ponselnya mati, jadi mau tidak mau Ara hanya membiarkan Alen ikut mencarinya.
Terhitung sudah dua kost dijangkau dan keduanya memang bagus hanya saja harganya bagus sekitar 700 ribu, Ara hanya memiliki budget 500 ribu saja karena pasti akan ada biaya listrik dan sebagainya, meski di kartu debitnya sudah banyak namun dirinya harus memikirkan masa depan setelah kontrak selesai.
“ Ini Ra, satu lagi.”
Alen dan Ara memasuki kost yang cukup banyak dan memang kebanyakan mahasiswa di kampusnya, bertanya sedikit dan ternyata pemiliknya adalah teman sekelas Alen.
“ Jadi ini punya lo Azka?” tanya Alen pada Azka temannya yang memang dia tahu dari beberapa penghuni kost jika pemiliknya adalah Azka.
“ Ck, gw cuma jaga, ini punya bokap gw.”
__ADS_1
“ Sama aja bego, jadi berapa sebulan?”
“ Lo ada budget berapa? ini harganya enam ratus diluar listrik.”
“ Gope aja udah, sama gw ini.”
Azka tampak berpikir ya sudahlah hitung-hitung membantu teman dirinya sepakat, “ Jangan cepu tapi.”
“ Sip.”
“ Yaudah bayar tf ya, nomor rekening yang biasa.”
“ Oke.”
Keduanya pamit, dan Alen yang memang tahu rekening Azka langsung membayar dua bulan dimuka sedang Ara yang tidak tahu meminta Alen memberitahu nomor rekening.
“ Berapa?”
“ Udah dibayar.”
Ara melotot kearah Alen sedang yang ditatap merasa tidak bersalah, “ Len, kamu tuh ih.. kalau begitu aku nggak akan minta tolong maupun minta bantuan kamu lagi.”
Alen tertawa sambil mengacak rambut Ara dan Ara yang masih kesal pun menatap kearah Alen dengan tajam, “ Aku males sama kamu.”
Alen berhenti tertawa, memegang bahu Ara agar tatapannya mengarah kepadanya, “ Lo cukup ganti dengan keadaan yang baik-baik aja dan jangan pernah matiin ponsel sampai lebih dari satu jam bagi gw itu cukup.”
Tatapan Ara melunak sebegitunya Alen memintanya untuk tidak mematikan ponsel karena khawatir, sayangnya Ara hanya menganggap hal yang dilakukan Alen kepada wajar sebagai bentuk rasa khawatir kepada sahabat.
Ara tak mampu menjawab dirinya tak yakin bisa apalagi sekarang hidupnya bertambah Sagara dengan segala kuasa dan kendalinya, Alen yang tak mendengar jawaban Ara menatapnya tajam, “ Ra.”
Ara terkesiap, “ Hah,”
“ Lo belum jawab Ra.”
“ Ja…wab a..pa?”
“ Soal permintaan gw?”
Ara masih tak sanggup menjawab permintaan Alen.
To Be Continued
__ADS_1