Sugar Baby Kakak Sahabat

Sugar Baby Kakak Sahabat
S3 Bab 5 : Alen dan Jeanista.


__ADS_3

Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 5.


Ara memang sudah lama memendam rasa kesal kepada istri dari teman yang sudah lama membantunya itu, sudah beberapa kali dirinya dilabrak oleh Melisa namun Ara tidak pernah membalas sekalipun Melisa menampar dirinya.


Tapi kali ini dia sudah keterlaluan, membawa nama anaknya meski dirinya bejat tapi anaknya tidak bersalah dia hanya korban.


Ara menghela nafas dengan kasar ketika sudah sampai didepan rumah yang sudah hampir lima tahun ini menamainya, meski dirinya memiliki masalah pelik namun Ara tidak pernah mau membawanya kerumah karena baginya rumah adalah tempat dimana dirinya nyaman didalamnya dan Ara tidak pernah membawa masalah pulang kerumah.


Ara membuka pintu ini sudah jam sembilan malam tadi Ara tidak langsung pulang melainkan mampir ke cafe sekedar menikmati latte untuk menenangkan diri.


Tidak ada tanda-tanda kehidupan artinya semua penghuni rumah sudah tidur, Ara langsung ke kamar dan membersihkan diri, butuh istirahat sepertinya ada banyak yang dipikirkan dari mulai pekerjaan yang harus dipindah ke Jakarta sampai masalah rumah tangga orang yang Ara sama sekali tak pernah mimpikan bisa masuk ke dalam masalah mungkin itu alasan kedua untuk tidak mau memulai hubungan selain karena masa lalu yang kelam.


Hari baru tepatnya sore hari, Ara hari ini pamit kepada seluruh divisi creative projects karena esok dirinya sudah harus pindah ke Jakarta, tadi pagi dia datang telat karena memberitahu Dewi mengenai kepindahan keduanya beruntung Dewi sama sepertinya yang sebatang kara didunia ini, bertemu Dewi dulu seperti berkaca mengenai dirinya entahlah Satria menemukan Dewi dimana katanya dia sedang dijalan kecopetan kabur dari majikannya dulu karena sering mendapatkan kekerasan, Satria yang iba akhirnya mempekerjakannya.


" Sampai ketemu semua."


Ara memang tidak pernah mem blow up diri, baginya sendiri seperti ini saja sudah banyak yang tidak suka apalagi jika Ara tebar pesona sudah pasti mungkin dirinya akan mendapatkan perlakuan lebih dari ini.


Ara memutuskan untuk pulang, tak bertemu dengan Satria yakin dia pasti di Jakarta menyelesaikan masalah rumah tangganya.


Sudah sampai rumah jam delapan malam, Bandung itu sebelas dua belas dengan Jakarta yang macet di tengah kotanya, Ara masuk ke rumahnya melihat Zayn sedang memasukkan mainan ke dus.


" Tinggal apa wi yang belum?"


" Perabotan ditinggal kan ya Bu?"


" Iya bawa saja pakaian sama mainan juga dokumen kita sesekali kesini kalau libur panjang."


Rumah ini memang sudah atas nama Ara hadiah dari Satria karena mau melahirkan Zayn mungkin terdengar berlebihan namun tidak untuk Satria, meyakinkan diri jika anak yang dikandungnya adalah tempat Ara untuk pulang itu cukup sulit takut Ara mengakhiri hidup karena merasa tidak memiliki siapapun.

__ADS_1


Ara sudah memesan sebuah rumah sewa setahun uangnya memang tidak banyak namun untuk sekedar sewa rumah masih mampu takut Satria menyiapkan rumah lagi dan Ara benar-benar seperti benalu.


" Kalau sudah istirahat besok kita berangkat agak siang saja sekitar jam 10 ya, sekolah Zayn gimana?"


" Pak Satria sudah kirim orang Bu."


Benar kan? Pria itu selalu bersikap semaunya tanpa bertanya kepada Ara kadang Ara bingung dengan status keduanya, berteman namun seperti nya tidak pantas dibilang teman biasa namun jika lebih dari teman Ara tentu saja tidak mau karena Ara cukup tahu diri.


Pagi hari setelah sarapan sebuah mobil Pajero sudah bertengger di depan rumah padahal Ara rencananya mau beli tiket kereta api pagi ini untung Dewi bilang jika tidak mungkin Ara sudah memesan tiket.


" Bu saya Parjo dikirim paj Satria untuk bantu pindahan ke Jakarta, kata bapak barang jangan dibawa semua cukup pakaian saja."


" Yasudah tapi tolong alamat ini yang dituju ya jangan yang dikasih pak Satria nanti saya yang tanggung jawab."


