
Sugar Baby Kakak Sahabat Season 2 part 36.
Setelah pemasangan pen dan keadaan membaik, Ara keluar dari rumah sakit Sagara membantu hingga benar-benar keluar dari rumah sakit.
" Kita akan ke rumahku sampai kau sembuh, selain dekat dengan sekolah Zayn akan ada yang memantau dan aku ke kantor juga lebih dekat."
Ara ingin protes tapi Sagara sudah mengacungkan telunjuknya, " Tidak ada protes dan aku sudah membuat surat pengunduran diri sejak seminggu lalu."
" Apa kamu gila? Bagaimana aku membayar Dewi dan sekolah Zayn nanti? Tolong jangan seperti ini."
Sagara menghela nafas dan menetralkan rasa emosi yang memang sulit sekali dikendalikannya namun demi Ara dia akan lakukan apapun, " dengan kakimu yang seperti ini? Tidak akan bisa pemulihan cukup lama apalagi kakimu dua-duanya yang patah sudah ya masalah Dewi dan Zayn jangan khawatir."
Sagara bergegas pergi ingin menenangkan pikirannya sejenak sedangkan Ara dia butuh Alen sebenarnya tapi dia sadar diri jika Alen saat ini juga belum ada kabar apakah sudah berhasil membawa Jean atau belum.
Sedangkan Jean sendiri dia sudah memiliki keputusan selama seminggu Alen disini dia yakin jika Alen akan menjadi ayah dan suami yang bertanggung-jawab mungkin benar apa kata orang untuk meyakinkan sebuah perasaan, harus ditinggalkan dahulu.
Jean sedang mengemasi barang-barangnya dan Alen sedang didepan menyiapkan mobil yang akan digunakan untuk kembali ke Jakarta setelah itu dia akan terbang ke Belanda untuk meminta restu namun sampai usia kandungan Jean memasuki enam belas Minggu yang artinya masih sekitar empat mingguan lagi.
" Sudah siap?"
Alen datang dan duduk di ranjang bersebelahan dengan Jean yang masih menata barang-barangnya.
" Sedikit lagi."
Alen berdiri dan menduduki Jean yang tengah mempersiapkan kepulangan mereka lalu berlutut di depan Jean sambil berjongkok mencium perut Jean yang sedikit membuncit, jujur saja sejak seminggu ini Alen benar-benar menjaga mood dan juga pola makan bahkan seminggu lalu yang terlihat kurus kini sudah sedikit berisi.
" Kenapa Len?"
" Ck, panggilan kamu kenapa jadi berubah gini? Aku suka kamu manggil aku sayang."
Jean tersenyum sambil mengelus pucuk kepala Alen, " Mode manja on."
" Biarin aja kamu tahu aku kayak orang gila waktu tahu kamu hamil dan bodohnya aku malah menghindari kamu."
Jean tahu itu tapi ya sudah lah biarkan saja toh semua sudah baik baik saja kan? Alen menggenggam tangan Jean dan menciumnya, " kita mulai lagi dari awal inget ya tetap disisi aku apapun yang terjadi bahkan jika mama papa kamu menolak tolong tetap disisi aku dan percayakan sama aku hmm."
Akhirnya sore ini keduanya pulang menuju Jakarta, bersama supir dan salah satu art Jean yang memang dirinya sengaja bawa untuk bisa tinggal disini semua tersenyum dan mengucap terimakasih khususnya untuk keluarga art Jean yang sudah memberikan tempat tinggal sementara untuknya.
" Ini ada sedikit buat Ambu dan semuanya semoga bermanfaat."
__ADS_1
Semua orang senang mendapatkan hadiah dari Jean, disini Jean belajar meski memberi sedikit namun orang lain sangat bersyukur dan senang semoga lain kali Jean bisa kesini lagi.
*****
Ara masih memikirkan permintaan Sagara, dia melihat Zayn yang tertidur di sebelahnya sejak keluar dari rumah sakit, Zayn tidak pernah mau jauh-jauh darinya kecuali sekolah alasannya karena Sagara sudah meminta Zayn untuk menjaga Ara.
" Nanti papi marah kalau aku jauh-jauh dari mami, aku sudah janji soalnya sama papi buat jagain mami."
Dan benar saja ketika Sagara pulang kerja, Zayn akan mengatakan hal apapun yang dilakukan Ara.
