
Sugar Baby Kakak Sahabat part 9.
Ara baru saja membuka matanya ketika merasakan kaki dan tangannya begitu berat seperti ada yang menghimpitnya, Ara mencoba bangun namun tubuhnya yang masih polos berselimut kain tebal tak bisa digerakkan lantaran Sagara memeluknya begitu erat.
Melihat jam dinakas sudah pukul enam pagi, Ara bergegas bangun karena ingat jika Alen ada di kost miliknya, semalam setelah keduanya melakukan di pantry seolah tak ada lelahnya Sagara kembali mengecas little di sofa ruang tamu dan terakhir dikamar seolah energi yang dimiliki Sagara tak ada habisnya, ini sekian kalinya Ara dibuat kelelahan karena Sagara.
Sagara yang tahu jika Ara sudah bangun masih pura-pura tidur, Ara yang ingin melepaskan belitan Sagara agar tidak terbangun nyatanya gagal memikirkan harus bagaimana dirinya lepas dari lilitan Sagara.
" Kak, bangun sudah siang."
Sagata tak menjawab masih setia dengan memejamkan matanya, Ara berdecak satu hal yang mungkin sama dari Alen dan Sagara adalah keduanya sama-sama tidak bisa bangun dengan cepat.
" Kak, bangun aku harus pulang."
Sagara terusik namun bukannya melepas belitan kini mengeratkan pelukannya, mencium bahu polos Ara yang tak tertutup kain sama sekali, mengendusnya dan mencetak mahakarya abstrak, lihatlah semalam leher Ara kembali dibuat merah-merah dan kali ini bahu putih polosnya dijadikan sasaran olehnya seperti vampir saja.
Ara mengerang, tak sengaja kakinya bergerak namun sialnya membuat sesuatu dibalik selimut terbangun.
" Ara…"
Sagara menatap ke arah Ara dengan kesal, sedang Ara yang tidak tahu hanya menatap bingung, " kenapa."
Sagara berdecak apa katanya tadi dia tanya kenapa? Tidak terasakah jika little dibawah sana sudah terusik dari tidurnya?
" Kamu sadar nggak, udah ngebangunin little?"
Ara masih bingung, karena kesal Sagara mengambil tangan Ara dan mengarahkan menuju littlenya dan Ara begitu terkejut ternyata little kebanggaan Sagara begitu panjang dan besar, pantas saja jika sedang ngecas sangat sakit dan sesak.
" Sudah sadar dengan yang kamu lakukan hmm?"
Ara hanya tersenyum menampakkan gigi putihnya yang rata dan putih, Sagara yang melihat hal tersebut seketika tersenyum smirk, Ara gelagapan jika sudah melihat senyum Sagara yang bagi setiap orang begitu manis namun bagi Ara itu senyum mengerikan.
" Aaaapa…" tanya Ara terbata.
" Kamu harus menjinakan kembali little, kamu tahu kan kalau dia sudah bangun tidak mudah untuk menidurkannya lagi."
Sumpah demi apapun Ara menyesal mengusik benda meresahkan itu.
-
Akhirnya setelah satu jam mereka kembali bergulat, Ara pamit undur diri diantar Sagara karena pria tersebut juga akan pergi kekantor.
" Hari ini masih libur kan?"
Ara yang masih menatap diluar jendela menoleh kearah Sagara dan menganggukan kepalanya.
" Lalu hari ini apa rencanamu?"
" Belum tahu, masih ada Alen di kost."
Sagara menganggukan kepalanya, menyentuh kepala Ara dengan lembut, Ara hanya menoleh lalu menguatkan diri agar tidak baper ketika Sagara memperlakukannya dengan baik.
" Pastikan ponselmu aktif."
__ADS_1
Keduanya sampai di depan kost Ara, Ara pamit lalu mampir sebentar membeli sarapan yang kebetulan memang ada didepan kost tersebut, lalu masuk kedalam melihat Alen masih tertidur pulas membuat Ara kembali lega.
Ara meletakkan sarapan di nakas lalu kekamar mandi sebentar, dirinya harus menutupi bercak merah ulah Sagara tersebut lalu membangunkan Alen.
Beberapa menit kemudian, Ara mencoba membangunkan Alen, " Len bangun."
Alen tak bergeming, dan Ara mencoba kembali dan usahanya berhasil dengan Alen mengerjapkan matanya perlahan terbangun dan Alen tersenyum.
" Bangun Len sudah siang ini."
" Jam berapa ini?" Alen mencoba bangun dan dibantu oleh Ara, " sudah jam sembilan rupanya gw tidur rasanya nyenyak banget nggak kayak biasanya kalo ada masalah biasanya gw insom."
Ara terdiam, dia menatap Alen dengan tatapan sendu, andaikan saja dia tahu kalau Ara tidak sengaja memberikan obat tidur mungkin Alen akan marah dan pasti akan bertanya kenapa melakukannya meski dirinya tidak tahu jika itu obat tidur.
" Sarapan dulu aku udah beliin tadi."
Alen memutuskan untuk ke kamar mandi membersihkan diri dan menghampiri Ara yang sedang memainkan ponselnya.
" Gw berasa punya istri kalo kayak gini, bangun tidur liatnya Lo, disiapin makanan pula duh indahnya."
Ara hanya tersenyum mendengar yang dikatakan Alen, " Nanti kalau kamu sudah menikah kamu akan merasakan hal itu Len."
Alen yang sedang membuka bungkusan nasi memandang sesaat Ara setelah Ara mengatakan hal tersebut, " emang Lo nggak mau nikah Ra?"