Parjo hanya menganggukan kepala karena ia hanya disuruh mengikuti Ara, semuanya berangkat menuju Jakarta tepat pukul 10 pagi, kini Ara harus memulai hidup baru semoga saja tidak menimbulkan trauma itu kembali.


.


Dia melihat progres saham yang dia tanam di beberapa perusahaan itu cara Alen mengelola keuangan agar cepat banyak dalam waktu singkat, belajar banyak dari teman yang memang kebetulan banyak terjun ke dunia bisnis juga memang minat di bisnis yang beberapa tahun ini sudah dia geluti membuatnya semakin terarah akan dirinya yang akan dibawa kemana.


Ya, setelah menyatakan perang kepada Sagara kakaknya, Alen memutuskan untuk menggeluti dunia bisnis yang benar-benar dari nol, awalnya dia menggunakan keahliannya dalam bidang desain digital padahal kuliah jurusan manajemen bisnis, lalu dia bekerja dan mengambil ilmu di perusahaan milik Tante Jeanista, setelah mendapatkan ilmu dia mengembangkan bersama beberapa teman yang memang bersedia menanamkan modal dan perlahan namun pasti Alen menikmatinya di tahun kedua, namun keuntungannya tidak digunakan untuk foya, dia masih butuh dana untuk membangun perusahaan bukan trading namun bermain saham dibimbing teman SMA dan kuliahnya yang memang sudah memiliki pengalaman lebih dahulu.


Dan kini, meski perusahaannya masih menengah kecil namun cukup untuk menampar keluarganya jika dirinya bisa berdiri dikakinya sendiri tanpa bantuan keluarga yang sudah Alen anggap mati.


Tak lama aktivitas nya sedikit terganggu, seorang wanita anggun datang mendekat membawa paper bag dari brand terkemuka akan kopinya, dia tersenyum kepada Alen.


" Sibuk nggak sayang?"


Alen tersenyum melihat wanita yang sudah tiga tahun ini mengisi hatinya, dia Jeanista wanita yang dari masa kuliah selalu ada disisinya bahkan ketika Alen berada di titik terendah dimana Ara pergi dari sisinya dan Alen memutuskan untuk keluar dari keluarganya yang selalu menganggap dirinya anak kecil yang tak bisa apa-apa, Jean selalu menyiapkan bahu untuk-nya bersandar ketika muak kepada dunia.

__ADS_1


Ketika setahun setelah lulus, Alen berhenti mencari keberadaan Ara, Alen berpikir sepertinya Ara sengaja bersembunyi maka dari itu dia mencoba membuka hati untuk Jean yang masih bersedia menemaninya meski hatinya masih diisi oleh Ara namun Alen menjelaskan kepada Jean jika dia masih butuh sedikit waktu untuk mengganti nama Ara menjadi Jean dan Jean dengan senang hati membantunya.


Dan kini sudah Jean menemani Alen berada disisinya menjadi saksi bagaimana kerasnya Alen membangun mimpi agar tidak dihina harga dirinya oleh keluarga yang menganggapnya anak kecil dan sekarang sedang menikmati hasilnya yang tentu saja belum capai kata puas.


" Masih lihat grafik aja sih."


Jean mencebik kebiasaan Alen jika punya masa senggang pasti menatap saham dan saham, " Kapan yang ini dilirik?"


Alen terkekeh, Jean juga ikut tersenyum sambil memberikan kopi yang tadi dia beli, " Nih biar nggak oleng."


" Thanks babe."


" Anytime, oh iya kamu ada Project besar?"


" Ada perusahaan Gemilang Tama anak perusahaan dari Hadikusumo grup dia mau buat iklan untuk brand Shapee tapi masih sekedar projects karena mereka minta pending jadi kita tunggu kabar dari mereka selebihnya ya biasalah buat design logo sama iklan digital gitu."


Jean menganggukan kepalanya dia sebenarnya masih tidak menyangka bisa menjadi bagian dari crush yang dulu begitu dipuja ketika kuliah apalagi melihat bagaimana Alen yang tidak bisa melepaskan bayangan Ara, Jean merasa minder dan memilih mundur secara perlahan namun rupanya semesta memihak kepadanya Jean berada disisi Alen hingga saat ini.


" Berarti kalo aku minta ke pantai bisa dong ya?"


" Mau ke pantai? Mana? Ancol."


Jean mencebik, " Masa Ancol?"


" Lalu kemana? Ancol kan pantai juga bukan?" Tanya Alen menggoda Jean bukannya bushing tapi Jean justru memukul Alen meski tidak sakit tapi Alen seolah mengaduh karena pukulan Jean.


" Oke oke… jadi mau kemana?"


" Anyer."

__ADS_1


TBC.


maaf ya tadinya mau libur tapi sepertinya nggak jadi aku lagi ngurus anakku yang mau sekolah, enjoy your reading all.


__ADS_2