" Mami sudah minum obat sesuai yang papi bilang pagi dan siang, dan Zayn yang memberikannya mami juga makan banyak meski baru bubur."
Dan masih banyak lagi.
" Apa aku harus memberikan Sagara kesempatan?"
Sejujurnya jika ditanya perasaan Ara juga ada rasa dengan Sagara hanya saja bayang-bayang masa lalu yang begitu sulit membuat Ara seperti berpikir lagi jika mau memulai.
" Aku harus apa?"
Ara yang tengah duduk menatap jendela besar yang menampilkan cahaya bintang ditengah gelapnya malam tidak sadar jika Sagara masuk kedalam kamar Ara yang memang dia minta agar tidak dikunci, Sagara mendengar semua yang dikatakan oleh Ara dalam hati kecil Sagara senang setidaknya Ara memikirkan permintaannya namun dirinya juga masih ketar-ketir dengan jawaban Ara.
" Ara, kamu belum tidur?"
Sagara berjongkok di depan Ara, " Hmm ada kamu disini aku serasa punya alasan untuk pulang cepat."
" Pekerjaanmu?"
" Perlahan namun pasti sudah aku selesaikan."
" Maaf ya, gara-gara aku kamu jadi repot."
Sagara memegang kedua tangan Ara, " Jadi bagaimana apa ada kesempatan untuk kita bersama meski aku berharap kamu mau melakukannya karena kemauan kamu sendiri tapi walaupun demi Zayn aku nggak masalah."
" Bagaimana dengan perjodohan kamu dan kedua orang tuamu?"
" Aku sudah membatalkannya secara resmi dan papa aku sudah tahu keberadaan Zayn."
Ara terkejut, " Kapan? Apa dia menerimanya?"
__ADS_1
" Kalau tidak menerimanya maka aku tidak akan membawa kalian kesini lagipula aku tidak peduli mau mereka menerima atau tidak, hidup aku yang menjalani dan semua keputusan ada padaku mereka sudah bahagia dengan kebahagiaannya masing-masing."
" Lalu Alen?"
" Jangan khawatir masalah aku sama Alen sebenarnya tidak pernah selesai tapi seiring berjalannya waktu dengan keberadaan Zayn kita sudah mulai dekat lagi, Ra please kalau kamu masih ragu sama aku, paling gak kasih aku kesempatan buat memperbaiki semuanya dan membuktikan mungkin sifat posesif aku nggak akan pernah berubah tapi untuk sifat buruk yang lainnya, perlahan aku akan hilangkan tegur aku jika aku salah dan ingatkan aku jika aku lupa."
Ara menatap Sagara dengan intens, dia memejamkan mata lalu menganggukan kepalanya.
" Ra, serius kamu Nerima aku?"
" Ya, aku akan kasih kamu kesempatan kedua."
*****
Di sebuah rumah besar dimana keluarga Hadikusumo tinggal, Satria menatap langit gelap dirinya akan pergi seminggu lagi keluar negeri menerima apa yang ditawarkan sang ayah tapi dia ingin bertemu dengan Ara dulu sebelumnya meminta maaf dan bertemu untuk yang terakhir kali namun melihat bagaimana Sagara menjaga Ara dia jadi ragu.
" Sayang."
Giana datang membawa susu coklat, sudah lama sekali mungkin sejak SMA Giana tidak melakukan hal seperti ini.
" Nih minum susunya dulu."
Satria menerimanya namun dia letakkan di nakas.
" Ada apa?"
Sikap Satria memang sejak dulu dingin dengan kedua orang tuanya merasa mereka hanya berambisi.
Giana menghela nafas dengan kasar, " Mungkin permohonan maaf tidak akan cukup meski seribu kali mama ucapkan tapi mama mohon bangkit dan tata hidup yang baru."
Satria tertawa sambil berdecak," kalau nggak tau apa-apa jangan sok tahu."
" Mama tahu kamu terluka tapi mama melakukan semuanya juga demi kebaikanmu sayang."
" Yang kalian pikirkan sejak dulu hanya perluasan bisnis dan juga nama baik tanpa memikirkan bagaimana hancurnya aku."
" Nak bukan begitu maksud mama."
" Keluarlah aku lelah ingin istirahat silahkan bawa susunya kembali aku bisa buat sendiri."
__ADS_1
Giana hancur kehilangan anak semata wayangnya hanya karena ambisi sesaat jika seperti ini dia harus melakukan sesuatu demi sang anak.
To be continued.