Uhuk.
Ara yang sedang minum terbatuk-batuk mendengar yang dikatakan oleh Alen, Ara belum berpikir sampai sana lagipula memang siapa yang mau sama dia, anak yatim piatu lulusan panti asuhan dibuang orang tua adopsinya dan sudah tidak suci lagi, rasa-rasanya Ara mungkin saja tidak akan menikah.
Karena tidak ada jawaban dari Ara, Alen mencoba bertanya lagi, " belakangan ini Lo banyak ngelamun, ada masalah apa? Lo masih anggap gw sahabat Lo kan?"
Ara hanya menunduk, memang ada banyak yang dipikirkan oleh Ara tapi tidak mungkin kan Ara membaginya dengan Alen.
" Manusia yang hidup pasti punya masalah bukan aku saja, kamu juga kan?"
" Iya sih, terus soal omongan gw yang tadi?"
" Yang tadi? Yang mana?"
" Ck, emang Lo nggak mau nikah sama gw?" Alen bertanya sekali lagi kepada Ara, dan Ara hanya tertawa sambil menggelengkan kepalanya, " Nggak ada yang tahu kan kedepannya gimana?"
" Justru itu, ah udahlah, males ngomong sama Lo tau nggak."
Untung saja Alen tak memperpanjang masalah ini. Tak lama setelah selesai sarapan Alen pamit pulang dan Ara membersihkan kost.
Beberapa hari kemudian, perkuliahan sudah dimulai, Ara yang saat ini berada di apartemen Sagara sedang membersihkan diri, sejak pertemuannya terakhir ketika Alen tak kunjung pulang kerumah dan menginap di kost Ara, Sagara juga baru semalam mengajaknya bertemu tentu saja mengajaknya iya-iya karena pria dewasa tersebut baru saja pulang dinas dari luar kota.
Ara yang sedang mandi dikejutkan oleh kedatangan Sagara yang masih mengucek matanya karena baru bangun tidur, Ara reflek menutup aset puncak Himalaya nya.
" Kak Sagara ngapain?"
Sagara tak menjawab, Ara yang sempat mematikan shower langsung menyalakan kembali dengan Heater water, lengan Ara digenggam lalu ditarik keatas.
Sagara kembali menyerang Ara dengan mencium leher jenjang dan turun ke puncak Himalaya bahkan menyusu disana dengan lahap.
__ADS_1
" Kak."
Suara rengekan Ara tak dihiraukan, entahlah Sagara sudah sangat candu dengan Ara, selama beberapa hari di luar kota dirinya tak bisa tidur hanya karena memikirkan gadis kecilnya itu, bahkan ketika salah satu rekan bisnisnya memberikan mainan untuk bersenang-senang, Sagara justru menolak.
" **** up."
Kini tangan Sagara dilepas satu untuk memanjakan sangkar little yang sudah basah dan licin perpaduan air hangat dengan pelicin sangkar memberikan sensasi tersendiri untuk Ara karena Sagara berhasil mengobrak abrik sangkar little tersebut.
" Emhh ahh kak… "
Sagara yang gemas melihat wajah Ara yang tampak frustasi akhirnya memasukkan little kebanggaan yang sudah menegak minta dimanjakan merangsek kedalam, sesak dan juga sempit namun itu justru membuat little senang.
Keduanya berpacu antara kenikmatan dan juga er*ng*n memanggil satu sama lain, tak ada kata sebentar bagi Sagara, jika tidak ingat Ara akan kuliah hari ini dan Sagara harus ke kantor karena ada yang belum rampung, sudah pasti keduanya tak akan bermain secara quickly keduanya dan dengan bangga little mengeluarkan bisa di luar sangkar.
Ara mengatur nafas begitupun Sagara, keduanya mengunci pandangan satu sama lain, Sagara kembali mencium Ara namun kali ini tak menggebu dan juga terkesan lembut.
" Bersiaplah aku akan antar kamu ke kampus."
Keduanya memutuskan menyudahi bersih-bersih, setelah selesai sarapan dengan beberapa lembar toast bread yang diberikan selai coklat.
Saat hendak keluar, Sagara memberikan kartu akses apartemen, " Ini untukmu simpanlah."
Ara menerimanya, dan Sagara yang masih belum mau melepas tatapannya kepada gadis kecilnya tersebut menatap intens sepertinya dia mulai tertarik dengan gadis kecil itu.
" Kak."
Sagara yang melamun menyadarkan diri lalu menetralkan pandangan malu jika ketahuan sedang menatap sugar baby nya tersebut.
" Ya.."
" Ayo kita keluar."
" Emm tunggu sebentar."
Sagar mengotak atik ponsel sebentar tak lama notifikasi ponsel Ara berdering, uang senilai sepuluh juta masuk ke rekeningnya. Mata Ara membola uang sebanyak ini masuk kedalam rekeningnya.
" Kak."
" Anggap saja uang jajan dariku."
Ara hanya bisa menganggukan kepalanya lalu keduanya menuju basement lalu pergi.
Sepanjang jalan keduanya hening, ponsel Ara berdering ada panggilan dari Alen.
" Kak Alen telepon."
" Angkat saja." Ara menggeser ikon hijau dan baru saja ponsel tersebut nempel di telinga Ara, suara Omelan dari pemilik suara terdengar.
" Gw di kost lo ini kenapa nggak di bukain?"
Mampuslah Ara, dirinya harus siap mencari alasan agar Alen tak curiga.
To be continued
__ADS_1